Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Pamit
Sinar mentari pagi menembus celah tirai apartemen, menerangi kamar yang kini tampak jauh lebih rapi. Dua koper besar masih berdiri di dekat pintu, seolah menunggu waktu untuk dibawa pergi.
Di depan cermin, Jena berdiri tegak. Ia baru saja selesai berdandan. Kemeja putih yang dipadukan dengan blazer berwarna hitam membuat penampilannya terlihat profesional dan anggun. Rok span hitam selutut membalut tubuhnya dengan rapi, sementara rambut panjangnya dibiarkan tergerai, menambah kesan elegan pada wajahnya. Riasan tipis yang dikenakannya berhasil menyamarkan sembap di matanya akibat tangisan semalam.
Jena menatap pantulan dirinya beberapa saat. Perempuan yang tadi malam hancur karena dikhianati kini sudah tak terlihat lagi. Yang tampak di hadapannya adalah sosok wanita dengan sorot mata tegas dan senyum tipis penuh keyakinan.
Perlahan ia menarik napas panjang. "Siap, Jena," ucapnya pelan kepada bayangannya sendiri. "Hari ini adalah hari terakhirku di sana. Aku harus menutup semuanya dengan kepala tegak." Ia meraih tas kerja yang telah dipersiapkan sejak semalam, lalu memastikan amplop putih di dalamnya masih tersimpan rapi.
Setelah mematikan lampu dan memeriksa kembali seluruh ruangan, Jena melangkah keluar dari apartemen.
Tak lama kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dan memesan sebuah taksi online.
Beberapa menit berselang, notifikasi kedatangan pengemudi muncul di layar.
Jena mengunci pintu apartemennya, lalu menoleh sekilas ke arah tempat yang telah menjadi saksi begitu banyak kenangan selama dua tahun terakhir.
Senyumnya mengembang tipis. "Bismillah." Tanpa menoleh lagi, ia melangkah menuju lift.
Pagi itu, langkah Jena terasa lebih ringan daripada biasanya. Luka di hatinya memang belum sembuh, tetapi tekadnya untuk memulai lembaran baru telah mengalahkan rasa sakit yang semalam nyaris menghancurkannya.
Jena masuk ke dalam taksi yang telah menunggunya di depan lobi apartemen.
"Selamat pagi, Mbak. Tujuan ke mana?" sapa sopir ramah.
"Ke Ardhana Group, Pak," jawab Jena sambil tersenyum tipis.
"Baik, Mbak." Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan. Sepanjang perjalanan, Jena lebih banyak memandang keluar jendela. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi tatapan kosong seperti semalam.
Hari ini, ia hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung megah Ardhana Group.
Jena membayar ongkos perjalanan, lalu turun dari mobil. Ia mendongakkan kepala sejenak menatap gedung yang telah menjadi tempatnya mencari nafkah selama dua tahun ini. Begitu banyak momen yang sudah ia lewati. Namun pagi ini, ia memilih untuk tidak larut dalam nostalgia.
Jena melangkah masuk ke dalam lobi dengan senyum profesional yang selama ini selalu menghiasi wajahnya.
"Selamat pagi, Mbak Jena," sapa salah seorang satpam sambil memberi hormat kecil.
"Selamat pagi, Pak," balas Jena ramah.
Beberapa karyawan yang berpapasan juga menyapanya.
"Pagi, Mbak Jena."
"Selamat pagi, Bu Jena."
"Pagi juga," jawab Jena satu per satu dengan senyum hangat.
Sesampainya di meja resepsionis, dua petugas yang mengenalnya langsung menyapa. "Selamat pagi, Mbak Jena."
"Pagi. Semangat kerjanya ya," balas Jena.
"Siap, Mbak."
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.
Jena melangkah masuk bersama beberapa karyawan lain. Jemarinya menekan tombol tiga puluh dua, lantai tempat ruang kerja Direktur Utama berada sekaligus tempat ia menghabiskan waktu sebagai sekretaris pribadi Jovian.
Pintu lift kembali menutup. Perlahan kabin bergerak naik.
Jena mengembuskan napas pelan. "Hari terakhir ..." gumamnya dalam hati. "Semoga semuanya berjalan lancar." Ia merapikan blazer yang dikenakannya, lalu menegakkan bahu. Saat pintu lift terbuka di lantai tiga puluh dua, Jena melangkah keluar dengan kepala tegak. Ia melangkah masuk ke ruangannya dengan tenang.
Jena meletakkan tas di atas meja, lalu merapikan beberapa berkas yang masih tersisa di laci. Menyusun dokumen-dokumen dan juga jadwal kerja Jovian.
Setelah selesai, ia membereskan barang-barang miliknya. Menyimpannya ke dalam wadah yang tersedia.
Setelah memastikan semuanya rapi, Jena merogoh amplop putih yang ada di dalam tasnya. Ia menatap amplop itu beberapa detik. "Inilah saatnya." Jena mengembuskan napas panjang, lalu melangkah keluar menuju ruang CEO.
Setiap langkah terasa begitu berat, tetapi wajahnya tetap tenang. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan.
"Masuk." Suara bariton Bimo Ardhana terdengar dari dalam.
Jena mengembuskan napas lega. "Kebetulan Pak Bimo ada di dalam. Jadi semuanya bisa selesai sekaligus," gumamnya mantap. Perlahan ia membuka pintu.
Di dalam ruangan, Jovian tampak sedang duduk di sofa berhadapan dengan Bimo sambil membahas sesuatu. Begitu melihat Jena masuk, tubuh Jovian seketika menegang. Tatapan mereka sempat bertemu.
Namun hanya sesaat. Jena segera mengalihkan pandangannya dan memasang senyum profesional, seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka. "Jena ... kamu bisa. Jangan menangis. Selesaikan semuanya dengan terhormat." Ia menguatkan dirinya sendiri di dalam hati. "Selamat pagi, Pak Bimo. Pak Jovian," sapanya sopan.
"Pagi, Jena," jawab Bimo. Sementara Jovian hanya menganggukkan kepala. Bibirnya terasa kelu untuk sekadar membalas sapaan perempuan yang selama sembilan tahun selalu menemaninya.
Bimo kemudian membuka suaranya. "Jena, kebetulan sekali kamu datang."
Jena mengangguk hormat.
"Silakan duduk," lanjut Bimo.
"Terima kasih, Pak." Namun Jena memilih tetap berdiri sambil menggenggam amplop putih di tangan kanannya.
Bimo menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan nada serius. "Saya memang ingin memanggilmu pagi ini."
Jena mengangguk pelan. "Saya juga ingin menyampaikan sesuatu pada Pak Bimo dan Pak Jovian."
Kalimat itu berhasil membuat jantung Jovian tersentak. Namun lagi-lagi, Jovian hanya diam membisu.
Bimo menatap Jena beberapa saat, lalu membuka mulut lagi. "Ya sudah. Tapi saya duluan ya, yang bicara. "
"Silakan, Pak."
"Kalau begitu kamu duduk dulu. Pembicaraan kita akan sedikit panjang."
Jena akhirnya mengangguk. "Baik, Pak." Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa single yang menghadap Bimo. Amplop putih di tangannya ia genggam erat.
Bimo berdeham dan langsung bicara pada inti. "Jena, saya tidak akan berbasa-basi, mulai hari ini kamu tidak perlu lagi bekerja sebagai sekretaris Jovian."
Jena tersentak kecil. Hatinya seolah disentil. Tapi ia tetap berusaha tenang. Menormalkan wajahnya supaya tetap profesional.
"Papa." Suara Jovian akhirnya keluar meski pelan.
Bimo mengangkat tangan, meminta putranya tidak menyela. "Sekretaris lama yang dulu pernah bekerja mendampingi saya, sebelum kamu dan Jovian bergabung akan kembali bekerja. Jadi, posisi yang selama ini kamu tempati akan diisi olehnya." Suasana ruangan mendadak hening. Bimo kemudian membuka tas kerjanya, mengambil sebuah amplop cokelat, lalu mengeluarkan selembar cek bernilai sangat besar dari amplop tersebut. Ia mendorong cek itu ke hadapan Jena. "Ini pesangon untukmu. Sebagai bentuk apresiasi perusahaan atas dedikasi dan kerja kerasmu selama ini."
Jena menatap cek tersebut sekilas. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang tenang. Namun menyimpan kepedihan yang begitu dalam. Perlahan ia menggeleng. "Maaf, Pak." Tangannya mendorong kembali cek itu ke arah Bimo. "Bapak tidak perlu repot-repot memberhentikan saya."
Bimo mengernyit. "Maksudmu?"
Jovian pun ikut mengernyit.
Suara Jena mengalun lembut, tapi tegas.
"Karena hari ini, saya memang ingin mengundurkan diri." Jena meletakkan amplop putih yang sejak tadi digenggamnya ke atas meja. "Ini surat pengunduran diri saya."
Baik Bimo maupun Jovian langsung terpaku. Mata mereka membola tipis.
"Terima kasih atas niat baik Bapak. Tapi saya tidak bisa menerima pesangon sebesar itu," lanjut Jena.
"Kenapa?" tanya Bimo.
"Cukup bayarkan hak saya saja, Pak. Gaji bulan ini dan tunjangan yang memang menjadi hak saya. Selebihnya tidak perlu."
"Tapi pesangon itu-"
Jena menggeleng pelan, sehingga ucapan Bimo rumpang. "Tidak usah, Pak." Jena lalu berdiri dari kursinya. Tatapannya bergantian mengarah kepada Bimo dan Jovian. "Terima kasih atas kesempatan yang telah Bapak berikan kepada saya untuk menjadi bagian dari Ardhana Group." Suaranya terdengar tenang. "Selama dua tahun bekerja di sini, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman, pelajaran, dan ilmu yang sangat berharga." Ia tersenyum tulus. "Saya berharap Ardhana Group akan terus berkembang semakin sukses, dan menjadi perusahaan yang lebih besar lagi." Jena menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Seluruh jadwal kerja Pak Jovian, dokumen, serta berkas-berkas penting sudah saya susun serapi mungkin di ruangan sekretaris. Saya juga sudah membuat catatan agar sekretaris pengganti tidak mengalami kesulitan."
Ia kembali membungkukkan badan dengan sopan. "Sekali lagi ... terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya." Tatapannya sempat singgah pada Jovian. Hanya sepersekian detik. "Pak Jovian ... Pak Bimo... saya pamit." Jena membungkukkan badan sekali lagi. Lalu berbalik dan melangkah menuju pintu. Ia membuka pintu perlahan, lalu keluar tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang.
yg di incer sifa buat jihan...
.cocok kan