Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 ( Takut Kehilangan )
Pagi pagi sekali Alena sudah berada di kampusnya, hari ini di kampusnya akan mengadakan sebuah acara dan juga seminar.
Alena terkenal sangat aktif di kampus, ia dan Nabila pun terpilih untuk menjadi panitia acara tersebut.
Alena sendiri sebenarnya belum tau mengenai acara lengkap hari ini, ia pun hanya melakukan apa yang diminta oleh rekannya.
Alena membawa beberapa kardus berisik Snack untuk acara pagi ini, namun karena kardus itu cukup berat membuat Alena sedikit kesusahan.
" Sini sini biar gue aja, berat "
Ucap seorang pria menghampiri Alena
" Raka.. Raka gue bisa ko "
" Bisa apanya sih, daritadi gue liat lo susah gitu "
Alena pun tersenyum
" Makasih ya "
" Sama sama Alena "
Raka dan Alena berjalan bersama menuju tempat acara, Nabila pun diam-diam mengambil foto mereka berdua.
...
Pagi ini Arven datang ke kampus Alena..
Tanpa Alena tau, Arven menjadi salah satu pengisi acara di kampusnya itu.
Arven mencoba mencari Alena, namun sejak ia datang tadi ia belum menemukan gadis itu.
Arven pun terus mencari, hingga akhirnya ia pun berhasil menemukan Alena.
Namun saat Arven hendak mendekati gadis itu, ia melihat seorang pria lebih dulu menghampiri Alena.
Pria itu memberikan minuman kepada Alena, bahkan ia juga mengusap kepala Alena.
Arven juga melihat Alena yang tertawa sambil memukul lengan pria itu.
" Gue aja belum pernah " ucap Arven tanpa sadar
Arven masih berdiri disana memandangi Alena, hingga Alena pun menyadari dengan kehadiran Arven.
" Arven " panggil Alena dengan tersenyum
Alena dan Raka berlari menghampiri dirinya.
" Lo disini ? " tanya Alena kepada Arven
" Hmm gue ngisi acara disini "
" Ohh, oh ya kenalin ini Raka "
" Hallo Ka, senang bisa bertemu dengan Ka Arven. "
" Hmm " Arven hanya tersenyum
" Ka Arven ternyata ga beda jauh ya sama di media sosial, ganteng, hebat. Masih muda tapi bisa jadi CEO " ucap Raka memuji Arven
" Terimakasih " ucap Arven singkat
" Yaudah Al, gue kesana duluan ya nanti lo temuin gue aja "
" Oke Raka "
Raka pun pergi meninggalkan Alena dan Arven.
" Pantes chat gue ga dibales " ucap Arven
" Gue sibuk banget Arven, dari jam 5 gue udah dikampus "
" Oh "
" Marah ? "
" Engga "
" Yaudah gue mau ke aula acara dulu "
Namun sebelum Arven melangkahkan kakinya, ia kembali berbicara dengan Alena
" Jangan pulang sama dia, sama gue aja "
Arven pun dengan langkah cepat pergi meninggalkan Alena
Nabila menghampiri Alena yang sedang menatap Arven yang mulai menjauh
" Wihh bukan main Alena "
Alena menoleh
" Bukan main apa sih Bil ? "
" Mainnya sama CEO "
" Nabilaaa "
" Raka juga ganteng, sehat pula "
" Nabila, udah ah gue masih sibuk "
Nabila pun hanya tertawa melihat Alena yang salah tingkah.
...
Sore hari setelah semua selesai, Alena pun bisa meninggalkan kampusnya.
Arven menunggu Alena didalam mobil hingga selesai acara.
Setelah cukup lama menunggu, Arven melihat Alena yang berjalan menuju mobilnya.
Namun saat Arven hendak keluar, ia melihat Raka yang menghampiri Alena.
" Dia lagi " ucap Arven dengan kesal
Arven tak tau apa yang keduanya bicarakan, tapi tak lama Alena pun kembali menghampiri mobil Arven.
Arven keluar dari dalam mobilnya, menyambut Alena yang sudah berada tepat dihadapannya.
" Sorry, lama ya ? "
" Masuk "
Arven membuka pintunya untuk Alena, segera Alena pun masuk kedalam mobil Arven.
Mobil Arven pun segera meninggalkan halaman kampusnya.
Sesekali Arven batuk, Alena yang merasa khawatir langsung memberikan Arven air.
" Berhenti dulu aja, minum dulu "
Arven pun menuruti Alena, ia pun menepikan mobilnya dan meneguk air yang Alena berikan.
" Udah minum obat belum ? " tanya Alena khawatir
" Belum "
" Minum dong, katanya mau hidup sampai 50 tahun. Dimana obatnya ? "
" Kantung Jas "
Alena mengambil obat dari saku jas Arven, kemudian ia menyuruh Arven untuk minum obat itu.
" Tadi gue liat, lo sempet pegang kepala beberapa kali "
" Lo pusing ya ? "
Tanya Alena dengan khawatir
" Sedikit "
" Yaudah habis ini lo istirahat, pasti lo cape kan ? "
" Iya "
Setelah selesai Arven pun kembali mengemudikan mobilnya.
Alena merasa ada yang berbeda dari Arven, sejak tadi pria itu lebih banyak diam dan sedikit lebih cuek.
" Lo kayaknya deket banget sama dia "
Ucap Arven tiba-tiba
" Dia siapa ? Raka ? "
" Hmm "
Alena tersenyum, ia pun menebak jika Arven sedang cemburu.
Namun bukan Alena jika tidak menjahili Arven.
" Lumayan sih "
" Raka itu ganteng, pinter, keren, perhatian "
" Banyak tau yang suka sama dia "
Arven menunjukkan wajah yang tidak suka
" Terus, lo juga suka sama dia ? "
" Hmm, belum sih. "
" Oh "
Alena semakin senang menggoda Arven
" Kenapa sih jutek banget sama gue "
" Lo marah sama gue ? "
Arven menggeleng
" Engga "
" Terus kenapa ? "
" Ohh atau lo bt ya nunggu gue lama ? "
" Engga "
Alena pun tersenyum
" Atau lo cemburu ya ? "
Arven langsung membantah
" Siapa juga yang cemburu "
" Oh berarti cemburu "
" Engga "
" Iyah "
" Engga Alena "
" Iya Arven "
" Ngapain juga gue cemburu, ga ada hak juga kan ? "
" Ya kalau mau cemburu juga ga apa apa sih "
Arven tak menjawab.
Om
Tapi Alena justru senang menggoda pria itu.
....
Malam hari Arven membuka buku catatan yang Alena berikan itu.
Arven pun menuliskan kembali di lembaran itu.
" 11. Menyatakan perasaan kepada Alena "
Cukup lama Arven memandangi catatan itu..
Ting..!!
Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
Pesan itu dari Alena..
[Alena : Berapa nilai gue hari ini ?]
Arven pun langsung membalas pesan itu
[Arven : 5/10]
[Alena : Loh yang bener aja ]
[Arven : Misi lo itu bikin gue jatuh cinta, bukan bikin gue kesel ]
Arven tidak sadar dengan apa yang ia tulis disana, ia pun langsung menarik pesan itu.
[Alena : Gue udah baca, ga perlu lo tarik]
[Arven : Salah ketik ]
[Alena : Ohh]
Arven mengetik dan menghapusnya
Mengetik dan kembali menghapus
Kemudian Arven kembali menatap buku yang masih terbuka itu, dan membaca point nomor 11 yang baru ia tulis.
" Gue takut Alena.. "
" Gue takut cuma ngasih luka nantinya "
Kepala Arven mulai sedikit pusing, ia pun langsung menutup layar ponselnya.
...
Alena menunggu Arven membalas pesannya, tapi setelah lama menunggu Arven tak juga membalas pesannya.
" Kebiasaan banget, ngetik tapi ga dikirim " ucap Alena
Ting..
Ponselnya mendapatkan notifikasi pesan..
Namun wajahnya berubah kecewa karena pesan itu bukan dari Arven, melainkan dari Nabila.
[Nabila : Foto]
[Nabila : Cocok juga Lo sama Raka ]
[Nabila : Tapi lebih cocok lagi sama Arven sih]
[Nabila : Sama Arven aja deh, nanti biar anak gue bisa gue jodohin sama lo ]
Alena tertawa membaca pesan terakhir dari Nabila.
" Anak.. ?? " ucap Alena sambil tersenyum
Alena pun kembali memikirkan Arven..
" Kayaknya gue gagal Arven.. "
Alena membuka ponselnya, menatap foto Arven yang ia tadi ia ambil saat acara