NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Undangan yang Ditolak

Pagi hari Wang Hao sudah berada di halaman kecil depan kamarnya, berbaring di kursi rotan dengan mata terpejam. Sinar matahari pagi yang hangat menyentuh wajahnya, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dari taman dalam klan. Pikirannya melayang pada kitab tua yang ia baca sebelumnya.

Informasi di dalam kitab itu memberinya gambaran yang lebih jelas tentang di mana ia berada sekarang. Wilayah barat Benua Dongxu, di bawah kekuasaan Kerajaan Wuxia dengan Raja Wu Quanluo sebagai penguasanya. Sebuah kerajaan fana yang mengelola puluhan kota kecil seperti Kota Lanyu, di bawah perlindungan sekte-sekte lokal yang tersebar di sepanjang wilayah.

Perjalanan menuju pusat Benua Dongxu membutuhkan waktu enam bulan menggunakan kapal terbang, alat transportasi umum bagi para saudagar kaya, pedagang, dan kultivator yang ingin melakukan perjalanan jauh ke pusat benua. Kitab itu menyebutkan harga sepuluh ribu batu roh tingkat tinggi untuk satu tiket penumpang, jumlah yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh kultivator biasa di kota pinggiran seperti Kota Lanyu.

Jika memaksa terbang secara mandiri tanpa kapal terbang, wilayah-wilayah yang dilewati merupakan tempat yang sangat berbahaya. Kitab itu menyinggung tentang lautan kabut abadi, pegunungan yang dihuni binatang iblis kuno, dan lembah-lembah yang dipenuhi formasi alam mematikan. Penulis kitab itu sendiri mengaku hanya berhasil mencapai pusat benua setelah tiga puluh kali hampir mati selama perjalanan.

Namun justru itulah yang membuat Wang Hao tersenyum tipis. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja nanti. Tidak perlu kapal terbang, tidak perlu tergesa-gesa. Ia akan menikmati setiap langkah, memperluas Dao-nya dari setiap tarikan napas, dari setiap pemandangan yang ia lihat, dan dari setiap pertemuan yang ia alami di sepanjang jalan.

Di kehidupan sebelumnya, ia bergerak terlalu cepat. Dari Kondensasi Qi ke Nascent Soul dalam waktu yang terlalu singkat, tanpa sempat merasakan setiap tahap dengan sempurna. Kali ini ia akan melakukan segalanya dengan perlahan. Setiap kota yang ia lewati akan menjadi bagian dari kultivasinya. Setiap gunung yang ia daki akan menjadi batu pijakan menuju puncak yang lebih tinggi.

Ia membuka matanya ketika suara langkah kaki mendekat dari arah koridor. Seorang pelayan perempuan muncul di ambang pintu halaman, membungkuk hormat, lalu berbicara dengan suara hati-hati.

"Tuan Chen, Patriark Sheng meminta kehadiran Anda di aula utama. Ada undangan dari Klan Gao yang baru saja tiba."

Wang Hao bangkit perlahan, lalu memasukkannya kursinya kedalam cincin ruang, kemudian berjalan mengikuti pelayan itu menuju aula utama.

Setibanya di aula utama klan, terlihat Patriark Sheng yang duduk di kursinya, ditemani oleh dua tetua, sementara seorang pria berjubah biru tua berdiri di tengah aula dengan postur kaku. Di tangannya tergenggam secarik kertas berlapis emas.

"Ini dia pemuda yang kau cari," kata Patriark Sheng sambil memberi isyarat ke arah Wang Hao. "Chen Nan, tamu kehormatan Klan Sheng."

Pria berjubah biru itu menoleh dan menatap Wang Hao yang masuk ke aula dari atas ke bawah. Matanya menyipit seolah sedang menilai, hingga Wang Hao tiba di dekatnya, ia mengulurkan kertas berlapis emas itu dengan kedua tangan.

"Atas nama Patriark Gao, aku mengundang Tuan Chen Nan untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman Klan Gao malam ini. Patriark Gao ingin berkenalan langsung dengan pemuda berbakat yang telah membantu Klan Sheng."

Wang Hao bahkan tidak mengulurkan tangannya untuk menerima undangan itu. Ia berjalan melewati utusan itu begitu saja, menuju kursi kosong di sisi aula, lalu duduk dengan tenang.

Utusan Klan Gao menegang. Tangannya yang masih terulur mulai gemetar, bukan karena takut, melainkan karena marah. "Tuan Chen Nan, ini adalah undangan resmi dari Patriark Gao. Apakah kau berniat menolaknya tanpa alasan?"

"Aku tidak tertarik," jawab Wang Hao datar.

Wajah utusan itu memerah. "Tuan Chen Nan, dengan segala hormat, menolak undangan dari Patriark Gao adalah penghinaan. Klan Gao adalah salah satu dari tiga klan besar di Kota Lanyu. Jika kau menolak, ada konsekuensi yang harus kau tanggung."

Wang Hao menoleh perlahan, menatap utusan itu dengan sorot yang sama sekali tidak terganggu.

"Kalau begitu, anggap saja ini penghinaan."

"Apa...!"

Utusan itu melangkah maju dengan tangan terkepal, tetapi sebuah suara berat menghentikannya.

"Cukup."

Patriark Sheng bangkit dari kursinya. Wajahnya tenang, tetapi tekanan energi spiritual dari tubuhnya mulai menyebar ke seluruh aula, cukup untuk mengingatkan semua orang bahwa ia adalah kultivator Pendirian Fondasi.

"Kau sudah mendengar jawabannya. Chen Nan adalah tamuku, dan dia berhak menolak undangan apa pun yang tidak ia inginkan. Sampaikan itu pada Patriark Gao."

Utusan itu menatap Patriark Sheng, lalu menatap Wang Hao, lalu kembali menatap Patriark Sheng. Kemudian dia menurunkan kertas undangannya, membungkuk setengah hati, lalu berbalik dan berjalan keluar dari aula dengan langkah penuh amarah.

Setelah suara langkah kakinya menghilang, salah satu tetua yang duduk di sisi kanan Patriark Sheng berdehem pelan.

"Menolak undangan Klan Gao seperti itu bisa menimbulkan masalah. Patriark Gao bukan orang yang suka dipermalukan."

"Biarkan saja," Wang Hao menjawab sebelum Patriark Sheng sempat berbicara. "Jika dia ingin bertemu, dia bisa datang sendiri. Saya tidak punya waktu untuk menghadiri jamuan yang tidak perlu."

Tetua itu mengangkat alisnya, tetapi tidak membalas. Patriark Sheng hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Pemuda ini memang berbeda. Dan justru karena itulah dia semakin menghargainya.

***

Beberapa waktu kemudian.

Di kediaman Klan Gao, Patriark Gao duduk di kursi utamanya dengan wajah yang sulit ditebak. Utusan yang tadi dikirim ke Klan Sheng kini berlutut di hadapannya, menceritakan semua yang terjadi dengan suara gemetar.

"Dia menolak?" suara Patriark Gao pelan, hampir seperti bisikan. "Dia benar-benar menolak undanganku?"

"Benar, Patriark. Dia bahkan tidak mau menerima surat undangannya. Dia bilang... dia tidak tertarik."

Keheningan panjang mengisi ruangan itu. Patriark Gao mengetukkan jarinya ke atas lengan kursi, menimbulkan bunyi berirama yang membuat utusan itu semakin gemetar.

Lalu, tiba-tiba, Patriark Gao tertawa. Setelah mereda dia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

"Menarik, pemuda ini benar-benar menarik." Ia menoleh ke arah penasihatnya yang berdiri di samping. "Dia tidak takut pada Klan Gao, dia juga tidak peduli dengan konsekuensi menolak undanganku. Itu berarti dia punya sesuatu yang membuatnya percaya diri."

Penasihat itu mengangguk. "Atau dia memang tidak tahu bahaya yang mengancamnya."

"Tidak. Orang seperti itu bukan orang bodoh." Patriark Gao menegakkan tubuhnya. "Klan Sheng mendapatkannya lebih dulu, dan sekarang mereka menuai keuntungannya. Tapi sebagai saingan klan sheng, klan gao tidak akan tinggal diam. Menyampaikan informasi ini ke sekte awan ungu, akan membuat permain berubah. Pada saat itu..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi para penasihatnya sudah mengerti.

*****

Di bagian lain Kota Lanyu, di sebuah ruangan gelap di kediaman Klan Wei, Patriark Wei menerima laporan dari pengintainya.

"Utusan Klan Gao baru saja keluar dari Klan Sheng dengan wajah marah," kata pengintai itu. "Sepertinya undangan mereka ditolak."

Patriark Wei menyeringai. "Gao tua itu pasti sedang menggeram sekarang, itu bagus. Semakin banyak musuh yang dibuat pemuda misterius itu, semakin mudah bagi kita untuk bergerak."

Pengintai itu mengangguk. "Ada satu hal lagi, Patriark. Kami mencoba mencari informasi tentang pemuda itu, tapi tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Dia muncul begitu saja di Kota Lanyu sekitar sebulan yang lalu, menumpang gerobak pedagang kain bernama Lu Zheng. Sejak itu, dia tinggal di Balai Ramuan Giok Hijau, lalu pindah ke Klan Sheng sebulan yang lalu."

"Pedagang kain?" Patriark Wei mengusap dagunya. "Cari pedagang itu. Aku ingin tahu apa yang dia ketahui tentang pemuda misterius ini."

"Itu masalahnya, Patriark. Pedagang itu sudah tidak ada di kota. Dia dan putrinya pergi dua hari yang lalu untuk berdagang ke kota lain."

Patriark Wei mendengus. "Sial, kalau begitu kita hanya bisa menunggu. Terus awasi Balai Ramuan Giok Hijau dan Klan Sheng. Aku ingin tahu setiap gerakan pemuda itu."

Pengintai itu membungkuk dan menghilang ke dalam kegelapan.

1
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
44
Jojo Shua
4
Agus Rose
Cerita yang cukup baik tapi update nya yg kurang.
Zerro One: Terimakasih penilaian nya.

saya ragu karena novel ini slow plotnya.
total 3 replies
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!