"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Jendela
Setelah deklarasi yang menegangkan di aula utama, Yudha membawa Luna kembali ke kamar atas. Sepanjang koridor batu kuno itu, tidak ada lagi yang berani menatap Luna secara terang-terangan, meskipun kepalan tangan dan rahang yang mengeras dari beberapa pengawal kawanan tetap tidak bisa disembunyikan. Kekuasaan Yudha sebagai Alpha memang mutlak, namun riak-riak ketidakpuasan itu jelas masih ada di bawah permukaan.
Yudha menutup pintu kamar dengan rapat, lalu membalikkan badannya menatap Luna. Sisa-sisa aura dominasi yang tadi memancar kuat di aula perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang penuh perhatian.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Yudha, suaranya kembali melunak saat melangkah mendekati Luna.
Luna mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya di dalam dada. Dia duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang masih sedikit gemetar.
"Aku baik-baik saja... hanya masih sedikit tidak percaya dengan semua ini. Yudha, apakah keputusanmu ini tidak akan memicu pemberontakan di antara mereka?"
Yudha berlutut di depan Luna, menyamakan tinggi badannya dengan gadis itu. Dia meraih kedua tangan Luna, menggenggamnya erat untuk menyalurkan ketenangan.
"Mereka tidak akan berani memberontak selama aku masih memegang kendali. Tugasmu sekarang hanyalah memulihkan dirimu, Luna. Biarkan aku yang mengurus sisanya."
Luna menatap mata elang Yudha yang begitu dekat. Kehangatan dari tangan pria itu perlahan merayap naik, menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu liar.
"Terima kasih, Yudha. Aku tidak tahu harus jadi apa jika malam itu kamu tidak menemukanku."
Sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di wajah tampan Yudha. Dia mengangkat salah satu tangan Luna, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut dan penuh hormat.
"Kamu adalah belahan jiwaku, Luna. Menyelamatkanmu adalah hal terbaik yang pernah kulakukan."
---
Sore harinya, Yudha harus meninggalkan kamar untuk memimpin rapat strategi bersama para panglima perang kawanan di lantai bawah, menyusul laporan adanya pergerakan mencurigakan di perbatasan hutan. Maya kembali datang ke kamar untuk menemani Luna sekaligus membawakan beberapa potong pakaian baru yang lebih layak dan bersih.
"Nona Luna, ini gaun katun yang diminta Alpha untuk Anda," kata Maya ramah sembari meletakkan lipatan pakaian di atas meja.
"Warnanya merah muda lembut, kurasa ini akan sangat cocok dengan Anda."
Luna tersenyum tipis dan menerima pakaian itu. "Terima kasih, Maya. Kamu sangat baik."
Setelah berganti pakaian, Luna berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah hutan perbatasan. Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat warna jingga dan keunguan di cakrawala, sementara kabut tipis mulai kembali merayap di antara celah-celah pepohonan pinus yang rapat.
Dari ketinggian lantai atas kastil, Luna menatap hamparan hijau yang luas itu. Namun, pandangannya mendadak terpaku pada sesuatu yang ganjil di batas vegetasi hutan.
Di balik kabut yang mulai menebal, Luna melihat sepasang titik merah menyala yang bergerak cepat di antara semak-semak. Bukan hanya satu, melainkan ada tiga pasang mata merah yang seolah sedang menatap tajam langsung ke arah jendelanya dengan tatapan penuh rasa lapar dan dendam.
Luna tersentak mundur, tangannya refleks membekap mulutnya sendiri untuk menahan jeritan. Jantungnya kembali bertalu-talu dengan sangat kencang.
"Nona Luna? Ada apa?" tanya Maya yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Luna.
"Di... di luar sana, Maya," bisik Luna dengan suara bergetar, menunjuk ke arah jendela dengan jari yang gemetar hebat.
"Ada mata berwarna merah... mereka sedang melihat ke sini."
Maya buru-buru berlari ke jendela dan menatap ke arah yang ditunjuk Luna. Namun, saat Maya melihat ke sana, bayangan-bayangan itu sudah menghilang tanpa jejak di balik pekatnya kabut malam yang mulai turun. Wajah Maya mendadak berubah menjadi sangat serius dan pucat.
"Mata merah..." bisik Maya dengan nada panik yang tertahan.
"Itu adalah tanda dari kaum *Rogue*. Serigala liar yang haus darah. Mereka sudah mulai mengintai kastil ini."
---