Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Kehangatan sinar matahari pagi kembali menyirami Penthouse Lavender, membiaskan cahaya keemasan yang menembus kaca kedap peluru. Setelah malam yang penuh keharuan dengan alunan piano Devan dan tendangan pertama Baby El, suasana pagi ini terasa sangat segar dan bersemangat.
Di dalam kamar utama, Alya sudah bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Gaun hamil berwarna lavender lembut membungkus tubuhnya yang kian berisi. Meskipun sudah merasa sangat sehat, instruksi *bedrest* dari Devan dan Dokter Kurniawan tetap berlaku mutlak: Alya tidak diperbolehkan banyak berjalan atau berdiri terlalu lama.
Di sudut ruangan, Devan tampak sibuk membenahi kancing kemeja linen warna putihnya. Pria itu menolak menggunakan jas formal hari ini. Demi mendampingi Alya menerima kunjungan Tuan Besar Abraham, Devan memilih pakaian kasual yang membuatnya tampak lebih ramah—meskipun aura kepemimpinannya yang tegas tetap tak bisa disembunyikan.
*Cklek.*
Pintu kamar terbuka. Yudha melangkah masuk seraya membungkuk khidmat. "Tuan Muda, Nyonya Muda, Tuan Besar Abraham telah tiba di area *helipad* privat dan sedang menuju ke Penthouse."
Devan mengangguk pelan. "Sambut Kakek dan antarkan langsung ke ruang keluarga."
"Baik, Tuan Muda."
Devan melangkah mendekati ranjang, menunduk dan mengecup kening Alya dengan lembut, lalu tangannya mengelus perut Alya yang membuncit manis. "Ayo, aku bantu pindah ke sofa ruang keluarga. Kakek sudah tidak sabar ingin melihatmu."
"Aku bisa jalan pelan-pelan, Devan..." bisik Alya tersenyum.
"Tidak ada jalan kaki untuk hari ini, *Wifey*," potong Devan tegas namun penuh kasih. Tanpa memberi kesempatan Alya membantah, Devan menyusupkan kedua tangannya di bawah tubuh Alya dan mengangkatnya secara *bridal style* dengan sangat mudah.
Alya refleks melingkarkan lengannya di leher Devan, wajahnya merona merah. "Devan! Malu kalau dilihat Kakek nanti!"
"Biarkan saja. Kakek justru akan marah kalau melihatku membiarkanmu berjalan," kekeh Devan santai.
> *[Betul sekali, Ibu! Jangan protes! Nikmati saja fasilitas transpor VVIP gratis dari Ayah Siaga ini!]*
> *[Lagi pula, otot lengan Ayah ini sangat kokoh, tingkat kenyamanan suspensinya seratus persen stabil tanpa guncangan!]*
Suara Baby El yang ceria mendadak bergaung di kepala Alya, membuat Alya menahan tawa gembiranya sembari menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.
---
Di ruang keluarga Penthouse Lavender yang luas dan megah, Tuan Besar Abraham Dirgantara sudah duduk menanti. Pria tua yang merupakan sosok legendaris pendiri Dirgantara Group itu mengenakan setelan batik sutra tradisional yang sangat anggun. Meskipun usianya sudah lanjut, pandangan matanya masih sangat tajam dan berwibawa.
Namun, begitu melihat Devan berjalan masuk seraya menggendong Alya dan mendudukkannya dengan sangat hati-hati di sofa empuk, raut wajah tegas Kakek Abraham seketika melunak total. Senyuman lebar dan hangat terkembang di wajahnya.
"Alya, cucu menantuku!" panggil Kakek Abraham dengan suara serak namun penuh kegembiraan. Pria tua itu langsung berdiri, memegang tongkat kayunya, dan melangkah mendekat.
"Selamat pagi, Kakek," sapa Alya santai dan penuh hormat, mencoba membenahi gaunnya. "Maaf Alya tidak menyambut Kakek di depan."
"Hus! Jangan bicara seperti itu!" potong Kakek Abraham cepat seraya melambaikan tangannya. Ia duduk di sofa tunggal di samping Alya, menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut cemas yang bercampur lega. "Bagaimana keadaanmu, Nak? Perutmu sudah tidak sakit lagi? Kemarin malam saat Devan memberi tahu krisis serangan itu, jantung Kakek hampir rasanya mau berhenti!"
Alya tersenyum hangat, mengelus tangan Kakek Abraham yang keriput namun penuh rasa sayang. "Alya sudah sangat sehat, Kakek. Dokter Kurniawan sudah memeriksa tadi pagi, dan kondisi kandungan Alya sudah stabil kembali. Semua berkat Devan dan pengawalan cepat dari Dirgantara."
Kakek Abraham mengembuskan napas lega yang sangat panjang, lalu menoleh menatap Devan yang berdiri di belakang sofa Alya. "Bagus! Kamu menjalankan tugasmu sebagai suami dengan benar, Devan. Jika sampai ada satu helai rambut Alya yang gugur atau cicitku terancam lagi, Kakek sendiri yang akan mencopotmu dari posisi CEO!"
Devan hanya menaikkan sebelah alisnya, mengulas senyuman tipis yang santai. "Itu tidak akan pernah terjadi, Kakek. Sisa-sisa Klan Blackwood dan pengikut Edward Vance sudah dibersihkan sepenuhnya."
Kakek Abraham tertawa kekeh, merasa puas dengan ketegasan cucunya. Pria tua itu kemudian menatap perut Alya yang membuncit manis di usia kehamilan lima bulan. Matanya berbinar-binar penuh kerinduan.
"Bolehkah Kakek menyapa cicit Kakek?" tanya Kakek Abraham hati-hati, seperti seorang anak kecil yang meminta izin melihat mainan berharga.
Alya mengangguk lembut. "Tentu saja boleh, Kakek. Silakan."
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru, Kakek Abraham menempelkan telapak tangannya di atas perut Alya.
> *[Aha! Kakek Tua Abraham sudah datang!]*
> *[Sesuai janjiku semalam pada Ibu... ini dia tendangan salam hormat khusus versi paling lembut untuk Pendiri Kekaisaran Dirgantara!]*
*Dug...*
Sebuah sundulan kecil yang sangat halus dan teratur mendadak mendorong telapak tangan Kakek Abraham dari dalam rahim Alya.
Kakek Abraham seketika membeku. Matanya yang tua membelalak lebar, lalu genangan air mata haru memenuhi pelupuk matanya. "D-Devan! Alya! Dia... dia menendang tangan Kakek! Cicitku menyapa Kakek!" pekik pria tua itu dengan suara bergetar penuh kebahagiaan yang tak terhingga.
Devan yang bersedekap di belakang sofa tersenyum bangga. "Dia memang anak yang sangat pintar, Kakek. Semalam dia bahkan sudah merespons permainan pianoku."
"Luar biasa! Luar biasa sekali!" Kakek Abraham mengusap air mata bahagianya dengan sapu tangan sutra. "Ini adalah berkah terbesar bagi keluarga Dirgantara. Dia pasti akan tumbuh menjadi pemimpin yang jauh lebih hebat dari kita semua!"
---
Setelah momen keharuan itu, Kakek Abraham memberi isyarat kepada pelayan pribadinya yang berdiri di dekat pintu. Pelayan itu melangkah maju membawa sebuah rantang stainless steel besar berukir klasik yang mengeluarkan aroma wangi yang sangat menggugah selera.
"Alya, Kakek tahu kamu pasti bosan dengan makanan koki internasional atau menu rumah sakit," ujar Kakek Abraham seraya membuka tutup rantang tersebut. "Ini Kakek suruh koki senior di kediaman utama memasak **Sup Ayam Kampung Herbal** dengan resep rahasia keluarga Dirgantara, ditambah **Tumis Sayur Bunga Pepaya** dan **Ikan Gurame Garam Asam** favoritmu!"
Aroma gurih yang kaya akan rempah-rempah alami seketika merebak memenuhi seluruh ruangan. Suasana mewah penthouse mendadak terasa begitu hangat dan rumahan.
Mata Alya seketika berbinar terang. Liurnya hampir menetes melihat uap panas yang membumbung dari sup ayam herbal tersebut. Sejak kemarin, rasa ingin makan (ngidam) makanan masakan rumah yang kaya rempah memang terus membayangi pikirannya.
> *[GOSHHH! AROMA APA INI?!]*
> *[Ibu! Kakek Tua benar-benar mengerti selera biologisku! Sup ayam herbal itu mengandung ekstrak kurkuma, goji berry, dan asam amino alami dosis tinggi!]*
> *[Cepat Ibu, makan itu sekarang! Sensor lidah dan cacing di perutku sudah melakukan tarian kebahagiaan!]*
Suara Baby El yang mendadak histeris gembira di dalam kepalanya membuat Alya tak bisa menahan senyum leburnya.
"Kakek... ini aromanya sangat enak sekali," puji Alya jujur, matanya tak lepas dari mangkuk yang mulai dituangkan oleh pelayan.
Devan yang melihat reaksi Alya menggelengkan kepala terkekeh. Pria itu mengambil mangkuk sup berisi potongan daging ayam kampung yang lembut dan kuah herbal yang jernih keemasan, lalu duduk di samping Alya.
"Biar aku yang menyuapimu," ujar Devan lembut, meniup pelan sendok berisi kuah sup hangat sebelum mengarahkannya ke bibir Alya.
Alya menerima suapan pertama itu dengan mata berbinar. Begitu rasa gurih, hangat, dan segar dari kuah herbal menyentuh lidahnya, rasa nikmat yang tiada tara langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. "Emm... Enak sekali, Devan! Kuahnya sangat segar!"
> *[SLUURP! MANTAP JIWA!]*
> *[Darah di pembuluh darahku rasanya mengalir dua kali lebih lancar! Terima kasih Kakek Abraham! Kau resmi menjadi Kakek Buyut favoritku sepanjang masa!]*
Melihat Alya makan dengan begitu lahap hingga menghabiskan dua mangkuk sup dan seporsi ikan gurame, Kakek Abraham tertawa lepas penuh kepuasan. Suara tawa renyah sang Tuan Besar bergema memenuhi penthouse, mengikis habis sisa-sisa ketegangan perang bisnis yang sempat melanda mereka.
"Makan yang banyak, Nak. Kesehatanmu dan cicit Kakek adalah prioritas nomor satu," kata Kakek Abraham penuh kasih. "Nanti sore, Kakek akan menyuruh tim arsitek terbaik untuk mulai mendesain kamar bayi di penthouse ini dan di mansion utama. Semuanya harus siap sebelum bulan ketujuh!"
Devan merangkul bahu Alya yang menyandarkan kepala di dadanya dengan kenyang dan puas. "Terima kasih, Kakek. Kami akan memastikan semuanya berjalan lancar."
Sore itu, di atas ketinggian ibu kota, Penthouse Lavender dipenuhi oleh kehangatan keluarga yang hakiki. Di antara gelak tawa Kakek Abraham, perhatian protektif Devan, dan celoteh riang Baby El di dalam batin Alya, mereka tahu bahwa tidak ada musuh atau badai apa pun yang sanggup meruntuhkan benteng kebahagiaan yang dibangun atas dasar cinta mutlak ini.