NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Pamit

Sinar mentari pagi menembus celah tirai apartemen, menerangi kamar yang kini tampak jauh lebih rapi. Dua koper besar masih berdiri di dekat pintu, seolah menunggu waktu untuk dibawa pergi.

Di depan cermin, Jena berdiri tegak. Ia baru saja selesai berdandan. Kemeja putih yang dipadukan dengan blazer berwarna hitam membuat penampilannya terlihat profesional dan anggun. Rok span hitam selutut membalut tubuhnya dengan rapi, sementara rambut panjangnya dibiarkan tergerai, menambah kesan elegan pada wajahnya. Riasan tipis yang dikenakannya berhasil menyamarkan sembap di matanya akibat tangisan semalam.

Jena menatap pantulan dirinya beberapa saat. Perempuan yang tadi malam hancur karena dikhianati kini sudah tak terlihat lagi. Yang tampak di hadapannya adalah sosok wanita dengan sorot mata tegas dan senyum tipis penuh keyakinan.

Perlahan ia menarik napas panjang. "Siap, Jena," ucapnya pelan kepada bayangannya sendiri. "Hari ini adalah hari terakhirku di sana. Aku harus menutup semuanya dengan kepala tegak." Ia meraih tas kerja yang telah dipersiapkan sejak semalam, lalu memastikan amplop putih di dalamnya masih tersimpan rapi.

Setelah mematikan lampu dan memeriksa kembali seluruh ruangan, Jena melangkah keluar dari apartemen.

Tak lama kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dan memesan sebuah taksi online.

Beberapa menit berselang, notifikasi kedatangan pengemudi muncul di layar.

Jena mengunci pintu apartemennya, lalu menoleh sekilas ke arah tempat yang telah menjadi saksi begitu banyak kenangan selama dua tahun terakhir.

Senyumnya mengembang tipis. "Bismillah." Tanpa menoleh lagi, ia melangkah menuju lift.

Pagi itu, langkah Jena terasa lebih ringan daripada biasanya. Luka di hatinya memang belum sembuh, tetapi tekadnya untuk memulai lembaran baru telah mengalahkan rasa sakit yang semalam nyaris menghancurkannya.

Jena masuk ke dalam taksi yang telah menunggunya di depan lobi apartemen.

"Selamat pagi, Mbak. Tujuan ke mana?" sapa sopir ramah.

"Ke Ardhana Group, Pak," jawab Jena sambil tersenyum tipis.

"Baik, Mbak." Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan. Sepanjang perjalanan, Jena lebih banyak memandang keluar jendela. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi tatapan kosong seperti semalam.

Hari ini, ia hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung megah Ardhana Group.

Jena membayar ongkos perjalanan, lalu turun dari mobil. Ia mendongakkan kepala sejenak menatap gedung yang telah menjadi tempatnya mencari nafkah selama dua tahun ini. Begitu banyak momen yang sudah ia lewati. Namun pagi ini, ia memilih untuk tidak larut dalam nostalgia.

Jena melangkah masuk ke dalam lobi dengan senyum profesional yang selama ini selalu menghiasi wajahnya.

"Selamat pagi, Mbak Jena," sapa salah seorang satpam sambil memberi hormat kecil.

"Selamat pagi, Pak," balas Jena ramah.

Beberapa karyawan yang berpapasan juga menyapanya.

"Pagi, Mbak Jena."

"Selamat pagi, Bu Jena."

"Pagi juga," jawab Jena satu per satu dengan senyum hangat.

Sesampainya di meja resepsionis, dua petugas yang mengenalnya langsung menyapa. "Selamat pagi, Mbak Jena."

"Pagi. Semangat kerjanya ya," balas Jena.

"Siap, Mbak."

Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.

Jena melangkah masuk bersama beberapa karyawan lain. Jemarinya menekan tombol tiga puluh dua, lantai tempat ruang kerja Direktur Utama berada sekaligus tempat ia menghabiskan waktu sebagai sekretaris pribadi Jovian.

Pintu lift kembali menutup. Perlahan kabin bergerak naik.

Jena mengembuskan napas pelan. "Hari terakhir ..." gumamnya dalam hati. "Semoga semuanya berjalan lancar." Ia merapikan blazer yang dikenakannya, lalu menegakkan bahu. Saat pintu lift terbuka di lantai tiga puluh dua, Jena melangkah keluar dengan kepala tegak. Ia melangkah masuk ke ruangannya dengan tenang.

Jena meletakkan tas di atas meja, lalu merapikan beberapa berkas yang masih tersisa di laci. Menyusun dokumen-dokumen dan juga jadwal kerja Jovian.

Setelah selesai, ia membereskan barang-barang miliknya. Menyimpannya ke dalam wadah yang tersedia.

Setelah memastikan semuanya rapi, Jena merogoh amplop putih yang ada di dalam tasnya. Ia menatap amplop itu beberapa detik. "Inilah saatnya." Jena mengembuskan napas panjang, lalu melangkah keluar menuju ruang CEO.

Setiap langkah terasa begitu berat, tetapi wajahnya tetap tenang. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan.

"Masuk." Suara bariton Bimo Ardhana terdengar dari dalam.

Jena mengembuskan napas lega. "Kebetulan Pak Bimo ada di dalam. Jadi semuanya bisa selesai sekaligus," gumamnya mantap. Perlahan ia membuka pintu.

Di dalam ruangan, Jovian tampak sedang duduk di sofa berhadapan dengan Bimo sambil membahas sesuatu. Begitu melihat Jena masuk, tubuh Jovian seketika menegang. Tatapan mereka sempat bertemu.

Namun hanya sesaat. Jena segera mengalihkan pandangannya dan memasang senyum profesional, seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka. "Jena ... kamu bisa. Jangan menangis. Selesaikan semuanya dengan terhormat." Ia menguatkan dirinya sendiri di dalam hati. "Selamat pagi, Pak Bimo. Pak Jovian," sapanya sopan.

"Pagi, Jena," jawab Bimo. Sementara Jovian hanya menganggukkan kepala. Bibirnya terasa kelu untuk sekadar membalas sapaan perempuan yang selama sembilan tahun selalu menemaninya.

Bimo kemudian membuka suaranya. "Jena, kebetulan sekali kamu datang."

Jena mengangguk hormat.

"Silakan duduk," lanjut Bimo.

"Terima kasih, Pak." Namun Jena memilih tetap berdiri sambil menggenggam amplop putih di tangan kanannya.

Bimo menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan nada serius. "Saya memang ingin memanggilmu pagi ini."

Jena mengangguk pelan. "Saya juga ingin menyampaikan sesuatu pada Pak Bimo dan Pak Jovian."

Kalimat itu berhasil membuat jantung Jovian tersentak. Namun lagi-lagi, Jovian hanya diam membisu.

Bimo menatap Jena beberapa saat, lalu membuka mulut lagi. "Ya sudah. Tapi saya duluan ya, yang bicara. "

"Silakan, Pak."

"Kalau begitu kamu duduk dulu. Pembicaraan kita akan sedikit panjang."

Jena akhirnya mengangguk. "Baik, Pak." Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa single yang menghadap Bimo. Amplop putih di tangannya ia genggam erat.

Bimo berdeham dan langsung bicara pada inti. "Jena, saya tidak akan berbasa-basi, mulai hari ini kamu tidak perlu lagi bekerja sebagai sekretaris Jovian."

Jena tersentak kecil. Hatinya seolah disentil. Tapi ia tetap berusaha tenang. Menormalkan wajahnya supaya tetap profesional.

"Papa." Suara Jovian akhirnya keluar meski pelan.

Bimo mengangkat tangan, meminta putranya tidak menyela. "Sekretaris lama yang dulu pernah bekerja mendampingi saya, sebelum kamu dan Jovian bergabung akan kembali bekerja. Jadi, posisi yang selama ini kamu tempati akan diisi olehnya." Suasana ruangan mendadak hening. Bimo kemudian membuka tas kerjanya, mengambil sebuah amplop cokelat, lalu mengeluarkan selembar cek bernilai sangat besar dari amplop tersebut. Ia mendorong cek itu ke hadapan Jena. "Ini pesangon untukmu. Sebagai bentuk apresiasi perusahaan atas dedikasi dan kerja kerasmu selama ini."

Jena menatap cek tersebut sekilas. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang tenang. Namun menyimpan kepedihan yang begitu dalam. Perlahan ia menggeleng. "Maaf, Pak." Tangannya mendorong kembali cek itu ke arah Bimo. "Bapak tidak perlu repot-repot memberhentikan saya."

Bimo mengernyit. "Maksudmu?"

Jovian pun ikut mengernyit.

Suara Jena mengalun lembut, tapi tegas.

"Karena hari ini, saya memang ingin mengundurkan diri." Jena meletakkan amplop putih yang sejak tadi digenggamnya ke atas meja. "Ini surat pengunduran diri saya."

Baik Bimo maupun Jovian langsung terpaku. Mata mereka membola tipis.

"Terima kasih atas niat baik Bapak. Tapi saya tidak bisa menerima pesangon sebesar itu," lanjut Jena.

"Kenapa?" tanya Bimo.

"Cukup bayarkan hak saya saja, Pak. Gaji bulan ini dan tunjangan yang memang menjadi hak saya. Selebihnya tidak perlu."

"Tapi pesangon itu-"

Jena menggeleng pelan, sehingga ucapan Bimo rumpang. "Tidak usah, Pak." Jena lalu berdiri dari kursinya. Tatapannya bergantian mengarah kepada Bimo dan Jovian. "Terima kasih atas kesempatan yang telah Bapak berikan kepada saya untuk menjadi bagian dari Ardhana Group." Suaranya terdengar tenang. "Selama dua tahun bekerja di sini, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman, pelajaran, dan ilmu yang sangat berharga." Ia tersenyum tulus. "Saya berharap Ardhana Group akan terus berkembang semakin sukses, dan menjadi perusahaan yang lebih besar lagi." Jena menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Seluruh jadwal kerja Pak Jovian, dokumen, serta berkas-berkas penting sudah saya susun serapi mungkin di ruangan sekretaris. Saya juga sudah membuat catatan agar sekretaris pengganti tidak mengalami kesulitan."

Ia kembali membungkukkan badan dengan sopan. "Sekali lagi ... terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya." Tatapannya sempat singgah pada Jovian. Hanya sepersekian detik. "Pak Jovian ... Pak Bimo... saya pamit." Jena membungkukkan badan sekali lagi. Lalu berbalik dan melangkah menuju pintu. Ia membuka pintu perlahan, lalu keluar tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang.

1
Mundri Astuti
untung ada si Toto yak
Nining Sariningsih
good👍,,,,tuh si Jo gak punya malu kali ya dah tidur ma si michi juga masih mau ma jena jijik gua thoorrrrrr,kalo bisa cepat2 deh ada karma buat keluarga si Jo biar pada instrospeksi kelamaan dibiarkan malah entar menjadi2 mereka 😅😅😅
Ama Apr: haha sabar, biarkan mreka senang2 duyu
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
dasar orang kaya sombong, semoga bangkrut perusahaan ny, biar keluarga nya jatuh miskin.
Ama Apr: iya pantes Allah tk mempersatukan jena dan jovian
total 1 replies
partini
ternyata sama kaya ortu nya suka menghina orang miskin
Ama Apr: ya, namanya juga turunan kk😂
baiknya selama ini cuma kedok
total 1 replies
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Ama Apr: hahaha mantap
total 1 replies
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
falea sezi
kuat Jena lupain laki bego bekasss itu mas toto siap menanti🤣
Ama Apr: iya hihi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!