NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Pembawa Cinta

Ta'Aruf Pembawa Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:6.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Hasriani

"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya

Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.

Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima Kasih dan Maaf

Rafif membuka pintu kamar dan menghampiri Zahra yang sedang duduk melamun di balkon, wajahnya terlihat murung saat itu. Rafif pun segera menghampiri istinya itu

"Zahra, kau sedang apa disini?" tanya Rafif yang duduk melutut di depan Zahra

"Kak Rafif? aku hanya ingin menghirup udara segar" jawab Zahra yang pandangannya tetap lurus kedepan walau ia tau Rafif sedang duduk di hadapannya

"Kalau begitu, kita bisa duduk sebentar lagi disini" ucap Rafif memindah posisinya dan duduk di kursi sebelah Zahra

"Kau tidak marah aku keluar sendiri ke balkon seperti ini?" tanya Zahra tiba-tiba

"Maksudnya?" Rafif tidak memahami pertanyaan Zahra

"Untuk orang sepertiku, ketinggian sangat berbahaya. Apa kau tidak memiliki kecurigaan terhadapku? siapa tau saja aku berniat lompat dari sini" jelas Zahra yang membuat Rafif tersenyum kecil, ia meraih tangan Zahra dan menggenggamnya erat

"Untuk apa marah, aku sangat percaya padamu Zahra. Aku sudah cukup mengenalmu, aku tau kau gadis yang baik dan sabar. Kau hanya perlu waktu untuk belajar ikhlas menerima cobaan ini" jawab Rafif mengelus pelan tangan Zahra yang ada di genggamannya

"Kau percaya padaku?" tanya Zahra masih curiga apakah rasa peduli Rafif padanya atas dasar rasa kasihan dan rasa bersalah

"Aku sangat mempercayaimu" jawab Rafif dengan sangat tegas, tidak ada keraguan di dalamnya. Zahra terdiam beberapa saat dan merenungi sikap dingin dan ia rasa cukup kasar pada Rafif beberapa hari ini

"Terima kasih kak, dan juga maafkan sifatku yang sangat tidak baik belakangan ini" ucap Zahra berbalik ke arah Rafif setelah lama terdiam

"Tidak masalah, aku mengerti perasaanmu" kata Rafif dengan begitu tulus

"Aku akan belajar untuk ikhlas menerima keadaanku mulai sekarang" ucap Zahra memberitau keputusannya pada Rafif, walau masih sangat merasa bersalah pada Zahra, Rafif juga masih menyayangkan hal ini

"Aku akan membantumu, aku akan menjadi matamu mulai sekarang" janji Rafif pada Zahra

"Mana bisa begitu" ucap Zahra dengan menyelipkan senyum kecil, Rafif merasa ragu apakah itu benar-benar senyuman Zahra

"Tentu saja bisa, lihatlah nanti apa yang bisa ku lakukan untukmu" jawab Rafif merasa sangat percaya diri membuat Zahra tersenyum, senyumnya saat ini sangatlah jelas dan bisa meluluhkan hati Rafif. Senyum itu adalah senyum yang sangat di rindukan oleh Rafif

"Akhirnya aku bisa melihat senyum mu lagi, Zahra" ucap Rafif dengan begitu senang, ia melepaskan genggaman tangannya dan beralih memeluk Zahra "Aku berjanji padamu, aku akan terus menjagamu" bisik Rafif tepat di telinga Zahra

"Kak Rafif, hatiku seperti ingin meledak saat kau memelukku seperti ini. Ku rasa aku sudah kalah dengan perasaanku, aku kini mulai jatuh cinta padamu kak" batin Zahra memejamkan matanya, menikmati rasa nyaman berada di dalam pelukan Rafif seperti ini walau kedua tangannya belum siap untuk membalas pelukan suaminya itu

***

Malam harinya, Rafif tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya di kamar baru mereka. Zahra yang kala itu sudah tertidur jadi terbangun karena merasa ingin ke kamar mandi. Ia berusaha beranjak dari tempat tidur dengan meraba-raba sekelilingnya untuk mencari tongkat jalannya

"Kau mau kemana?" tanya Rafif yang langsung menghampiri Zahra ketika melihatnya berusaha turun dari tempat tidur, ia segera membantu Zahra untuk turun dari tempat tidur

"Aku ingin ke kamar mandi kak, tiba-tiba saja ingin buang air kecil" jawab Zahra dengan malu-malu

"Kau bisa minta tolong padaku untuk mengantarmu, walaupun misalnya aku sudah tidur pun kau harus membangunkanku" kata Rafif memberitahu Zahra apa yang harus ia lakukan kedepannya

"Aku tidak enak padamu, apalagi ku dengar kau masih sibuk mengetik" jawabnya merasa sangat menjadi beban bagi Rafif

"Aku kan sudah bilang, mulai sekarang aku akan menjadi matamu" tegas Rafif tidak mau di bantah tetapi suaranya tetap saja lembut ketika berucap pada istrinya itu

"Iya baiklah, terserah kak Rafif saja. Aku sudah sangat ingin ke kamar mandi" ucap Zahra yang sudah semakin tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil

"Ohiya, biar ku antar" Rafif segera membantu Zahra untuk masuk ke kamar mandi, begitu Zahra sudah berada didalam, ia segera keluar dan tidak lupa untuk menyuruh Zahra memanggilnya ketika sudah selesai

***

Keesokan harinya Rafif berpamitan pada Zahra untuk berangkat ke kantor, sungguh berat meninggalkan istrinya itu seorang diri di rumah. Tapi mau tidak mau ia juga harus bekerja untuk menafkahi istrinya dan juga untuk kebutuhan rumah tangga mereka

Rafif segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantor ketika Zahra telah meyakinkannya bahwa ia tidak apa-apa untuk di tinggal sendiri dirumah

***

Pukul 10 pagi Rafif baru tiba di kantornya, padahal lelaki itu berpamitan pada Zahra di jam ia berangkat ke kantor seperti biasanya sewaktu keadaan Zahra masih normal. Para pegawainya pun merasa bingung karena tidak biasanya atasan mereka terlambat seperti itu

"Tumben sekali pak Rafif datang di jam seperti ini, apa ia mengatakan sesuatu padamu atau Bu Cindy?" tanya salah seorang karyawan pada Helen yang sedang berbicara di meja kerja karyawan tersebut, mereka berbicara dengan cara berbisik-bisik tetapi Rafif yang melewati mereka masih dapat mendengar dengan jelas pembicaraan mereka

"Tidak, kami tidak menerima kabar pak Rafif akan terlambat hari ini. Tapi.. apa kau tau jika istri pak Rafif saat ini mengalami kebutaan?" tanya Helen menggantungkan ucapannya

"Kebutaan?"

"Iya, kita semua sudah tau jika Bu Zahra adalah istri pak Rafif yang mengalami kecelakaan bersamanya. Tapi dari berita yang ku dengar, istri pak Rafif mengalami kebutaan, mungkin saja pak Rafif harus mengurusnya dulu sebelum berangkat bekerja" kata-kata yang keluar dari mulut Helen membuat Rafif menghentikan langkahnya

"Kau tau darimana, Helen?" tanya karyawan itu penasaran tapi hal itu tidak terjawab kala Rafif memanggilnya

"Helen, segera ke kantor saya sekarang" perintah Rafif yang membuat Helen gelagapan

"Ah, baik Pak" Ia segera mengikuti Rafif ke ruangannya

Rafif meletakkan tas kerjanya dan segera duduk di meja kerjanya

"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Helen merasa takut jika saja Rafif mendengar obrolannya tadi

"Segera ambil gajimu di ruang HRD hari ini dan seterusnya tidak usah datang lagi ke kantor ini" perintah Rafif yang membuat Helen sangat terkejut

"Ma-maksud Pak Rafif?" tanyanya menyangkal apa yang sudah ia ketahui

"Kinerja mu bagus Helen, tapi sayangnya mulutmu tidak pernah bisa kau jaga. Ini kantor, bukan ruang bergosip untukmu" jawab Rafif yang ia tau maksudnya itu bisa di mengerti oleh Helen

"Tapi saya tidak bergosip Pak, saya mengatakan yang sebenarnya. Istri bapak memang mengalami kebutaan saat ini dan juga kemungkinannya Pak Rafif harus mengurus... " ucapannya yang seakan tidak terima di pecat begitu saja dan melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri langsung di potong oleh Rafif

"Kau tidak perlu tau menau masalah rumah tanggaku, kantor tempatmu bekerja bukan tempatmu mencampuri urusan pribadi seseorang, apalagi atasanmu sendiri. Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu, jika kau mau menetap dengan aman di tempat mu bekerja, maka jagalah lisan mu dengan baik" ucap Rafif yang menyayangkan sifat karyawannya tersebut "Sekarang pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu lagi di perusahaanku, apalagi melihatmu terus berusaha menjelekkan istriku" perintah Rafif, Helen segera keluar dari ruangan Rafif dengan mata yang berkaca-kaca

"Zahra" batin Rafif merasa bersalah saat menyebut nama itu

1
its me
kokxxx awi sihh
Journal. Lilac
salam kenal Thor, mampir ya Thor ke novelku hehe
Journal. Lilac
keren Thor lanjut
Iffa umama
wgwg berani berbuat berani tanggung jawab 😜
Nur fadillah
Waah asyik ini bacanya...makasih ya Thor sukses selalu...🙏🙏
Nur fadillah
Bahagianya...🤲🤲
Nur fadillah
Heeheee...😀😀
Nur fadillah
Bahagianya...😀😍😍
Nur fadillah
Kasihan Kak Daffa...kasih pasangan Thor biar ndak sedih...😣😣
Nur fadillah
Heeeeemmm.😀😀
Nur fadillah
So sweet banget...😀😀😍
Nur fadillah
Cinta itu susah dibayangkan...cukup untuk dirasakan...yeeeaaah...🤣🤣🤣
Nur fadillah
Heeeeemmmm...🤣🤣🤣
Nur fadillah
Sediiih dan bahagia jadi satu...😥😥😥
Nur fadillah
Kok sediih banget siiih...😭😭😭
Nur fadillah
Sediiih bangeet Thor...😭😭😭
Nur fadillah
Sediiih banget...😭😭😭
Nur fadillah
Weh...weh...hanyut Maaasss..🤣🤣
Nur fadillah
Selalu samawa Neng Zahra dan Mas Rafif...🤲🤲
Nur fadillah
Salam kenal ya Thor...🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!