NovelToon NovelToon
Talak Tiga Dari Suamiku

Talak Tiga Dari Suamiku

Status: tamat
Genre:Obsesi / Poligami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Tamat
Popularitas:331.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Hujan Reda

Binar harus menikah dengan Gian, anak dari sahabat almarhum Ayahnya. Setengah tahun dari pernikahan Binar dan Gian, Ayah Gian meninggal.

Saat menjelang empat puluh hari kematian Ayahnya, Gian menikah secara sirih dengan Sarah, pacarnya semasa kuliah tanpa sepengetahuan Binar.

Binar yang mengetahui itu sangat terpukul, pasalnya dia sangat menghormati Gian sebagai suaminya, namun kali ini Gian menghianatinya.

Akankah Binar mempertahankan rumah tangga wasiat dari Ayahnya atau menyerah atas rasa sakit yang di berikan oleh Gian yang ternyata tidak pernah mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hujan Reda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah kejadian hari kemarin yang cukup membuatku bingung. Aku berharap tidak akan lagi bertemu dengan hal-hal yang di luar nalar ku.

Aku sudah berniat untuk menghindar dari semua hal yang akan berujung pada masalah nantinya. Tentang patah, yang belum sembuh. Tentang luka yang masih membekas.

Semoga, Bunga hanya suatu kebetulan dari banyaknya takdir Tuhan.

"Selamat siang Bu Binar," sapa pak Anwar lewat telfon.

"Siang Pak Anwar," sapa ku balik. Aku segera menyimpan catokan rambutku dan tidak lupa mematikan kontak listriknya.

Sore nanti aku akan mengunjungi kantorku. Sekalian bertemu dengan Vio.

"Sidang tadi, Pak Gian tidak datang Bu. Dia juga di wakilkan oleh pengacaranya. Tapi sidang berjalan dengan lancar."

Aku merasa sangat tenang mendengar kabar ini. Seperti sesuatu yang tersumbat tiba-tiba hilang begitu saja.

"Berarti saya sudah resmi cerai ya pak sama Mas Gian?"

"Iya benar Bu. Nanti suratnya akan di kirim lewat pos ke alamat Ibu ya."

"Baik, mari Pak Anwar."

"Mari Bu."

Aku tersenyum puas. Satu masalahku sudah selesai. Mas Gian, selamat tinggal ya. Do'a baik buat kamu. Anak ini pun akan aku rawat dengan baik meski tanpa seorang Ayah.

Aku kembali pada meja rias ku. Melihat riasan di wajahku. Entah kenapa, sejak mengandung rasanya aku sangat suka berdandan. Aku bahkan sering mandi, aku selalu ingin tampil cantik.

Ku tata kembali rambutku yang tadi sempat terhenti karena telfon dari Pak Anwar.

"Kayanya udah," ucapku pada diri sendiri.

Tadi pagi aku sudah mengabari Rini kalau sore ini aku akan mengunjungi kantor. Juga dengan Alvias, aku menyuruhnya untuk datang ke kantor. Aku tidak bisa mengunjungi satu-satu salon dan toko buku ku.

Notifikasi berbunyi dari ponselku. Ada pesan masuk.

"Nanti lo jadi ke sini kan? Sendiri?"

Itu pesan dari Vio. Karena kantorku letaknya berada di kota asal ku, makannya aku mengabari Vio agar kita bertemu barang sebentar.

"Iya jadi. Ini gua mau berangkat. Sendiri aja, gak punya supir," balasku.

"Ya udah kalo gitu, kabarin kalo udah sampe ya?"

"Sekitar dua jam an, tunggu aja. Gua ke kantor dulu tapi."

"Ya udah kalo gitu. Hati-hati lo, gua tunggu ya."

Aku tidak membalas pesan terakhirnya. Ku masukkan beberapa barang yang akan ku perlukan nanti. Di rasa sudah semua, aku berjalan menuju mobilku yang terparkir di parkiran apartment ini.

"Semoga lancar-lancar aja deh."

"Sore Bu Binar," sapa Rini begitu aku masuk ke dalam kantor. Dia sudah menungguku di lobi.

"Sore Rin, maaf ya aku sore datengnya."

"Gak apa-apa Bu, mau langsung aja atau gimana?"

Aku mengangguk. "Langsung aja, eh Alvias di mana?"

"Tadi dia sudah ke sini Bu. Cuma aku kurang tahu ya di mana dia sekarang."

"Pagi Bu Binar," sapa seseorang dari arah belakangku dengan suara yang sangat aku kenali.

"Sore Alvias, pagi dari mana?" tanyaku dengan kekehan pelan.

Dulu Alvias sering mengajakku main saat Ayah membawaku ke kantor. Jadi, sekarangpun kita seperti teman.

"Lama banget Bu Binar ini," ucapnya.

"Iya nih, jauh kan," jawabku. "Ya udah, ruangannya udah di siapin kan Rin?"

"Sudah Bu."

"Ya udah, ayo deh sekarang aja. Aku juga ada urusan lain abis ini."

Aku berjalan menuju ruang yang biasa Ayah tempati. Sudah sangat lama aku tidak mengunjungi ruangan ini.

Kita duduk di sofa yang berbentuk setengah lingkaran. Rini dan Alvias mengeluarkan beberapa berkas yang aku minta.

"Ini Bu, pendapatan kita di beberapa bulan ini. Bisa Ibu periksa, tidak berbeda jauh dari yang sudah saya kirimkan via dokumen."

Aku menerima empat berkas dari tangan Rini. Ku baca dan pelajari satu satu, memang benar, tidak ada yang berbeda dari yang Rini kirimkan padaku via dokumen.

"Baik, lumayan juga kenaikannya ya Rin. Kayanya udah saatnya kamu naik gajih," ucapku kala selesai mempelajari berkas yang di beri oleh Rini sambil tersenyum simpul padanya.

Terlihat wajah sumringahnya. "Yang benar Bu?"

"Iya ... makasih juga udah *handle* semua masalah di kantor selama saya engga ke sini ya Rin."

"Baik, terimakasih banyak Bu Binar."

"Aku?" tanya Alvias.

Aku menoleh ke arah Alvias. "Apa?" tanyaku balik.

"Aku naik juga gak gajihnya?"

"Gak ah. Ngapain," jawabku sambil terkekeh. Rini pun ikut tertawa.

"Ya udah mana laporannya? Minta naik gajih tapi laporan aja belum," sindir ku di akhiri tawa pelan.

"Ih Bu Binar ini," ucapnya lesu. Alvias memberikan lima berkas padaku.

"Banyak juga ya Al," kataku sambil membaca satu per satu berkas yang di berikan Alvias.

"Ini yang harus di tanda tangani?" tanyaku diikuti anggukan dari Alvias.

"Oke, sudah. Sejauh ini enggak ada masalah yang besar ya? Mungkin sekarang aku bakal lebih sering dateng ke kantor. Kalian berdua aku naikin gajih nya, terimakasih sudah bekerja dengan sangat baik dan jujur."

"Baik terimakasih banyak Bu Binar."

"Terimakasih Bu Binar," timpal Alvias.

"Kalo gitu, aku pamit dulu ya? Ada keperluan lain. Semoga hari kalian menyenangkan."

Setelah menyelesaikan urusanku pada mereka berdua, aku langsung kembali lagi pada mobilku. Vio mengajakku bertemu di cafe tempat kita sering mampir di situ.

Katanya, Vio sudah ada di sana. Menungguku. Aku awalnya ragu, pasalnya cafe itu sangat dekat dengan rumah Vio. Bagaimana kalau aku bertemu dengan kak Fatur di sana?

Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Walau sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Jauh di dalam sana, entah kenapa aku masih menginginkan kak Fatur.

Tapi aku juga harus berkaca pada realita. Ada Tia. Tidak bisa untukku semudah itu masuk di kehidupan yang tadinya hanya di isi oleh dua orang.

Aku menghela nafasku. Berulang kali menenangkan diriku yang ternyata tanpa ku sadari sedang gugup. Bertemu atau tidak dengan kak Fatur, itu akan menjadi taruhan untuk takdir.

Aku ikut ke mana pun arusnya. Kali ini tidak ingin melawan, apalagi menghindar.

Ku laju kan mobilku meninggalkan pekarangan kantor milikku ini. Ya, otomatis sudah menjadi milikku.

Tidak butuh waktu lama, sekitar lima belas menit aku sudah sampai di cafe ini. Cafe yang selalu jadi tempat pulang kala aku sedang banyak masalah dengan Mas Gian. Bahkan cafe ini menjadi saksi bisu aku dan kak Fatur.

Ah, itu sudah berlalu.

Ku langkahkan kakiku memasuki cafe, terlihat cewek dengan rambut panjangnya sedang melambai-lambaikan tangan padaku. Aku menghampirinya.

"Udah beres urusan kantor?"

Aku mengangguk. "Pesenin matcha dong Vi," pintaku. Aku langsung duduk di hadapannya.

"Bentar lagi dateng, tadi udah gua pesenin pas lo bilang mau jalan ke sini."

"Baik banget si."

"Gua mah emang baik," ucapnya sambil terkekeh.

"Eh Vi,"

"Apa?"

"Gua akhir-akhir ini suka banget dandan tau. Tapi sering pusing sama mual juga. Efek hamil kali ya?" tanyaku pada Vio.

"Lo udah cek lagi ke dokter belum? Cek lah, itu si kayanya bawaan hamil. Cuma buat liat kandungan lo baik-baik aja lo harus cek juga."

Aku mengangguk. "Iya, belum si tapi. Lusa aja deh, gua juga belum paham harus ngapain aja nanti."

"Ya elah ... namanya cek ya di cek doang Bin."

Tiba-tiba aku mencium bau yang sangat kental. Seperti parfum vanilla tapi ini lebih manis dan sangat lekat.

Perutku seakan di bergejolak. Mual sekali rasanya.

"Lo kenapa?"

"Maaf kak, ini matcha nya," ucap *waiters* sambil menyimpan minumanku di atas meja.

Sepertinya bau parfum ini berasal darinya. Aku sudah tidak tahan lagi, rasanya di dalam sini seakan minta di keluarkan.

Aku berlari menuju toilet di cafe ini. Ku rasa Vio juga ikut berlari mengikutiku.

Huek ... huek ...

"Ya ampun, lo mual?"

Aku tidak bisa menjawab nya. Rasanya sangat mual sekali. Aku belum makan apa-apa siang ini. Jadi, rasa perih akibat itu sangat terasa.

Vio memijat tengkukku. Sesekali mengusap punggung ku juga. Di rasa sudah hilang rasa mual nya, aku segera membasuh mulutku dan mengeringkannya menggunakan tissue.

"Lo mual gara-gara apa?"

"Parfum vanila kayanya Vi. Tadi pas pelayan dateng gua langsung mual," jelasku. "Gua sensitif banget sekarang."

"Mau ke dokter aja gak? Ke dokter aja ya?"

Aku menggeleng, menolaknya. "Engga deh. Gini doang, cuma gua pusing banget ini."

"Lo pucet banget tau, yakin nih gak ke dokter aja?"

Mendengar itu, aku langsung menatap wajahku pada cermin yang berada tepat di sampingku. Benar kata Vio, mulutku sudah berwarna kuning, tidak terlihat ada aliran darah di sana.

"Lo sanggup jalan gak?" tanya Vio dengan raut wajah yang sangat khawatir.

Aku sudah sangat merepotkan nya dan kali ini sepertinya aku akan merepotkan Vio lagi.

"Bisa Vi, cuma lemes doang. Ya udah, ayo balik lagi ke meja."

"Lo yakin? Pulang aja yu? Nanti lo nyium bau itu lagi takutnya."

Vio ada benarnya juga. Tapi kalau aku pulang di kondisi seperti ini, rasanya tidak akan bisa. Tapi, aku harus ke mana?

"Lo ke rumah gua aja deh Bin, ya?"

Ke rumah Vio? Otomatis aku akan bertemu dengan kak Fatur. Tidak, tidak mau.

"Enggak deh, gak enak sama kakak lo," tolak ku halus.

"Ya ampun, gak enak gimana si? Udah ayo, dari pada harus balik ke apart lo."

Ini sama saja dengan sia-sia. Aku pindah ke sana supaya tidak lagi bertemu dengan kak Gian maupun kak Fatur. Kalau sekarang aku ke rumah Vio itu akan sama saja dengan bohong.

Vio menarik tanganku. Aku tidak bisa menolak karena tubuhku juga sangat lemas.

"Jangan ke rumah lo deh Vi," ucapku sambil menghentikan langkahku.

"Lo udah pucat gitu. Mau ke mana? Emang lo punya rumah di sini? Kalo mau balik ke apart juga mustahil Bin. Lo sakit ini, gak usah ngeyel deh."

Benar juga, aku sudah tidak punya siapa-siapa di sini. Di sana pun sama. Lalu, apa kesimpulannya? Aku tidak punya siapapun lagi, di manapun. Hanya Vio.

Lagi pula, memangnya tidak apa aku bertemu kak Fatur sekarang? Aku memang sangat ingin bertemu dan berbicara banyak hal dengannya.

Entah. Aku juga tidak tahu. Kenapa aku bisa dengan cepatnya jatuh cinta pada kak Fatur. Juga sebaliknya, aku bisa melupakan Mas Gian semudah ini.

Kalau Mas Gian mungkin bisa ku maklumi, selama dengannya aku tidak memiliki kenangan apapun yang bisa membuatku teringat dan rindu.

Berbeda dengan kak Fatur. Meski sebentar, rasanya sudah lama. Mungkin kenapa aku bisa mudah jatuh cinta karena aku tidak pernah mendapat perilaku semanis itu dari siapapun.

Sifat wanita memang sama. Akan luluh dengan segala kelembutan pria.

Aku mengekor di belakang Vio, bukan mengekor. Lebih tepatnya aku di tarik oleh Vio. Dia menarik tanganku hingga parkiran.

"Mobil lo yang mana? Sini kunci nya, gua aja yang nyetir."

Aku memberikan kunci mobilku padanya, sambil menunjuk letak mobilku terparkir.

Aku segera masuk ke dalam begitu Vio membuka pintunya. "Emang gak apa-apa ya Vi? Gua belum siap ketemu kak Fatur."

"Emang kenapa? Lo beneran suka ya sama kakak gua? Dia juga suka sama lo Bin. Selama ini dia selalu nanyain lo, maksa sama gua tapi karena gua ngehargain lo makannya gua diem aja liat dia kesel sama dirinya sendiri."

1
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
mungkin dia sok baik di depan orangtuamu dlu, sampai sifat aslinya ajaa orangtuamu gak tahu.. padahal kasar banget sama istri.. baik darimananya😤
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
perkara belanja sayur doang bambanggg😤
Haerul Anwar
tolol author nyabjuga tolol
devi aryana
Luar biasa
Mak Nab
biar mampus dgn bodoh
Mak Nab
padan muka sbb bodoh
Adinda
jadi cewek jangan bodoh apalagi udah di KDRT dihina dicaci maki
MOMMY
emang nya Binar ini mudah sangkut
dn mudh lengket..mestinya Binar inijaga jarak dari mna2 lelaki kok mudh ya dpegang tangn nya Adeeeh...terlalu senang dhmpiri
MOMMY
sama
Sofhia Aina
Salam.....hai thor kok lom hujan lagi nie 😃😃😃😃😃😃😃
Sofhia Aina
Hahaha......hujannya mana.......tak kunjung juga nie hujan.......
Sofhia Aina
LANJUT.......LANJUT......LANJUT........

💪💪💪💪💪💪💪
Sofhia Aina
Salam........kok Bintar yg mengalah trs baru je merasa bahagia and kasih sayang da terluka lagi.....jadohnya msdih samar² nie
Sulfia Nuriawati
lanjut g nih dah lama kali g up
Sukliang
fstur yg nikah dg tia
Amalia Gati Subagio
poor hormon kehamilan, utk perempuan dgn kegilaan 😇otw waras dong, cape baca mentak mentok dikibulin, aku yg bca... lo yg sengaja rekayasa ngibul hidup lo
Nurainun Harahap
binar GK tegas.plinplan.
carmellallsya
bagus banget ceritanya kak, sampai nangis aku bacanya😭.
lanjut kak semangat terus up nya... penasaran Banget😁
Hanisah Nisa
semangat...
Arie
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!