Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : DI BAWAH TATAPAN YANG MENGHAKIMI
...BAB 17...
...DI BAWAH TATAPAN YANG MENGHAKIMI...
Pintu gedung kepolisian tertutup pelan di belakang mereka. Alina berjalan tertatih, wajahnya seputih kapas, kedua tangannya masih gemetar hebat. Baru saja dua jam dia diperiksa bertubi‑tubi, dituduh memalsukan dokumen, menggelapkan dana klien, terancam izin advokat dicabut seumur hidup, dan ditetapkan sebagai tersangka resmi. Semua bukti tertata rapi seolah dialah otak dari segala kejahatan. Padahal dia sama sekali tidak pernah menyentuhnya.
Farhan segera merangkul bahunya erat, menuntunnya duduk di bangku panjang teras. Napas Alina memburu, air mata akhirnya tumpah juga setelah ditahan mati‑matian di dalam ruang pemeriksaan.
“Han… rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Semua orang memandangku seolah aku penjahat paling besar. Bukti‑bukti itu… semuanya seolah nyata sekali. Sampai aku sendiri hampir ragu sama diriku,” suaranya pecah tertahan isak.
Farhan mengusap lembut air mata di pipinya dengan sapu tangannya menatap lurus ke manik matanya dengan tegas, tidak ada sedikit pun keraguan di sana.
“Dengar aku baik‑baik, Lin. Aku tidak peduli seberapa sempurna bukti yang mereka susun. Aku tidak peduli apa omongan semua orang di luar sana. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu betapa kerasnya kamu berjuang bertahun‑tahun cuma supaya nama Ayahmu Pak Aditya bisa kembali tegak terhormat. Kamu rela tidur sedikit, makan seadanya, menjaga agama dan kehormatanmu mati‑matian, cuma supaya suatu hari Ayah bisa tersenyum bangga. Orang sebaik itu tidak mungkin berbuat hal‑hal keji seperti tuduhan mereka. Aku di sini. Aku tidak akan kemana‑mana. Sampai kapan pun aku akan berdiri di sebelahmu membuktikan kamu tidak bersalah.”
“Tapi izin praktik ku, Han… mereka bilang hampir pasti akan dicabut selamanya. Cita‑citaku selama ini… semuanya untuk Papa…”
“Izin bisa diurus ulang, nama baik bisa dibersihkan kembali. Tapi kamu cuma satu. Selama kamu masih ada, masih berjuang, semuanya masih bisa diperbaiki. Kita lawan pelan‑pelan ya? Bersama.”
Belum sempat Alina menjawab, langkah tenang mendekat dari samping. Arka berdiri di sana dengan wajah penuh prihatin, di tangannya ada botol air minum dingin dan sebungkus obat penenang ringan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Alina yang basah oleh air mata, dan sekejap saja terlihat kilatan sakit yang sangat dalam di matanya — kilatan yang hanya dia sendiri yang tahu artinya. Dialah yang merakit semua bukti palsu itu. Dialah yang mengatur agar surat ancaman pencabutan izin itu sampai ke meja pimpinan. Dialah yang melaporkan ke polisi dengan data yang dia ubah sendiri. Dan dialah yang selama lima tahun penuh selalu mengawasi, menyadap, mengintai dari kejauhan, melihat bagaimana Alina berjuang merawat ayahnya yang sakit parah akibat ulahnya dulu menjalankan perintah ayahnya Haris. Dendam lama sudah lama mati, berganti rasa bersalah yang menyiksa dan cinta yang begitu dalam sampai memakan akal sehatnya.
“Lin… Farhan… aku dari tadi menunggu di luar,” ucap Arka pelan, suaranya begitu lembut, begitu penuh belas kasih, sampai siapa saja yang mendengar pasti akan meleleh hatinya. Dia mengulurkan botol itu ke arah Alina. “Aku dengar sedikit dari luar. Sungguh aku tidak tega melihat kamu seperti ini. Aku yakin sekali ada kesalahan besar yang terjadi di suatu tempat. Tidak mungkin kamu berbuat semua itu.”
Alina mengangkat wajah lemas. Pandangannya kosong menatap Arka. Di satu sisi dia aneh, kenapa pemuda ini satu‑satunya orang yang masih mau mendekat, saat hampir semua orang lain sudah mulai membuang muka. Di sisi lain, firasat aneh yang selalu ada di hatinya berbulan‑bulan lalu kembali berdenyut pelan.
“Terima kasih, Arka. Kamu terlalu baik sekali,” jawab Alina pelan, menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetar.
“Apa gunanya kita dianggap saudara kalau tidak saling bantu di saat susah? Kalau butuh apa saja — urus surat, cari saksi, bicara dengan orang, bahkan sekadar didengarkan saja — telepon aku kapan saja, pagi siang malam. Aku siap turun tangan apa saja buat kamu dan keluarga. Aku tahu betapa beratnya kamu berjuang selama ini, menjaga diri, berusaha keras supaya Pak Aditya tenang di rumah dan tidak makin sakit mendengar hal‑hal yang tidak‑tidak.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya begitu wajar, padahal di dalam hati Arka berdebar kencang. Dia tahu betul kondisi ayah Alina sampai ke detail terkecil, tahu betul Alina berusaha keras menutupi semua masalah ini agar lelaki itu tidak jatuh sakit parah lagi — semuanya dia ketahui lewat alat sadap yang selalu dia bawa di saku dalam baju, saksi bisu lima tahun cintanya dalam diam. Dia ingin sekali memeluk wanita itu erat‑erat saat itu juga, menghapus setiap air mata, berteriak jujur bahwa semuanya bohong, akulah yang buat semua ini, maafkan aku. Tapi dia menahan diri. Jalannya sudah terlalu jauh. Logika hatinya yang sesat berbisik, biarkan semua orang pergi dulu, baru akulah satu‑satunya yang tersisa.
Farhan hanya mengangguk kaku. Dia berterima kasih, tapi di lubuk hatinya tetap ada curiga aneh yang sulit dijelaskan.
Mereka bertiga berjalan pelan kembali ke arah perumahan. Namun suasana berubah drastis begitu masuk ke lingkungan tempat tinggal. Ibu‑ibu yang sedang duduk mengobrol di beranda depan, seketika hening serentak begitu melihat sosok Alina lewat.
“Nah itu dia, lihat sendiri katanya advokat terhormat, ternyata di belakang malah curi uang orang,” bisik salah satu cukup keras hingga terdengar jelas.
“Katanya saleh, rajin shalat, penampilan selalu tertutup rapat. Ternyata cuma topeng saja. Kasihan sekali Pak Aditya yang sudah sakit‑sakitan, malah dapat aib begini dari anak sendiri,” sahut yang lain sambil membuang muka.
Saat Alina berhenti sejenak di depan warung langganan bertanya beras, pemilik warung itu hanya melirik dingin sambil mengelap meja.
“Habis, Lin. Sudah diambil orang lain,” jawabnya singkat dingin, padahal jelas terlihat karung beras masih banyak menumpuk di sudut ruangan. Tak lama kemudian pagar rumah tetangga sebelah ditutup rapat dengan bunyi yang cukup keras, persis saat mereka lewat di depannya.
Alina menunduk dalam‑dalam, bahunya makin terkulai lemas. Rasa ingin menangis kembali datang, kali ini bukan karena polisi atau surat ancaman, tapi karena orang‑orang yang selama ini dia anggap tetangga sendiri, begitu mudahnya berbalik menjauh hanya dalam hitungan hari.
“Jangan didengar, Lin. Jangan dilihat. Pendapat mereka tidak ada harganya dibanding kebenaran,” bisik Farhan erat menggenggam kedua lengan Alina yang memakai blouse kerjanya. Menatap calon istrinya dengan tatapan menenangkan.
Arka berjalan sedikit di belakang mereka berdua. Mendengar setiap kata cacian itu, mendengar nama Pak Aditya ikut terseret‑seret, rasanya seolah setiap kata itu adalah pisau yang ditusukkan tepat ke dadanya sendiri. Dialah penyebab semuanya. Dulu dia yang hancurkan usaha lelaki itu sampai jatuh sakit. Sekarang dia yang hancurkan nama baik anaknya sampai dikucilkan satu kampung. Dan di saat yang sama, dialah satu‑satunya orang di dunia ini yang paling paham betapa berharganya wanita yang sedang berjalan di depannya itu.
Sesampainya di pagar rumah, Bu Kirana sudah berdiri di teras dengan wajah cemas, di belakangnya terlihat sekilas sosok Pak Aditya yang duduk lemah di kursi goyang kamar depan, masih belum tahu apa‑apa. Arka pamit pelan, tapi sebelum berbalik badan dia sempat berbisik sangat pelan hanya agar Alina yang mendengar.
“Ingat ya, Lin. Di saat semua orang mungkin meragukan mu, mungkin menjauh… aku tidak akan pernah pergi. Percayalah itu.”
Setelah langkahnya menjauh dan berbelok di tikungan jalan, Arka baru bersandar lemas di tembok pagar kosong. Dia mengeluarkan alat kecil hitam usang dari sakunya, alat yang setiap hari membawanya mendengar suara wanita itu. Air matanya jatuh diam‑diam sendirian di sana.
Maafkan aku Alina… aku yang buat semua orang menjauhi mu. Akulah yang buat namamu tercemar. Aku yang mengancam masa depanmu. Tapi percayalah… di balik semua kejahatan yang aku buat ini… hanya cintaku padamu satu‑satunya hal yang tidak pernah aku bohongi sedetik pun.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏