Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Notifikasi di Malam yang Gelap
Tubuh Doni sebenarnya sudah terasa lebih segar dibandingkan sore tadi, akibat guyuran air dingin dan asupan makanan terbaik dari Mama Marcella di rumah beliau. Namun, melihat tas olahraga ‘penyimpan’ rahasia yang tersimpan rapi di bagasi jok motornya, rasa lelah itu sepertinya mulai kembali. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga lelah pikiran.
Melihat area parkiran supermarket yang sudah tidak berpenghuni kecuali motornya sendiri, membuat Doni sadar akan waktu yang sudah semakin larut. Dia menghela napas panjang berusaha mengubur sementara pikiran melelahkan yang memenuhi otaknya itu, lalu menutup joknya. Dia menyalakan mesin motornya berharap angin malam yang dingin di perjalanan dapat membuat isi pikirannya menguap.
Tak berapa lama, Doni akhirnya sampai di kos-kosannya yang sudah cukup sunyi. Bunyi gemerincing kunci memecah keheningan koridor saat dia mencoba memasukkanya di lubang kunci pintu kamar kosnya. Dia lalu mendorong pintu yang dingin itu, melangkah masuk, lalu membiarkan pintu terhempas tertutup di belakangnya. Tas olahraga milik Olivia dia letakkan di sudut dekat lemari pakaian. Suara jatuhnya tas itu memantul pelan di dalam ruangan yang sepi. Keheningan yang menyergap seketika justru membuat riuh di dalam kepala Doni terdengar makin bising.
Doni melepas jaket motornya, melemparkannya ke sandaran kursi, lalu melangkah ke kamar mandi hanya untuk cuci muka dan sikat gigi. Usapan air dingin di wajahnya sedikit menghilangkan kantuk dan sisa terpaan angin malam selama perjalanan naik motor dari supermarket tadi. Sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, Doni melihat pantulan dirinya di cermin dan menyadari kalau kaus Polo milik Papanya Marcella masih melekat di tubuhnya. Karena tidak enak, akhirnya Doni melepaskan kaus itu dengan hati-hati, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya di meja samping kasurnya. Setelah berganti pakaian dengan kaus polos berwarna putih yang cukup tipis, Doni mematikan lampu kamar kosnya, lalu menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas kasur.
Mencoba untuk tidur, Doni menekan area bagian matanya dengan lengannya, seperti seorang anak kecil yang bertugas untuk berjaga saat bermain petak umpet. Namun, yang terbayang sekilas adalah senyuman Olivia di spion tengah dan elusan hangat tangan Marcella dari kursi pengemudi. Seketika Doni teringat akan janjinya untuk memberi kabar kepada Marcella kalau dia sudah selamat sampai di kamar kosnya.
Cell, aku udah nyampe kosan. Sekarang udah mau tidur. Kamu juga tidur ya, udah malem banget ini.
Kamar kos Doni yang sudah tenggelam dalam kegelapan, kini diterangi oleh cahaya biru dari layar ponselnya. Namun tak berlangsung lama, karena layar ponselnya kembali mati.
Drrt... Drrt...
Doni yang mengira Marcella sudah terlelap dalam tidurnya, ternyata masih terjaga dan mengirimkan pesan balasan.
Oke, Doni sayang. Ini juga udah mau tidur kok, barusan abis cuci muka. Jangan lupa mimpiin aku ya hehe, I love you ❤
Doni menatap kata 'I love you' di layar itu. Jantungnya berdenyut nyeri. Rasa bersalah yang tertahan seharian ini mendadak mencengkeram dadanya hingga terasa sesak. Marcella begitu tulus mempercayainya. Ucapan Marcella beberapa menit lalu di dalam mobil adalah buktinya. Marcella bahkan mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Doni, tanda bahwa perasaan Marcella benar-benar berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Doni menghela napas panjang, meletakkan ponselnya di dada, dan memejamkan mata. Dia bertekad untuk melupakan semua kekusutan di dalam pikirannya hari ini dan kembali menjadi Doni yang setia.
Drrt... Drrt...
Baru saja matanya hendak tertutup, ponsel di dadanya bergetar sekali lagi. Doni membuka mata, mengangkat ponselnya ragu-ragu. Sebuah notifikasi pesan baru muncul dari kontak tanpa nama, namun Doni mengenali nomornya. Dia refleks menelan ludah. Jemarinya ragu sejenak sebelum mengetuk layar untuk membuka pesan tersebut.
Kak Don! Sori ganggu malem-malem, cuman mau bilang makasih ya, karena tadi sore udah nyembunyiin tas aku dari Kak Cella 🙏 btw Kak Doni tadi keliatan dewasa banget deh pas pake baju Papa wkwkwk good night, Kak 😉
Doni mematung di kegelapan. Pesan itu begitu sederhana, tanpa ungkapan perasaan yang dramatis, dan tanpa paksaan. Namun justru kesederhanaan dan nada santai khas Olivia itulah yang terasa begitu personal, seolah-olah pesan itu adalah tali tak kasat mata yang menarik mereka berdua ke dalam sebuah rahasia eksklusif.
Olivia mungkin tidak memikirkan apa-apa saat mengirimkan pesan itu, hanya ungkapan terima kasih biasa ditambah sedikit ledekan bercanda untuk pacar kakaknya. Tapi debaran jantung Doni berkata lain. Dia menangkapnya dengan perasaan yang berbeda, perasaan yang hampir sama ketika dia pertama kali menerima pesan singkat dari Olivia yang bercanda tentang klub sepakbola favorit mereka, Chelsea FC. Perasaan yang kembali hadir, membuat pesan se-sederhana itu tampak spesial di mata Doni, hingga membuat dia membacanya berulang-ulang kali dari huruf pertama.
Kini, notifikasi yang berisi pesan ungkapan terima kasih Olivia itu bersanding dengan notifikasi lainnya di layar ponsel Doni, yaitu pesan cinta yang tulus dari Marcella. Doni mengusap wajahnya kasar. Dia tak membalas pesan dari keduanya. Jempolnya menekan tombol di samping ponselnya untuk mengunci layar, lalu melemparkannya pelan sedikit jauh dari bantalnya. Doni sudah terlalu lelah untuk menyimpannya dengan rapi. Sejuknya hembusan kipas angin dan suasana kamar kos yang gelap gulita, diharapkan dapat membantu Doni terlelap dan melupakan pertempuran di dalam hatinya.
Kriiing...
Suara alarm dari ponsel Doni berdering nyaring memecah keheningan di pagi itu. Sinar matahari yang menerobos celah tirai kamar menyapu wajah Doni, memaksa matanya terbuka perlahan. Doni mematikan alarm, lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa sedikit kaku. Saat dia duduk di tepi kasur, pandangannya refleks terlempar ke kaus Polo bermotif garis-garis yang sudah terlipat rapi di atas meja di samping tempat tidurnya. Kaus itu tidak seharusnya berada di kamar kos Doni, sama seperti tumbler biru di dekat modul kuliahnya dan tas olahraga di samping lemari pakaiannya. Barang-barang yang seolah menjadi saksi bisu atas kebohongan Doni itu harus segera kembali ke tempat mereka yang seharusnya, dan Doni harus memikirkan cara untuk mengembalikan ketiganya.
Drrt... Drrt...
Getaran ponsel Doni mengagetkannya yang sedang berpikir. Sebuah pesan masuk dari Marcella.
Pagi, Don. Udah bangun belum? Hari ini kuliah jam berapa? Jangan lupa sarapan ya, sayang ❤
Doni membalas pesan itu dengan senyum tipis yang agak dipaksa. Perhatian tulus Marcella selalu hadir seperti biasa, hangat dan tak pernah absen.
Pagi juga, Cell. Hari ini ada kuliah jam 8 sama jam 1. Ini aku baru mau siap-siap mandi.
Setelah mengetuk tombol kirim, Doni mengetuk tombol back. Tepat di bawah obrolan Marcella, ada obrolan dari nomor tanpa nama masih menggantung dengan pesan semalam yang belum Doni buka kembali. Doni menghembuskan napas panjang, mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi kuliah. Dia berharap suasana di kampus nanti dapat membantunya melupakan sejenak kekacauan di kepalanya.