"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Kamar Dan Kebenaran
Yuna melangkah keluar dari kamar mandi dengan sangat perlahan, seolah setiap derit lantai bisa memicu kembali ketegangan di antara mereka. Rambutnya yang basah sudah ia bungkus dengan handuk kecil, dan tubuhnya kini berbalut piyama berbahan satin lembut berwarna abu-abu gelap—piyama yang merupakan bagian dari kado pernikahan mereka beberapa bulan lalu.
Begitu pandangannya lurus ke depan, langkah Yuna seketika terhenti di ambang pintu.
Labib sudah duduk di tepi ranjang berukuran king size mereka. Pria itu tampaknya sudah membersihkan diri di kamar mandi tamu bawah. Namun, yang membuat dada Yuna mendadak berdesir aneh adalah pakaian yang melekat di tubuh tegap suaminya. Labib mengenakan setelan piyama yang persis sama dengan yang dipakainya—piyama couple yang selama ini hanya tersimpan rapi di sudut paling dalam lemari pakaian mereka karena Labib biasanya lebih suka memakai kaus oblong santai.
Mendengar suara pintu terbuka, Labib mendongak. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini tampak sedikit acak-acak basah, jatuh di dahi, menyamarkan kesan dosen killer yang biasa melekat padanya di kampus.
Netra elang pria itu menatap Yuna dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan istrinya yang kini tampak jauh lebih segar dan tenang, meski matanya masih menyisakan sedikit rona bengkak akibat tangisan tadi.
Labib menepuk ruang kosong di atas kasur di sebelahnya, mengisyaratkan istri kecilnya untuk mendekat.
"Sini," ucap Labib dengan suara baritonnya yang kini terdengar jauh lebih lembut, tidak ada lagi sisa-sisa nada membentak seperti saat di kamar mandi tadi. "Keringkan rambutmu dulu sebelum kamu masuk angin."
Yuna berjalan ragu mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur dengan jarak yang agak aman dari Labib. Jemarinya meremas handuk yang mengeringkan rambutnya, kepalanya tertunduk dalam. Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru pendingin ruangan yang berembus pelan.
Labib mengembuskan napas panjang. Ia mengulurkan tangan, merebut handuk kecil dari cengkeraman Yuna, lalu dengan telaten mulai mengeringkan rambut basah istrinya. Gerakannya lembut, namun aura di sekitarnya tetap terasa mengintimidasi.
"Sekarang, jelaskan kepada saya," buka Labib dengan suara bariton yang tenang namun menuntut jawaban mutlak. "Dari mana kamu tahu takaran alkohol sampai berani menegaknya di tempat umum?"
Yuna tersentak kecil saat tangan Labib membelai tengkuknya dengan handuk. "Aku... aku nggak tahu takarannya, Mas. Aku cuma asal ambil punya anak-anak cowok di meja pojok," cicit Yuna jujur, tidak berani mendongak.
"Lalu ponselmu? Kenapa mati?" tanya Labib lagi, nadanya mulai naik satu oktav. "Kamu tahu betapa paniknya saya saat pulang ke rumah yang kosong dan mendapati nomor istrinya tidak bisa dihubungi sama sekali? Kamu sengaja menghindari saya?"
"Baterainya habis, Mas..." Yuna meremas piyama satinnya, matanya mulai kembali berkaca-kaca saat mengingat foto yang memicu kenekatannya tadi. "Aku nggak sengaja matiin. Dan aku kesal... aku kesal karena Mas Labib bilang ada urusan, tapi ternyata malah makan malam bareng Bu Citra dan keluarganya. Dinda liat story itu di Instagram, semua anak-anak kampus mengira kalian mau tunangan!"
Labib menghentikan gerakan tangannya di rambut Yuna. Ia meletakkan handuk itu ke atas kasur, lalu memegang kedua pundak Yuna, memaksa gadis itu untuk berbalik dan menatap langsung ke dalam netra elangnya.
"Lihat saya, Yuna," perintah Labib tegas.
Mau tidak mau, Yuna mendongak dengan bulu mata yang basah.
"Pertama, Citra hadir karena dia adalah sepupu dari sepupu jauh Ibu. Saya tidak bisa mengatur siapa saja yang diundang oleh Ibu ke acara keluarga besar itu," jelas Labib, menekankan setiap kata agar masuk ke dalam logika Yuna yang kini sudah sepenuhnya sadar. "Kedua, saya tidak bicara dari awal karena saya tidak ingin kamu memikirkan hal tidak penting yang bisa mengganggu fokus kuliahmu. Dan ketiga..."
Labib mendekatkan wajahnya, mengunci tatapan Yuna dengan intensitas yang membuat pasokan udara Yuna menipis. "...jika gosip murahan di kampus itu bisa membuatmu senekat ini sampai menenggak alkohol, kenapa kamu tidak pernah mau memegang klaim atas diri saya di depan mereka, hm? Kamu yang memilih untuk menyembunyikan pernikahan ini, Yuna. Jadi jangan salahkan orang lain jika mereka mengira saya masih sendiri."
Yuna menghela napas panjang, membiarkan pundaknya merosot lemas. Kata-kata Labib barusan menghantam logikanya dengan telak. Semua yang dikatakan suaminya tidak ada yang salah. Dialah yang dari awal bersikeras menyembunyikan pernikahan ini karena takut digunjingkan satu kampus atau dianggap memanfaatkan jalur orang dalam sebagai mahasiswi arsitektur.
"Iya sih, tapi..." Yuna menggantung kalimatnya, matanya bergerak gelisah menatap kancing piyama abu-abu yang dikenakan Labib. "Tapi tetap aja aku cemburu, Mas. Siapa yang nggak sakit hati liat suaminya duduk di satu meja formal sama perempuan lain yang jelas-jelas lebih disetujui sama mertuanya sendiri?"
Suara Yuna kembali mencicit, ada nada serak yang menahan tangis di ujung kalimatnya. "Mas Labib mungkin merasa itu hal sepele karena cuma sepupu jauh, tapi buat aku yang statusnya disembunyikan begini... rasanya kayak aku ini penonton bayaran di hidup kamu."
Labib tertegun. Cengkeraman tangannya di pundak Yuna perlahan melunak, berubah menjadi elusan lembut yang menenangkan. Pria 31 tahun itu tidak menyangka bahwa keputusannya untuk selalu "melindungi" Yuna dengan cara diam justru menjadi bumerang yang menyiksa batin istrinya.
Labib mengulurkan tangan, menyelipkan beberapa helai rambut Yuna yang masih agak lembap ke belakang telinga, lalu menangkup pipi gadis itu agar pandangan mereka kembali mengunci.
"Saya tidak pernah menganggap pernikahan kita main-main, Yuna. Apalagi menganggap kamu penonton," ucap Labib, suaranya kini terdengar sangat rendah dan dalam, penuh dengan ketulusan seorang suami. "Kalau kamu merasa tidak aman dengan bersembunyi seperti ini, katakan pada saya. Besok, atau bahkan detik ini juga, saya bisa membawa dokumen pernikahan kita ke ruang dekan jika itu yang kamu mau."
Yuna terbelalak kecil mendengar keseriusan di nada bicara Labib. Sentuhan hangat tangan suaminya di pipinya membuat debaran di dadanya kembali berkejaran, meruntuhkan sisa-sisa ego dan amarah yang sempat membakar dirinya malam ini.