NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Tetangga Seberang

Selama sepuluh detik penuh, Keira hanya berdiri di depan meja makan sambil menatap foto Xavier Sia di layar Nokia tua itu.

Cowok Fakultas Hukum. Hoodie kembar. Tahi lalat kecil di bawah sudut bibir. Kalimat penolakan paling narsis yang pernah ia dengar seumur hidup.

Target hidupnya.

Keira menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol kecil di bawah layar.

`Misi utama: tingkatkan Nilai Replika dengan meniru target.`

"Meniru target," ulang Keira pelan. "Ini sistem penyelamat hidup atau panitia ospek?"

Layar berkedip lagi.

`Peringatan: host dilarang memberi tahu pihak ketiga tentang sistem. Pelanggaran akan mengurangi Poin Kehidupan.`

Tawa Keira langsung mati.

Poin Kehidupan.

Dua kata itu menempel di dadanya seperti plester dingin. Ia melihat map hasil lab, lalu Nokia di tangannya. Kalau semua ini halusinasi karena obat, halusinasinya terlalu spesifik. Kalau bukan, berarti ada sesuatu yang tidak masuk akal sedang memberinya tali, sekecil apa pun, untuk tidak jatuh.

Masalahnya, tali itu terhubung ke Xavier Sia.

Keira mencoba cara paling rasional yang bisa dipikirkan manusia pada pukul delapan malam: membuang benda mencurigakan.

Percobaan pertama, ia memasukkan Nokia itu ke kantong plastik kecil, mengikatnya rapat, lalu membuangnya ke tempat sampah di koridor dekat lift.

Ia kembali ke unitnya, mencuci tangan, minum air hangat, dan menghitung sampai tiga puluh.

Nokia itu sudah ada di meja makan.

Keira menatapnya.

"Oke."

Percobaan kedua, ia turun ke lantai dasar dengan lift, berjalan ke area sampah gedung, dan melempar Nokia itu ke tong paling dalam. Ia bahkan menutup tongnya seperti menutup peti mati.

Begitu pintu lift lantai 16 terbuka, benda itu jatuh dari dalam hoodie-nya ke lantai.

Klontang.

Seorang ibu-ibu yang baru keluar dari lift sebelah meliriknya curiga. Keira tersenyum kaku.

"HP jadul. Lagi latihan konten nostalgia."

Percobaan ketiga, ia kehilangan akal sehat sedikit. Ia membungkus Nokia itu dengan tisu, memasukkannya ke kotak bekas boba, menaruh kotak itu di depan pintu darurat, lalu kembali ke apartemen sambil membaca doa seadanya yang ia ingat dari sekolah.

Di kamar, selimutnya bergerak.

Keira membuka selimut dengan dua jari.

Nokia itu tergeletak di tengah kasur seperti bayi setan yang minta disayang.

Keira duduk di lantai.

"Gue punya kanker, Ma," gumamnya ke langit-langit. "Kenapa bonusnya malah HP kesurupan?"

Ketukan di pintu membuatnya hampir menjerit.

"Keira?"

Suara Angela.

Keira cepat-cepat memasukkan Nokia ke laci nakas dan menarik napas sebelum membuka pintu. Angela berdiri dengan paper bag makanan dan wajah lelah orang yang baru menempuh Jakarta-Bandung setelah kerja.

"Mama bawakan bubur. Kamu sudah makan?"

"Sudah."

Angela mengangkat alis.

"Setengah," koreksi Keira.

Angela masuk tanpa banyak bicara. Ia menaruh bubur di meja makan, menyentuh dahi Keira sebentar, lalu memandang wajah putrinya terlalu lama. Keira tahu tatapan itu: tatapan seorang ibu yang ingin bertanya semua hal sekaligus tapi takut jawabannya menghancurkan.

"Mama tidur di kamar tamu malam ini."

"Ma, aku bukan anak kecil."

"Betul. Anak kecil biasanya lebih jujur kalau sakit."

Keira kalah.

Malam itu ia makan beberapa sendok bubur agar Angela tidak terus menatapnya seperti CCTV hidup. Setelah Angela masuk kamar tamu, Keira kembali mengeluarkan Nokia dari laci.

Layar langsung menyala.

`Misi 1: Samakan status WhatsApp dengan target selama 3 hari.`

`Status target saat ini: Tidak menerima drama.`

Keira berkedip.

"Dia benar-benar menulis begitu di WA?"

Tidak ada jawaban. Tentu saja. Sistem ini cuma dramatis saat ingin membuatnya panik.

Keira mengambil HP utamanya. Ia membuka WhatsApp, masuk ke bagian info profil, lalu mengganti kalimat lamanya, `slow response, lagi gambar`, menjadi:

`Tidak menerima drama.`

Ia menatap kalimat itu selama beberapa detik.

"Selamat, Keira. Hari pertama jadi cowok dingin dimulai dari bio WA."

Setelah tugas pertama selesai secara teknis, rasa takutnya pelan-pelan berubah bentuk. Bukan hilang, hanya bergeser. Kalau sistem ini benar, berarti ia mungkin bisa mendapatkan waktu tambahan. Kalau ia bisa mendapatkan waktu tambahan, berarti ia tidak harus langsung menyerah pada vonis dokter.

Mungkin ia belum selesai.

Pikiran itu membuat matanya panas.

Keira cepat-cepat membuka browser sebelum sempat menangis. Kata kunci pertama yang ia ketik: `Xavier Sia Unpar`.

Hasilnya terlalu banyak.

Foto festival kampus. Potongan video debat Fakultas Hukum. Komentar dari akun-akun confession. Nama Xavier muncul berkali-kali di @unparfess, lengkap dengan julukan yang membuat Keira ingin menutup laptop.

`Campus Crush No.1 Fakultas Hukum.`

`Cowok mahal yang senyumnya cuma buat kamera KTM.`

`Xavier Sia kalau lewat, IPK gue naik sendiri.`

Keira memijat pelipis. "Target gue seleb kampus. Mantap. Tinggal tunggu gue dibakar netizen."

Ia membuka chat Celine.

`Cel. Lo tahu Xavier Sia?`

Balasan datang kurang dari sepuluh detik.

`Lo nanya XAVIER SIA jam 11 malam?`

`Jawab dulu.`

`Semua orang tahu dia. Campus Crush No.1. Anak Hukum. Tajir. Dingin. Kalau senyum katanya bisa bikin orang daftar ulang semester. Kenapa?`

Keira menatap layar, lalu mengetik kebohongan paling aman.

`Tadi nggak sengaja lihat dia nolak cewek. Penasaran aja.`

Celine langsung mengirim tiga tautan @unparfess, satu screenshot ranking Campus Crush, dan satu voice note lima belas detik yang isinya cuma tawa.

`Kei, kalau lo suka dia, gue dukung dari jauh. Jauh banget. Soalnya fanbase-nya serem.`

`Gue nggak suka.`

`Kalimat orang yang akan suka.`

Keira melempar HP ke bantal. "Pengkhianat."

Namun ia tetap membuka semua tautan itu.

Besok paginya, setelah Angela pergi membeli obat ke apotek, Keira berdiri di depan cermin dengan hoodie longgar dan wajah kurang tidur. Nokia di meja menampilkan hitungan hari untuk misi pertama: `Hari 1/3`.

Ia butuh informasi tentang Xavier. Gaya pakaian, kebiasaan, jadwal. Meniru orang yang tinggal entah di mana saja sudah terdengar seperti misi memalukan. Tapi meniru orang yang seluruh kampus perhatikan?

Itu bunuh diri sosial.

Keira keluar ke koridor untuk mengambil paket obat lambung yang Angela pesan. Koridor lantai 16 The Springs pagi itu sepi. Lampu putih menyala lembut, karpet lorong meredam langkahnya.

Di depan unit seberang, ada dua paket besar.

Keira awalnya hanya melirik.

Lalu ia berhenti.

Nama penerima di label pengiriman tertulis jelas.

`Xavier Sia.`

Jantung Keira memukul tulang rusuknya.

Ia menatap nomor unit di pintu seberang. Lalu nomor unitnya sendiri.

Depan. Persis depan.

Target hidupnya bukan cuma satu kampus. Bukan cuma cowok yang kemarin membuatnya nyaris pingsan karena malu.

Xavier Sia tinggal di seberang pintu apartemennya.

Keira menutup mulut dengan punggung tangan.

"Tuhan," bisiknya, "ini bukan keajaiban. Ini paket lengkap bencana."

Matanya turun ke label paket. Ada nama brand pakaian pria yang semalam ia lihat beberapa kali di foto Xavier. Kalau ia tahu brand-nya, ia bisa menebak style-nya. Kalau ia bisa menebak style-nya, misi berikutnya mungkin tidak akan membunuh harga dirinya terlalu cepat.

Keira berjongkok pelan, membuka kamera HP, lalu mengarahkan lensa ke label pengiriman.

Klik.

Suara kunci terdengar dari dalam unit seberang.

Tubuh Keira membeku.

Pintu di depannya terbuka.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!