Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Empat
"Mulai hari ini semuanya benar-benar dimulai." Chelsea berdiri di depan jendela. Angin pagi menerpa wajahnya.
Tatapannya mengarah ke langit biru yang membentang luas. "Dad ... Mom ...."
Suara itu keluar begitu lirih. "Aku pasti akan berhasil."
Ia memejamkan mata beberapa detik. Bayangan Arsaka dan Hana kembali memenuhi pikirannya. Dua orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Namun, justru merekalah yang memberinya rumah.
Tanpa sadar, sudut mata Chelsea mulai memanas. "Aku nggak boleh nangis."
Ia mengusap cepat air mata yang mulai menggenang. "Aku harus kuat."
Kalau bukan karena Arsaka dan Hana, mungkin hidupnya sudah berakhir sejak kecil. Mereka tidak pernah membedakan dirinya dengan El ataupun Al.
Mereka selalu mengatakan satu hal yang sama. "Kamu anak kami."
Kalimat itu selalu menjadi tempat paling nyaman bagi Chelsea. Namun, senyumnya perlahan memudar.
Pikiran itu kembali datang. Tentang wanita yang telah melahirkannya. Seseorang yang bahkan belum pernah sempat ia panggil "Ibu."
Chelsea mengembuskan napas panjang. "Aku memang nggak pernah mengenal Ibu. Tapi, aku yakin Ibu sebenarnya sayang sama aku."
Ia baru tahu dari El, kalau ibu kandungnya pernah menjadi orang ketiga. Tentang bagaimana wanita itu menghancurkan rumah tangga Hana. Dan tentang wanita itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Chelsea tidak pernah membenci wanita itu. Tidak juga membenarkan semua kesalahannya Baginya, semua sudah terjadi. Dan tidak bisa diubah lagi.
"Aku nggak akan menjadi seperti Ibu." Tatapannya berubah semakin teguh. "Aku akan hidup dengan cara yang benar. Aku akan menjaga kepercayaan Dad dan Mom."
"Aku akan membalas semua kebaikan mereka." Ia menggenggam kedua tangannya erat. "Aku ingin suatu hari nanti, Dad dan Mom benar-benar ikhlas memaafkan Ibu."
Kalimat itu keluar begitu pelan. Chelsea sadar, kesalahan ibunya mungkin tidak akan pernah bisa dihapus. Tetapi ia ingin menjadi alasan mengapa luka itu perlahan sembuh.
Ia ingin membuktikan bahwa darah seseorang tidak menentukan siapa dirinya. Ia juga ingin membuat El yang membencinya, karena di tubuhnya mengalir darah wanita yang pernah menyakiti Mom Hana, dapat memaafkan dan menyayanginya seperti dulu lagi.
Yang menentukan adalah pilihan hidup. Dan Chelsea sudah memilih. Memilih menjadi anak yang bisa dibanggakan dan menjadi wanita yang menjaga harga dirinya. Ia tidak akan menyakiti keluarga yang telah menyelamatkannya.
Beberapa saat kemudian, satu bayangan lain kembali muncul. Seseorang yang selama bertahun-tahun selalu mengisi hatinya.
Chelsea langsung tersenyum pahit. "Bang El ...."
Namanya saja masih mampu membuat dada Chelsea terasa sesak. Sejak kecil, ia selalu mengikuti ke mana El pergi. Selalu bangga setiap melihat kakak angkatnya itu.
Tanpa sadar, perasaan kagum itu tumbuh menjadi sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada. Cinta.
Chelsea menundukkan kepala. "Aku bodoh." Ia tersenyum getir. "Aku benar-benar bodoh."
Bagaimana mungkin ia mencintai kakak angkatnya sendiri? Walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah. Tetap saja mereka tumbuh sebagai saudara.
Dan sekarang, semuanya sudah berakhir. El telah memilih wanita lain. Apalagi saat ini ia tahu El sangat membencinya karena lahir dari seorang wanita yang disebut pelakor.
Sedangkan Chelsea, harus belajar mengubur semua perasaannya. Ia menarik napas panjang.
"Mulai hari ini, aku akan melupakan Bang El."
Kalimat itu terasa berat. Namun ia tahu, itulah keputusan terbaik. Chelsea tersenyum kecil sambil mengusap dadanya sendiri.
"Aku pasti bisa."
---
Keesokan paginya, suara alarm berbunyi tepat pukul enam..Chelsea langsung membuka mata. Semangatnya terasa berbeda.
"Hari pertama kerja!" Ia segera bangkit dari tempat tidur. Hari ini ia memilih mengenakan kemeja putih dipadukan rok span hitam selutut. Rambut panjangnya dikuncir rendah dengan rapi. Make up tipis menghiasi wajahnya. Sederhana.m, tapi justru membuat wajah cantiknya terlihat semakin segar.
Chelsea berdiri di depan cermin. "Semangat." Ia mengepalkan tangan kecilnya. "Kamu pasti bisa."
Setelah memastikan semua barang sudah masuk ke dalam tas, Chelsea mengambil napas panjang. "Let's go."
Gedung perusahaan tempat Chelsea bekerja berdiri megah di tengah kawasan bisnis.
Chelsea mendongak. "Wah ...."
Gedung itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Ia tersenyum gugup.
"Semoga aku betah di sini."
Begitu memasuki lobi, matanya langsung disambut interior modern yang elegan. Beberapa karyawan berlalu-lalang dengan langkah cepat.
Chelsea segera menghampiri meja resepsionis.."Selamat pagi."
Resepsionis tersenyum ramah, "Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Chelsea. Hari ini saya mulai bekerja."
"Oh." Wanita itu langsung mengecek data di komputer. "Sebentar ya, Mbak Chelsea."
Tak sampai semenit kemudian ia kembali tersenyum. "Silakan menuju lantai dua belas. Nanti bagian HRD sudah menunggu."
"Baik."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Chelsea segera masuk ke lift. Di dalam lift, ia mengusap kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat.
"Gugup banget ...."
Pintu lift terbuka. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun langsung menghampirinya.
"Kamu Chelsea?"
"Iya."
"Saya Rina dari HRD."
Chelsea langsung tersenyum. "Salam kenal, Kak."
"Salam kenal juga."
Rina terlihat ramah. "Yuk ikut saya."
Sepanjang perjalanan menuju ruang HRD, beberapa karyawan terlihat sibuk bekerja. Ada yang membawa berkas. Ada yang sedang berdiskusi. Ada pula yang sedang menjawab telepon.
Chelsea memperhatikan semuanya dengan antusias. "Suasananya enak ya, Kak."
Rina tersenyum.
"Kalau sudah terbiasa nanti juga betah."
"Amin."
Setelah menyelesaikan proses administrasi, Rina memberikan sebuah kartu identitas. "Mulai hari ini kamu resmi bergabung."
Chelsea menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih."
"Kalau boleh tahu ...." Chelsea tampak penasaran. "Saya ditempatkan di bagian mana?"
Rina tersenyum. "Kamu akan menjadi sekretaris."
Chelsea mengangguk. "Sekretaris siapa?"
Rina tersenyum semakin lebar. "CEO."
Chelsea langsung membelalak. "Hah?"
"Iya."
Chelsea menelan ludah. "Serius?"
"Iya," jawab wanita itu singkat.
Chelsea semakin gugup. "Beliau galak nggak?"
Rina menahan tawa. "Nanti kamu nilai sendiri."
Chelsea langsung salah tingkah. "Kalau ... kalau beliau suka marah gimana?"
"Asal kerja kamu benar, tenang saja."
"Tapi beliau sudah tua ya?"
Rina mengangkat sebelah alis. "Kenapa memangnya?"
Chelsea menggaruk pipinya. "Soalnya ... Biasanya direktur utama umurnya lima puluh atau enam puluh tahunan."
Rina justru tertawa semakin keras. Chelsea ikut tertawa canggung. "Saya benar kan?"
"Nggak juga."
Chelsea semakin bingung.
"Nanti kamu tahu sendiri."
Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. Di sampingnya terdapat papan nama berwarna hitam.
Chelsea langsung menarik napas panjang. "Deg-degan ...."
Rina mengetuk pintu. Suara seorang pria terdengar dari dalam. "Masuk."
Rina membuka pintu. "Permisi, Pak."
"Silakan masuk."
Chelsea mengikuti dari belakang. Begitu masuk, matanya langsung menyapu ruangan yang luas dan modern. Tatapan Chelsea lalu berhenti pada seseorang yang sedang duduk di balik meja.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam, Kemeja putih dan dasi abu-abu. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya tegas dan sangat tampan.
Usianya mungkin tidak jauh di atas tiga puluh tahun. Chelsea sampai membeku beberapa detik.
"Pak." Rina tersenyum. "Ini sekretaris baru."
Pria itu mengangguk pelan. "Silakan."
Chelsea masih berdiri mematung. Rina menyenggol pelan lengannya. "Chelsea."
"Iya!" Chelsea langsung tersadar. Ia buru-buru membungkukkan badan.
"Se-selamat pagi, Pak."
Pria itu memperhatikan Chelsea beberapa detik. Tatapannya tenang.
Chelsea justru semakin gugup, dan tanpa sadar apa yang ada di dalam kepalanya langsung keluar begitu saja. "Saya kira ... Bapak pria tua."
Ruangan langsung hening. Chelsea membelalak.
Astaga! Apa yang barusan aku ucapkan?
Ia langsung menepuk bibirnya sendiri pelan. "Maaf, Pak!" Maksud saya bukan begitu. Saya hanya ...."
Sementara pria di balik meja itu terdiam beberapa saat. Lalu, perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Tatapannya mengarah lurus kepada Chelsea yang masih menundukkan kepala karena malu. Dengan nada tenang, pria itu akhirnya membuka suara.
"Jadi kamu membayangkan yang akan menjadi atasanmu adalah pria tua dan garang?"
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Pria itu menatapnya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka