"Cinta kerap datang tanpa memberi aba-aba pada otak agar mengerti. Terkadang ia hadir menyelinap ke dalam hati dan menetap. Tanpa di sadari cinta telah bersemayam di dalam lubuk hati."-- Fakhri
"Terkadang cinta datang namun harus pergi. Dan terkadang kita yang harus pergi meninggalkannya."-- Tania
Penghujung cinta dari setiap insan memiliki jalan yang berbeda untuk sampai ke titik sebuah penyatuan cinta.
Dan tak ada satu insan pun yang tahu bagaimanakah akhir dari penghujung cintanya? Mendapatkan atau malah harus meninggalkannya.
Lalu bagaimana dengan cinta Tania? Apakah ia dapat menemui akhir dari cintanya. Bagaimana kisahnya? Pantengin aja cerita ini.
*Selamat membaca dan jangan lupa like, komen yang bijak untuk perbaikan author sendiri dan vote ya teman-teman!*
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akhwat Uyee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34#Welcome New Problem
"Tania! Syela! Apa-apaan ini?" ucap Pak Burhan di depan pintu kelas.
Seketika pandangan seluruh siswa beralih pada sosok Mr. Killer yang tengah berdiri itu. Termasuk Tania dan Syela.
"Aw sakit Tania. Jangan di pencet keras-keras. Tanganku bisa patah." ucap Syela yang kini merintih kesakitan dengan memegangi tangannya yang masih di pegang Tania di punggungnya.
Tania tercengang, bahkan ia hanya memegang tanpa ada niat sedikitpun untuk menyakiti Syela.
"Tania! Syela! Kalian berdua ikut Bapak ke ruangan." ucap Pak Burhan singkat. "Dan yang lainnya kalian harus belajar. Saat Bapak masuk, Bapak akan mengadakan ulangan dadakan."
Sontak semua siswa tercengang, namun tak ada yang berani melawan Mr. Killer tersebut.
Tania dan Syela kini tegah duduk di kursi yang menghadap ke meja Pak Burhan.
"Tania, jelaskan apa yang terjadi! Apa yang kamu lakukan kepada Syela?" sorot mata Pak Burhan membuat Tania sedikit takut.
"Ini semua hanya salah paham, Pak. Saya tidak melakukan apa-apa pada Syela." ucap Tania memberanikan diri.
"Bohong! Dia bohong, Pak!" ucap Syela tiba-tiba.
"Tolong jelaskan, Syela!" ucap Pak Burhan menatap Syela.
"Saya tidak tahu Pak, kenapa Tania sangat membenci saya. Saya menduga dia membenci saya karena nilai matematika saya hampir mendekati Tania. Jadi Tania takut kalau saya akan menggeser posisinya. Makanya tadi dia mencengkram kuat tangan saya hingga seperti ini." Syela menujukkan tangannya yang memerah karenan bekas cengkraman kuat.
Tania sangat terkejut mendengar pengakuan Syela yang sama sekali tidak ada kebenarannya.
Ia hanya memegang tangan Syela. Ia yakin bekas tangan yang ia pegang juga tidak akan menimbulkan bekas cengkrman seperti itu.
"Apa benar itu Tania?" tanya Pak Burhan menatap Tania.
"Tidak, Pak. Apa yang dikatakan oleh Syela tidaklah benar, Pak." jawab Tania tetap tertunduk.
"Bohong, Pak. Tania berbohong." Syela mulai terisak.
Semakin bingunglah Tania. Mengapa Syela seperti itu.
"Tania! Maaf dengan berat hati Bapak akan menskors kamu selama seminggu." ucap Pak Burhan dengan berat hati. Sebenarnya Pak Burhan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Karena selama ini Tania tidak pernah berbuat ulah. Namun tangan Syela yang memerah dan tangisan Syela membuatnya harus tetap menegakan hukum yang berlaku.
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu lebih baik pulang. Dan Syela kamu ke UKS saja dulu ya." Pak Burhan meninggalkan mejanaya menuju ke luar ruangan.
"Jangan main-main sama Drama Queen!" Syela tersenyum miring lalu pergi meninggalkan Tania.
"Astagfirullah..." Tania mengelus dadanya menahan tangis. Ternyata Syela hanya bersandiwara agar Tania mendapat hukuman.
Tania berjalan menuruni tangga dengan perasaan yang campur aduk. Ia sedih harus mendapat skors selama seminggu. Jika mamanya tahu, ia akan kecewa dan mungkin marah besar kepadanya. Bagaimana dia harus menjelaskan semuanya. Apa mungkin mamanya akan percaya jika ia hanya menjadi korban drama dari Syela. Tania pusing memikirkan itu semua.
Tania terhenti. Ia melihat seorang laki-laki berseragam putih abu-abu sedang menenteng tasnya. Sorot matanya selalu tertuju pada buku yang ia pegang, sesekali iamembenarkan kaca matanya yang sedikit turun. Pantaslah matanya sudah minus, buku tak pernah lepas dari tangannya.
Namun setelah ada Tania posisinya menjadi peringkat dua. Mungkin karena itu dia jadi lebih giat belajar. Terlihatbdi badge namanya tertulis Dika Graha Purnama.
"Tania, ini tas kamu. Pak Burhan yang memintaku tadi untuk memberikannya kepadamu." Dika menyodorkan tas kepada Tania.
"Em maksih ya, Ka." Tania mengulas senyum.
"Sama-sama. Yang sabar ya Tan, Syela memang kaya gitu. Aku percaya kamu nggak ngapa-ngapain Syela kok." Dika menepuk pundak Tania lalu tersenyum.
"Aku sabar kok. Hehe. Aku pulang dulu, titip salam buat Nadia, ya." Tania berbalik dan berjalan menaiki tangga.
"Nggak titip salam buat Rehan? " tanya Dika menaikkan sebelah alisnya.
Tania langsung menoleh, "Nggaklah. Kamu apa-apaan sih!" Tania langsung melanjutkan jalannya dengan sedikit berlari. Sedikit terdengar ucapan Dika. Namun Tania tidak menghiraukan. Ia sedikit malas membahas seperti itu di saat seperti ini.
Tania berjalan menuju gerbang sekolah. Namun langkahnya terhenti setelah ada yang memanggilnya. Tania menoleh dan di dapatinya ada Rehan di sana.
"Ada apa, Han?" tanya Tania.
"Kamu mau bolos?"
"Enggak." jawab Tania lesu.
"Kamu kenapa?"
"Aku di skors. Aku pulang dulu ya." Tania melanjutkan jalannya, meninggalkan Rehan yang masih berdiam diri.
Tania bingung harus kemana. Jika ia pulang, pasti Pak Korim akan bilang ke mamanya. Tapi jika tidak pulang, dia mau kemana. Dia masih mengenakan seragam sekolah. Namun dia teringat akan jaket di dalam tasnya. Jaket yang ia bawa terus ke sekolah namun tak pernah ia pakai. Tania mengenaknnya agar tidak ada yang tahu dirinya berasal dari sekolah mana.
Tania menyusuri jalanan, hingga akhirnya ia berhenti di depan toko buku. Tania sering mampir kesini untuk membeli buku atau sekedar membaca buku yang ada di perpustakaan mini. Ya. Di toko buku ini memang menyediakan fasilitas perpustakaan mini.
Tania mengambil buku komik. Karena Tania memang sangat menyukai komik-komik, dan di rumahnya koleksinya sudah banyak.
Tania duduk di barisan paling belakang. Saat sedang asik membaca Tania melihat bayangan jus coklat di depannya. Sepertinya Tania mulai haus. Kepalanya sedikit berdenyut-denyut.
"Minum aja jusnya. Jangan di anggurin, soalnya itu coklat." ucap sosok lelaki menggunakan jaket jumper hitam dengan masker menutup mulut dan hidungnya yang kini di depan Tania dengan
Tania terkejut dengan kemunculan Rehan di depannya. Iya. Tania tahu itu Rehan. Tani sangat mengenal suara tersebut.
"Lho ini buat aku?"
"Bukanlah."
"Kok di tarok sini"
"Soalnya itu buat kamu. Haha" jawab Rehan sambil tertawa.
"Ih apaan sih. Nggak lucu tauk." Tania menyesap jus coklat pemberian Rehan.
"Aku duduk ya?" Rehan duduk di kursinyang berhadapan dengan Tania.
"Duduk ajalah. Em... Ini kan jam sekolah? Kamu bolos?"
"Iya. Nggak papa kan?"
"Dasar lelaki ya. Kalau bolos no 1." ucap Tania jengah.
"Tapi kan aku bisa menemani kamu." Rehan tersenyum di balik maskernya.
"Gombal. Mau bolos aja pakai alesan kaya gitu. Modus tauk."
"Sesekali nggak papalah. Aku capek jadi anak rajin." Rehan tertawa.
"Hidih PD amat dah kamu!"
"PD-lah selagi PD belum di larang."
Tania menepuk jidatnya. "Eh by the way, kok kamu kaya gini sih? Kaya rampok." tanya Tania antusias.
"Sttt...Jangan keras-keras." Rehan memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Ada apa?" Tania mendekatkan wajahnya ke Rehan.
"Rehan! Apa-apan ini?"
Tania dan Rehan menoleh seketika.
"Gawat!" batin Rehan.
jujur sih ni novel yg ke 2 aku baca yg jdi favorit ku jga
jangan lupa dengerin audio ny ya soalnya aku yg dubiing 😊
maaf jika suara nya agak gak jelas
terimakasih
mampir ya....
PENDEKAR TAK PERNAH KALAH
semangat terus ya nulisnya 💪 semoga ide-ide nya selalu dapat🤗
Mampir juga ya di novelku "Suami Dadakan" makasih💖
Salam dari kisah danau hijau buatan kakek
Salam dari "Pacaran Setelah Menikah "Halal)"
Terima kasih. 🤗