NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Yang Sesungguhnya

Vera memutar gelas iced latte-nya dengan ujung kuku yang baru saja di-manicure di salon bandara.

Pandangannya menyapu sekeliling interior kafe dengan dahi berkerut, seolah-olah tempat itu tidak layak menerima kehadirannya.

Ia membuka ponselnya, lalu mengirim pesan singkat ke grup chat gengnya dengan gaya ketikan yang dingin: "I’m here. Meja pojok. Jangan telat."

Tak lama kemudian, tiga sahabat lamanya—Sherly, Amel, dan Tasya—masuk ke dalam kafe dengan langkah terburu-buru, takut membuat Vera menunggu terlalu lama.

Vera tetap duduk santai, menyandarkan punggungnya ke kursi tanpa berniat berdiri untuk menyambut mereka.

"Hai, Ver! Wah, lo udah sampai duluan ya? Sorry banget kalau kami agak telat," ujar Sherly sambil menarik kursi.

"Well, London emang se-magical itu, sih. Jujur, pas mendarat di sini kemarin, gue langsung ngerasa culture shock lagi." ujarnya dengan nada sombong, mengabaikan fakta bahwa ia hanya berada di sana selama lima hari efektif.

Amel dengan sigap menyodorkan buku menu, mencoba menyenangkan hati Vera. "Eh, Ver, lo mau pesan makan apa? Biar gue yang pesenin ke kasir."

Vera melirik menu itu sekilas dengan tatapan meremehkan, lalu mendorongnya menjauh dengan ujung jari. "No, thanks. Lidah gue masih terbiasa makan authentic pastries, jadi pas lihat menu kafe standar kayak begini... agak kurang selera, ya ... gue. Kalian pesan aja apa yang ingin kalian makan. Gue yang bayar."

Sherly, Amel, dan Tasya hanya bisa terdiam dan saling berpandangan sekilas.

Vera menjentikkan jarinya, memberi kode kepada pelayan kafe yang sejak tadi berdiri di dekat meja mereka. "Eh, kamu. Ambilkan paper bag hitam di kursi sebelah sana," perintahnya tanpa menoleh, dengan nada sedingin es.

Pelayan itu dengan cekatan menyerahkan sebuah tas belanja kertas berlogo butik mewah dari London yang tampak mentereng.

Sherly, Amel, dan Tasya langsung menahan napas. Ketegangan di meja itu mendadak berubah menjadi rasa penasaran yang bercampur dengan rasa rendah diri.

Vera merogoh tas tersebut dengan gerakan lambat, di depan teman-temannya. Ia mengeluarkan tiga buah kotak kecil beludru berwarna hijau tua yang sangat elegan.

"Gue kemarin nggak punya banyak waktu buat keliling karena cuma lima hari di London, dan schedule gue padat banget buat fine dining dan private shopping," kata Vera sambil menggeser kotak-kotak itu ke hadapan mereka masing-masing dengan ujung jarinya.

"Tapi gue sempatkan mampir ke Harrods sebentar. Ini signature key chains dan pouch sutra edisi terbatas. Nggak bakal kalian temuin di mall sini."

Sherly dengan tangan sedikit gemetar membuka kotaknya. Di dalamnya terdapat sebuah gantungan kunci berlapis emas dengan logo Harrods yang berkilau mewah.

"Oh my God, Ver ... ini bagus banget. Makasih banyak ya, lo emang paling tahu selera yang berkelas," puji Sherly dengan nada yang dibuat seantusias mungkin.

Gadis berambut pirang itu tahu betul bahwa Vera menuntut validasi mutlak. Amel dan Tasya pun buru-buru mengangguk dan melempar pujian serupa.

Mereka tahu gantungan kunci itu mungkin berharga jutaan rupiah—nominal yang bagi Vera hanya seperti uang receh, namun bagi mereka adalah barang mewah yang harus dirawat setengah mati.

Vera hanya bersandar kembali, menyilangkan kakinya, dan tersenyum puas melihat reaksi teman-temannya. Di matanya, oleh-oleh itu bukan sekadar hadiah, melainkan "biaya" untuk menegaskan kembali posisinya sebagai ratu di puncak hierarki geng mereka, yang kekuasaannya tidak boleh diganggu gugat.

Dari meja lain, sepasang mata dari balik kacamata hitam, menatap tajam ke arah meja Vera. Tudung hoodie hitam, dia naikkan menutup kepala dengan rambut pixie cut-nya.

Seorang pelayan wanita dengan ramah mengantarkan pesanan ke mejanya. Secangkir Caramel macchiato dengan sepotong cheese cake.

"Ini pesanan Anda, Nona. Silakan dinikmati. Bila ada yang Anda perlukan, silakan panggil kami," ujar pelayan wanita itu sopan.

"Terimakasih. Eh, Mbak sebentar. Ada yang mau saya tanyakan," panggil pengunjung kafe itu.

Pelayan itu kembali dan mengangguk sopan sambil tersenyum.

"Gadis-gadis yang ada di meja sana, apakah mereka sering kemari?"

Pelayan itu mengikuti arah telunjuk wanita di hadapannya. Sekilas ada mimik terkejut yang segera disembunyikan.

"Betul, Nona. Mereka adalah pelanggan tetap kafe ini," jawabnya lagi.

"Baik, terimakasih," ucapnya sambil tersenyum.

Pelayan itu membalas senyuman, dan berlalu kembali bekerja.

Prang!

Sisa iced latte Vera tumpah, mengalir membasahi tas desainer ratusan juta rupiah yang ia letakkan di atas meja, bahkan menciprati sepatu hak tingginya.

Suasana kafe mendadak hening seketika.

"Lo punya mata nggak sih?!" pekik Vera suaranya melengking tajam membelah keheningan kafe.

Ia langsung berdiri, mundur selangkah dengan wajah merah padam karena murka. "Lo tahu nggak ini tas apa? Lo kerja setahun di sini juga nggak bakal bisa bayar ganti ruginya!"

Pelayan itu langsung pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat. "Maaf, Nona ... Maaf banget, saya bener-bener nggak sengaja. Biar saya bersihkan..." Dengan panik, ia mengambil tisu basah dan mencoba mengelap cipratan di sepatu Vera.

"Jangan sentuh sepatu gue pake tangan kotor lo!" bentak Vera sambil menarik kakinya kasar, membuat pelayan itu hampir tersungkur di lantai.

Melihat Vera mengamuk, Sherly dan Amel langsung mengambil posisi untuk ikut menindas demi mengambil hati sang ketua geng.

"Lagian kalau kerja yang bener dong! Punya spek mata minus ya lo? Nggak becus banget!" sahut Sherly dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan agar didengar manajer kafe.

Amel ikut menimpali sambil bersedekap, "Panggil manajer lo sekarang. Orang kayak gini nggak layak kerja di tempat berkelas. Bikin pusing aja!"

Tasya hanya diam, namun ia memberikan tatapan tajam dan dingin yang semakin menyudutkan sang pelayan yang kini sudah mulai meneteskan air mata di lantai, terus-menerus menggumamkan kata maaf di bawah tekanan mental dari geng elite tersebut.

Vera tersenyum puas, menikmati kuasa mutlaknya yang bisa membuat seseorang gemetar ketakutan hanya dengan beberapa patah kata.

Namun, pengunjung wanita berhoodie tadi, sudah siap dengan ponselnya. Sejak kepanikan pertama pecah, ponselnya sudah dalam posisi horizontal, terarah lurus ke meja Vera.

Lensa kameranya merekam dengan sangat jelas: mulai dari makian kasar Vera, tindakan kasarnya yang hampir membuat pelayan itu jatuh, hingga kepuasan arogan yang terpancar dari wajah geng elite itu saat merundung orang yang tidak berdaya.

Wanita itu tertegun diam di balik cangkir caramel macchiato-nya. Ponsel yang dia gunakan merekam kejadian Vera dan gengnya sudah disimpan kembali ke dalam tote bag warna dasar beige yang berhias sketsa peta kota Paris.

Tangannya terangkat memanggil pelayan. Dengan tergesa pelayan wanita yang tadi melayaninya datang mendekati.

Wanita itu tersenyum, dan meletakkan tiga lembar uang warna merah di atas meja. "Terimakasih atas hidangan dan pelayanannya."

Wanita itu berlalu, pelayan wanita itu membungkuk berkali-kali mengucap terima kasih.

1
Rene
berati mantan suaminya yang mndul🤭
Dzie Drafir: naah, gitu maksudnya. cuma emang paling enak kalo melempar kesalahan ke orang lain. ya nggak sih 🤭
total 1 replies
Rene
beda orang apa sama sih
Dzie Drafir: nama panjangnya arunika, suami pertama sukanya manggil runi
total 1 replies
Rene
nanti Nika🤭
Rene
tadi Arun
Rene
emang rahimnya diangkat?
Rene
tinggal bikin lagi🤭
Rene
keguguruan
Rene
ketuban pecah
Rene
pejabat di sini baik-baik ya🤭
Dzie Drafir: doa itu kak, pejabat kita juga semoga baik² aamiin😄
total 1 replies
Rene
calon" mokondo inimah
Dzie Drafir: wkwkwk 🤣🤣🤣
total 1 replies
Rene
nurun bapaknya kali🤣
Rene
velg nya kali🤭
Rene
keliatan bijina gak🤭
Dzie Drafir: uups 🤭
total 1 replies
Rene
lah, gwe lupa kalo si azra cewek😄, pantes agak ambigu tadi, salfok gegara namanya
Rene
nah ini si calonnya🤭 baru mau dateng
Rene
azra udah punya calon belum🤭
Rene
emoh, mau minggat aja, dirasani terus😒
Dzie Drafir: 🤣 sabar...sabar...
total 1 replies
Rene
wkwk ditinggal kawin🤣
Rene
apa azra naskir ama wita🤭
Dzie Drafir: udah sering nama itu 😄
total 3 replies
Rene
chindo kah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!