Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 21 Pengaman Segel Terbuka
Menderita tapi bahagia. Itulah kondisi jiwa Purwasaga saat ini.
Ia merasa menderita gegara jejak yang ditinggalkan oleh semut seramah-ramah di kejantanannya. Namun, ia pun merasa bahagia karena mengambili telur lolot seperti seorang petani yang sedang panen raya.
Karena gua yang ia gunakan untuk keluar berbeda dari gua tempat ia masuk, Purwasaga memilih mengambil tiga telur lolot biasa lagi dan ia kumpulkan di mulut gua. Ia memilih telur warna merah, hijau dan biru.
Yang terakhir adalah pergi mengambil telur emas yang terlarang.
Tips untuk menghindari semut seramah-ramah adalah dengan cara tidak berhenti melangkah.
“Seraaang!”
Baru saja komandan semut berkomando kepada pasukannya untuk menyerang kaki Purwasaga, kaki itu sudah pergi lagi. Komandan semut dan pasukannya pun hanya bisa hempaskan napas kecewa dan mengelus dada.
“Cepat serbuuu!” teriak komandan semut di area yang lain.
Lagi-lagi kaki Purwasaga lebih cepat melompat pergi.
Kira-kira seperti itulah kondisi yang dialami oleh semut seramah-ramah.
“Lain kali kita harus memiliki sayap,” kata komandan semut kepada komandan yang lain di dalam diskusinya. Para semut itu hanya bisa memandangi Purwasaga menjajah wilayah keamanan mereka.
Namun, agak berbeda kondisi ketika Purwasaga sedang berupaya mengambil telur bercangkang kuning emas.
Di area bawah telur emas ternyata penuh oleh semut seramah-ramah, seolah-olah di situlah letak istananya alias sarangnya.
Melihat keramaian semut yang bertumpuk-tumpuk, seolah-olah sedang memikul telur emas yang sangat besar bagi mereka, Purwasaga hanya tersenyum jahat.
“Waktunya balas dendam!” ucapnya dengan tatapan tajam kepada komunitas serangga itu.
Cuss!
Purwasaga kembali menyalakan ilmu Genggaman Merah Putih di kedua tangannya. Sebelum ada seekor pun semut seramah-ramah yang mendatangi kakinya, Purwasaga lebih dulu menyentuh cangkang atas telur emas tersebut dengan kesepuluh jari tangannya.
Tup tup tup…!
Sinar putih bergerak dari atas cangkang seperti cat ditumpahkan. Ketika lapisan sinar putih itu mengenai para semut, maka terjadilah letupan-letupan kecil yang ramai.
Semut-semut itu ramai berletupan. Ramainya populasi di area bawah telur paling tinggi itu membuat suara letupannya sangat ramai, seperti petasan pengantin sunat.
Pemanggangan massal itu benar-benar menjadi pembantaian terhadap bangsa semut seramah-ramah. Aroma sangit bahkan sampai menebar dan tercium tajam oleh hidung Purwasaga.
Namun, sang pendekar tidak peduli. Membawa telur lolot warna emas itu telah menjadi ambisinya.
Setelah melihat kaum semut itu telah hangus menjadi pasir hitam, Purwasaga lalu mulai mencoba mengangkat telur emas dengan kedua tangannya yang sudah dialirkan tenaga dalam.
“Hekr!”
Namun, telur emas itu tidak langsung terangkat, berbeda dengan telur-telur sebelumnya, sampai-sampai Purwasaga mengeluarkan suara mengeden.
Sejenak Purwasaga menghentikan tenaganya. Ia menarik napas panjang, lalu mengerahkan tenaga dalam lebih besar.
Ia kembali memeluk telur emas.
“Hiaaat!” pekik Purwasaga sambil mencoba mengangkat kembali telur itu.
Kreekr!
Akhirnya telur itu terangkat, tetapi seiring itu terdengar suara dan ada rasa berat seperti sesuatu yang tersangkut. Purwasaga melihat ke bawah telur yang diangkatnya, ternyata bawah telur memiliki seutas buntut yang ujung lainnya tertanam ke dalam, terjepit di antara telur-telur yang ada di bawahnya.
Yang mengejutkan Purwasaga, ada sejumlah semut jumbo yang keluar dari lubang buntut telur yang tertanam. Besar semut-semut itu tiga kali lipat dari semut seramah-ramah pada umumnya.
Krak!
Karena kedua tangannya sedang memeluk telur, Purwasaga cepat menggunakan kakinya untuk menginjak semut terdepan yang hendak mendatangi kakinya. Terdengar suara cangkang yang remuk oleh injakan. Namun, itu tidak membuat semut yang lain mundur.
Krak! Krak! Krak!
“Akk!” jerit Purwasaga cukup kencang setelah berulang kali kakinya menginjak semut-semut jumbo tersebut.
Satu semut telah berhasil menggigit tumit kiri Purwasaga. Melihat semut jumbo semakin banyak yang mendatangi kedua tangannya, Purwasaga segera bertindak.
“Aakkkrr!” teriak Purwasaga sambil bergerak mundur dan menarik kencang telur yang dipeluknya.
Buntut yang melekat kuat pada bawah telur ikut tertarik lebih panjang.
Tek!
Tarikan itu kemudian terhenti, seperti sedang tersangkut di perut bumi.
“Hiaaattt!” teriak Purwasaga lebih histeris sambil mengerahkan tenaga dalam lebih tinggi untuk membetot ekor telur yang panjang.
Tus! Blugk!
Terdengar suara seperti tali yang putus. Buntut telur itu memang putus. Akibatnya, Purwasaga terjengkang dan jatuh bergulingan ke bawah. Telur emas yang dipeluknya lepas dan ikut menggelinding ke titik yang lebih rendah.
Ketika buntut telur emas itu putus, pada saat yang sama di tempat lain, tepatnya di dalam Makam Pasukan Penghancur, terjadi sesuatu.
Di depan Makam Pasukan Penghancur yang ada di dalam kawasan daerah terlarang ada sebuah kolam besar berair ungu. Di tengah-tengah kolam berdiri tiga buah tugu batu berbentuk tiang batu berukir.
Ketiga tugu itu memiliki warna yang berbeda, yaitu kuning emas, merah terang dan ungu terang. Posisinya berbaris lurus satu garis ke arah gerbang besar makam yang berwarna hitam.
Bertepatan dengan putusnya buntut telur emas lolot, tugu warna kuning emas di kolam tiba-tiba bergerak turun dengan sendirinya, masuk ke dalam air secara perlahan.
“Lihat!” seru seorang prajurit jaga di pos dalam kepada rekannya.
Tunjukan prajurit berambut hijau model botar alias botak area bawah itu, membuat empat rekannya segera menengok melihat ke arah kolam. Mereka semua menyaksikan dengan jelas tugu warna kuning bergerak turun perlahan masuk ke dalam air ungu.
“Pengaman pertama segel makam dibuka!” kata salah satu dari para prajurit berseragam merah-merah terang itu terkejut.
“Berarti ada orang yang ingin membangkitkan Pasukan Penghancur Samudera!” kata yang lain dengan nada tegang.
“Cepat panggil Komandan Oon!” perintah prajurit yang pertama melihat kejadian di kolam, tetapi justru dia yang pergi berlari pergi. Dia pergi untuk melapor kepada komandannya, bukan pergi untuk urusan kakus.
Keempat prajurit penjaga itu tetap berdiri memerhatikan tugu yang masih bergerak turun memperpendek ketinggiannya. Mereka memang tidak bisa berbuat sesuatu untuk menghentikan pergerakan tenggelamnya tugu itu selain hanya menjadi saksi hidup.
Dibutuhkan waktu lima belas menit untuk mendatangkan Komandan Oon ke tempat itu.
Drap drap drap!
Komandan Oon datang dengan berkuda. Dia berkuda bukan karena dia seorang komandan, tetapi karena jarak tempuhnya dari pos depan lumayan jauh. Tidak terlihat prajurit yang tadi pergi untuk memanggilnya.
Komandan Oon menghentikan kudanya tepat di pinggir kolam. Ia tidak turun dari pelananya. Wajah bercambang merahnya serius memandangi tugu yang tinggal setinggi beberapa jengkal.
“Ini jelas rencana pemberontakan,” ucapnya kepada dirinya sendiri.
Komandan berbadan besar dan berjubah merah terang itu segera didatangi oleh keempat prajurit berseragam merah ketat.
“Jika tugu kedua nanti turun, segera kirim prajurit menyusul ke Istana!” perintah Komandan Oon kepada keempat anak buahnya.
“Baik, Komandan!” jawab keempat prajurit tersebut sambil menjura hormat.
Komandan Oon lalu memutar balik arah kudanya.
“Hae hae!” gebah Komandan Oon. Ia dan kuda besarnya segera meninggalkan tepian kolam dan pergi ke arah dia tadi datang.
Saat itu juga, Komandan Oon pergi ke Istana untuk melapor tentang turunnya tugu warna kuning yang merupakan pertanda bahwa pengaman pertama segel Makam Pasukan Penghancur Samudera telah diretas. (RH)
hahhhh