Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Mulai Tumbuh
Dua hari setelah mengalami serangan panik, kondisi Raya sudah jauh lebih baik. Meski sesekali dadanya masih terasa sesak ketika mengingat kejadian malam itu, ia berusaha untuk tidak terus-menerus larut dalam ketakutan yang menghantuinya.
Hari ini, Raya memilih menyibukkan dirinya di butik milik Bu Sinta. Jemarinya tampak lincah merapikan gaun-gaun yang dipajang di etalase, melipat beberapa kain yang baru saja datang dari pemasok, serta membantu karyawan lain melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Raya sengaja mengisi harinya dengan berbagai pekerjaan. Baginya, kesibukan adalah cara terbaik untuk mengalihkan pikirannya dari rasa cemas yang terkadang datang tanpa permisi. Ia tidak ingin terus berdiam diri di kamar dan memikirkan hal-hal yang justru akan membuatnya kembali tenggelam dalam ketakutan.
Perhatian-perhatian kecil yang diberikan Juan perlahan membuat hati Raya menghangat. Meski ia masih belum sepenuhnya memahami perasaannya sendiri, satu hal yang Raya sadari, kehadiran Juan kini bukan lagi sesuatu yang membuatnya merasa asing ataupun takut.
Raya tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya. Sorot matanya kini tertuju pada sebuah foto yang terpajang diatas meja kerja milik ibu mertuanya, foto dirinya dan Juan setelah melangsungkan akad. Foto itu menampilkan Juan yang sedang mengecup kening Raya, sementara Raya yang sedang mencium punggung tangan Juan. Serta foto setelah melangsungkan akad, Raya yang memakai kebaya putih yang sederhana dan elegan dengan senyum manis terukir dibibirnya, sangat kontras dengan ekspresi Juan yang sangat datar.
Raya menarik nafas pelan, bibirnya mulai melengkung sempurna, lesung pipi disudut bibirnya kembali menampilkan wujud yang membuat wajah Raya terlihat sangat manis. Ada kehangatan yang kian menelusup didalam rongga dadanya, seiring dengan hangatnya sinar matahari sore yang kini sinarnya bergerak perlahan menyinari tubuh Raya melewati kaca jendela.
"Aku bersyukur sekali, terimakasih ya Allah engkau telah mengaruniakan aku seorang ibu mertua yang sangat baik hati," Raya memejamkan matanya, menikmati getaran kelopak mata yang ingin mengeluarkan air bening.
"Walaupun pernikahanku dengan bang Juan tidak dilandaskan dengan cinta, bahkan kami adalah dua insan yang tidak saling mengenal satu sama lain, tapi setelah menjalani pernikahan ini aku mulai merasakan kenyamanan dan rasa sayang yang kian tumbuh pada bang Juan."
"Apa bang Ju juga merasakan hal yang sama, Raya berharap dengan permohonan yang sangat besar ya Allah, tumbuhkan rasa sayang dan cinta dihati bang Juan untukku. Kami adalah pasangan halal, tapi pernikahan kami belum sepenuhnya sempurna." lirih Raya, kemudian sorot matanya berbinar menatap awan senja yang menguning duduk barat. Entah mengapa perasaanya sangat senang sore ini, hormon serotonin sedang bekerja dengan baik didalam tubuhnya.
Tok tok tok.
"Mbak Raya, maaf saya ganggu waktunya." seorang karyawan mengetuk pintu ruang kerja Bu Sinta yang terbuka.
"Iya, ada apa?" Raya menoleh pada karyawan yang memanggilnya.
"Maaf mbak, dibawah pak Juan sudah menunggu mbak."
Raya mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Terimakasih mbak, saya akan segera turun."
"Kalau begitu saya permisi mbak." ucap karyawan itu seraya berlalu pergi dari hadapan Raya.
Raya mulai melangkahkan kaki dengan hati-hati, menuruni tangga satu persatu. Senyum terus melengkung pada wajahnya yang terlihat masih segar walau sudah bekerja seharian, Raya tidak menyangka jika Juan akan menjemputnya pulang. Bahkan setelah kejadian serangan panik itu Juan tidak lagi pulang telat, sore hari Juan sudah sampai rumah sampai membawa beberapa pekerjaan kantor dan dikerjakan dirumah.
Perhatian kecil yang dilakuan Juan pada Raya bagai pupuk dan air yang disiramkan pada benih cinta yang mulai tumbuh dihatinya, tanpa Juan sadari, Raya sudah menaruh hati padanya. Siapa yang tidak akan luluh jika diperlakukan secara hormat oleh seorang pria, dan tidak lain pria itu adalah suami sendiri.
Karyawan tersenyum saat Raya lewat, atmosfer kebahagian Raya menular pada setiap karyawan yang Raya lewati.
"Aku gak nyangka, ternyata pak Juan bisa seperhatian itu ya sama istrinya." bisik-bisik para karyawan butik mulai terdengar.
"Aku kira pernikahan terpaksa ini akan menyakiti pihak istri, tapi aku lihat mbak Raya kaya bahagia-bahagia aja sama pak Juan." timpal karyawan yang lain.
"Siapa yang gak bahagia coba, sudah tampan, punya perusahaan, pesonanya yang aur-auran, pak Juan itu mirip sekali dengan aktor Hollywood. Mbak Raya beruntung sekali, amalan apa ya yang mbak Raya amalkan."
"Menurutku pak Juan juga beruntung banget dapetin mbak Raya. Cantik, imut, mungil, pesonanya bagai magnet yang terus menarik, baik hati juga, dan aku baru tau ternyata mbak Raya juga jago desain baju. Hasilnya bagus-bagus, desainnya elegan modern kekinian lah pokonya."
"Berarti pasangan itu paket komplit yah, pak Juan beruntung dapetin mbak Raya, mbak Raya beruntung dapetin pak Juan.
"Tapi menurutku yah, seperti mereka memang belum saling mencintai satu sama lain, tapi mereka sudah mulai menemukan kenyamanan."
"Ah...gemes banget. Aku udah ngebayangin secakep apa nanti anak mereka."
*
Jantung Raya kian berdebar saat langkah kakinya mulai dekat dengan keberadaan Juan. Diujung sana Juan tengah berdiri tegap, jas berwarna abu tua tersampir dibahunya, tangan kanannya ia masukan kedalam saku celana, sementara tangan kiri sedang menahan ponselnya pada telinga. Juan yang sedang sibuk berbincang dengan seseorang diseberang telpon.
Raya sudah berdiam diri dibelakang Juan yang masih sibuk dengan panggilan diponselnya, Raya berusaha untuk menarik nafas mencoba untuk menetralkan debar bahagia didalam rongga dadanya.
"Ayok pulang..." ucap Juan setalah menutup telponnya, tanpa menoleh kearah Raya.
Raya menautkan alisnya bingung, "Kok Abang tau tadi ada Raya dibelakang Abang?"
"Ya Taulah"
"Kok bisa?"
Juan mengangkat dagunya ke arah lantai marmer di depan mereka.
"Bayangan kamu kelihatan jelas dari tadi."
Raya spontan menundukkan kepalanya. Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.
Lagi-lagi, Juan memang tidak pandai merangkai kata romantis. Namun perhatian kecil yang pria itu tunjukkan selalu berhasil membuat jantungnya berdebar.
Bersambung...
di bawa awal" raya pakai hijab sehari".
jadi raya ini berhijab ga thor?