Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
"Max sedang mencari keberadaan Evelyn di Jakarta."
Nama itu membuat udara di dalam mobil berubah.
Bella yang duduk di kursi depan langsung memeriksa kaca spion. Amy mematikan pengeras suara, lalu mengalihkan panggilan Joanna ke jalur terenkripsi penuh. Ricky, yang baru saja merasa lega setelah Pak Tujuh berpihak pada mereka, kehilangan senyum dalam satu detik.
Mei Li tidak bergerak.
Di luar jendela, lampu pelabuhan bergerak mundur, meninggalkan garis kuning di kaca basah. Ia sudah lama tahu hari ini akan datang. Max tidak pernah melepaskan sesuatu yang pernah ia anggap miliknya.
Dan di masa lalu, ia pernah menganggap Evelyn miliknya.
"Seberapa dekat?" tanya Mei Li.
Suara Joanna terdengar lagi, lebih rendah. "Belum ada orangnya di Jakarta yang terkonfirmasi. Tapi ada pencarian melalui jaringan lama Grobe dan dua broker keamanan di Singapura. Mereka mencari nama Evelyn, bukan Lim Mei Li."
Amy menatap Mei Li. "Identitas publik Anda masih aman."
"Untuk sekarang," kata Mei Li.
Bella mengepalkan tangan. "Saya akan gandakan tim di Menteng."
"Jangan membuat rumah terlihat seperti bunker. Itu hanya menarik perhatian."
"Boss."
"Max ingin tahu di mana Evelyn. Biarkan dia menemukan bayangan, bukan tubuh."
Amy memahami lebih dulu. "Kita tetap jalankan jadwal Yogyakarta?"
Ricky hampir memprotes. "Jie, dengan kondisi seperti ini..."
"Justru karena kondisi seperti ini." Mei Li menutup layar ponsel. "Kalau aku membatalkan semua jadwal begitu Max bergerak, dia akan tahu dia masih bisa mengatur napasku."
Tidak ada yang menjawab.
Perintahnya jelas.
***
Keesokan paginya, Halim terasa lebih tenang daripada saat kedatangannya pertama kali.
Mei Li tidak memakai pesawat pribadi besar. Untuk perjalanan singkat ke Yogyakarta, ia memilih jet kecil dengan registrasi perusahaan berbeda. Amy sudah mengubah daftar penumpang tiga kali. Bella memeriksa sendiri kru kabin. Dua anggota tim keamanan menyamar sebagai staf logistik batik yang membawa koper sampel.
Jadwal resminya sederhana: kunjungan ke pengrajin batik di Yogyakarta dan Solo untuk program investasi budaya Koh Group.
Jadwal sebenarnya sedikit lebih rumit: memeriksa satu jalur dana Tan Group yang pernah dicuci melalui galeri seni tradisional, sekaligus memastikan apakah Max punya mata di luar Jakarta.
"Nona," kata Amy sambil menyerahkan tablet. "Forum ekonomi kreatif KADIN juga berlangsung di Yogyakarta hari ini."
Mei Li berhenti di kaki tangga pesawat.
"KADIN?"
Bella menoleh ke arah ruang tunggu VIP. "Jangan bilang..."
Pintu ruang tunggu terbuka.
Arka Wicaksana Pradipta keluar dengan map kulit di tangan, diikuti seorang staf KADIN. Ia memakai kemeja batik sogan dengan motif halus, warna cokelatnya tenang di bawah cahaya pagi. Ketika melihat Mei Li, langkahnya berhenti setengah detik.
Tidak cukup lama untuk terlihat canggung.
Cukup lama untuk diketahui.
"Miss Lim," sapanya.
Mei Li menatapnya. "Pak Arka."
Bella memandang Amy dengan wajah yang mengatakan ia tidak percaya pada kebetulan sebanyak ini.
Arka seolah membaca pikiran itu. "Sebelum dituduh mengikuti, saya punya surat tugas."
Ia mengangkat map sedikit.
Mei Li tidak mengambilnya. "Anda selalu membawa bukti untuk kebetulan Anda?"
"Sejak bertemu Anda, rasanya perlu."
Amy menunduk untuk menyembunyikan senyum. Staf KADIN di belakang Arka tampak bingung, jelas tidak paham mengapa pembicaraan singkat itu terasa seperti permainan catur.
"Forum ekonomi kreatif?" tanya Mei Li.
"Panel tentang pelestarian batik dan akses pembiayaan UMKM. KADIN diminta hadir. Saya kira Koh Group juga punya program di sana."
"Kami punya."
"Kalau begitu, mungkin kita akan berada di kota yang sama."
"Yogyakarta bukan kota besar."
"Benar." Arka tersenyum. "Saya akan berhati-hati agar tidak terlalu sering kebetulan."
Mei Li hampir membalas, tetapi ponselnya bergetar. Pesan dari Joanna.
Tidak ada pergerakan Max di rute Yogyakarta. Tetap waspada.
Arka memperhatikan perubahan kecil di matanya, tetapi tidak bertanya. Ia hanya menurunkan suara.
"Perjalanan Anda aman?"
Pertanyaan itu terlalu langsung untuk sekadar basa-basi.
Mei Li mengunci layar. "Seharusnya."
"Kalau ada yang bisa dibantu di sana, saya ada."
"Anda menawarkan bantuan tanpa tahu masalahnya?"
"Saya menawarkan keberadaan."
Kalimat itu membuat Mei Li diam sebentar.
Bella pura-pura memeriksa koper. Amy benar-benar memeriksa jadwal, mungkin karena jika tidak, ia akan menatap terlalu jelas.
Panggilan boarding terdengar dari staf bandara.
Arka menunduk sopan. "Sampai jumpa di Yogyakarta, Miss Lim."
Mei Li naik satu anak tangga, lalu berhenti.
"Pak Arka."
Ia menoleh.
"Kalau ini kebetulan, jangan terlalu sering. Nanti orang salah paham."
Senyum Arka muncul pelan.
"Kalau orang itu saya?"
Mei Li menatapnya satu detik lebih lama daripada yang ia rencanakan, lalu masuk ke pesawat.
Di dalam kabin, Bella akhirnya berbisik pada Amy, "Dia menggoda balik?"
Amy memasang sabuk pengaman dengan wajah serius. "Saya tidak mendengar apa-apa."
Namun ketika pesawat kecil itu mulai bergerak menuju landasan, Mei Li melihat keluar jendela.
Di ruang tunggu VIP, Arka masih berdiri, melihat ke arah pesawatnya.
Joanna baru saja mengirim satu titik merah di peta jaringan lama, terlalu jauh untuk menjadi ancaman langsung, terlalu dekat untuk diabaikan. Mei Li menyimpan ponsel itu, lalu menyadari tangannya tidak lagi sedingin tadi.
Itu bukan rasa aman.
Belum.
Tapi itu cukup untuk satu napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak nama Max kembali muncul, dada Mei Li terasa tidak sepenuhnya sesak.