Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 6 - Apa Dia Robot?
Aluna sudah duduk di tepi ranjang ketika suara pintu ruang ganti akhirnya terbuka. Ia refleks mengangkat wajahnya dan menatap sosok Davion yang keluar dengan penampilan sudah bersih dari sisa-sisa pesta pernikahan.
Jas resmi itu telah berganti dengan pakaian rumah yang lebih santai, namun tidak mengurangi kesan dingin dan berjarak yang selalu melekat pada dirinya.
Untuk sesaat keheningan kembali memenuhi ruangan ini. Tidak ada ucapan ataupun sapaan. Hanya dua orang asing yang dipaksa berbagi satu ruang, terikat oleh status yang bahkan tidak mereka inginkan.
Aluna menunduk sejenak, mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Lalu dengan gerakan pelan ia pun berdiri.
“Dav, aku akan tidur di sofa,” ucap Aluna lembut, suaranya hampir tidak terdengar.
Davion tidak menjawab. Ia hanya berdiri dalam diam, menatap sekilas ke arah Aluna tanpa ekspresi lalu mengalihkan pandangannya, baginya apapun tentang Aluna sangat tidak penting untuk dia tanggapi.
Namun bagi Aluna diam itu saja sudah cukup. Diam itu baginya adalah bentuk lain dari izin.
Tanpa berkata apa pun lagi, Aluna segera bergerak menuju sofa yang terletak di sudut ruangan. Ia membaringkan tubuhnya perlahan dan meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Rasa lelah yang sejak tadi ia tahan akhirnya mampu dia lepaskan. Kakinya masih terasa perih dan pikirannya terlalu penuh untuk dipahami.
Namun anehnya di tengah semua itu tidur datang begitu cepat. Tak butuh waktu lama Aluna benar-benar terlelap. Seolah tubuhnya memilih untuk menyerah lebih dulu dibandingkan hatinya.
Sementara itu di sisi lain Davion justru masih terjaga. Ia duduk bersandar di kepala ranjang dan menatap lurus ke arah sosok Aluna yang tertidur di sofa.
Davion menghela napas panjang, bahkan hanya menatap gadis itu mampu menarik amarah di dalam dirinya. Sampai detik ini pun Davion masih tidak percaya dengan kenyataan yang sedang ia jalani. Pernikahan ini, semua ini terasa seperti jebakan yang tidak bisa ia hindari.
Dan wanita itu justru terlihat bisa menerima semuanya, tanpa ada perlawanan sedikitpun. Air mata Aluna yang sempat ia lihat, Davion yakin hanya karena Aluna bersedih berpisah dengan ibunya. Dimatanya Aluna hanya anak manja yang munafik.
"Cih!" decih Davion, tak habis pikir dengan kehidupan yang dijalaninya sekarang.
Davion kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata meskipun pikirannya masih bergejolak. Malam pertama ini berlalu tanpa makna, tanpa sentuhan, tanpa kehangatan.
Yang ada hanya jarak dan keheningan yang terasa semakin nyata.
Malam pun bergulir dan pagi terasa datang lebih cepat dari yang diharapkan.
Aluna bangun lebih dulu dan untuk beberapa detik ia hanya terdiam, menatap langit-langit dengan pandangan kosong mencoba mengingat di mana dirinya berada.
'Ini rumah keluarga Harold, kamar Davion,' batin Aluna.
Semua ingatan memenuhi benaknya, mulai dari pernikahan, kontrak, hingga percakapan semalam.
Dan satu kenyataan yang paling menyakitkan bagi Aluna, bahwa dirinya telah dibeli oleh keluarga ini.
Aluna perlahan bangkit dari sofa. Tubuhnya masih terasa berat, namun ia memaksakan diri. Karena keluarga Harold telah membelinya, maka ia harus menjadi sesuatu yang berguna untuk keluarga ini.
Tanpa membuang waktu Aluna segera membersihkan dirinya. Ia berjalan pelan menuju lemari dan memilih pakaian kerja untuk Davion. Setelan yang rapi, dasi yang sesuai, bahkan detail kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan oleh siapa pun, semuanya ia siapkan dengan teliti.
Setelah itu Aluna menuju dapur.
Para pelayan dibuat terkejut dengan kedatangannya.
"Aku ingin membuat teh untuk semua orang, bisa membantuku?" tanya Aluna yang aura nona mudanya tak terbantahkan.
"Baik, Nyonya," jawab pelayan dengan kepala menunduk.
Dengan cekatan Aluna menyiapkan teh hangat. Dulu Aluna bahkan pernah belajar dengan chef khusus untuk menyajikan teh ini.
Satu cangkir ia letakkan untuk Davion.
Dua lainnya ia minta pelayan untuk mengantarkan ke kamar Mommy Ivana dan Daddy Aston.
Saat itu pula Ivana yang baru saja keluar dari kamarnya sontak terkejut menerima kiriman teh dari menantunya, ia segera menuju dapur untuk menemui Aluna.
“Aluna,” panggil mommy Ivana, sangat tidak menyangka.
Aluna langsung menoleh dan menundukkan kepala sedikit. “Selamat pagi, Mom.”
Ivana mengerutkan kening halus, menatap menantunya dengan bingung namun juga tersentuh. “Kamu sedang apa?”
“Aku hanya ingin menyiapkan teh untuk semua orang,” jawab Aluna pelan. “Untuk Davion dan juga untuk Mommy dan Daddy.”
Ivana benar-benar tidak menyangka. Di matanya Aluna adalah gadis yang seharusnya diperlakukan seperti putri, bukan seseorang yang harus melakukan hal-hal seperti ini.
“Kamu tidak perlu melakukan semua ini, Sayang,” ucap Ivana lembut, ia melangkah mendekat. “Di rumah ini sudah ada banyak pelayan.”
Aluna tersenyum kecil, senyum yang sama seperti biasanya.
“Tidak apa-apa, Mom,” jawabnya pelan. “Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan.”
Dan tanpa Ivana sadari kalimat itu bukan sekadar jawaban. Melainkan bentuk dari seseorang yang sedang berusaha bermanfaat karena telah dibeli.
Ivana menggelengkan kepalanya kecil dan menyentuh tangan Aluna dengan lembut, "Tidak perlu Sayang, kamu tidak perlu melakukan apapun. Cukup nikmati waktumu sendiri di rumah ini, kamu mau apa katakan pada mommy atau para pelayan, atau pada Davion. Semuanya akan langsung tersedia untukmu," jelas mommy Ivana.
"Mama Sarah selama ini sudah memperlakukanmu seperti seorang putri dan mommy juga akan melakukan hal yang sama," timpalnya lagi.
Aluna terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tak tahu harus bersikap bagaimana? Bolehkah ia senang atau ini semua hanya sekedar penundaan? Kelak akan ada waktunya mommy Ivana menyadari bahwa dia hanyalah barang yang dibeli, yang tak seharusnya diperlukan seistimewa ini.
"Kamu pasti lelah setelah pesta kemarin, kembalilah ke kamar dan istirahat bersama Davion. Minta Davion untuk tidak perlu pergi bekerja hari ini," ucap mommy Ivana lagi, bahkan setelahnya dia memeluk Aluna dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
Mommy Ivana memiliki dua anak laki-laki, satu Davion dan satu anaknya lagi masih menjalani pendidikan di luar negeri. Sejak dulu ia sangat ingin memiliki anak perempuan namun tak kunjung diberi, karena itulah saat ada Aluna di sini dia benar-benar menyayanginya dengan tulus. Aluna bukan hanya menantu tapi juga ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Tapi Mom_"
"Tidak ada tapi-tapian Sayang, kembali lah ke kamar dan beristirahat. Nanti sarapanmu dan Davion akan dikirim ke kamar."
"Baik, Mom," jawab Aluna yang sudah tak mampu membantah.
Saat kembali ke dalam kamar, Aluna sudah tak melihat Davion di atas ranjang. Aluna hanya menduga saat itu Davion sedang berada di dalam kamar mandi. Karena tak tahu harus apa, Aluna duduk di sofa tempat tidurnya semalam, menunggu dalam ketidakpastian.
Begitu Davion akhirnya keluar, pria itu tidak menggunakan setelan jas yang ia siapkan. Davion justru menggunakan baju santai, seolah sejak awal Davion memang tidak berniat pergi bekerja hari ini. Hanya pikiran Aluna lah yang sudah menerawang terlalu jauh.
"Kata mommy Ivana, kita istirahat di kamar saja. Nanti sarapan akan dikirim oleh pelayan," ucap Aluna, dia lebih dulu berdiri sebelum mengucapkan hal tersebut.
Davion tidak menjawab, ia justru menuju pintu hendak keluar.
"Dav, kamu mau kemana?" tanya Aluna, meski hubungan mereka tidak baik namun Aluna ingin setidaknya ada komunikasi diantara mereka. Aluna hanya tak ingin hubungan yang renggang ini membuat kedua mertuanya khawatir.
Davion menghela nafas dengan kasar, ia berbalik dan menatap Aluna yang langsung bicara...
"Aku tahu batasanku dalam pernikahan ini Dav, tapi aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Aku harus jawab apa jika tiba-tiba mommy Ivana datang dan bertanya kemana kamu pergi?"
"Aku akan ke ruang kerja," balas Davion penuh penekanan.
Namun Aluna selalu menjawabnya dengan penuh kelembutan. "Baiklah, nanti aku akan memanggilmu setelah sarapan tiba."
Sumpah, Davion sangat terganggu dengan sikap lembut tersebut. Tanpa ada kata-kata lagi, Davion segera melanjutkan langkah dan menuju ruang kerjanya. Ia tahu mommy Ivana pasti akan melarangnya pergi ke kantor, karena itulah dia tak bersiap untuk pergi ke perusahaan. Cukup menghabiskan waktunya di ruang kerja rumah ini.
Begitu memasuki ruang kerja, Davion tidak langsung menyentuh pekerjaannya. Ia justru menyalahkan komputer dan melihat layar cctv di kamarnya. Melihat Aluna yang kembali duduk di sofa setelah ia tinggalkan sendiri.
Wanita itu benar-benar hanya duduk di sana tanpa melakukan apapun, Aluna hanya bergerak sedikit untuk melihat kakinya lalu kembali duduk dengan tegap.
"Apa dia robot?" gumam Davion tak habis pikir.
woooy Maesaroh kamu tuh udah ga ada hak atas Aluna
aluna bukan bagian dari Myles lagi
aluna sekarang bagian dari dari horas,,eh salah
kamu udah menjual Aluna ko enak banget masih pengen Aluna patuh sama kamu terus,,gemes daah aaah
ini si sabun DAV juga kenapa seh kamu ga selidiki Aluna