Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.
Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.
Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.
Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Melahirkan (End)
Permintaan cerai dari Faheera hanya dianggap angin lalu oleh Gelora, ia tidak peduli sebab pikirnya Faheera saat ini hanya mengalami sensitif karena kehamilan. Lagipula Gelora tidak pernah berpikir berpisah dengan Faheera setelah secara fakta tidak terbukti Faheera berselingkuh darinya. Cinta Gelora pun kini sudah cinta paten untuk perempuan yang beda usianya jauh dengan dirinya.
Gelora justru semakin memperlihatkan perhatian dan kasih sayangnya. Uang, perhiasan diberikannya untuk Faheera.
Di luar dugaan reaksi Faheera hanya biasa saja saat dirinya diberikan apa-apa oleh Gelora. Mungkin efek kehamilan, Faheera tidak ambisius tetapi sangat manja.
Gelora justru menyukai sikap manja Faheera, dia suka Faheera yang bergantung dengannya.
"Ayo, kita periksakan perut kamu. Apakah bayi kita dalam keadaan yang sehat," ajak Gelora seraya meraba lembut perut Faheera. Faheera patuh dan bersiap.
Tiba di ruang pemeriksaan Dokter, Faheera segera dicek. Dan hasilnya, bayi dalam kandungan Faheera dalam keadaan sehat. Namun jabang bayi belum mau memperlihatkan jenis kelaminnya saat Dokter melakukan USG 4D.
"Bayinya masih malu-malu memperlihatkan jenis kelaminnya, sepertinya dia ingin memberi kejutan untuk kalian orang tuanya," ujar Dokter Arta, Dokter spesialis kandungan.
Gelora pulang dengan bahagia, karena kondisi ibu dan bayi dalam keadaan hamil.
"Mas, pengen makan bakso," pintanya saat mobil Gelora tiba di sebuah pengkolan yang terdapat berbagai kios makanan. Semua ada di sana, bakso, seblak mercon, dan lain sebagainya. Tapi Faheera lebih memilih bakso.
Gelora patuh, dia sangat sigap dan siaga. Meraih tangan Faheera saat menuruni mobil.
Saat pesanannya tiba, Faheera makan bakso sangat lahap. Dia begitu bahagia saat kemauannya yang sederhana itu langsung terpenuhi. Setelah itu, Gelora membawa Faheera pulang.
"Mas, aku kangen dengan Bapak. Bisakah Mas Lora antar aku untuk ziarah kubur ke kuburan Bapak?" pintanya sendu, mendadak Faheera sedih dan menangis. Gelora mengiyakan, tapi dia akan mengantar Faheera ziarah besok hari.
Besoknya, Faheera diantar Gelora ke kuburan bapaknya. Faheera berdoa di sana. Lalu setelah mengakhiri doa, Faheera menangis di sana menumpahkan perasaan sedihnya di atas kuburan bapaknya.
Kehamilan Faheera yang semakin besar tidak luput dari perhatian keluarga besar Gelora. Bu Nora dan Wisda tidak lagi jahat atau sinis lagi sejak Faheera ketahuan mengalami korban serempet truk kontainer. Bahkan Bu Nora sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki cucu perdana.
***
Pagi itu, suasana pagi yang santai dan penuh ceria, berubah panik. Faheera mengeluh sakit di pinggang dan perutnya. Gelora yang belum pergi ke toko bangunan, terlihat siaga dan curiga kalau keluhan Faheera ini merupakan tanda-tanda melahirkan.
Gelora segera membawa Faheera ke Dokter Arta untuk memeriksa kandungannya. Benar saja, Faheera sudah pada bukaan delapan, sehingga Dokter Arta segera mempersiapkan proses kelahiran bayinya Faheera.
Proses melahirkan berjalan lancar tidak ada hambatan. Faheera melahirkan dengan normal. Bahkan saat Faheera ngeden, Faheera hanya sekali melakukan ngeden sekuat tenaga.
Suara bayi terdengar beberapa saat kemudian, memenuhi ruangan bersalin. Faheera sangat terharu, dia tidak kuasa menahan tangis bahagia saat itu juga.
"Bayi Ibu berjenis kelamin laki-laki, dia sangat sehat dan lengkap. Selamat ya."
"Mari diinisiasi dini," lanjut Dokter Arta memberikan Faheera aba-aba. Faheera terharu saat pertama sekali mulut bayinya menyentuh puting susu. Terasa sangat dekat ikatan batin itu dengan sang anak, sehingga Faheera tidak kuasa menahan tangis.
Setelah kondisi Faheera pulih, sorenya Faheera sudah boleh pulang bersama bayinya. Lengkap sudah kebahagiaan Gelora dan Faheera.
Kedatangan bayi Faheera dan Gelora disambut dengan haru dan bahagia.
"Siapa namanya Mas?" tanya Faheera penasaran.
"Kafeela Fage," sahut Gelora, sejenak Faheera mengerungkan keningnya kuat.
"Artinya, Kafeela, orang yang bertanggung jawab. Sedangkan Fage, Faheera Gelora," terang Gelora dengan bangganya. Faheera senang mendengarnya, dia bahagia mendapatkan bayi kembali. Dalam tangisnya ia bersyukur dan berdoa, bahwa ia masih diberi kepercayaan oleh Yang Maha Kuasa.
Akhirnya novelnya dipercepat alurnya dan tamat. Karena pembaca sangat minim, jadi dengan berat hati kisah ini ditamatkan. Yang jelas pemeran utama sudah bahagia. Terimakasih banyak bagi pembaca yang sempat singgah dalam karya saya.
Mampir juga dalam karya saya yang lain, yang pasti lebih seru dari ini. Akhir kata Wassalamualaikum Wr Wb.