Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Sore hari di Kota Bogor selalu membawa ketenangan tersendiri setelah hujan reda.
Dari balik dinding kaca menara Mandala Group, langit barat memancarkan warna jingga keemasan yang memantul indah di atas permukaan meja kerja Clarissa Alexandra.
Namun, ketenangan di luar sana sangat berbanding terbalik dengan intensitas atmosfer di dalam ruangan bernuansa minimalis modern tersebut.
Clarissa duduk bersandar di kursi kebesarannya. Blazer biru tuanya kini sudah tersampir di sandaran kursi, menyisakan kemeja sutra putih tanpa lengan yang melekat ketat pada lekuk tubuh atasnya yang indah.
Jemari lentiknya memijat pelipisnya yang terasa agak pening akibat lonjakan adrenalin dari konflik dengan Hendra Wijaya tadi pagi.
Di hadapannya, Farrel berdiri tegak menghadap jendela besar, kedua tangannya tenggelam di saku celana flanel gelapnya.
Punggung bidang pria itu tampak begitu kokoh, memberikan rasa aman yang tak tergoyahkan bagi siapa pun wanita yang berlindung di baliknya.
"Semua aset fisik dan rekening bayangan milik faksi Hermawan di Bogor sudah bersih, Farrel,"
suara Clarissa memecah keheningan, terdengar sedikit serak namun sarat akan nada kelegaan.
"Tim hukumku sudah membalikkan dokumen palsu Hendra untuk menyerang balik perusahaan cangkang mereka di Jakarta. Untuk sementara, mereka tidak akan berani menyentuh Mandala Group secara legal."
Farrel tidak langsung berbalik. Ia mengembuskan napas panjang, menikmati pemandangan kota yang kini berada di bawah cengkeraman kekuasaannya.
"Itu baru permulaan, Clarissa. Orang-orang Jakarta itu seperti ular beludak. Begitu satu kepala dipotong, mereka akan mengirim ekornya untuk menyengat dari kegelapan."
"Maya sudah memberi tahu gua kalau mereka mulai mengirim tim investigasi non-resmi."
Clarissa bangkit dari kursinya. Langkah kaki jenjangnya yang terbalut rok pensil hitam bergerak mendekati Farrel.
Tanpa ragu, sang Ratu Properti itu melingkarkan kedua lengan indahnya di pinggang tegap Farrel, menyandarkan pipinya yang seputih porselen pada punggung hangat pria itu.
"Lalu, apa rencana kamu selanjutnya? Aku tidak mau kamu terus-menerus menghadapi bahaya sendirian,"
bisik Clarissa, suaranya melembut, melepaskan seluruh topeng keangkuhan seorang CEO yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar.
Farrel berbalik di dalam dekapan Clarissa, menatap wajah cantik nan dewasa itu dengan seringai tipis yang menawan.
Tangan kanannya bergerak naik, menyelipkan beberapa helai rambut cokelat Clarissa ke belakang telinganya, lalu turun untuk mengusap tengkuknya dengan sentuhan dominan yang intim.
"Gua gak pernah sendirian, Mel,"
kata Farrel rendah, memajukan wajahnya hingga Clarissa bisa merasakan kehangatan napasnya yang seksi.
"Gua punya Tiger, Garuda Hitam, dan yang paling penting... gua punya lu yang mengendalikan jalur finansial gua."
"Malam ini, gua mau lu santai. Jangan pikirkan Jakarta, jangan pikirkan saham."
【 Ting! Pengaruh Karisma Tingkat Monster bekerja secara pasif pada Target Kedua: Clarissa Alexandra! 】
【 Tingkat Kesukaan Clarissa Alexandra stabil di angka 90% (Keterikatan Jiwa dan Raga yang Mendalam). 】
【 Naluri ketergantungan target meningkat akibat perlindungan mutlak Pengguna. 】
Clarissa memejamkan matanya, menikmati sentuhan jemari Farrel yang membuat seluruh tubuhnya merinding halus.
"Kamu selalu tahu cara membuatku bertekuk lutut, Farrel..." desah Clarissa pasrah.
Farrel tidak membuang waktu lagi. Ia menyusupkan kedua tangan kekarnya di bawah paha dan punggung Clarissa, mengangkat tubuh molek wanita itu dalam gendongan bridal style dengan sangat mudah berkat kekuatan stat 25 miliknya.
Clarissa memekik kecil karena terkejut, namun segera melingkarkan lengannya di leher Farrel dengan wajah yang merona merah.
Farrel membawa Clarissa menuju ruang istirahat pribadi yang terletak di balik pintu rahasia ruang kerjanya sebuah kamar mewah dengan ranjang king size yang empuk.
Di atas ranjang itulah, di bawah temaram lampu tidur yang hangat, Farrel memanjakan sang Ratu Properti, mengubah ketegangan bisnis menjadi letupan gairah yang membakar malam mereka berdua.
Momen slice of life yang intens dan penuh dominasi ini membuat Clarissa menyerahkan seluruh jiwa dan raganya tanpa sisa kepada sang mantan supir angkot yang kini telah menjadi rajanya.
Pukul dua dini hari, ketika Clarissa sudah tertidur lelap dengan selimut yang membungkus tubuh indahnya, Farrel bangkit dari ranjang dengan gerakan tanpa suara. Ia memakai kembali pakaian hitamnya dan melangkah keluar menuju ruang kerja utama yang gelap.
Farrel mengaktifkan ponsel taktisnya. Sebuah notifikasi Sistem berkedip di sudut matanya.
【 Ting! Peringatan Dini Sistem! 】
【 Deteksi Pergerakan Musuh: Tiga unit mobil van hitam tanpa plat nomor baru saja memasuki batas wilayah Bogor Barat melalui jalur tikus perbatasan. 】
【 Identitas Musuh: Tim Pemukul Bayangan Aliansi Jakarta (15 personel bersenjata lengkap dengan kualifikasi mantan tentara bayaran). Target: Menculik Amelia Putri di kliniknya sebagai sandera untuk menekan Anda! 】
Farrel menyeringai dingin di dalam kegelapan ruangan. Matanya berkilat kejam bagai predator yang melihat mangsa bodoh berjalan masuk ke dalam jebakan.
Mereka pikir Farrel hanya mengawasi Mandala Group? Mereka lupa kalau seluruh sudut Kota Bogor kini adalah mata dan telinga milik Garuda Hitam.
Farrel langsung menekan tombol panggilan cepat ke nomor Maya Arisanti.
"Maya," panggil Farrel begitu sambungan terhubung pada dering pertama.
"Gua udah tahu, Farrel,"
suara Maya terdengar berbisik dari ujung telepon, diselingi suara deru angin malam. Tampaknya agen wanita itu sudah berada di lapangan.
"Gua lagi mantau mereka dari atas gedung perbatasan. Bajingan-bajingan Jakarta ini bergerak cepat banget. Mereka mengincar klinik Amelia di Bogor Utara. Apa lu mau gua habisi mereka sekarang?"
"Jangan," perintah Farrel sedingin es.
"Biarkan mereka mendekati klinik. Gua mau lu pancing mereka masuk ke area depo pasir yang sudah kosong semalam. Gua sendiri yang bakal datang buat cabut nyawa mereka satu per satu."
"Dimengerti, Tuan Penguasa,"
jawab Maya dengan nada sinis yang khas, namun ada getaran kepatuhan yang kuat dalam suaranya setelah merasakan kekuatan fisik Farrel di penthouse dua hari lalu.
Farrel mematikan ponselnya, lalu melirik ke arah pintu kamar tempat Clarissa tertidur. Ia berjalan keluar dari ruangan dengan langkah anggun namun sarat akan aura kematian.
Pemanasan di atas ranjang bersama Clarissa sudah selesai, dan kini saatnya bagi Farrel untuk memulai pembantaian babak baru di bawah kegelapan malam Kota Bogor.