NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Penggeledahan

Di balik meja kayu ek hitam yang kokoh di ruang kerjanya, Panglima Huwky berdiri memunggungi ruangan, menatap hamparan lampu kota Sektor Militer yang berkerlip dingin di balik jendela kaca anti peluru. Asap cerutu tipis mengepul dari jemarinya, menciptakan aroma khas yang memenuhi udara.

Pintu ruangan berdesing pelan. Langkah kaki tegap berdentum di atas lantai marmer, lalu berhenti dengan sikap hormat yang sempurna.

"Lapor, Panglima. Komandan Pasukan Keamanan Militer, memenuhi panggilan," ucap perwira berzirah taktis hitam dengan tiga balok perak di pundaknya, pria yang sama yang menyeret Carson tadi pagi.

Panglima Huwky tidak langsung berbalik. Ia menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke kaca jendela. "Bagaimana kondisi tahanan kita di bawah?"

"Saudara Carson tidak melakukan pergerakan apa pun. Dia tampak sangat kelelahan, namun kesadarannya masih terjaga penuh."

Huwky terkekeh rendah, sebuah tawa kering yang sarat akan kelicikan. Ia berbalik perlahan, menatap komandan di depannya dengan mata elang yang menyipit. "Dia anak muda yang menarik. Sangat tenang, sangat analitis. Bahkan di bawah tekanan dan siksaan, otaknya masih bisa menyusun gertakan yang meyakinkan."

"Mohon izin bertanya, Panglima. Apakah kita benar-benar akan menunda penggeledahan apartemennya sampai besok pagi seperti yang Anda katakan padanya?"

Huwky berjalan mendekati mejanya, mematikan puntung cerutu di atas asbak logam dengan tekanan kasar. "Menunda? Sejak kapan Sektor Militer tunduk pada warga sipil, Komandan?"

Komandan itu tertegun sejenak. "Tapi, Anda tadi mengatakan kepada tersangka bahwa—"

"Itu hanya umpan, Komandan. Hanya kata-kata di mulut untuk membuatnya merasa sedikit lega," potong Huwky, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin. "Orang yang merasa aman cenderung akan menurunkan pertahanannya. Jika aku mengatakan akan menggeledahnya sekarang, otaknya yang pintar itu pasti akan mencari cara untuk mengirimkan sinyal darurat ke luar."

Huwky menopang kedua tangannya di atas meja, condong ke depan dengan tatapan mengintimidasi. "Gerakkan timmu sekarang. Lakukan penggeledahan total ke apartemen anak itu tengah malam ini juga. Hindari atensi publik dan jangan biarkan ada satu pun kamera pengawas sipil yang merekam pergerakan kalian."

"Siap, laksanakan! Lalu, apa yang harus kami cari, Panglima?"

"Semuanya," desis Huwky tajam. "Jangan cuma mencari tumpukan jatah pangan militer yang dicurinya. Cari apa saja yang membuat dia begitu nekat melindungi apartemen itu. Instingku mengatakan, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar makanan di dalam sana. Periksa setiap sudut, setiap celah dinding. Jangan lewatkan apa pun."

"Dimengerti, Panglima. Pasukan bergerak sekarang." Komandan itu memberi hormat satu kali lagi sebelum berbalik dan melangkah cepat keluar ruangan.

...***...

Sementara itu, di dalam apartemen Nezha, keheningan malam terasa begitu mencekam.

Jarum jam digital di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ruangan itu sunyi, hanya menyisakan dengung rendah filter udara yang terdengar seperti hitungan mundur yang menyiksa. Nezha duduk di tepi kasur, kedua tangannya meremas ujung kaos longgar yang dikenakannya. Matanya tidak lepas dari panel kayu di dalam lemarinya yang masih tertutup rapat.

Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Gelisah. Rasa mual yang sempat mereda kini kembali merayap di ulu hatinya, dipicu oleh rasa cemas yang luar biasa.

'Carson... kamu di mana?' batin Nezha, napasnya mulai memburu.

Nezha masih ingat dengan jelas ucapan Carson beberapa pekan yang lalu, dimana untuk beberapa pekan ke depan, Carson akan pulang lebih cepat. Tapi sekarang? Ini sudah lewat tengah malam, dan tidak ada tanda-tanda kepulangan Carson sama sekali. Rasanya Nezha ingin menghubungi Carson saat itu juga, menanyakan perihal di mana kah Carson sekarang, kenapa belum pulang, tapi itu mustahil. Pesan seperti itu hanya akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu. Terlebih dirinya sedang menyembunyikan rahasia yang lebih besar.

Karena tidak sanggup lagi menahan rasa sesak di dadanya, Nezha bangkit berdiri. Dengan langkah cepat namun senyap, ia membuka lemari pakaiannya, menggeser panel kayu rahasia, dan menyelinap masuk ke dalam celah dinding beton yang gelap.

Ia mendorong panel kayu di ujung seberang, melangkah keluar ke dalam kamar apartemen Carson.

Suasana di dalam apartemen Carson sangat sepi, dingin dan gelap. Hanya ada pendar cahaya biru redup dari indikator kulkas di sudut dapur. Nezha melangkah perlahan ke ruang tengah, lalu ke dapur, memastikan apakah pria itu mungkin pulang tanpa memberi tahunya. Namun, nihil. Ruangan itu terasa kosong seperti tak berpenghuni.

Nezha menggigit bibir bawahnya, bersiap untuk kembali ke kamarnya sendiri ketika tiba-tiba—

Pip. Bzzzzt.

Suara halus dari mekanisme kunci digital pintu depan apartemen Carson berbunyi. Jantung Nezha mendadak berhenti berdetak selama satu detik penuh.

'Carson?' Nezha refleks melangkah maju satu langkah dengan binar harapan di matanya.

Namun, harapan itu hancur seketika saat pintu itu terbuka. Bukan suara langkah kaki tunggal Carson yang terdengar, melainkan riuh langkah sepatu bot berat yang kaku dan tersistematis. Lebih dari satu orang.

"Satu orang amankan area dapur, dua orang periksa kamar tidur dan ruang utama. Lakukan dengan cepat dan senyap," sebuah suara bariton yang dingin dan asing memberikan komando dari arah pintu depan.

Itu Pasukan Keamanan Militer.

Alarm bahaya di kepala Nezha berdering histeris. Seluruh bulu kudunya meremang. Mengabaikan rasa lemas di kakinya, Nezha berbalik arah secepat kilat. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, ia berlari tanpa alas kaki melintasi ruang tengah yang gelap, menerobos masuk ke dalam kamar tidur Carson, dan langsung melompat ke dalam lemari pakaian yang terbuka.

Sret!

Tepat saat panel kayu rahasia itu ia tarik dari dalam untuk menutup celah dinding, pintu kamar tidur Carson terbuka lebar diiringi sorotan lampu senter yang benderang.

Klik.

Nezha berhasil mengunci panel kayu dari dalam kegelapan celah dinding. Jantungnya berpacu ekstrem, berdegup begitu keras hingga ia takut suaranya bisa menembus beton. Tubuhnya bergetar hebat di dalam ruang sempit yang gelap gulita itu. Dengan tangan yang gemetar, ia menempelkan telinganya erat-erat ke permukaan panel kayu penghubung, mencoba menangkap apa yang sedang terjadi di luar sana.

'Kenapa pasukan keamanan militer ada di apartemen Carson? Apa yang terjadi? Di mana Carson sekarang?'

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar, membuat air mata kepanikan mulai menggenang di sudut mata Nezha. Namun, ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menolak mengeluarkan suara sekecil apa pun.

Di seberang dinding, di dalam apartemen Carson, suasana terasa dingin dan mencekam.

"Komandan, di sini!" seru salah satu petugas dari area dapur.

Komandan Pasukan melangkah ke dapur. Petugasnya baru saja membongkar salah satu kabinet bawah dan mengeluarkan beberapa kotak logam tebal berlogo khusus. "Ini jatah pangan khusus militer, Komandan. Jumlahnya sesuai dengan laporan anomali mingguan yang hilang dari gudang logistik."

Komandan itu mengangguk datar. "Amankan sebagai barang bukti utama. Lanjutkan pemeriksaan."

Petugas kedua yang memeriksa meja kerja Carson di sudut ruangan menyalakan layar monitor kecil yang terhubung dengan beberapa tabung mikroskopis. "Ada beberapa instrumen penelitian di sini, Komandan. Tampaknya ini adalah perangkat sintesis senyawa organik tingkat lanjut yang dia bawa dari laboratorium. Semuanya memiliki kode enkripsi resmi dari Laboratorium Kesehatan."

Komandan itu berjalan mendekat, memeriksa dokumen yang berserakan. Semuanya tampak rapi, terstruktur, dan persis seperti alibi yang diucapkan Carson di ruang interogasi tadi siang. "Berarti anak itu tidak berbohong soal proyek rahasia yang sedang dia kerjakan. Selebihnya, bagaimana? Ada hal mencurigakan lain?"

"Semuanya normal, Komandan. Tidak ada indikasi perangkat komunikasi ilegal atau material berbahaya lainnya."

Petugas ketiga, yang sejak tadi bertugas memeriksa kamar tidur, berjalan memutari ranjang Carson yang kosong. Sorot lampu senternya menyapu lantai, kolong tempat tidur, hingga berhenti tepat pada lemari pakaian kayu yang pintunya sedikit terbuka setengah, celah yang ditinggalkan Nezha karena terburu-buru tadi.

Petugas itu menyipitkan matanya. Ia melangkah mendekat, sepatu botnya berdecit pelan di atas lantai vinil.

Di balik dinding, Nezha bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah lemari. Rasa takut yang begitu pekat mencengkeram dadanya hingga ia merasa sesak napas. Ia tahu, di balik tumpukan baju di dalam lemari Carson itu, struktur panel kayu belakangnya akan terasa ganjil jika diketuk atau diperiksa secara saksama oleh tangan terlatih seperti tangan petugas militer.

Sret...

Pintu lemari kayu itu ditarik terbuka sepenuhnya oleh petugas tersebut. Sorot lampu senter yang sangat terang menembus celah-celah gantungan baju, memantulkan bayangan kain ke dinding bagian dalam.

Petugas itu menjulurkan tangan kanannya, menyibak beberapa jaket tebal milik Carson untuk memeriksa kedalaman lemari. Jemarinya yang bersarung tangan lateks hitam sempat menyentuh permukaan kayu panel rahasia, tepat di titik di mana Nezha sedang berdiri membeku di balik dinding seberang.

Nezha memejamkan matanya rapat-rapat, berdoa dalam hati demi keselamatan bayinya dan dirinya sendiri.

Petugas itu mengetuk permukaan kayu panel itu dua kali secara kasual. Suaranya terdengar padat, berkat lapisan baju tebal yang sengaja disusun Carson untuk meredam gaung rongga di baliknya.

"Hei, cepat sedikit! Kita tidak punya banyak waktu sebelum shift penjaga gedung berganti!" seru Komandan dari ruang tengah.

Mendengar teriakan komandannya, petugas di dalam kamar itu mendengus. Ia menarik kembali tangannya, merasa tidak ada yang aneh dengan isi lemari yang hanya berisi pakaian standar pada umumnya.

"Aman, Komandan! Tidak ada apa-apa di sini!" seru petugas itu kembali. Ia mendorong pintu lemari itu hingga tertutup rapat, lalu berbalik melangkah keluar dari kamar tidur.

Di ruang tengah, Komandan Pasukan memberikan isyarat untuk menyudahi operasi. "Bawa kotak logistik itu. Kita kembali ke markas dan laporkan hasilnya pada Panglima. Tersangka tidak berbohong tentang barang bukti dan proyeknya, penggeledahan selesai."

Langkah kaki keempat petugas itu bergerak serempak menuju pintu depan. Suara pintu yang menutup dan desing pengunci otomatis yang aktif kembali menandakan bahwa apartemen Carson telah ditinggalkan dalam keadaan kosong seperti semula.

Di dalam celah dinding yang gelap, Nezha perlahan merosot duduk di atas lantai beton yang dingin. Seluruh tenaganya seperti runtuh seketika. Napasnya terengah-engah dalam keheningan yang luar biasa senyap. Pengawas keamanan militer itu sudah pergi, dan rahasianya juga Carson aman untuk malam ini.

Namun, air mata Nezha akhirnya tumpah dalam kegelapan. Ia tahu, jika pengawas keamanan militer sampai menggeledah apartemen ini tengah malam, itu berarti Carson saat ini sedang berada dalam bahaya yang sangat besar di luar sana.

1
Rudy satria
kapan avnan di rekrut jadi anggota tim cari jalan kapur carson,jangan lama²😅
Rudy satria
semoga carson bisa menemukan jalan keluar,supaya kita bisa ketemu emm tapi kalo udah keluar jangn ke negara Konoha ya carson pemerintah nya sama,sama² menindas rakyat🤭🤭
ririma: waduh, kayaknya carson juga bakal mikir dua kali kalau mau pindah ke sana kak😅
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir bg
Rudy satria
mudah²n kalo
i ini panglima berbuat baik
Rudy satria
semakin kuat kalo avnan mau di ajak gabung,hancurkan negara yang memiliki peraturan di luar loh 😅😅😅
Rudy satria
iiih ternyata teman👏👏
ririma: yeayy👏🏻
total 1 replies
kabur ke luar negeri aja🤭
berati udah gak ada lagi hiburan model gituan, hambar banget idupnya, apa maen sendiri juga bakal kena pasal?🤭
berati orang-orang di sini gadak yang nikah juga kah?
ririma: yap,,
total 1 replies
jadi buron dong ya
ririma: iya kalau ketahuan tapi kak, untungnya sejauh ini masih aman kak
total 1 replies
wkwk, baru juga pembukaan🤭
halo kak, aku mampir🤭
Rudy satria
nah bylla itu penuh misteri yang tak terduga,mudah²n si dia kekasih avnan,mereka berempat kalo bersatu bisa semakin kuat dan mungkin mereka bisa menembus pertahanan pemerintah
Rudy satria
mudah²n si itu bylla,dan juga mudah²n bylla mendukung dan tidak menangkap Nessa+carson
Rudy satria
👏👏🥳🥳keren, sebelum nya saya slalu baca yang retingnya sudah tinggi atau pembacanya banyak itu di pastikan bagus,nggk sengaja ngeklik novel yang mungkin author nya baru merintis sungguh karyamu keren Thor semoga saya bisa ngawal sampai kamu sukses,saya yakin dengan cerita yang rumit saja bisa di pahami saya yakin kamu bakal sukses semangat terus Thor🥰🥰🥰🥰
ririma: maaf kak, irl lagi sibuk soalnya, sekarang uda up kok, bisa langsung di cek yaa😊
total 3 replies
Rudy satria
benar² pejabat yang kurang teliti pantes gampang di tipu,selamat carson semoga bisa dapat jalan keluar👏👏
Rudy satria
astaghfirullah ikut deg,deg,degan aku,untung komandan militernya masih keturunan Konoha jadi bisa di tipu😅😅😅
Rudy satria
apakah panglima,beneran percaya atau malah sudah menuju apartemen carson
Devi..
seru dan unik ceritaanya thor..semoha bisa berlanjut smpai selesai ceritanya😊
ririma: terima kasih banyak kak🥰, aamiin semoga ya kak
total 1 replies
Devi..
serius kyk d konoho TNI.nya diistimewakan..😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!