Penyesalan selalu datang di akhir!
Itulah yang dirasakan Rafa Zayano Faresta setelah dikirimkan pesan putus tiba-tiba dari sang pacar. Meski dia sendiri tidak serius hubungan itu karena hanya ingin memanfaatkannya untuk mendekati sahabatnya. Tapi saat pacarnya Riska Safira pergi jauh darinya maka di situlah dia menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina♡´・ᴗ・`♡, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di waktu pagi, meski malam sudah tergantikan tak membuat dua kaum adam melupakan kejadian semalam. Entah Rafa maupun Riska terus tersenyum sendiri di tempat masing-masing seperti orang yang baru kasmaran. Riska yang kini sudah mulai berani percaya pada Rafa lagi, tidak bisa melepaskan diri dari debaran bahagia yang memenuhi dadanya. Kejadian semalam membuatnya terus terngiang-ngiang hingga terbawa ke mimpinya. Saat pagi pun tiba raut bahagia terus menghiasi wajahnya.
Itu pun yang terjadi dengan Rafa, mendung sudah tergantikan dengan cerah, Suasana hati Rafa sudah menjadi lebih baik sekarang. Biasanya tidak pernah begitu ramah membalas sapaan baik itu dari orang tuanya maupun pelayan di sana. Tapi hari ini berbeda, setiap ada yang menyapanya maka akan dibalas disertai senyuman. Para pelayan tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya saat tuan mudanya sedikit berbeda dari biasanya, senang tapi terheran-heran itulah yang mereka rasakan.
"Pagi ma pa" sapa Rafa lebih dulu pada orang tuanya sambil mengambil posisi duduk di meja makan.
"Pagi sayang! tumben duluan nyapa biasanya mama aja" Entah sindiran atau pujian yang diberikan oleh sang mama, tapi hanya dibalas senyum terbaik dari Rafa.
"sepertinya kau sangat bahagia dari kemarin! bagi-bagi dong sama mama" ujar mamanya Rafa sambil memberikan putranya sarapannya.
"Kayak sembako aja dibagi-bagi" sahut Rafa bercanda. Harusnya mama Rafa merasa lucu dengan candaan Rafa, tapi dia justru melongo dengan mulut terbuka lebar.
"Hati-hati ma nanti lalat masuk" papanya Rafa yang juga di sana ikut nimbrung saat melihat respon istrinya yang berlebihan. wajar saja mama Rafa terkejut karena ini pertama kalinya dia mendengar putranya yang dingin dari kecil melepaskan candaan ringan.
Mama Rafa pun tersadar dan merapatkan mulutnya segera, "Papa dia beneran putra kita kan?" tanyanya ambigu.
"Maksud mama apa? Putra sendiri tidak dikenal" bukan papa Rafa yang menjawab tapi Rafa sendiri yang menjawab dengan nada ketus.
"No no putra mama bukan orang yang akan mudah melontarkan candaan, pasti kau sedang dirasuki jin kan?"
Perkataan sang mama langsung mengingatkan Rafa pada Riska tentang kejadian semalam yang mengatakan dirinya sedang kemasukan jin. Kenapa mereka memiliki pemikiran yang sama? Apa ini yang dinamakan ikatan antara mertua dengan sang menantu? memikirkannya saja membuatnya tidak bisa menahan tawa gelinya.
"Lihat pa putra kita tiba-tiba tertawa sendiri, pasti beneran kemasukan jin! Ayo pa kita panggil orang ahli untuk mengusirnya" pekik mama Rafa heboh sendiri dan membuat para pelayan saling pandang merasa bingung.
Papa Rafa menghembuskan nafas pelan, Istrinya sangat berlebihan sekali. Padahal putra mereka hanya sedang bahagia dan dia tau apa penyebabnya, jadi dia tidak akan seterkejut itu melihat sikap berbeda putranya. Tapi istrinya bukannya senang malah berpikir aneh. Huh benar-benar..
"Ma dengar! Rafa tidak sedang kemasukan jin atau apalah itu tapi saat ini Rafa sedang sangat bahagia jadi berhenti berpikir aneh. Kalian lanjut sarapan aja, Rafa mau berangkat kerja dulu" bangun dan pamit pada mereka tanpa memperdulikan mamanya yang masih penasaran dengan perkataanya.
"Apa yang membuat dia sebahagia itu? Apa papa tau?" melirik suaminya namun dia hanya mengangkat bahu acuh dengan tetap lanjut memakan sarapannya. Rasa penasaran pun memenuhi wajah sang nyonya Faresta.
Di luar Rafa sudah di tunggu oleh sekretarisnya di depan mobil. Ryan dengan siaga membukakan Rafa pintu. Kemudian mobil mereka melaju meninggalkan mansion Faresta.
Di dalam kendaraan Rafa membuka ponsel pintarnya untuk menghubungi pujaan hatinya."selamat pagi" sapanya lembut setelah sambungan terhubung.
Riska yang kebetulan juga baru keluar dari apartemen untuk pergi ke rumah sakit langsung mengangkat panggilan dari Rafa. "Selamat pagi" membalas sapaan Rafa dengan sedikit gugup.
"Kau sudah berangkat kerja?" tanya Rafa.
"Ini mau berangkat" sahut Riska sudah masuk lift.
"Maaf ya aku tidak bisa mengantarmu karena pagi ini ada meeting yang tidak bisa ditunda" Ryan melirik bosnya yang terlihat sedih karena tidak bisa mengantar wanita pujaannya. Ia cukup terkejut mendengar nada bicaranya yang sangat lembut belum lagi perkataan maafnya yang sangat langka. Apa itu artinya mereka sudah kembali baikan?
"nggak papa aku kan bisa naik taksi, kau selesaikan saja urusanmu dulu" senang rasanya diperhatikan oleh pria yang sangat Riska cintai dari dulu.
Rafa tersenyum "baiklah sayang aku akan mendengarkan mu. Nanti malam aku mengunjungi mu ke apartemen, boleh kan?" di kursi depan Ryan bergidik ngeri mendengar kata sayang keluar dari mulut bosnya. Tidak ada yang salah tapi merasa aneh mendengarnya. Bolehkah dia mengatakan jika bosnya sudah bucin akut pada dokter cantik itu? Mungkin kedepannya dia harus menyiapkan dirinya yang jomblo ini untuk tetap tabah melihat mereka jika akan bermesraan didepannya.
Sedangkan di posisi Riska pipinya memanas mendengar panggilan sayang dari Rafa. Ia belum terbiasa mendengar panggilan itu, jantungnya kapan saja akan berdegup dengan kencang.
"Sayang bolehkan?" Rafa kembali bertanya saat Riska belum juga menjawabnya.
"te-terserah kau. ya udah aku tutup dulu bye" mematikan sambungan dengan cepat lalu menenangkan dadanya yang seperti dipompa. Ia juga menormalkan warna pipinya agar tidak mendapat pandangan aneh dari sopir taksi.
"Riska tunggu.." terlambat, Riska lebih dulu mematikannya. Padahal Rafa belum ingin mengakhiri obrolannya. Ia pun hanya bisa mendesah kecewa tapi kembali senang saat Riska mengizinkannya untuk berkunjung ke apartemennya.
"Ryan pastikan jadwal tidak sampai malam. Aku harus pulang kerja tepat waktu agar bisa menemui gadisku" tersenyum bangga saat menyebut kata gadisku. Seolah pamer pada Ryan jika dirinya tidak jomblo lagi.
"Baik tuan Rafa saya mengerti" tetap menurut meski kesal melihat kesombongan bosnya.
"Oh ya bagaimana perkembangan dengan tugas yang aku berikan?" Tiba-tiba serius.
Ryan melirik bosnya dari kaca spion sebelum menjawab, "Seperti yang anda bilang, jika ada yang ganjal dengan keluarga itu. Tapi masih terasa sulit untuk menemukan hal aneh itu, Karena pandu wijaya orang yang sangat berhati-hati"
"Jangan menyerah! Pasti ada celah yang bisa ditembus! kau harus lebih berusaha lagi!" ujar Rafa tegas.
"Baik tuan Rafa. Anda tenang saja saya pasti akan berusaha lebih keras lagi" jawaban Ryan langsung memberikan kepuasan pada Rafa.
'ku harap kau tidak mengecewakan ku Ryan'
udah gak sabar nunggu kelanjutannya cerita nya 😍