NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 Kematian Selir Melati

"Besok sebelum fajar, Selir Melati harus mati di mata Puri Ratih."

Keputusan itu terdengar kejam.

Namun di keraton, kadang hidup yang tersisa hanya bisa direbut dari balik nama kematian.

Sebelum ayam pertama berkokok, Selir Melati dibawa ke ruang pemeriksaan kecil di sisi Puri Ratih. Secara resmi, ia akan dimintai keterangan lagi karena namanya muncul dalam perkara jamu Putri Mahkota. Secara tidak resmi, semua orang tahu pemeriksaan itu disiapkan untuk membuatnya hancur.

Anindya tiba lebih dulu dengan Wulan dan Tabib Suradi.

Kali ini ia tidak turun dari tandu di depan banyak orang. Ia menunggu di ruang samping yang sempit, hanya diterangi satu pelita kecil. Selir Melati dibawa masuk lewat pintu belakang dengan wajah seputih kain.

Begitu melihat Anindya, Melati langsung berlutut.

"Gusti Putri, apakah hamba akan mati?"

Pertanyaan itu membuat Wulan menunduk.

Anindya berjalan mendekat dan berjongkok perlahan agar sejajar dengannya. Gerakan itu membuat punggungnya nyeri, tetapi ia menahannya.

"Jika kau tetap menjadi Selir Melati di keraton ini, mereka akan terus memegang lehermu," katanya. "Hari ini kami bisa membuatmu tampak mati. Setelah itu, kau keluar dari Kota Raja melalui jalan Pasar Sentosa. Kau tidak bisa kembali ke nama lama, tidak bisa kembali ke paviliunmu, tidak bisa meminta perlindungan sebagai selir Baginda."

Melati menatapnya dengan mata basah.

"Tapi kau hidup," lanjut Anindya. "Kau bisa memilih ke mana berjalan setelah tubuhmu kuat. Tidak sekarang, tidak besok, tetapi suatu hari."

Suradi meletakkan botol kecil di meja. "Ramuan ini berbahaya. Aku akan menghitung takaran dari nadi dan napasmu. Kau akan tidur sangat dalam. Tubuhmu dingin, napasmu tipis. Orang yang tidak tahu akan mengira kau mati."

"Dan kalau tubuh hamba tidak kuat?"

Suradi tidak berbohong. "Kau bisa benar-benar mati."

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Melati memandang botol itu lama. Lalu ia memandang Anindya.

"Jika hamba menolak?"

"Maka kami akan tetap berusaha melindungimu," jawab Anindya. "Tetapi Puri Ratih tidak akan berhenti. Aku tidak akan memaksamu memilih kematian palsu hanya karena itu memudahkan kami."

Air mata Melati jatuh ke punggung tangannya.

Sepanjang hidupnya di istana, tidak banyak orang bertanya apakah ia mau. Ia dipilih, dipindahkan, dipanggil, ditinggalkan. Bahkan rasa takutnya sering dianggap gangguan kecil di lorong belakang.

Kini, untuk pertama kalinya, hidupnya diletakkan kembali ke tangannya sendiri.

"Hamba ingin hidup," katanya. "Bukan sebagai selir yang menunggu dipanggil hanya untuk disalahkan. Jika harus mati di mata mereka, hamba bersedia."

Anindya menggenggam tangannya.

"Kalau begitu, mulai sekarang dengarkan Suradi. Jangan melawan kantuk. Jangan panik saat tubuhmu terasa jauh. Ketika kau bangun, orang pertama yang kau lihat mungkin bukan kami, tetapi itu berarti rencana berhasil."

Melati mengangguk.

Suradi mulai bekerja.

***

Di ruang pemeriksaan Puri Ratih, pengurus dapur, dua dayang, dan seorang pencatat sudah menunggu.

Permaisuri Ratih tidak hadir. Ia cukup pintar untuk tidak berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang bisa menjadi kotor. Namun kursi utamanya tetap diletakkan di ujung ruangan, kosong, seperti tanda bahwa matanya ada di mana-mana.

Selir Melati dibawa masuk dengan langkah lemah. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit kebiruan. Suradi berjalan di belakangnya sambil membawa kotak obat.

"Mengapa Tabib Kerajaan ikut?" tanya pengurus dengan tidak senang.

Anindya masuk setelahnya. "Karena tubuhku masih disebut dalam perkara ini."

Tidak ada yang bisa menolak alasan itu.

Pemeriksaan dimulai dengan pertanyaan yang sama, diulang dengan nada yang makin keras.

Siapa yang memberimu bubuk?

Mengapa bubuk itu ada di halamanmu?

Apakah kau iri kepada Putri Mahkota?

Apakah kau menyuruh dayang Puri Ratih mencampurkan jamu?

Melati menjawab pelan, "Hamba tidak tahu."

Semakin ia menjawab begitu, semakin pengurus tampak marah. Wulan yang berdiri di belakang Anindya menggenggam ujung lengan bajunya sendiri sampai kusut.

Anindya menghitung napas Melati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Suradi berdiri terlalu tenang. Hanya matanya yang beberapa kali turun ke jari Melati.

Ketika pertanyaan kelima diulang, tubuh Melati tiba-tiba goyah.

Pencatat terkejut. "Selir?"

Melati memegang tepi meja, matanya kosong. Bibirnya bergerak seperti ingin bicara, tetapi tidak ada suara keluar.

Lalu ia jatuh.

Wulan menahan jerit.

Suradi langsung berlutut di sampingnya, memeriksa nadi, membuka kelopak mata, lalu mendekatkan telinga ke hidung Melati. Gerakannya cepat tetapi tidak panik.

Pengurus Puri Ratih pucat. "Apa yang terjadi?"

"Tubuhnya terlalu lemah," kata Suradi.

"Jangan berpura-pura. Ia hanya pingsan."

Suradi menatapnya. "Kalau begitu, bangunkan."

Tidak ada yang bergerak.

Anindya berdiri dengan wajah pucat yang kali ini tidak perlu dibuat-buat. Meskipun tahu rencananya, melihat tubuh Melati terbaring tanpa gerak tetap membuat dadanya sesak.

"Tabib Suradi," katanya, suaranya rendah, "catat keadaan Selir Melati."

Suradi menunduk. "Napas tidak terbaca jelas. Nadi tidak teraba oleh pemeriksaan biasa. Tubuh mendingin cepat. Hamba menyatakan Selir Melati tidak dapat diselamatkan."

Pencatat menjatuhkan kuasnya.

Kabar menyebar lebih cepat daripada perintah.

Dalam waktu singkat, Puri Ratih menjadi gaduh. Permaisuri Ratih akhirnya muncul di ujung lorong dengan wajah tertata sempurna. Ia memandang tubuh Melati, lalu memandang Anindya.

"Sungguh malang," katanya. "Orang yang menyimpan kesalahan sering tidak kuat menanggung takut."

Anindya menatapnya. "Belum ada pengakuan."

"Kematian kadang menjadi pengakuan."

"Atau bukti bahwa seseorang didorong terlalu jauh."

Mata Ratih menyipit sedikit.

Suradi menutup wajah Melati dengan kain putih. "Sesuai aturan, jenazah harus diperiksa dan dimandikan sebelum dicatat untuk upacara."

"Lakukan," kata Ratih. "Jangan biarkan perkara kecil ini membuat istana gaduh lebih lama."

Perkara kecil.

Anindya menggenggam tangan di balik selendang sampai kuku menekan telapak. Di saat itu, ia tahu keputusan mereka benar. Ratih tidak pernah peduli apakah Melati bersalah. Ia hanya membutuhkan akhir yang bisa dipakai.

Di belakang barisan dayang, Selir Ningrum menunduk sangat dalam. Tidak ada yang melihat matanya memerah. Ia tidak berani menangis untuk Melati, sebab air mata di Puri Ratih bisa menjadi bukti kesalahan. Namun ketika Ratih memerintahkan agar paviliun Melati segera dikosongkan sebelum siang, jari Ningrum meremas ujung kainnya sampai benang sulamnya putus.

"Barang-barangnya?" tanya seorang dayang.

"Bakar yang tidak perlu," jawab Ratih ringan. "Orang mati tidak membutuhkan kenangan."

Kalimat itu jatuh lebih dingin daripada kain putih di wajah Melati.

***

Kereta jenazah kecil keluar dari gerbang belakang keraton sebelum matahari naik.

Di atas kertas, tubuh Selir Melati dibawa ke rumah pemandian jenazah perempuan dengan pengawasan Tabib Suradi. Di mata penjaga gerbang, itu hanya satu lagi urusan sedih dari halaman belakang istana.

Di tikungan menuju Pasar Sentosa, roda kereta melewati jalan berbatu dan berhenti sesaat di dekat gudang kain.

Darmawan berdiri di sana sebagai pedagang yang sedang memeriksa muatan. Ia tidak memakai pakaian bangsawan, hanya kain sederhana dan senyum yang terlalu santai untuk orang pagi buta.

"Cepat," katanya.

Garuda membuka pintu kereta. Tubuh Melati yang terbungkus kain diangkat ke dalam gudang. Di dalam, Suradi sudah menyiapkan air hangat, minyak gosok, dan ramuan pembangkit.

Waktu berjalan lambat.

Satu tetes.

Dua tetes.

Melati tidak bergerak.

Wulan yang ikut menyamar sebagai pembantu pemandian menggenggam mangkuk sampai tangannya gemetar. "Tabib..."

"Diam," kata Suradi. Bukan kasar, tetapi tegang.

Ia menekan titik di pergelangan Melati, lalu mengangkat dagunya sedikit agar napas terbuka.

Beberapa detik kemudian, dada Melati bergerak sangat kecil.

Wulan menutup mulut, kali ini untuk menahan tangis lega.

Suradi mengembuskan napas. "Ia kembali."

Darmawan menoleh ke pintu. "Kita punya waktu kurang dari setengah jam. Setelah itu, kereta harus keluar dengan peti kosong dan kain berisi batu."

Garuda mengangguk.

Melati membuka mata menjelang cahaya pertama menyentuh celah papan.

Tatapannya kosong. Lalu ia tersentak, tetapi Suradi menahan bahunya.

"Tenang. Kau hidup."

Air mata mengalir dari sudut mata Melati.

"Apakah hamba sudah mati?"

Darmawan berjongkok di sampingnya. "Di catatan istana, ya."

Melati memejamkan mata. Tangisnya tidak bersuara, tetapi seluruh tubuhnya bergetar. Bukan hanya takut. Ada sesuatu yang lebih sulit dipercaya.

Lega.

Wulan menyelipkan kantong kecil ke samping tubuhnya. "Ini dari Gusti Putri. Kain bersih, sedikit uang, dan surat."

Melati memegang kantong itu seperti memegang detak jantungnya sendiri.

"Ke mana hamba harus pergi?"

Darmawan tersenyum tipis. "Untuk beberapa hari, kau hanya perlu tidur dan belajar bernapas tanpa meminta izin. Setelah itu, jalan akan dibuka."

Di luar gudang, suara pasar mulai hidup.

Selir Melati telah mati di Puri Ratih.

Seorang perempuan tanpa rantai mulai bernapas di Pasar Sentosa.

***

Di Puri Timur, Anindya menerima kabar itu saat matahari sudah naik.

Ia duduk lama tanpa bicara setelah membaca pesan Darmawan. Arjuna berdiri di dekat jendela, mengawasi wajahnya.

"Ia hidup," kata Anindya akhirnya.

"Ia hidup."

Baru setelah itu, bahu Anindya turun. Seluruh ketegangan malam seakan runtuh dari tubuhnya.

Arjuna berjalan mendekat dan mengambil pesan itu dari tangannya. "Kau perlu tidur."

"Sebentar lagi."

"Sekarang."

Anindya ingin membantah, tetapi saat ia mengangkat kepala, dunia berputar sedikit. Arjuna segera menangkap sikunya.

"Aku tahu," katanya sebelum ia bicara. "Kau tidak ingin menjadi beban."

Anindya terdiam.

"Hari ini, izinkan aku yang memikul sisanya."

Kali ini, ia tidak membantah.

Namun sebelum Wulan sempat membantu Anindya kembali ke dipan, Adi masuk dengan wajah berbeda. Bukan panik, tetapi sangat hati-hati.

"Yang Mulia, Emban Sumini dari bekas pengurus Puri Candra meminta menghadap."

Arjuna menoleh.

Adi menunduk lebih dalam.

"Ia membawa buku persediaan lama milik Permaisuri Candra Dewi, dari malam sebelum beliau jatuh sakit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!