NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tak Sengaja di Serambi Makam Gus Dur

Waktu laksana musafir yang berjalan tanpa menoleh ke belakang. Enam bulan telah berlalu sejak ketukan palu Pengadilan Agama merobek paksa ikatan suci antara Al-Anwar Kediri dan Pesantren Sepuh Jombang. Musim kemarau telah menggantikan rintik gerimis yang dulu sering menjadi saksi air mata. Di Pesantren Al-Anwar, nama Gus Arsalan kian harum dibicarakan di kalangan para masayikh dan kiai sepuh sewilayah Mataraman.

Bukan lagi karena ketampanannya atau gelar lulusan luar negerinya, melainkan karena ketawaduan dan khidmahnya yang luar biasa. Arsalan telah menjelma menjadi sosok imam yang seutuhnya. Ia tidak lagi menjaga jarak dengan santri; pakaiannya kini lebih sering bersahaja dengan sarung wadimor lambat dan kemeja koko putih polos tanpa bordiran mewah. Pintu hatinya tetap ia gembok rapat. Beberapa kali Ummi Khadijah mencoba menyinggung perihal jodoh baru yang disodorkan oleh relasi kiai, namun Arsalan selalu menolak dengan senyuman lembut namun tegas.

"Pintu niku sampun dikunci, Ummi. Dan kuncinya sampun kulo buang ke Jombang," bisik Arsalan suatu ketika, membuat ibunya hanya bisa mengembus napas panjang dengan mata berkaca-kaca.

Hari itu, suasana kompleks pemakaman Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng, Jombang, tampak begitu padat. Rombongan peziarah dari berbagai penjuru negeri menyemut, merapalkan ayat-ayat suci Yasin dan tahlil yang menggema syahdu memenuhi serambi makam yang teduh.

Gus Arsalan datang bersama lima orang santri seniornya setelah menghadiri undangan bahsul masail di salah satu pondok cabang. Menggunakan peci hitam yang agak turun ke dahi dan sorban hijau yang tersampir di bahu, Arsalan duduk bersila di pojok halakah makam, memejamkan mata dengan khusyuk demi menghirup keberkahan sang waliyullah.

Setelah hampir satu jam tenggelam dalam lautan zikir, Arsalan membuka matanya. Ia beranjak berdiri, berniat menuju tempat wudu belakang untuk membasuh wajahnya yang agak kuyu karena perjalanan siang yang terik.

Langkah kaki Arsalan berpapasan dengan rombongan peziarah putri yang baru saja masuk dari pintu sebelah barat. Suasana yang berdesakan membuat ruang gerak menjadi agak sempit. Arsalan menundukkan pandangannya secara refleks, merapatkan tubuhnya pada pilar masjid untuk memberikan jalan bagi rombongan putri tersebut.

Namun, saat sekelompok wanita mengenakan seragam pengurus pondok berwarna marun melintas, indra penciuman Arsalan menangkap sekelebat wangi yang teramat ia kenali.

Aroma lavender tipis yang menenangkan.

Jantung Arsalan mendadak berdegup dengan hentakan yang begitu keras hingga dadanya terasa ngilu. Secara refleks yang mboten bisa ia kendalikan, netra elangnya mendongak menatap ke depan.

Tepat tiga langkah di hadapannya, sesosok wanita bertubuh anggun sedang berjalan dengan langkah anggun. Wanita itu mengenakan gamis hitam pekat dengan khimar marun yang menjuntai menutup dada dengan sempurna. Wajahnya yang bersih tanpa polesan bedak tebal tampak begitu teduh, memancarkan aura ketenangan jiwa yang teramat jernih.

Itu Humaira. Mantan istrinya.

Seolah ada ikatan batin yang tak kasat mata, Humaira pun mendadak menghentikan langkahnya sejenak. Ia memalingkan wajahnya ke arah pilar masjid, dan saat itulah sepasang netra teduhnya bertemu langsung dengan manik mata elang milik Gus Arsalan.

*Deg.*

Waktu seolah berhenti berputar di serambi makam Tebuireng siang itu. Suara riuh rendah ribuan peziarah yang mendaras tahlil mendadak senyap di telinga mereka berdua. Enam bulan mboten saling tatap, enam bulan mboten saling dengar kabar, kini Allah mempertemukan mereka kembali di tanah suci para wali secara murni tanpa rekayasa manusia.

Humaira tertegun. Matanya membelalak kecil, ada kilatan keterkejutan yang sempat melintas di wajah ayunya. Namun, keterkejutan itu dengan cepat digantikan oleh kedewasaan sikap. Humaira mboten lagi memalingkan wajahnya dengan ketakutan atau kebencian seperti dulu. Ia berdiri tegak, menatap Arsalan dengan tatapan seorang Ning yang penuh dengan rida dan keikhlasan yang matang.

Arsalan bergeming di tempatnya, seluruh persendiannya mendadak terasa lemas. Ia melihat perubahan yang luar biasa pada diri Humaira; wanita itu tampak jauh lebih bahagia, jauh lebih hidup, dan mboten ada lagi gurat kesedihan yang dulu selalu ia goreskan di wajah itu.

Arsalan menurunkan pandangannya sedikit, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada secara takzim sebagai bentuk salam adab tanpa menyentuh.

Melihat isyarat hormat dari mantan suaminya, Humaira melakukan hal yang sama. Ia menangkupkan kedua jemari tangannya di depan dada, mengangguk sedikit dengan senyuman tipis yang teramat tulus terukir di bibirnya. Sebuah senyuman pembebasan yang menegaskan bahwa sedoyo luka di masa lalu telah sepenuhnya dimaafkan dan dikubur dalam-dalam.

"Gus Arsalan..." sebuah suara bariton lain mendadak terdengar dari arah belakang Humaira, memecah keheningan bisu di antara mereka.

Sosok laki-laki bertubuh tegap dengan kemeja koko putih dan peci hitam melangkah maju, berdiri tepat di samping Humaira. Laki-laki itu adalah Gus Reyhan. Ia mendampingi rombongan pengurus putri Pesantren Sepuh Jombang kagem berziarah siang itu.

Reyhan menatap kedatangan Gus Arsalan dengan pandangan yang kaget namun segera berganti dengan senyuman ramah dan takzim. Sebagai seorang Gus yang paham betul akan dinamika takdir, Reyhan mboten menunjukkan sikap sinis atau cemburu yang berlebihan. Ia tahu posisi hukum fikih saat niki; Humaira sudah halal dan murni bukan lagi milik siapa-siapa.

"Oh, wonten Gus Arsalan Al-Anwar. Panggih di mriki, Gus. Assalamualaikum," sapa Reyhan dengan suara yang lantang dan bersahabat, mengulurkan tangannya kagem bersalaman secara ksatria.

Arsalan menguasai diri dengan cepat. Ia menyambut uluran tangan Gus Reyhan, menjabatnya dengan erat seolah menunjukkan rasa hormat antarlaki-laki yang sama-sama menjaga marwah ilmu. "Waalaikumsalam, Gus Reyhan. Enggeh, mboten sengaja panggih di mriki setelah acara di sebelah barat tadi."

Arsalan melirik sekilas ke arah Humaira yang takgih berdiri takzim di samping Reyhan. Ada rasa perih yang sempat mencubit sudut terkecil di hati Arsalan saat melihat keserasian adab di antara mereka berdua, namun dengan cepat ia merapalkan istighfar di dalam hatinya. Ia ingat janjinya di dalam surat dua bulan lalu; ia rida jika ada laki-laki salih yang memuliakan Humaira.

"Rombongan dari Jombang nggih, Gus?" tanya Arsalan, mencoba mencairkan atmosfer kaku.

"Enggeh, leres, Gus. Niki jadwal ziarah tahunan pengurus madrasah putri pondok sepuh," jawab Reyhan, melirik lembut ke arah Humaira sebelum kembali menatap Arsalan. "Kebetulan kulo diminta Abah Kiai Syamsuddin kagem mendampingi anak-anak."

Arsalan mengangguk-angguk takzim. "Oalah... enggeh. Semoga berkah sedoyo hajatnya, Gus, Ning."

Mendengar doa dari mulut mantan suaminya, Humaira mendongak sedikit. "Matur sembah nuwun atas doanya, Gus Arsalan. Semoga Njenengan dan rombongan Al-Anwar juga selalu dalam kelancaran dan perlindungan Allah."

Suara Humaira terdengar begitu jernih, mboten ada sedikit pun getaran kecanggungan lagi di dalamnya. Mendengar panggilan *"Gus Arsalan"* yang diucapkan dengan nada seikhlas itu membuat Arsalan menyadari satu hal: wanita niki benar-benar telah selesai dengan masa lalunya. Humaira telah melangkah jauh ke depan, meninggalkan bilik kamar gelap di Kediri.

"Enggeh, sami-sami, Ning. Maturnuwun," jawab Arsalan dengan senyuman terbaik yang bisa ia berikan.

Gus Reyhan yang menangkap situasi itu dengan bijaksana segera berpamitan. "Kalau begitu, kulo kaliyan rombongan mohon izin pamit masuk ke dalam halakah dulu nggih, Gus. Sampun ditunggu pengurus lain di depan makam."

"Oh, enggeh... monggo, Gus, Ning. Silakan," jawab Arsalan sembari melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang yang lapang bagi rombongan itu kagem lewat.

Gus Reyhan melangkah lebih dulu, diikuti oleh Ning Humaira di belakangnya. Saat langkah kakinya tepat melewati posisi berdiri Arsalan, Humaira sempat menundukkan kepalanya sekali lagi sebagai isyarat pamit yang teramat anggun. Wangi lavender tipis itu kembali menyapu indra penciuman Arsalan kagem yang terakhir kalinya sebelum sosok khimar marun itu perlahan hilang di balik kerumunan ribuan peziarah yang menyemut di area makam utama.

Arsalan berdiri terpaku selama beberapa saat, menatap ke arah hilangnya sosok Humaira. Air matanya mboten luruh lagi, dadanya mboten sesak seperti dulu. Yang tersisa hanyalah rasa damai yang teramat jernih. Pertemuan tak sengaja di tanah para wali siang niki menjadi jawaban atas segala doa-doa malamnya selama niki. Allah telah menunjukkan secara nyata bahwa Humaira telah bahagia, dan kebahagiaan wanita itu adalah rida tertinggi bagi pertobatan hidupnya.

Arsalan membalikkan tubuhnya, melanjutkan langkah kakinya menuju tempat wudu dengan hati yang terasa teramat ringan.

Sementara itu, di dalam halakah makam utama yang beralaskan karpet hijau, Ning Humaira sudah duduk bersila di samping para santriwatinya. Ia membuka kitab *Yasin* kecil di tangannya, namun sebelum mulai mendaras, ia sempat memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang ke arah langit-langit serambi masjid yang teduh.

Di dalam hatinya, Humaira membisikkan sebuah kalimat rahasia yang hanya ia dan Allah yang tahu. 'Maturnuwun, Ya Allah... Njenengan sampun mengabulkan doa kulo kagem melihat Gus Arsalan menjadi pribadi yang tawadu. Jagalah beliau di Kediri, sebagaimana Njenengan menjaga ketenangan hati kulo di Jombang.'

Siang hari di Tebuireng itu ditutup dengan lantunan tahlil yang membumbung tinggi ke angkasa, menjadi saksi bisu dari dua insan yang pernah dipersatukan oleh kebohongan ego, kini telah sepenuhnya dibebaskan oleh keikhlasan takdir di bawah naungan rida para kekasih Allah.

1
Ilfa Yarni
tp aku tetap sedih arsalan sendirian
Ilfa Yarni
Thor knp alhamdulillahnya beda bukan Alhamdulillahirrabbil 'alamiiin'
Akasia Rembulan
begitu jalan takdir Gus Arsalan.. harus melalui cobaanutk sampai dititik ini..
Ilfa Yarni
setiap Ku baCa kisah arsalan skr aku nangis krn dia tidak mau memikirkan dunia lg dan tidak mau menikah yg ada difikirannya cuma tentang akhirat huhuhu sedih deh
Ilfa Yarni
aaaa sedih banget aku su km gus arsalan hiks hiks nangis aku bacanya
Akasia Rembulan
Gus Arsalan 😍
Ilfa Yarni
walaupun humaira udah dpat suami yg jauh lbh baik dr arsalan entah knp aku sedih krn arsalan udah bertaubat a dan benar2 berubah knp ga ada kesempatan kedua buat dia
Akasia Rembulan
gus gus ngerti agama kok zholim
Akasia Rembulan
iya ning.. masih banyak lelaki lain
Akasia Rembulan
kuat ning💪
Akasia Rembulan
ayo ning.. kobarkan semangatmu
Akasia Rembulan
gus... gus.. knapa ngga menikahi orang yg dicintai.. malah mengorbankan orang lain
Ilfa Yarni
haira udah bahagia bagaimana dgn arsalan
Ilfa Yarni
kok aku yg sedih humaira mau nikah dgn gus Reyhan sedih aku lihat arsalan dia udah berubah total tawadu' 'siapa jodohnya nanti ya
Ilfa Yarni
setelah b pertobatan arsalan aku malah jadi sedih krn mereka ga bisa bersatu lagi
falea sezi
🤣🤣 kapok lu makanya jd suami jangan dzalim kelamaan tinggal di luar jd kayak budaya luar sifat lu. menjijikkan
falea sezi
uda nikah aja ma reyhan biar si bangsatt gigit jari🤣
falea sezi
🤣🤣 katanya anak kiyai masak arti talak 3 aj lu kagak paham. bro😒😒 bloon sukurin lu abis ne liat humaira di nikahin reyhan🤣
falea sezi
🤣🤣 goblok malah ngucap. talak 3🤣🤣 ya g bs balik. lah goblok😒
Ilfa Yarni
entah knp aku pengen humaira balik dgn arsalan yoh arsalan udah berubah tp sayangnya mrk idak talak tiga itu ga mgkn lg humaira hrs menikah dulu dgn laki2 lain dan bercerai lg bar arsalan bisa balik lg hadeeh sedih aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!