Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tidak puas dengan harta peninggalan Afdan yang telah mereka rampas dari Sofia, kini ibu dan anak itu malah menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua, yang notabene nya adalah rekan bisnis mendiang papa Afdan.
Sungguh kekejaman yang luar bisa yang di lakukan oleh Rusita dan Tara.
"Sekarang kita tidak punya alasan untuk hidup miskin lagi Tara, kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan," kata mama Rusita sambil mengumpulkan perhiasan ke dalam kotak.
"Iya ma, dan setelah ini hanya ada satu masalah saja yang perlu kita selesaikan, ya itu memutuskan pertunangan Sofia dengan kak Samuel dan menganti nya dengan aku," kata Tara merasa paling bahagia.
"Iya sayang, serahkan semua itu kepada mama," kata Rusita sambil asik mencoba beberapa perhiasan untuk di pakai.
Sementara itu di sisi lain.
Jam kini menujukkan pukul 02.20 malam.
"Tuan muda, aku sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu," kata Glen sambil menatap layar tablet nya.
Wajah Glen terlihat sedikit aneh tak seperti biasanya, dia mencari-cari informasi ini sampai berjam-jam, sungguh sulit baginya menemukan informasi gadis itu, karena ia ternyata bukan lah Gadis sembarangan.
"Siapa dia? Kenapa lama sekali?" tanya Zavier yang saat ini berdiri berhadapan dengan Glen.
Mereka sama sekali tidak memejamkan mata malam ini karena kehadiran Sofia yang mengundang sesuatu hal yang cukup tidak bisa di jelaskan.
"Tuan muda, informasi nya tidak terlalu banyak, dan sangat sulit bagi ku untuk menemukan nya, ini pertama kalinya," kata Glen dengan wajah lelah.
"Katakan," kata Zavier yang tak sabar mendengarkan nya.
"Dia adalah Sofia Diana Amores, usianya dua puluh tahun, anak dari tuan Afdan Amores," kata Glen dengan tatapan yang tak bisa di artikan menatap Zavier.
"Afdan Amores? Dia punya anak perempuan?" kata Zavier yang tidak pernah mengetahui kalau Afdan Amores yang terkenal itu punya anak perempuan.
"Iya tuan muda, dan beberapa hari lalu tuan Afdan meningal dalam sebuah kecelakaan, nona Sofia ini telah yatim piatu namun tuan Afdan punya istri bernama Rusita dan anak tiri bernama Tara," jelas Glen lagi.
Zavier sama sekali tidak pernah bertemu dengan Afdan Amores karena mereka memegang tidak pernah punya ikatan bisnis, kelaurga Zavier tentu lebih atas di bandingkan dengan Amores.
Hanya saja, Zavier mengetahui nama Afdan karena dia cukup terkenal dalam kalangan bisnis teingat menengah.
"Itu artinya gadis itu sekarang hidup bersama dengan mama dan saudara tirinya?" ujar Zavier lagi.
"Benar tuan muda," timpal Glen.
"Tidak ada informasi lain?" tanya Zavier lagi.
Glen mengelengkan kepala nya pertanda hanya itu informasi yang dia dapatkan.
"Ini menarik," batin Zavier.
"Apa yang menarik tuan muda?" Glen seketika kepo.
"Tidak ada," jawab Zavier yang kemudian berjalan pergi meningalkan Glen sendirian.
"Aneh," kata Glen sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Keesokan harinya ....
Sofia membuka mata nya dan melihat ke sekeliling ruangan yang saat ini terlihat sangat asing bagi nya. Kepala nya terasa sangat pusing, pandangan nya juga begitu buram.
"Di mana aku?" tanya Sofia sambil berusaha bangun dari tempat tidur nya.
"Selamat pagi nona, Sofia, apakah keadaan anda sudah cukup membaik?" tanya seorang wanita yang saat ini menghampiri Sofia dengan senyum tipis nya.
"Kamu siapa?" tanya Sofia kebingungan.
"Saya pelayan di hotel ini, yang di tugaskan tuan Glen untuk menjaga anda, jika sudah merasa baikan nona bisa langsung mandi, saya sudah menyiapkan air dan pakaian ganti untuk nona," ujar nya dengan sopan.
"Ho-hotel?" kata Sofia yang segera melihat pakaian nya dan memegang seluruh tubuh nya, ia meraba-raba badan dan kepala serta wajah nya.
Ia pun mulai panik setelah mengingat kejadian tadi malam, seketika ia menarik selimut dan juga berteriak.
"Tidak jangan, aku takut! Di mana dia orang tua itu?" ucap Sofia yang trauma nya tiba-tiba kembali setelah mendengar kata hotel.
Ia tentu tidak bisa melupakan kejadian tadi malam di mana dirinya hampir di rusak oleh tuan Ex, ia benar-benar kacau setelah memikirkan hal tersebut.
Pelayan yang melihat itu pun seketika khawatir, ia segera menghampiri Sofia untuk menenangkan nya.
"Nona anda tidak kenapa-kenapa, anda aman bersama saya, anda tidak akan kenapa-kenapa," ujar pelayan tersebut memegang tangan Sofia.
"Tidak, aku tidak mau di jual, papa! Mama! Tolong aku!" jerit Sofia sambil menarik-narik rambut nya sendiri.
"Gawat, dia trauma," kata sang pelayan serba salah.
Hal ini pun mengundang kebisingan yang terdengar di kuping Glen dan juga Zavier yang menunggu di pintu kamar tersebut.
"Tuan muda, kenapa itu?" tanya Glen kebingungan.
"Masuk dan periksa lah," kata Zavier dengan wajah tenang.
"Aku?" kata Glen.
"Lalu apa harus aku yang ke sana?" jawab Zavier seketika menatap Glen dengan tatapan tajam.
"Ah iya, aku akan memeriksa," kata Glen dengan khawatir ia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam.
Sementara Zavier lebih memilih kembali ke kamar nya.
"Ada apa ini?" tanya Glen kepada pelayan tersebut yang saat ini sedang berusaha menenangkan Sofia.
"Pak Glen, seperti nya dia furstasi, aku tidak bisa memenangkan nya, trauma nya cukup luar biasa," kata sang pelayan dengan wajah khawatir.
"Astaga, bagaimana bisa kau tidak bisa menangani nya," ungkap Glen kebingungan.
"Pak Glen aku ini petugas hotel bukan suster rumah sakit jiwa," kata sang pelayan yang malah ikut furstasi karena ucapan Glen.
Mau tidak mau Glen pun akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mendekati Sofia.
"Tentang lah nona Sofia, kau aman di sini, tidak ada tuan Ex dia sudah pergi," kata Glen sambil memegang tangan Sofia yang menarik-narik rambut nya sendiri.
Sofia seketika terdiam, ia menatap Glen dengan tatapan takut, mata nya sembab, bibirnya bergetar, mata nya sedikit bengkak karena menangis.
"Tenang nona, tenang, saya ini kenal tuan Afdan, saya akan menyelamatkan nona, tidak ada yang akan menjual nona," Glen yang ternyata cukup pintar membujuk membuat Sofia dengan cepat menjadi tenang.
"Kenal papa?" ucap Sofia dengan bulir-bulir bening yang terus mengalir deras dari kedua mata indahnya.
Glen yang menatap wajah polos gadis cantik itu merasa iba, perasaan aneh mulai muncul di hati nya entah kenapa rasanya cukup kasihan melihat nasip Sofia.
Perlahan tangan Glen menyapu kedua sudut mata Sofia yang basah.
"Tentang nona, kau aman bersama ku," kata Glen dengan lembut.
"Aku tidak mau di jual, aku tidak mau bertemu lagi dengan orang tua itu, mereka cukup jahat kepada ku," kata Sofia mulai mengucapkan kata-kata itu kepada Glen.
"Ya, aku tau nona, tenang lah, dan ikuti apa yang di ucapkan oleh pelayan, dia juga orang yang baik, tubuh mu bau alkohol, sebaiknya kau segera mandi setelah itu pelayan akan mengantarkan mu ke suatu tempat," kata Glen sambil memegang kedua lengan Sofia.
"Suatu tempat?" ucap Sofia dengan wajah sedih nya.
"Ah, maksud ku, ada seseorang yang mungkin lebih baik dari ku lebih bisa menolong mu dia ingin bertemu namun nona muda harus mandi dulu," ujar Glen dengan pintar mengatur suara untuk emosi Sofia.
Seketika Sofia tenang mendengar ucapan Glen, ada yang ingin membantu nya, ia jadi penasaran siapa orang tersebut.
Bersambung ....