NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Jamuan di Atas Air

Kegelapan malam yang pekat menyelimuti permukaan Laut Liguria, menciptakan batas yang samar antara langit berawan tanpa bintang dan hamparan air yang kelam. Di titik koordinat netral yang telah disepakati, riak ombak yang menghantam lambung kapal menciptakan irama yang konstan, lambat, namun sarat akan ketegangan yang mencekik. Sesuai dengan instruksi mutlak Alana, pihak Cosa Nostra dipaksa untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Don Donato—seorang mafia tua dari faksi Sisilia yang terkenal akan keangkuhannya dan rekam jejaknya yang berlumuran darah—terpaksa mengalah. Dia harus menyeberang bersama jajaran petinggi pasukannya ke atas dek terbuka milik kapal pesiar mewah lapis baja milik dinasti Garrick.

Suasana di atas dek terasa begitu pekat, dingin, dan sunyi. Alana duduk dengan keanggunan seorang Ratu di balik meja kaca bundar yang telah disiapkan di tengah dek terbuka. Gaun beludru hitam yang dikenakannya seolah menyatu dengan kegelapan malam, sementara kulitnya yang pucat memantulkan pendaran lampu dek yang temaram. Mata jernihnya memancarkan ketenangan absolut, menampilkan aura yang tak tergoyahkan. Di sisi kanannya, Dominic berdiri tegap bagaikan raksasa batu dengan tangan bersedekap, memberikan tekanan visual yang masif bagi siapa saja yang berani memandang adiknya. Di sisi kirinya, Tasha Sterling berdiri dengan postur formal yang sempurna, memegang tablet militer yang terus berkedip, memantau pergerakan siber secara berkala.

Don Donato melangkah maju dengan langkah kaki yang sengaja dibuat berwibawa, bertumpu pada tongkat kayu antik berkepala perak. Dia dikawal oleh empat pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam mahal, yang matanya terus bergerak waspada memindai sekeliling dek. Sebuah senyuman meremehkan yang sangat tipis terukir di wajah keriput Don Donato saat dia menatap sosok Alana yang bertubuh mungil dan terlihat rapuh di balik meja besar itu.

"Aku harus mengakui, keberanianmu cukup mengejutkan untuk seorang gadis seusiamu, Signorina Alana," Don Donato membuka suara dengan bahasa Italia yang berat dan serak, langsung menduduki kursi kulit di seberang Alana tanpa menunggu dipersilakan. Dia meletakkan tongkatnya di sandaran kursi dengan gerakan santai, mencoba membangun dominasi mental. "Victor Garrick dulunya adalah mitra yang sangat menghormati tradisi dan senioritas kami. Namun, keputusan impulsif Anda meruntuhkan faksi Rusia di perbatasan telah memutus aliran pasokan maritim yang menyokong setengah dari bisnis kami di Sisilia. Kami datang malam ini untuk menuntut pengembalian jalur maritim tersebut, serta kompensasi penuh atas kerugian finansial yang kami tanggung akibat kecerobohan Anda."

Alana tidak langsung menjawab. Ekspresi wajahnya tetap datar, seolah kata-kata intimidasi dari penguasa Sisilia itu hanyalah angin lalu. Dengan gerakan yang sangat lambat, anggun, dan teratur, Alana meraih teko porselen, menuangkan teh hitam hangat ke dalam cangkirnya. Dia membiarkan keheningan malam, deru angin laut, dan uap teh yang mengepul menjadi satu-satunya sekat di antara mereka, mengikis kepercayaan diri Don Donato secara perlahan. Setelah meletakkan kembali teko tersebut tanpa menimbulkan suara benturan sedikit pun, Alana menyesap tehnya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata pria tua itu dengan pandangan yang luar biasa tajam.

"Anda salah mengartikan kedatanganku malam ini, Don Donato," sahut Alana, suaranya mengalun lembut, jernih, namun memiliki gaung kekejaman yang konstan di udara malam. "Aku datang ke sini bukan untuk bernegosiasi, bukan untuk mendengar keluh kesah Anda, dan jelas bukan untuk memberikan kompensasi atas ketidakmampuan faksi Anda dalam mengantisipasi perubahan pasar. Aku datang malam ini untuk memberikan Anda sebuah pilihan hidup."

Don Donato terkekeh rendah, suara tawanya terdengar kering dan merendahkan. Dia menganggap ucapan Alana tidak lebih dari gertakan anak kecil yang sedang berakting menjadi penguasa. Sifat arogan yang telah dipupuk puluhan tahun di dunia bawah tanah membuatnya merasa tak tersentuh. Tangan tuanya perlahan masuk ke dalam saku jas, bersiap memberikan isyarat rahasia kepada anak buahnya di kapal seberang melalui pemancar frekuensi radio kecil yang tersembunyi—sebuah taktik vendetta kuno untuk melakukan penyergapan mendadak dari jarak dekat jika negosiasi tidak berjalan sesuai rencana.

Namun, begitu jemari Don Donato menekan tombol pemancar tersebut... tidak terjadi apa-apa. Lampu indikator kecil pada alat itu tetap mati total. Tidak ada getaran tanda terhubung, tidak ada sinyal yang terkirim.

"Mencari frekuensi radio ini, Don?" sela sebuah suara jahil namun sarat akan nada ejekan melalui interkom dek yang mendadak menyala otomatis. Itu adalah suara Adrian.

Dari dalam ruang kendali siber yang terletak di bagian bawah kapal pesiar Garrick, Julian dan Adrian telah melancarkan serangan siber penuh. Tanpa disadari oleh pihak Italia, sejak enam jam sebelum pertemuan dimulai, si kembar genius telah menyusup ke dalam pangkalan data dan jaringan satelit lokal yang digunakan oleh kapal Cosa Nostra.

Dalam hitungan detik, seluruh lampu di kapal pesiar milik Cosa Nostra yang berada beberapa puluh meter di seberang mereka mendadak padam total. Layar navigasi, sistem radar, mesin utama, dan seluruh alat komunikasi kapal faksi Italia itu mati serentak, terisolasi sepenuhnya dari dunia luar akibat enkripsi masif tingkat militer yang ditanamkan oleh Adrian. Kapal besar itu kini mengapung tak berdaya di tengah laut kelam seperti peti mati raksasa.

Sebelum Don Donato sempat mencerna anomali siber yang menimpa armadanya, permukaan air laut di sekeliling kapalnya mendadak pecah tanpa suara ledakan yang berarti. Cedric Garrick, yang telah bersiap sejak beberapa jam lalu, memimpin langsung pasukan penyelam elitnya dari dalam kegelapan air. Mereka merangsek naik ke atas dek kapal Cosa Nostra dengan gerakan yang sangat tangkas, bersih, dan mematikan.

Hanya dalam hitungan detik, tanpa perlu meletuskan satu pun peluru yang bisa merusak keheningan malam, moncong senapan mesin taktis milik pasukan bayangan Cedric telah menempel di pelipis dan tengkuk seluruh pengawal Don Donato yang berada di kapal seberang. Mereka dilumpuhkan sebelum sempat menarik pelatuk senjata masing-masing.

Wajah Don Donato yang awalnya penuh keangkuhan seketika berubah menjadi pucat pasi, sewarna dengan mayat. Rahangnya bergetar, dan matanya membelalak menatap kapal miliknya yang kini telah sepenuhnya dikuasai oleh bendera hitam dinasti Garrick. Dia menatap Alana dengan pandangan mata yang dipenuhi kengerian yang mendalam. Pria tua itu akhirnya menyadari bahwa dia bukan sedang berhadapan dengan seorang gadis remaja biasa, melainkan sedang berhadapan dengan sebuah perangkap tak kasat mata yang telah disusun dengan kejeniusan taktis yang mengerikan.

"Sistem siber Anda telah runtuh, armada Anda lumpuh, dan seluruh pasukan Anda di seberang sana kini berada di bawah kendali penuh Kak Cedric," ucap Alana dengan senyuman tipis yang sangat dingin, memancarkan aura penguasa sejati yang mengendalikan papan catur tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.

Tasha Sterling melangkah maju satu langkah dengan ketenangan profesionalnya, meletakkan selembar dokumen baru di atas meja kaca, tepat di depan Don Donato yang kini tubuhnya mulai gemetar halus karena tekanan mental yang luar biasa.

"Ini bukan surat negosiasi, Don Donato," lanjut Alana, suaranya terdengar manis namun sarat akan ancaman kematian yang mutlak dan tak terbantahkan. "Itu adalah surat perjanjian baru yang telah disesuaikan dengan otoritas dinasti Garrick yang sekarang. Mulai malam ini, dinasti Garrick mengambil alih kendali penuh dan tanpa syarat atas seluruh jalur maritim di Laut Liguria. Sebagai gantinya, faksi Cosa Nostra wajib menyerahkan upeti sebesar 30% dari seluruh hasil pendapatan perdagangan maritim Italia kepada kami, jika Anda masih ingin diizinkan bernapas dan berbisnis di wilayah Mediterania."

Don Donato menatap dokumen itu dengan napas yang memburu. Sifat protektif Dominic yang berada di belakang Alana semakin terasa mengintimidasi; Dominic sengaja menggeser posisi berdirinya, membiarkan bayangan tubuh raksasanya jatuh menutupi tubuh Don Donato, memberikan tekanan psikologis akhir yang meruntuhkan sisa-sisa harga diri sang Don. Pengawal Don Donato yang berada di atas dek kapal Garrick pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka tahu, satu gerakan bodoh saja akan membuat tubuh mereka dihujani peluru dari segala penjuru.

"Jika Anda menolak menandatanganinya sekarang," bisik Alana, matanya berkilat sedingin es di bawah tembaraan lampu dek, "maka malam ini, Laut Liguria yang luas ini akan menjadi kuburan yang sangat tenang dan tanpa nama bagi Anda, seluruh pengawal Anda, dan seluruh sisa kejayaan faksi Cosa Nostra di Sisilia."

Keheningan malam kembali menguasai dek kapal, hanya menyisakan suara deburan ombak dan napas berat Don Donato yang didera kepanikan hebat. Pria tua itu memandang pulpen di dekat dokumen tersebut. Di dunia bawah tanah, menandatangani dokumen ini berarti menyerahkan sebagian besar kedaulatan ekonominya, namun menolaknya berarti kematian instan di tengah laut lepas tanpa ada satu pun orang yang tahu.

Dengan kepasrahan total, tangan Don Donato yang memegang pulpen bergetar hebat saat dia mulai menggoreskan tanda tangannya di atas draf perjanjian baru tersebut. Setiap goresan tinta di atas kertas itu terasa seperti paku yang mengunci peti mati bagi pengaruh lamanya di Italia. Setelah selesai, dia menjatuhkan pulpen itu dengan tubuh yang tampak lemas, kehilangan seluruh keangkuhan yang dia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di kapal ini.

Tasha dengan sigap menarik kembali dokumen yang telah ditandatangani tersebut, memverifikasinya lewat pemindai tabletnya, lalu memberikan anggukan kecil kepada Alana, menandakan bahwa semuanya telah sah secara hukum hitam dunia bawah tanah.

Alana kembali menyesap tehnya yang mulai mendingin, menatap Don Donato yang kini terduduk lesu di hadapannya. "Pilihan yang sangat bijaksana, Don Donato. Anda diperbolehkan kembali ke kapal Anda sekarang. Pastikan setoran pertama tiba di rekening dinasti Garrick sebelum akhir bulan ini."

Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Don Donato berdiri dengan bertumpu berat pada tongkat peraknya. Dia berbalik dengan langkah kaki yang gontai, dikawal oleh anak buahnya yang ketakutan, menyeberang kembali ke kapal mereka yang lampunya perlahan mulai dinyalakan kembali oleh Adrian sebagai tanda pelepasan isolasi.

Begitu kapal pesiar Cosa Nostra berbalik arah dan menjauh dengan kecepatan penuh meninggalkan koordinat tersebut, intensitas ketegangan di atas dek kapal Garrick mencair dalam seketika. Dominic mengembuskan napas panjang, menurunkan posisi bersedekapnya, lalu menatap Alana dengan binar mata yang dipenuhi oleh rasa takjub dan kepatuhan yang gila.

"Eksekusi yang luar biasa bersih, Alana," puji Dominic dengan suara baritonnya yang berat, sebuah senyuman puas terukir di wajah kaku sang mantan putra mahkota. "Kamu benar-benar membuat serigala tua Sisilia itu gemetar seperti tikus di depan mejamu."

Cedric, yang baru saja naik kembali ke atas dek dengan pakaian selam hitamnya yang basah, melepas topeng selamnya dan berjalan mendekat. Wajah tampannya yang garang tampak dipenuhi rasa bangga yang luar biasa posesif terhadap adik bungsunya. "Anak buah Don Donato bahkan tidak sempat menyentuh pelatuk senjata mereka saat kami menyergap mereka dari bawah air. Taktik siber Julian dan Adrian benar-benar membuat mereka buta total."

Julian dan Adrian pun melangkah keluar dari pintu ruang kendali bawah, bergabung di atas dek terbuka. Adrian langsung berlari kecil mendekati Alana dengan seringai jahilnya yang khas.

"Bagaimana akting suaraku tadi di interkom, Alana? Keren, kan?" seru Adrian bangga, meminta apresiasi dari sang adik. "Aku sengaja mematikan radar mereka tepat saat pria tua itu mencoba meraba sakunya. Momen yang sangat epik!"

Julian membetulkan letak kacamatanya, menatap Adrian dengan pandangan mencemooh sebelum beralih menatap Alana dengan binar kepatuhan yang pekat. "Itu berkat draf algoritma yang diarahkan oleh Alana semalam, Adrian. Jika bukan karena pembagian koordinat satelit dari Alana, kamu pasti sudah salah memutus jalur komunikasi militer lokal."

Alana melihat kelima kakak laki-lakinya berkumpul di sekelilingnya di bawah langit malam Laut Liguria. Sifat posesif dan ugal-ugalan mereka yang siap menghancurkan satu faksi negara demi melindunginya kini melebur menjadi rasa hormat yang mutlak kepada kepemimpinannya. Sisi manusiawi Alana kembali hadir; dia menjatuhkan topeng dingin The Ice Queen di depan abang-abangnya, lalu mengulas sebuah senyuman hangat dan tulus yang sangat manis.

"Terima kasih, Kakak semua," ucap Alana lembut, suaranya sanggup menghangatkan dinginnya angin laut malam itu. "Tanpa eksekusi siber dari Kak Julian dan Kak Adrian, serta kesiapan tempur dari Kak Dominic dan Kak Cedric, rencana di atas kertas ini tidak akan pernah menjadi skakmat yang sempurna."

Xavier, yang sejak tadi memantau pergerakan finansial global lewat ponselnya dari sudut dek, melangkah mendekat sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jas mahalnya. "Saham logistik maritim Italia di bursa gelap langsung merosot lima belas persen begitu berita kelumpuhan kapal Don Donato menyebar di kalangan terbatas siber, Alana. Uang mereka kini mengalir ke brankas kita. Kamu benar-benar magnet kekayaan baru untuk dinasti ini."

Di tengah laut yang kini kembali tenang, kapal pesiar mewah dinasti Garrick mulai berputar arah, berlayar kembali menuju pelabuhan Monako. Di bawah kepemimpinan baru Alana yang tak tergoyahkan, dinasti ini telah resmi menancapkan taringnya di dua kekuatan besar dunia bawah tanah Eropa—Rusia dan Italia—membuktikan kepada seluruh dunia bahwa sang Ratu baru tidak bisa digertak oleh siapa pun.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!