Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Proyek Pertama
Retakan gelas Kevin Wijaya belum menjadi berita.
Yang menjadi berita tiga hari kemudian justru nama PT Astoria Teknologi.
Pagi itu, Seraphina berdiri di ruang presentasi Dinas Perhubungan DKI Jakarta dengan laptop tipis di depan, layar besar di belakang, dan enam anggota timnya duduk tegang di baris kedua. Di ruangan yang sama, tiga perusahaan teknologi yang jauh lebih tua juga hadir. Logo mereka sudah sering muncul di forum bisnis, tender pemerintah, dan iklan majalah ekonomi.
Astoria, sebaliknya, masih terdengar seperti nama yang baru dicetak di kartu nama.
Seorang pria dari perusahaan pesaing berbisik cukup keras sebelum presentasi dimulai.
"Perusahaan kecil juga ikut tender sistem logistik? Ini proyek pemerintah, bukan tugas kuliah."
Programmer muda Astoria langsung menunduk, wajahnya panas.
Seraphina hanya membuka botol air mineral, menuang sedikit ke gelas, lalu berkata tanpa menoleh, "Kalau sistem mereka sekuat bisikannya, kita harus hati-hati."
Tim Astoria menahan tawa.
Ketegangan berkurang sedikit.
Proyek yang diperebutkan adalah sistem pemantauan lalu lintas logistik Jakarta Utara. Pemerintah ingin memprediksi kemacetan truk, membaca pola antrean pelabuhan, dan memberi rekomendasi rute sebelum jalan utama lumpuh. Kebanyakan vendor menawarkan dashboard indah dengan grafik berwarna, sensor mahal, dan kata-kata besar yang membuat panelis terlihat lelah.
Seraphina tidak memulai dengan janji.
Ia memulai dengan kesalahan.
"Bapak dan Ibu bisa lihat di layar," katanya, "jam delapan pagi, sistem konvensional membaca kepadatan di titik A sebagai kemacetan biasa. Namun data historis pelabuhan, cuaca, dan pola bongkar muat menunjukkan ini bukan kemacetan biasa. Ini awal dari anomali antrean yang akan memblokir dua rute dalam empat puluh menit."
Seorang panelis perempuan mengangkat alis. "Anda menggunakan data real time?"
"Simulasi berbasis data publik, Bu. Untuk data tertutup, tentu kami menunggu izin resmi."
Panelis itu mengangguk, tampak lebih tertarik.
Seraphina menekan tombol. Peta di layar bergerak. Garis merah melebar di dua ruas jalan. Lalu, sistem Astoria menampilkan tiga rute alternatif lengkap dengan estimasi biaya bahan bakar, waktu tempuh, dan dampak ke area permukiman.
"Kami tidak hanya memindahkan macet dari satu jalan ke jalan lain," lanjut Seraphina. "Sistem kami menghitung dampak sosialnya. Rute tercepat tidak selalu rute terbaik kalau melewati sekolah pada jam pulang."
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Kali ini bukan karena meremehkan.
Karena mendengarkan.
Salah satu pejabat teknis maju sedikit. "Bagaimana kalau data sensor rusak?"
Seraphina memberi isyarat kepada timnya. "Tampilkan mode degradasi."
Dalam tiga detik, layar berubah. Sistem menandai titik sensor rusak, mengambil data dari kamera publik dan laporan kendaraan, lalu menurunkan tingkat kepercayaan prediksi secara otomatis.
"Kami tidak berpura-pura sistem selalu tahu segalanya," kata Seraphina. "Kami membuat sistem yang tahu kapan dia tidak cukup yakin."
Pria pesaing yang tadi berbisik kini diam.
Setelah presentasi selesai, panelis meminta waktu tambahan untuk demo teknis. Satu jam berubah menjadi dua jam. Tim Astoria yang awalnya duduk tegang mulai membuka laptop, menjawab pertanyaan, memperlihatkan modul keamanan, dan menunjukkan bahwa perusahaan kecil itu tidak datang membawa slide kosong.
Menjelang sore, keputusan diumumkan.
PT Astoria Teknologi memenangkan proyek pilot enam bulan.
Programmer muda yang tadi ditertawakan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Bu Sera," bisiknya, "kita menang?"
Seraphina menatap dokumen penetapan yang diserahkan panitia. Cap resmi masih basah sedikit.
"Kita menang," jawabnya.
Belum sempat mereka keluar, pria dari perusahaan pesaing yang tadi berbisik mendekat dengan senyum kaku.
"Selamat, Bu Seraphina. Cepat sekali perusahaan baru mendapat kepercayaan sebesar ini. Koneksi keluarga memang membantu, ya?"
Tim Astoria langsung membeku.
Seraphina menatap pria itu. "Kalau Bapak punya keberatan teknis, kita bisa diskusikan sekarang. Kalau hanya keberatan sosial, saya tidak punya slide untuk itu."
Wajah pria itu berubah merah.
Salah satu panelis teknis yang masih berada di ruangan menutup mapnya, lalu berkata tenang, "Keputusan ini berdasarkan skor teknis, Pak. Astoria unggul di simulasi kegagalan sensor, perlindungan data, dan estimasi dampak sosial. Semua angka tercatat di berita acara."
Pria itu kehilangan senyum.
Seraphina mengangguk sopan kepada panelis. "Terima kasih, Pak."
Panelis itu menatapnya dengan sedikit senyum. "Jangan berterima kasih dulu. Enam bulan ke depan kami akan menguji sistem Anda lebih keras daripada hari ini."
"Kami datang untuk itu."
Ketika akhirnya mereka keluar dari gedung, programmer muda yang tadi nyaris menjatuhkan ponsel berbisik, "Bu, tadi keren sekali."
"Yang keren bukan jawabanku," kata Seraphina. "Yang keren adalah kalian punya angka untuk membungkam orang."
Tim Astoria tidak berteriak di ruangan pemerintah. Mereka cukup tahu etika. Namun begitu keluar dari gedung, semua orang baru meledak.
"Kita harus makan!"
"Aku mau posting, boleh tidak?"
"Jangan dulu sebelum kontrak resmi."
"Bu, minimal foto sepatu di lift boleh?"
Seraphina akhirnya tertawa kecil. "Foto papan nama gedung saja. Tidak usah wajah. Kita masih harus kerja lebih keras setelah menang."
Staf operasional mengangkat ponsel. "Tapi Bu, media bisnis sudah naik."
Seraphina mengambil ponselnya.
Sebuah artikel pendek muncul di layar.
Perusahaan Baru PT Astoria Teknologi Menang Proyek Pilot DKI, Pendiri Muda Jadi Sorotan.
Di bawahnya ada foto Seraphina saat presentasi, berdiri dengan blazer putih tulang, wajah tenang, peta digital menyala di belakangnya.
Komentar mulai masuk.
Siapa Seraphina Lim?
Bukannya ini anak keluarga Lim yang baru muncul?
Perusahaan kecil kok bisa menang?
Ada juga komentar yang membuat staf operasional marah.
Pasti dibantu Hartono Group.
Seraphina membaca komentar itu tanpa ekspresi.
"Bu, mau kami laporkan?"
"Tidak perlu." Ia memasukkan ponsel ke tas. "Orang yang tidak bisa membaca proposal biasanya membaca gosip."
Ketika kembali ke kantor Astoria, ada dua buket bunga menunggu. Satu dari vendor perangkat. Satu dari Jason Halim, dengan kartu yang ditulis besar-besar:
Selamat! Kalau butuh MC untuk konferensi pers, Ko Jason diskon khusus seratus persen.
Seraphina berdiri beberapa detik di depan pintu kaca kantornya. Setelah seharian dipanggil anak keluarga Lim oleh orang luar, tempat kecil dengan kabel berantakan ini justru terasa lebih seperti rumah daripada rumah Lim.
Di bawah kartu itu, ada kartu lain dari Natasha.
Jangan terlalu bangga sendirian. Besok malam mahjong di tempatku. Aku panggil Michelle dan Jessica. Kau butuh saksi hidup bahwa perempuan bisa menang tanpa minta izin laki-laki.
Seraphina menatap kartu itu lebih lama daripada artikel media.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Reynard.
Selamat, Bu Sera. Aku sudah bilang, sistemmu lebih tajam daripada kebanyakan orang di ruangan itu.
Seraphina mengetik balasan.
Kau melihat presentasiku?
Balasan Reynard datang singkat.
Aku melihat segalanya yang penting.
Sebelum Seraphina sempat membalas, satu pesan lain masuk.
Dari Hendrawan Lim.
Datang ke rumah besok. Kita perlu bicara soal proyekmu.