Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
"Dan bagaimana dengan para menteri yang masih setia pada Kaisar? Mereka tidak akan tinggal diam melihat Long Tianqi disudutkan," tanya Feng Muye, menatap Shen Ran dengan ketertarikan yang semakin dalam.
Shen Ran meletakkan cangkir tehnya, lalu tersenyum miring. "Para menteri bertindak berdasarkan keuntungan, Pangeran. Mereka menyembah kaisar karena kaisar memegang kunci perbendaharaan negara. Begitu pasokan garam dari selatan terhenti, harga kebutuhan pokok di ibu kota akan melonjak tajam. Rakyat akan kelaparan, dan kas negara akan terkuras habis untuk membiayai perang yang sia-sia."
Shen ran bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menuju peta kekaisaran yang tergantung di dinding aula. Jarinya yang lentik menunjuk tepat pada posisi Ibu Kota Yan.
"Saat dompet para menteri mulai mengempis dan rakyat mulai berdemonstrasi di depan gerbang istana, kesetiaan mereka akan menguap seperti embun pagi. Pada saat itu, mereka sendiri yang akan memohon kepada Anda untuk mengambil alih takhta demi menstabilkan negara," lanjut Shen Ran, suaranya terdengar mutlak bagai seorang hakim yang membacakan vonis.
Feng Muye menatap punggung tegak wanita itu. Keberanian, ketajaman analisis, dan kekejaman strategis yang dimiliki Shen Ran benar-benar membuatnya terpikat. Wanita ini bukan lagi pion di papan catur, dialah sang pemain yang sesungguhnya.
"Strategi yang sempurna. Namun, Anda melupakan satu hal, Permaisuri. Bagaimana dengan Anda sendiri? Jika kekaisaran ini runtuh, status Anda sebagai Permaisuri juga akan lenyap," puji Feng Muye, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di belakang Shen Ran.
Shen Ran berbalik secara tiba-tiba, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga hanya tersisa beberapa inci. Ia menatap langsung ke sepasang mata di balik topeng perak itu tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
"Gelar Permaisuri di kekaisaran yang sekarat ini hanyalah sebuah beban, Tuan Pangeran," bisik Shen Ran, sudut bibirnya terangkat penuh percaya diri. "Setelah semua ini selesai, saya tidak menginginkan takhta yang penuh darah ini. Yang saya inginkan adalah kebebasan, seluruh kekayaan klan Chu yang disita untuk modal bisnis saya, dan jaminan keamanan dari Anda sebagai penguasa baru."
Feng Muye tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa lepas. Suara tawanya yang berat menggema di ruangan yang sunyi itu. Tidak pernah ia temukan wanita hebat dengan pemikiran kritis seperti Shen Ran di kekaisaran Yan ini. Apa sifat lugu Shen Ran dahulu itu hanyalah topeng semata?
"Sepakat," kata Feng Muye setelah tawanya mereda. Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. "Kontrak kerja sama kita resmi dimulai, Shen Ran. Mulai hari ini, setiap langkahku di medan perang akan menyelaraskan dengan strategi hukum dan bisnismu di dalam istana."
Shen Ran menyambut uluran tangan itu, menjabatnya dengan erat dan mantap, sebuah jabat tangan korporat modern yang menandai dimulainya akhir dari Kekaisaran Yan.
"Lalu apa rencanamu dengan selir Chu? Aku dengar dia sudah dibebaskan oleh kaisar," kata Feng Muyue, memprovokasi keadaan.
Mendengar ucapan Feng Muye, gerakan tangan Shen Ran yang baru saja melepas jabat tangan mereka seketika terhenti. Keheningan dingin kembali merayap di antara mereka, namun tidak ada riak kepanikan di wajah sang Permaisuri.
Clara hanya menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan cemoohan, bukan untuk Feng Muye, melainkan untuk kebodohan mutlak sang Kaisar yang sudah melampaui batas toleransinya.
"Dibebaskan?" Shen Ran terkekeh rendah, sebuah tawa kering yang terdengar sangat berbahaya. "Long Tianqi benar-benar seorang budak cinta sejati. Dia baru saja menandatangani surat perintah kematian politiknya sendiri tanpa dia sadari."
Shen Ran berjalan kembali ke meja kerja, mengambil selembar kertas pembukuan yang dipenuhi coretan angka dan bagan modern miliknya.
"Pangeran, apakah Anda tahu apa kesalahan terbesar seorang pemimpin saat menghadapi krisis besar?" tanya Shen Ran tanpa menoleh, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme yang konstan.
"Meremehkan musuh?" tebak Feng Muye, melipat kedua tangannya di depan dada, menikmati setiap detik transformasi wanita di hadapannya.
"Bukan," Shen Ran berbalik, matanya berkilat kejam. "Kesalahan terbesarnya adalah inkonsistensi penegakan hukum. Baru kemarin dia membuat pengumuman besar tentang pemberantasan korupsi klan Chu untuk menenangkan publik. Dan hari ini, dia membebaskan Chu Xinyue hanya karena rayuan murah di atas ranjang. Chu Xinyue itu licik, pasti dia menggunakan Kaisar untuk melawanku."
Shen Ran melemparkan kertas itu ke atas meja.
"Rakyat tidak bodoh, Pangeran. Dan para menteri kolot yang memegang prinsip moralitas kuno akan melihat ini sebagai penghinaan terhadap hukum kekaisaran. Mereka akan berpikir, untuk apa kita setia pada hukum jika Kaisar bisa mengubahnya demi seorang wanita?'"
Feng Muye menyipitkan matanya, langsung menangkap arah bidak catur Shen Ran. "Jadi, pembebasan Chu Xinyue ini justru menguntungkanmu?"
"Tentu saja. Ini adalah bahan bakar terbaik untuk opini publik," ujar Shen Ran dengan nada penuh kemenangan. "Biarkan Chu Xinyue keluar dan menikmati udara segar sesaat. Biarkan dia merasa menang lagi. Aku ingin dia menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk membalas dendam kepadaku."
"Kau ingin dia menyerangmu lebih dulu?"
"Tepat. Korban yang diserang setelah menunjukkan kemurahan hati akan selalu mendapatkan simpati penuh dari publik," Clara menggunakan taktik dasar humas korporat yang sering ia pakai untuk menghancurkan reputasi perusahaan saingan.
"Begitu Chu Xinyue bergerak untuk mencelakakanku lagi, dan dia pasti akan melakukannya karena dia wanita yang picik, aku tidak hanya akan menghancurkannya. Aku akan menyeret Kaisar yang melindunginya jatuh bersama ke dalam lumpur kehinaan," Shen Ran melangkah mendekati jendela, memandang ke arah Istana Barat yang kini mulai terlihat sibuk kembali.
"Kaisar mengira dia menyelamatkan wanitanya," bisik Shen Ran, suaranya sedingin angin malam. "Dia tidak tahu, dia baru saja meletakkan lehernya sendiri di atas altar. Mari kita lihat, sejauh mana cinta butanya bisa bertahan saat mahkotanya mulai retak."