Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Manipulasi Kaelen
"Nak Evelyn... maafkanlah cucuku ini," ucap Nerissa dengan nada suara yang sarat akan kekhawatiran. "Aku tahu apa yang ia lakukan padamu kemarin malam sudah sangat keterlaluan. Kami, kaum mermaid, tidak sepatutnya menghukum manusia tak bersalah sepertimu. Jujur, aku sangat kecewa. Aku tidak menyangka jika Kaelen yang kukenal lembut dan penyayang bisa bertindak sekejam itu padamu. Apa kau terluka, Nak? Jika iya, katakan padaku sekarang. Aku yang akan bertanggung jawab untuk mengobatimu hingga sembuh total."
Evelyn terdiam cukup lama, menolak memberikan respons instan. Sementara itu, Kaelen yang berada di seberangnya tetap tidak bergeming.
Pria itu hanya menunduk lesu. Luka cambuk yang dilayangkan sang ayah tempo hari rupanya benar-benar tidak main-main, meremukkan fisiknya sekaligus harga dirinya.
Sebenarnya, jauh di lubuk hati, Kaelen ingin sekali meluapkan emosi dan mencabik Evelyn saat itu juga. Namun, akal sehatnya menahan ego tersebut. Kehadiran sang nenek dan banyaknya saksi mata di luar sana adalah ancaman besar. Jika ia membuat masalah lagi, ayahnya tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang jauh lebih mengerikan.
Evelyn menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang dingin. "Kondisi saya sudah membaik sekarang, Nyonya. Tapi maaf sekali, sepertinya saya tidak bisa memaafkan cucu Anda begitu saja."
Evelyn mengalihkan tatapan tajamnya langsung ke arah Kaelen. "Kenapa Anda yang harus repot-repot meminta maaf mewakilinya? Dia yang berbuat salah, dan saya rasa... dia masih punya mulut yang sanggup untuk berbicara sendiri."
Kaelen tidak menghiraukan ucapan Evelyn. Pria itu tetap bungkam, kepalanya masih menunduk dalam seolah enggan menatap wajah sang gadis manusia.
"Lihatlah, Nyonya," dengus Evelyn sinis. "Cucu Anda yang katanya lembut dan penyayang itu nyatanya hanyalah seorang pengecut. Dia hanya berani pada gadis manusia yang ia anggap lemah seperti saya."
"Kael, tolonglah. Minta maaf padanya sekarang juga," desak Nerissa, nadanya memberat penuh penekanan.
Mendengar teguran sang nenek, Kaelen terpaksa mendongak. Manik matanya bertemu langsung dengan sepasang netra Evelyn. "Aku minta maaf," ucap pria berusia delapan belas tahun itu. Suaranya pelan, datar, dan nyaris tanpa tenaga.
"Yang benar, Kaelen! Kau harus bersungguh-sungguh dari hati, jangan terpaksa seperti itu. Nenek tidak suka dengan sikapmu ini!" cecar Nerissa kecewa.
"Ck." Kaelen berdecak malas, memutar bola matanya.
"Aku minta maaf dengan tulus padamu, Evelyn. Apa kau mau memaafkanku?" Kali ini nada bicara Kaelen berubah melembut. Entah itu murni karena terpaksa, atau ada niat terselubung yang sedang ia rencanakan.
"Tidak," jawab Evelyn singkat dan mutlak.
Tentu saja, seorang Evelyn tidak akan sudi memaafkan makhluk kejam dan berdarah dingin seperti Kaelen dengan semudah itu. Terlebih, Evelyn berniat memanfaatkan situasi ini untuk membalaskan dendamnya nanti. Ia bersumpah akan membuat Kaelen bertekuk lutut dan bersujud di bawah kakinya.
"Tuh, kan, Nek? Dia yang tidak mau memaafkanku," adu Kaelen, seolah mendapat pembelaan.
Nerissa menghela napas panjang, gurat penyesalan tercetak jelas di wajah cantiknya. "Aku sangat paham dengan perasaanmu, Nak Evelyn. Kesalahan Kaelen memang terlalu berat untuk dimaafkan—"
"Maaf, Nyonya. Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi untuk menyusul rombongan guru dan teman-teman saya." Evelyn langsung beranjak dari sofa, menolak untuk berlama-lama di sana.
"Tunggu, Nak!" cegah Nerissa cepat. Ia kemudian menoleh ke arah cucunya dengan tatapan tajam. "Kael, antar dia sampai ke Gua Museum dengan selamat. Ingat, jangan macam-macam jika kau tidak ingin berakhir menerima hukuman yang lebih berat dari ayahmu!"
"Kenapa harus aku yang mengantarnya?" protes Kaelen tidak terima.
"Sudah, jangan membantah!" tegas Nerissa, tidak menerima penolakan.
"Saya bisa pergi sendiri, Nyonya. Tidak perlu repot-repot menyuruh cucu Anda untuk mengantar saya," tolak Evelyn halus namun sarat akan penolakan. Ia melangkah lebar, keluar dari toko suvenir tersebut.
"Kaelen! Kenapa kau malah diam saja? Cepat kejar dia!" perintah Nerissa dengan suara lantang.
Dengan helaan napas dongkol, Kaelen terpaksa beranjak. Langkah kakinya menghentak kasar di atas hamparan pasir pantai, berusaha mengejar langkah Evelyn yang sudah menjauh.
Begitu berhasil menyusul, Kaelen langsung mencengkeram pergelangan tangan Evelyn dengan kasar. "Hei, gadis bodoh! Dengar, ya... aku melakukan ini hanya karena terpaksa dan menghargai nenekku. Ayo, ikut aku!"
Evelyn sentak menepis tangan Kaelen dengan sentakan kuat. "Tidak usah pegang-pegang. Aku bisa berjalan sendiri!" ketusnya, lalu melangkah mendahului Kaelen. Meskipun sebenarnya ia tidak tahu arah menuju museum, egonya menolak untuk terlihat tersesat di depan pria itu.
'Kau benar-benar menyebalkan,' batin Kaelen, menatap punggung Evelyn dengan kedengkian yang membara.
Saat matanya menangkap sebuah papan petunjuk arah di persimpangan jalan, sebuah seringai tipis terukir di bibir Kaelen. Dengan gerakan yang sangat halus dan tak kasat mata, ia melepaskan sedikit kekuatan supranaturalnya. Papan panah yang awalnya menunjuk ke arah timur—lokasi Gua Museum yang sebenarnya—perlahan berputar secara magis menuju ke arah barat.
'Kita lihat, apa kali ini kau bisa bertahan hidup, Evelyn!' batin Kaelen tertawa puas.
Sebenarnya, Kaelen menyimpan rasa penasaran yang luar biasa sejak kejadian semalam. Ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa Evelyn meloloskan diri dari altar eksekusi tepat saat ia akan menghabisinya. Ditambah lagi, gadis itu sempat memanifestasikan sosok entitas kuat yang membuat Kaelen tercengang.
Ia juga penasaran apakah kali ini Evelyn akan kembali memanggil Aspidochelone, hewan peliharaan purba milik Neptunus sang Poseidon.
Pasalnya, setelah Neptunus mendatangi kerajaannya semalam, pria tua itu melaporkan bahwa peliharaannya yang sempat hilang beberapa menit kini telah kembali ke Pulau Silence—wilayah teritori sang dewa laut.
Kaelen dan seluruh keluarganya tentu saja heran. Makhluk mistis sebesar pulau itu sempat berinteraksi dengan Evelyn, bahkan tunduk pada perintah seorang gadis manusia biasa.
Evelyn, yang sama sekali tidak menyadari manipulasi tersebut, terus melangkah mantap ke arah barat. Sementara itu, Kaelen setia mengekor di belakangnya bagai bayangan yang mengintai.
Setelah berjalan cukup jauh—sekitar satu kilometer dari toko suvenir Nerissa—langkah kaki mereka tiba di depan sebuah gua besar yang tampak mengerikan. Dinding-dinding batunya dipenuhi lumut hijau pekat yang lembap. Udara di sekitar tempat itu mendadak mendingin, membawa aroma anyir darah dan bau busuk bangkai yang menyengat, membuat perut Evelyn bergejolak mual setengah mati.
Evelyn menghentikan langkahnya, menatap mulut gua itu dengan kening berkerut dalam. Keadaan di luar gua sangat sepi. Tidak ada papan nama museum, tidak ada loket tiket, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia sama sekali.
Merasa ada yang ganjil, ia menoleh tajam ke arah Kaelen. "Benarkah ini tempatnya?"
Kaelen mengangguk cepat tanpa ragu. "Benar sekali."
"Tapi kenapa sepi? Di mana rombongan yang lain?" tuntut Evelyn penuh selidik.
"Mereka sudah masuk ke dalam. Masuklah," jawab Kaelen dengan nada misterius yang tertahan.
Evelyn yang belum menaruh curiga sepenuhnya akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk. Ia berjalan perlahan menembus kegelapan mulut gua. Namun, semakin ia melangkah ke dalam, bau busuk yang menguar justru kian menyengat, menusuk indra penciumannya.
"Aku tidak kuat..." gumam Evelyn, mati-matian menahan gejolak di perutnya agar tidak muntah.
Hingga detik ini, ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan teman atau gurunya.
'Apa benar tempat sekotor, segelap, dan sebau ini adalah gua museum laut?' batinnya ragu.
Lorong gua semakin menyempit dan gelap gulita. Mau tidak mau, Evelyn merogoh saku dan menyalakan lampu senter dari ponselnya.
Seberkas cahaya putih kini membelah kegelapan, menyinari langit-langit gua di mana segerombolan kelelawar hitam bergelantungan, berdampingan dengan kelabang-kelabang raksasa yang merayap pelan. Instingnya mulai berteriak bahwa tempat ini tidak aman. Tidak mungkin ada manusia normal yang betah bertahan lama di dalam sini.
Krak!
Langkah Evelyn mendadak terhenti saat sol sepatunya tidak sengaja menginjak sesuatu hingga hancur.
Ia mengarahkan cahaya senter ponselnya ke bawah, tepat ke arah kakinya yang memijak tanah lembap. "Apa ini?"
Evelyn menyipitkan mata, mencoba memperjelas visual di depannya.
Di bawah temaram cahaya senter, tampak potongan objek putih yang mencuat dari balik tanah. Itu adalah struktur tulang belulang kering yang berserakan—entah milik hewan liar, atau milik makhluk malang lain yang pernah terjebak di dalam gua terkutuk tersebut.
Hingga tiba-tiba...
Tes. Tes. Tes.
Evelyn yang masih fokus mengamati tulang belulang itu mengernyit saat merasakan tetesan cairan kental mengenai puncak kepalanya.
Awalnya, ia mengira itu hanyalah air yang menetes dari stalaktit gua. Namun, begitu ia mendongak dan perlahan mengarahkan cahaya senter ponselnya ke atas untuk memastikan...
Deg!
Bola mata Evelyn membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Tepat di atas kepalanya, merayap seonggok makhluk raksasa berleher panjang dengan punggung berpunuk. Gigi-gigi makhluk itu berderet runcing dan tajam, tertanam pada rahang yang mengerikan. Kulitnya keras bersisik legam, dengan lidah panjang yang menjulur basah. Sepasang mata kuning vertikalnya menatap lapar langsung ke arah Evelyn. Cairan kental yang menetes tadi bukanlah air gua, melainkan air liur sang monster.
"A-Aakhhh! Monster!"