NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Pagi berikutnya, hawa dingin dari pendingin ruangan di lantai empat gedung perkantoran tempat Revan bekerja terasa berkali-kali lipat lebih menusuk kulit. Revan duduk di atas kursi lobi dengan kedua tangan yang saling meremas di atas lutut. Baru saja ia menyelesaikan draf laporan bulanannya yang sempat tertunda karena cuti kemarin, sebuah pesan singkat dari sekretaris direksi masuk ke ponselnya, memintanya untuk segera menghadap ke ruangan Human Resources Development (HRD). Firasat buruk langsung mencengkeram dadanya, membuat setiap langkah kakinya menuju ruangan itu terasa seberat timah.

Tok... Tok... Tok...

Revan membuka pintu kaca buram tersebut perlahan. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih dan abu-abu arang itu, sudah duduk Pak Dani, kepala HRD senior yang terkenal dengan pembawaannya yang tenang namun sangat tegas. Di atas meja kerja marmernya, terdapat sebuah map tebal berwarna merah yang langsung Revan kenali sebagai berkas rekam jejak karyawan miliknya.

"Silakan duduk, Revan," ucap Pak Dani dengan suara bariton yang datar, tanpa senyuman hangat seperti biasanya.

Revan menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengambil tempat duduk tepat di seberang Pak Dani. "Ada apa ya, Pak? Apakah ada masalah dengan draf laporan pemasaran yang baru saja saya kumpulkan?"

Pak Dani tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pendek, lalu menggeser map merah tersebut ke depan Revan, diikuti oleh selembar kertas putih berlogo resmi perusahaan dengan kop bertuliskan Surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Mata Revan seketika terbelalak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. "Pak... ini... apa maksudnya, Pak?! Kenapa saya dipecat?!" teriak Revan dengan suara bergetar hebat, wajahnya instan pucat pasi seolah seluruh darahnya baru saja diisap keluar.

Pak Dani menatap Revan dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa asasi profesional, tanpa ada kebencian namun sangat dingin. "Tenang dulu, Revan. Tolong dengarkan penjelasan dari pihak manajemen dengan kepala dingin. Keputusan ini diambil setelah melalui rapat pleno direksi kemarin sore."

"Apakah... apakah ini karena Adila?!" seru Revan menuduh, napasnya memburu egois. Pikirannya langsung melayang pada baliho digital kelulusan Adila sebagai anak konglomerat Wijaya Group yang baru ia lihat kemarin pagi. "Apakah Keluarga Wijaya menekan perusahaan ini untuk memecat saya, Pak?! Tolong jujur pada saya! Ini tidak adil! Urusan rumah tangga kami tidak boleh dibawa ke ranah pekerjaan!"

Mendengar tuduhan Revan, Pak Dani justru mengembuskan napas panjang sembari menggelengkan kepalanya perlahan. Ada gurat kekecewaan yang mendalam di wajah pria paruh baya itu.

"Revan, tolong singkirkan ketakutan dan asumsi kekanakanmu itu," ucap Pak Dani dengan nada bicara yang sangat terstruktur. "Pihak manajemen perlu menegaskan satu hal penting kepadamu tentang keputusan pemecatan ini sama sekali bukan karena ada tekanan, intervensi atau campur tangan dari Keluarga Wijaya ataupun Dokter Adila. Perusahaan sebesar Wijaya Group terlalu berkelas untuk mengurusi posisi manajer menengah sepertimu di kantor ini."

Pak Dani mengetuk selembar berkas di dalam map merah dengan ujung pulpennya. "Kamu dipecat murni karena penurunan performa, ketidakprofesionalan dan pelanggaran fatal terhadap regulasi internal perusahaan yang sudah kamu lakukan selama beberapa bulan terakhir ini."

"Pelanggaran apa, Pak? Selama ini target penjualan divisi saya selalu tercapai!" Revan masih mencoba membela diri, meski suaranya mulai melemah.

"Target penjualan itu tercapai karena kerja keras tim bawaharmu, Revan, bukan karena kehadiranmu," skakmat Pak Dani tanpa ampun. "Mari kita buka datanya. Perusahaan sudah mengeluarkan Surat Peringatan Pertama (SP 1) dan Kedua (SP 2) kepadamu berturut-turut dalam waktu singkat, bukan? Alasan utamanya adalah karena kamu terlalu sering mengambil jatah cuti mendadak dan izin tidak masuk dengan alasan urusan keluarga urgent di saat perusahaan sedang berada di masa krusial proyek kuartal."

Pak Dani menatap Revan lurus-lurus. "Dan pihak kantor akhirnya mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Satu urusan keluarga yang kamu maksud dulu... ternyata adalah rangkaian sidang perceraianmu dengan Dokter Adila akibat kasus perselingkuhan yang kamu lakukan. Perusahaan masih memaklumi itu sebagai masalah domestik. Namun, yang membuat manajemen bulat mengambil keputusan ini adalah tindakanmu belakangan ini."

Pak Dani menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangannya di depan dada. "Kamu mengambil cuti tahunan mendadak berturut-turut hanya demi membawa seorang wanita bernama Meisya ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan mewah. Revan... Meisya itu notabennya adalah orang lain. Dia bukan istri sahmu, dia bukan bagian dari kartu keluargamu yang terdaftar di administrasi perusahaan kami. Dia hanya teman kecilmu dari masa lalu. Tapi kamu... kamu tiba-tiba meratukannya di atas kepentingan pekerjaanmu sendiri. Kamu mengorbankan tanggung jawab profesionalmu demi mengurus orang asing yang kamu bawa masuk ke dalam hidupmu."

Kata-kata Pak Dani terasa seperti rentetan peluru yang menembus tepat di ulu hati Revan. Pria itu membeku, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci rapat. Segala pembenaran yang selama ini ia susun di dalam kepalanya runtuh seketika di hadapan logika dingin divisi HRD.

"Perusahaan tidak bisa menoleransi seorang manajer yang tidak bisa membedakan skala prioritas antara profesionalisme kerja dengan drama pribadi bersama teman kecilnya," lanjut Pak Dani tegas. "Ketidakhadiran Kamu yang berulang kali telah mengganggu ritme kerja divisi pemasaran dan merugikan efisiensi waktu perusahaan."

Revan menunduk dalam-dalam, menatap surat pemecatan itu dengan air mata yang mulai menetes membasahi marmer meja. Pilar terakhir yang selama ini menyokong hidupnya setelah bercerai dari Adila yaitu status pekerjaannya yang mapan kini telah hancur berkeping-keping.

"Namun, karena manajemen masih mengingat dedikasimu di tahun-tahun awal," ucap Pak Dani, suaranya sedikit melunak, "perusahaan masih bersikap baik dengan memberikan hakmu. Kamu akan menerima pesangon dan kompensasi penuh, termasuk satu kali gaji utuh bulan ini yang akan ditransfer siang nanti. Silakan bereskan barang-barang pribadimu dari kubikel sebelum jam makan siang."

Dua jam kemudian, Revan berjalan keluar dari lobi gedung kantor dengan membawa sebuah kardus kertas besar berisi tumpukan map, hiasan meja, dan barang-barang pribadinya. Pandangannya kosong, menatap nanar ke arah jalanan ibu kota yang ramai. Uang satu kali gaji terakhir yang dijanjikan HRD tadi terasa seperti pasir kering yang tidak akan cukup untuk membayar cicilan hutang bank ibunya yang menumpuk, apalagi membiayai seluruh gaya hidup Meisya yang menuntut kemewahan.

Dalam kondisi mental yang hancur, linglung dan putus asa, Revan memasukkan kardus tersebut ke dalam bagasi mobil sewaannya. Ia masuk ke kursi kemudi, menghidupkan mesin, namun ia tidak mengarahkan kendaraannya pulang ke rumah sempit milik ibunya. Ia tidak sanggup menghadapi rentetan rintihan Meisya atau keluhan sakit ibunya saat ini.

Tujuan Revan berganti. Mobilnya melaju membelah jalanan kota menuju sebuah kawasan pemakaman umum di pinggiran Jakarta.

Udara siang itu terasa sangat terik, namun angin yang berembus di antara deretan pohon kamboja tua di area pemakaman memberikan suasana sunyi yang mencekam. Revan melangkah dengan gulai menyusuri jalan setapak tanah yang ditumbuhi rumput liar, hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah gundukan tanah dengan nisan marmer hitam yang sudah mulai berlumut.

Itu adalah makam Almarhum Hadi, mantan suami sah Meisya sekaligus sahabat masa kecil Revan yang telah tiada beberapa tahun lalu.

Revan perlahan menjatuhkan lututnya di atas tanah kering di samping makam tersebut. Ia menumpukan kedua tangannya di atas batu nisan yang dingin. Pertahanan mentalnya yang ia tahan sejak berada di ruang HRD tadi akhirnya runtuh sepenuhnya di tempat sunyi ini. Isak tangisnya pecah, bahunya berguncang hebat menumpahkan seluruh rasa frustrasi, ketakutan, dan kehancuran batin yang selama ini menjerat lehernya.

"Hadi..." bisik Revan dengan suara parau yang tersendat oleh tangisan. "Maafkan aku, Had... Tolong maafkan aku..."

Revan mencengkeram sisi nisan itu dengan erat, air matanya menetes membasahi tanah pemakaman. "Dulu... sebelum kamu pergi, kamu menitipkan Meisya kepadaku. Kamu memintaku untuk menjaganya sebagai seorang sahabat jika dia sedang kesulitan. Dan aku... dengan bodohnya aku salah mengartikan sumpah dan titipan itu, Had..."

Revan memukul dadanya sendiri yang terasa sangat sesak, menyadari betapa fatalnya kesalahan langkah yang telah ia ambil. "Karena ego dan rasa bersalahku yang salah tempat, aku mengkhianati Adila. Aku mencampakkan istri yang sudah sepuluh tahun tulus menemaniku dari nol, hanya demi meratukan Meisya. Aku membagi uang nafkah yang seharusnya menjadi hak Adila untuk memanjakan Meisya... Aku merusak pernikahan suci demi rintihan teman kecil yang ternyata adalah benalu pembawa sial di hidupku!"

Revan mendongak menatap langit siang yang terik dengan mata merah penuh keputusasaan. "Sekarang semuanya sudah hancur, Hadi! Rumah mewahku disita, adikku kabur dari rumah karena muak, ibuku jatuh sakit terlilit hutang bank dan hari ini... hari ini aku dipecat dari pekerjaanku karena aku terlalu sering menomorsatukan Meisya di atas segalanya!"

Tangisan Revan terdengar begitu memilukan di tengah keheningan makam. Rasa aneh yang mencekik hatinya di rumah sakit kemarin kini berubah menjadi penyesalan mutlak yang membakar jiwanya. Ia menyadari satu hal yang teramat pahit: ia tidak pernah benar-benar mencintai Meisya dengan tulus, apa yang ia rasakan dulu hanyalah jebakan ego dan manipulasi rasa iba yang salah arah. Dan kini, ia harus membayar harga dari kebodohannya itu dengan kemiskinan dan kehancuran total.

"Aku tidak sanggup lagi, Hadi... Aku benar-benar tidak sanggup lagi menampung Meisya di hidupku..." ucap Revan dengan suara lirih yang bergetar penuh kepasrahan, bersujud di atas makam sahabatnya. "Gajiku sudah tidak ada... Tabunganku habis... Rumah ibuku sempit dan pengap. Kehadiran Meisya dan tuntutan mewahnya hanya akan membuat kami semua mati kelaparan di rumah tua itu. Maafkan aku, Nang... aku gagal memegang amanahmu karena amanah ini telah menghancurkan seluruh duniaku tanpa sisa."

Di depan makam itu, Revan meratapi nasibnya yang kini berada di titik nadir terendah. Kehidupan mapannya telah sirna, kehormatan karirnya telah dicabut, dan wanita yang dulu ia sebut sebagai pelindungnya Adila kini telah kembali menjadi putri mahkota konglomerat yang tak tertandingi di puncak dunia, meninggalkan dirinya mendekam di dalam kuburan penyesalan yang ia gali dengan tangannya sendiri.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
Himna Mohamad
kereeenn👍👍👍👍👍
stela aza
syukurin loe ,,, makanya otaknya di pakai jangan buat pajangan doank ,,,
stela aza
udh tau hidupnya makin sulit masih j nampung s benalu ,,, kenapa g di pulangin ke kampung halamannya ,,, benar2 lelaki bahlul 🤦
Lee Mba Young
sahabat mu juga dpt dosa, ngapain nitipin amanah istri ke laki lain. berarti ikut dpt dosa jariyah lah.
pling best alm suami ku punya sahabat baik saat akn mninggal gk nitipin Aku ke temennya😄.
blcak areng: kakkk🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
laki bodoh ya bgitu, mnjaga ya gk hrs nafkahi bodoh.
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!