Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisik-bisik di balik tumpukan semen
Pagi itu, toko Sumber Rejeki sangat sibuk. Beberapa truk engkel antre untuk memuat pesanan besi beton dan semen. Di dalam rumah, Sekar sedang merapikan buku catatan pengeluaran dapur saat ia menyadari bahwa nota pembelian beras dari langganan toko belum ditandatangani oleh Danu. Mbok Sum sedang sibuk di belakang, dan Bu Subroto sedang pergi ke pengajian.
Sekar menarik napas panjang. Ia tahu ia harus ke toko depan. Meski jaraknya hanya melewati pintu penghubung, bagi Sekar, toko itu adalah wilayah yang asing dan mengintimidasi u tuk saat ini.
Ia merapikan dress katun hijaunya, menyisir rambutnya yang kini terasa lebih halus berkat minyak pemberian Danu, lalu melangkah pelan. Begitu pintu penghubung dibuka, aroma debu semen, kayu, dan besi langsung menyapa indra penciumannya.
Sekar berjalan menunduk, melewati lorong di antara tumpukan material. Ia bermaksud menuju kantor kaca di sudut toko tempat Danu biasa berada. Namun, langkahnya terhenti di balik tumpukan sak semen yang menjulang tinggi saat mendengar suara tawa dan bisik-bisik dari dua orang pegawai pria yang sedang beristirahat.
"Eh, lihat tuh, Si Nyonya baru keluar dari sarangnya" Ucap salah satu pegawai berkaus oblong kusam, sambil menunjuk ke arah Sekar dengan dagunya.
"Halah, Nyonya apa? Kamu kan tahu sendiri dulu dia siapa. Penimbang paku sama saja butuh seperti kita" Sahut rekannya sambil menyulut rokok.
"Hebat ya, cuma modal isi duluan bisa langsung tinggal di rumah gedongan. Pintar dia milih umpan"
Sekar mematung. Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang memegang nota mulai bergetar hebat. Ia ingin berbalik lari, tapi kakinya terasa lemas.
"Tapi jujur saja, dia makin bening sejak jadi istri bos. Kulitnya jadi makin bersih begitu. Sayang saja, Mas Danu itu seleranya harusnya kayak Mbak Lidya yang sekolah tinggi, bukan yang cuma bisa pegang timbangan dan sabun cuci. Pasti Mas Danu sebenarnya malu bawa dia ke acara-acara besar" Lanjut pegawai pertama.
"Ya iyalah. Paling cuma dijadiin pajangan di rumah saja. Mana berani Mas Danu pamer istri yang asal-usulnya nggak jelas begitu. Kasihan juga Mas Danu, kena jebak cewek lugu tapi mematikan"
Air mata Sekar sudah di ujung pelupuk. Ia meremas kertas nota itu hingga sedikit kusut. Kata menjebak adalah belati yang paling tajam menusuk batinnya. Ia tidak pernah bermaksud menjebak; ia sendiri adalah korban dari malam yang kelam itu, tapi dunia memang selalu lebih mudah menyalahkan wanita sepertinya.
"Sedang apa kalian di sini?"
Suara bariton yang dingin dan berat itu membuat kedua pegawai tersebut tersentak kaget dan langsung berdiri tegak. Danu berdiri tidak jauh dari mereka, matanya menatap tajam dengan rahang yang mengeras. Ia rupanya baru saja keluar dari gudang belakang.
"E-eh Mas Danu, anu Mas, cuma istirahat sebentar" Jawab salah satu pegawai dengan gugup, wajahnya pucat pasi.
Danu tidak menyahut. Matanya beralih ke balik tumpukan semen, di mana ia melihat ujung dress hijau Sekar. Ia melangkah mendekat dan menemukan Sekar yang sedang berdiri kaku dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Sekar?" Panggil Danu lembut, sangat kontras dengan suaranya saat menegur pegawainya tadi.
Sekar mendongak sebentar, lalu segera menunduk lagi, mencoba menyembunyikan wajah sembabnya.
"Mas, ini nota yang harus ditandatangani" Bisiknya dengan suara yang hilang timbul.
Danu mengambil nota itu dari tangan Sekar yang gemetar. Ia tidak langsung menandatanganinya. Ia justru meraih tangan Sekar, menggenggamnya dengan erat di depan mata kedua pegawainya yang kini tertunduk malu.
"Kalian berdua" Ucap Danu tanpa menoleh ke arah pegawainya, namun suaranya mengandung ancaman yang nyata.
"Ambil gaji kalian di tempat Ibas sore ini. Dan jangan pernah injakkan kaki di toko ini lagi. Aku tidak butuh pegawai yang mulutnya lebih kotor dari sampah di pasar"
"Tapi Mas Danu, kami minta maaf..."
"Pergi!" Bentak Danu.
Sekar tersentak kaget mendengar bentakan suaminya. Ia belum pernah melihat Danu semarah ini. Setelah kedua pegawai itu pergi dengan langkah seribu, suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar suara mesin truk di kejauhan.
Danu membawa Sekar masuk ke dalam kantor kacanya yang sejuk karena pendingin ruangan. Ia mendudukkan Sekar di kursi empuk miliknya, lalu ia sendiri berjongkok di depan istrinya. Sebuah posisi yang sangat tidak biasa bagi seorang bos besar di depan wanita yang dulu hanya buruh penimbang paku.
"Jangan nangis lagi, mereka sudah mendapatkan ganjaran karena mulut kotor mereka" Danu mengusap pipi Sekar dengan ibu jarinya. Satu tangannya tetap memegang tangan Sekar, memberikan kehangatan yang berusaha mengusir rasa dingin di hati istrinya.
"Maaf, Mas... gara-gara saya, Mas jadi kehilangan pegawai" Bisik Sekar penurut. Ia merasa semakin menjadi beban karena membuat suaminya bertindak keras.
"Pegawai bisa dicari, Sekar. Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menghinamu di tempatku sendiri" Sahut Danu. Ia menatap wajah Sekar dengan dalam. Matanya menelusuri setiap inci wajah cantik yang kini tampak sangat rapuh itu.
"Kamu cantik, kulitmu bersih, dan kamu adalah istriku. Kamu punya hak untuk berdiri tegak di sini. Aku tidak pernah malu punya istri kamu. Apa yang mereka katakan itu tidak benar!"
Danu kemudian berdiri, ia mengambil sebotol air mineral, membukanya, dan memberikannya pada Sekar.
"Minum dulu. Setelah ini aku akan mengantarmu kembali ke dalam"
Sekar meminum air itu dengan patuh. Perhatian Danu yang begitu terang-terangan melindunginya membuatnya merasa sangat berharga, namun di saat yang sama, ia merasa semakin takut. Ia takut jika suatu saat perlindungan ini hilang, ia tidak akan sanggup bertahan hidup sendirian lagi.
Sekar pikir, Danu melakukan ini semua karena harga dirinya sebagai laki-laki terusik. Danu tidak ingin miliknya dihina, bukan karena ia mencintai Sekar, tapi karena ia menghormati ikatan pernikahan yang sudah ia ambil.
"Terima kasih Mas..." Ucap Sekar lirih saat Danu membimbingnya berjalan kembali menuju pintu penghubung rumah, tangannya tetap berada di pinggang Sekar sepanjang jalan, menunjukkan pada semua pegawai yang tersisa bahwa wanita ini adalah sosok yang tidak boleh mereka sentuh dengan kata-kata menyakitkan seperti dua pegawai tadi yang kini jadi pengangguran.