NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai

Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai

Status: tamat
Genre:Janda / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat / Miliarder Timur Tengah / CEO / Tamat
Popularitas:987.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rere ernie

Alena Prameswari percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya.

Tapi setelah tiga tahun menikah dengan Arga Mahendra, ia sadar bahwa kesetiaan tak akan berarti bila hanya satu pihak yang berjuang.

Saat pengkhianatan terbongkar, Alena memilih pergi. Ia menerima proyek desain di Dubai... tempat baru, awal baru.

Tanpa disangka pertemuan profesional dengan seorang pangeran muda, Fadil Al-Rashid, membuka lembaran hidup yang tak pernah ia bayangkan.

Fadil bukan hanya pria miliarder yang memujanya dengan segala kemewahan,
tetapi juga sosok yang menghargai luka-luka kecil yang dulu diabaikan.

Namun cinta baru tak selalu mudah.
Ada jarak budaya, gengsi, dan masa lalu yang belum benar-benar selesai. Tapi kali ini, Alena tak lari. Ia berdiri untuk dirinya sendiri... dan untuk cinta yang lebih sehat.

Akankah akhirnya Alena bisa bahagia?

Kisah ini adalah journey untuk wanita yang tersakiti...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 6.

Bandara Soekarno-Hatta ramai, tapi hati Alena terasa kosong.

Ia berdiri di depan layar keberangkatan dengan koper abu-abu di sampingnya. Hanya satu koper, satu tas jinjing, dan selembar tiket yang akan mengubah seluruh hidupnya.

“Penerbangan menuju Dubai akan segera boarding.”

Suara itu bergema dari pengeras suara, menembus kesunyian pikirannya.

Tiga hari lalu, Alena menandatangani surat cerai. Tanpa... drama.

Hanya selembar kertas dan tangan gemetar yang menyelesaikan tiga tahun perjuangannya yang sia-sia.

Arga bahkan tak menatap wajahnya saat menandatangani dokumen itu. Pria itu hanya bertanya satu hal, apakah suatu hari Alena akan menyesal karena bercerai dengannya?

Jawaban Alena sangat tegas... Tidak!

“Semoga kamu bahagia… dengan kekasihmu,” ucap Alena pelan namun tegas.

Suara itu terdengar tenang, meski hatinya bergetar hebat di dalam dada. Dengan sorot mata yang dingin, seolah semua luka sudah ia kubur bersama cinta yang dulu ia perjuangkan sendirian.

Begitu langkahnya berbalik, ia mendengar suara Arga di belakang. Pria itu tergesa-gesa menyangkal tuduhan itu. “Len, aku bilang... aku tidak selingkuh. Aku—“

Namun Alena tak berhenti, ia tak lagi peduli.

Bagi Alena, masalah mereka sudah bukan soal pengkhianatan semata. Melainkan tentang hati yang perlahan membeku, karena sikap dingin Arga yang selama ini membunuhnya perlahan tanpa suara.

Lalu ia pergi, seperti menutup pintu terakhir dalam hubungan yang dulu dipenuhi dengan cinta. Kini di antara ribuan orang asing, Alena benar-benar sendiri.

Ia menatap paspornya, Alena Prameswari. Namun di balik kesepian itu, ada sesuatu yang tumbuh... keberanian.

Ia sudah lelah menjadi istri yang tak pernah didengar. Kini saatnya, ia mendengar suaranya sendiri.

Pesawat melaju di landasan. Dari jendela, lampu kota Jakarta tampak menjauh. Mengecil, lalu hilang.

Alena tersenyum kecil. “Mungkin di tempat baru, aku bisa belajar mencintai diriku sendiri,” gumamnya pelan.

Dubai menyambutnya dengan cahaya.

Gedung-gedung tinggi seperti perhiasan kaca di bawah sinar matahari. Suara azan yang mengalun lembut dari menara masjid membuat hatinya tenang, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.

Alena menyewa kamar kecil di sebuah apartemen sederhana di daerah Al Barsha. Kamar itu sempit tapi bersih, dengan jendela besar menghadap kota.

Setiap pagi, ia menyalakan air wangi mawar dan duduk di dekat jendela sambil menulis di catatan laptopnya.

'Hari pertama di negara asing, aku masih takut tapi aku juga mulai lega. Tidak ada Arga... tidak ada sikap dingin, tidak ada diam yang menyakitkan.'

Ia mulai mencari pekerjaan. Dengan latar belakang desain interior, Alena melamar ke beberapa perusahaan arsitektur dan butik desain lokal.

Namun, tidak mudah.

Aksen bahasa, izin kerja, dan pengalaman membuat banyak pintu tertutup.

Tapi Alena tak menyerah.

Ia bekerja serabutan sementara, menjadi asisten di toko bunga milik seorang wanita Lebanon yang baik hati bernama Noura.

“Kerja kerasmu bagus sekali, Alena,” kata Noura suatu hari. “Kau punya tangan yang sabar, bunga suka disentuh oleh orang yang hatinya lembut.”

Alena tersenyum. Mungkin benar, dunia ini tak sepenuhnya kejam. Kadang, tempat baru justru memberi ruang untuk tumbuh tanpa penilaian.

Namun setiap malam sebelum tidur, ia masih suka menatap cincin yang kini tersimpan di laci kecil. Tidak untuk mengingat masa lalu, tapi untuk memastikan bahwa luka yang pernah ia alami itu nyata. Dan ia, berhasil bertahan.

Dua bulan setelah kedatangannya, email itu datang seperti hadiah dari langit.

“Dear Ms. Alena Prameswari. We are pleased to inform you that you have been selected as Junior Interior Consultant at Fadil Design Group.”

Alena membaca email itu berkali-kali.

Air matanya menetes tanpa ia sadari, bukan karena sedih tapi karena bangga. Ia akhirnya diterima bekerja di perusahaan desain besar milik pengusaha muda keturunan Timur Tengah.

Hari pertama, ia mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang beige. Tak mewah, tapi rapi dan profesional. Kantor itu terletak di Dubai Marina, dengan dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan laut biru.

“Welcome to the team,” ucap seorang supervisor ramah. “Boss kita cukup tegas, tapi sangat menghargai pekerja keras.”

Alena tersenyum sopan.

Ia belum tahu kalau “boss tegas” itu adalah pria yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Siang hari, ia diminta membantu menyiapkan presentasi proyek untuk klien besar. Ia bekerja fokus, memperbaiki warna, mengganti komposisi, hingga semuanya tampak selaras.

Saat selesai, seseorang masuk ke ruangan. Langkahnya mantap, suaranya rendah dengan aksen arab tapi berwibawa. Pria itu berbicara seperti yang lain, dengan bahasa inggris. “Apa ini hasil tim baru?”

Alena menoleh, dan pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam dan jam tangan perak. Tatapannya tajam tapi tidak dingin, lebih seperti sedang menilai dengan cermat.

“Yes, sir,” jawab Alena gugup. “I’m new here.”

Pria itu menatap Alena beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

“Kerja yang rapi. Tapi warna maroon di sini... terlalu kuat untuk ruang keluarga. Ganti dengan camel tone.”

Alena mengangguk cepat. “Noted, Mr...?”

“Fadil Al Rashid.” Jawab pria itu singkat.

Dan saat nama itu meluncur dari bibirnya, Alena tak tahu bahwa takdir baru saja memperkenalkannya pada seseorang yang akan membuatnya belajar arti cinta dari awal.

Cinta yang tidak menyakitkan.

Hari ketiga bekerja, Alena memutuskan membeli makan siang di kafe bawah kantor.

Saat membawa nampan dan mencari tempat duduk, seseorang menepuk bahunya ringan. “You again?”

Suara bariton itu membuatnya menoleh. Fadil berdiri di sana, mengenakan kemeja santai. Tanpa jas, lebih manusiawi dari citra Bos Besar yang Alena kenal di kantor.

“Oh, Mr. Fadil... saya. Maksud saya, Sir__”

Fadil tertawa pelan. “Kamu tampak seperti orang yang takut salah bicara.”

Alena ikut tersenyum, malu-malu.

“Saya hanya... belum terbiasa bicara santai dengan atasan,” ujarnya jujur.

Fadil menunjuk kursi di depannya.

“Kalau begitu, anggap ini bukan jam kantor. Anā insān ayḍan... Alena.”

Wajah Alena mengernyit pelan, dahi halusnya berlipat karena kebingungan. Biasanya mereka berbicara dalam bahasa Inggris, sebab Alena belum terlalu fasih berbahasa Dubai. Ucapan Fadil barusan terdengar asing, dan ia hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan kosong.

Melihat ekspresi polos yang tak mengerti itu, Fadil tak kuasa menahan tawa kecil. Suaranya terdengar hangat dan renyah. Ia lalu beralih menggunakan bahasa Inggris, nada suaranya lembut namun sedikit menggoda.

"Anā insān ayḍan, means… aku juga manusia,” kata pria keturunan Dubai itu sambil tersenyum.

“Oh…” bibir Alena terbuka membentuk huruf O, matanya membulat tanda baru paham. Ia terkekeh kecil, merasa geli pada dirinya sendiri yang masih terbata-bata memahami bahasa di negara itu.

Fadil menatap Alena dengan senyum samar, ada gurat lembut di matanya. “You’ll get used to it soon.“

Alena hanya mengangguk, pipinya sedikit memanas tanpa alasan yang jelas. Entah karena malu... atau karena senyum Fadil yang terlalu menenangkan untuk dihindari.

Mereka duduk berhadapan, obrolan yang awalnya canggung perlahan berubah hangat.

Fadil ternyata suka arsitektur klasik, sama seperti Alena. Mereka membicarakan tentang perpaduan gaya Andalusia dan modern Arab, tentang warna, tentang ruang, tentang makna rumah.

“Rumah,” kata Fadil pelan, menatap cangkir kopinya, “Bukan hanya tempat tinggal, tapi... tempat hati bisa beristirahat.”

Alena terdiam.

Kata-kata itu menusuk lembut, seperti mengingatkan bahwa rumahnya dulu hanya bangunan, tanpa jiwa.

Sebelum berpisah, Fadil berkata. “Aku jarang memuji staf baru, tapi kamu... punya insting desain yang bagus. Terus asah, jangan takut.”

Sore itu saat Alena kembali ke meja kerjanya, senyum kecil terlukis di wajahnya. Ia tak tahu apa namanya perasaan itu, tapi hatinya terasa ringan. Mungkin itu bukan rasa cinta, tapi harapan.

Dan bagi seseorang yang baru saja melewati badai, harapan adalah... sinar paling indah.

1
Sandisalbiah
mereka hanya di karunia masing² satu anak saja?...
Sandisalbiah
manusia yg terlalu berambisi, menyangka bisa menggenggam semuanya tp justru tdk dapat memiliki apapun.. Layla terlalu percaya diri hingga menyepelekan lainya dan masih belum sadar kalau dia sudah kehilangan segalanya krn arogansinya...
Sandisalbiah
jika Fadil naik jd kandidat putra mahkota jelas Alena akan tersingkir... krn dewan istana pasti akan menolaknya
Elwin Hanner
aku juga kalau suami kaya gitu dah tinggalin aja biar tau rasa
Sandisalbiah
kau itu terlalu sombong akan dirimu sendiri Nadine.. krn dulu kau mampu mengalihkan dunia Arga SESAAT, kau jd merasa jumawah akan selalu bisa mengalahkan Alana.. jgn lupa kau hanya mengalihkan perhatian Arga tp tetap kau tdk pernah jd seseorang yg dia pilih yg artinya.. kau tdk begitu penting dan tdk juga berharga..
Sandisalbiah
Nadine dan layla bila di gabungkan bakal jd duet maut ini... para perempuan dgn obsesi tinggi dan bonus sgn sifat iri dengki.. lengkap sudah peran antagonis yg mematikan
Sandisalbiah
inilah yg sedari awal di khawatirkan dr hubungan mereka berdua... di tentang oleh pihak istana, setatus sosial yg berbeda dan parahnya munculnya seseorang dgn obsesi dan ambisi gilanya dan nanti ujungnya keselamatan dan hati Alana yg bakal jd taruhannya..
Sandisalbiah
perempuan kalau udah terobsesi bakal menghalalkan segala cara buat dapetin apa yg dia mau...
Sandisalbiah
Fadil tipe pria yg lembut dan tdk menggebu, justru itu nilai lebihnya perhatian tulus tp tdk memaksa terkesan seperti malu malu tapi pasti dan perempuan dgn perasa yg lembut sangat faham dan nyaman dgn sinyal seperti ini.. TETAPI.. apakah akhirnya akan bahagia..?
Sandisalbiah
lumrahnya perempuan mendapat perhatian lebih pasti hatinya akan tercetak tp.. Fadil itu beneran jauh dr jangkauan, statusnya sebagai Pangeran dan setatus Alana yg rajel.. bakal ada luka baru nantinya diantara keduanya, bahkan dulu tunangan Fadil juga di celakai keluarganya kan... ini bakal mengancam keselamatan Alana juga kan.. harusnya Fadil tau resiko itu
Sandisalbiah
takutnya Alena akan terluka lagi dan mu GKIN makin dalam.. Fadil sosok yg sulit buat di gapai..
Siti Saodah
kalo saudara sepupu itu memang boleh nikah,,apalagi di timur tengah itu kebanyakan menikah sama sepupu nya,,itu gak lumrah di sana
Siti Saodah
kok Amina gak kaya ibu nya yang bar bar dan pemberani
Siti Saodah
pada akhir nya putri Layla tidak akan mendapatkan siapa pun karena ke egoisan nya sendiri,,akhir nya dia hanya gigit jari
Siti Saodah
🤣🤣🤣 saya malah ngakak duluan thor baca komenan nya teh Maya 🙏
Siti Saodah
sama sama membenci Alena tanpa alasan yang jelas,,dua manusia yang tak punya akhlak
Siti Saodah
dasar Mak lampir,,dari niat nya aja bukan mau kerja tapi pingin menyingkirkan Alena,,pelakor gak tau diri
Siti Saodah
harus nya gugat cerai dulu
Siti Saodah
katanya kalo pagi nya gitu lagi mau cari tau tapi kenyataan nya diam aja
Lesmana
wow ternyt itu motif nya toh😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!