NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Rencana yang Terlalu Dekat

Pagi itu, suasana rumah Syahrezan terasa berbeda.

Bukan karena rumah itu berubah. Lantai marmernya masih sama dinginnya. Dinding tinggi dan jendela besar masih berdiri dengan kesan mewah yang terlalu tenang. Namun ada sesuatu yang menggantung di udara sejak malam sebelumnya.

Canggung.

Diara turun ke ruang makan dengan langkah pelan. Jilbab syar’i warna ivory sudah terpasang rapi, abaya kerjanya sederhana namun elegan. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya belum sepenuhnya pulih dari kejadian semalam.

Kejadian saat Jifan masuk ke kamarnya.

Kejadian saat ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang tidak pernah ia bayangkan akan dilihat oleh suaminya.

Dan lebih buruk lagi, kejadian di ruang kerja Jifan yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan.

Diara menarik napas pelan sebelum duduk di meja makan.

Jifan sudah ada di sana.

Pria itu duduk dengan kemeja kerja berwarna hitam, rambut tertata rapi, wajah dingin seperti biasa. Namun ketika Diara duduk di seberangnya, Jifan sempat menatapnya lebih lama dari biasanya.

Tidak lama.

Tapi cukup untuk membuat Diara menunduk, pura-pura sibuk menuangkan teh.

“Pagi,” ucap Jifan.

Diara hampir terkejut.

Sapaan itu sederhana, tetapi tidak biasa keluar darinya lebih dulu.

“Pagi, Mas,” jawab Diara pelan.

Jifan diam sesaat.

Panggilan itu masih terdengar berbeda di telinganya. Mas. Satu kata yang seharusnya biasa saja, tetapi entah mengapa mampu membuat dadanya terasa lebih berdebar.

Mereka sarapan dalam diam.

Namun diam pagi itu tidak sama seperti sebelumnya. Biasanya, diam di antara mereka terasa seperti dinding. Hari ini, diam itu lebih seperti ruang yang belum berani disentuh.

Diara mengambil sepotong roti, sementara Jifan menyesap kopinya.

Sesekali, mata mereka hampir bertemu. Dan setiap kali itu terjadi, Diara lebih dulu mengalihkan pandangan.

Jifan menyadarinya.

Dan anehnya, ia tidak merasa terganggu.

Ia justru hampir ingin tersenyum.

“Berangkat jam berapa?” tanya Jifan tiba-tiba.

Diara menoleh.

“Sebentar lagi. Ada konsultasi klien pagi ini.”

Jifan mengangguk kecil. “Aku antar.”

Diara berhenti mengoleskan selai.

“Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri.”

“Aku searah.”

“Benarkah?”

Jifan menatapnya datar. “Tidak.”

Diara terdiam.

Jifan meletakkan cangkir kopinya. “Tapi aku tetap bisa antar.”

Jawaban itu membuat Diara kehilangan kata-kata sesaat. Ia tidak tahu apakah itu bentuk perhatian, perintah halus, atau hanya kebiasaan Jifan yang sulit dibaca.

Akhirnya, ia hanya mengangguk.

“Baik.”

Di dalam hati, Diara bertanya-tanya.

Apa pria ini mulai berubah?

Atau ia hanya sedang bingung karena kejadian tadi malam?

🪻🪻🪻🪻

Perjalanan menuju kantor Diara berlangsung tidak terlalu lama.

Mobil hitam Jifan melaju tenang membelah jalanan pagi. Tidak banyak percakapan di dalam mobil, tetapi kali ini Diara tidak merasa terlalu asing.

Jifan mengemudi sendiri.

Hal itu cukup mengejutkan Diara karena biasanya ada sopir atau Arkan yang mengurus semuanya.

“Mas tidak pakai sopir?” tanya Diara.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Jifan menatap jalan. “Ingin menyetir.”

Jawaban itu pendek.

Namun Diara mulai terbiasa membaca hal-hal kecil dari pria itu. Tidak semua yang ia ucapkan benar-benar menjelaskan maksudnya. Kadang Jifan menyembunyikan perhatian di balik kalimat yang terlalu singkat.

Mobil berhenti di depan gedung kantor Diara.

Gedung itu terlihat jauh lebih ramai dibanding beberapa bulan lalu. Logo perusahaan desain interior miliknya terpampang elegan di bagian depan. Karyawan keluar masuk, beberapa klien sudah duduk di lobi, dan beberapa staf terlihat membawa berkas desain.

Diara Interior Studio memang mulai berkembang.

Tidak sebesar Syahrezan Group, tentu saja. Namun bagi Diara, ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

Jifan memperhatikan gedung itu sekilas.

“Perusahaanmu semakin besar.”

Diara menoleh, sedikit tidak menyangka.

“Iya. Alhamdulillah. Masih banyak yang harus dibenahi.”

Jifan mengangguk. “Bagus.”

Satu kata.

Tapi Diara tahu, bagi Jifan, itu sudah termasuk pujian.

Ia membuka pintu mobil.

“Aku masuk dulu. Terima kasih sudah mengantar.”

Jifan menatapnya. “Nanti pulang kabari.”

Diara berhenti sesaat.

Lalu tersenyum tipis.

“Iya, Mas.”

Jifan tidak membalas senyum itu secara jelas, tetapi matanya mengikuti Diara sampai ia masuk ke gedung.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak segera ingin pergi.

🪻🪻🪻🪻

Hari Diara langsung dipenuhi kesibukan.

Belum sempat ia duduk lama di ruangannya, Hara, sekretarisnya, sudah masuk sambil membawa tablet dan beberapa dokumen.

“Bu Diara, klien pertama sudah menunggu di ruang konsultasi.”

Diara mengangguk. “Untuk rumah tinggal?”

“Iya. Konsep modern tropis. Setelah itu ada konsultasi desain café jam sepuluh, lalu revisi layout butik jam sebelas.”

Diara mengambil tablet dari tangan Hara.

“Baik. Kita mulai.”

Pagi itu berjalan cepat.

Klien pertama adalah pasangan muda yang ingin merenovasi rumah mereka menjadi lebih hangat. Klien kedua adalah pemilik café kecil yang ingin tempatnya terlihat lebih estetik tetapi tetap fungsional. Setelah itu, Diara bertemu pemilik butik yang sangat detail dalam memilih warna dan pencahayaan.

Diara bekerja dengan fokus.

Dalam pekerjaannya, ia berbeda dari dirinya di rumah. Di kantor, Diara lebih tegas. Suaranya lembut, tetapi arahannya jelas. Ia tahu apa yang ia mau. Ia tahu bagaimana memimpin tim.

Ia tahu bagaimana membuat orang percaya

pada keputusannya.

Itulah dunia Diara.

Dunia yang ia bangun sendiri.

Menjelang siang, Baila datang ke kantor.

Ia langsung masuk ke ruangan Diara setelah mendapat izin dari Hara.

“Assalamualaikum, Bu Direktur,” goda Baila sambil tersenyum lebar.

Diara mendongak dari laptopnya.

“Waalaikumsalam. Jangan mulai.”

Baila tertawa. “Ayo makan siang. Wajah lo udah kayak orang dikejar deadline lima tahun.”

Diara menghela napas, lalu menutup laptopnya.

“Memang dikejar deadline.”

“Tetap harus makan.”

Akhirnya Diara menyerah.

Mereka makan siang di café kecil dekat kantor Diara. Tempat itu cukup tenang, tidak terlalu ramai, dengan aroma kopi dan roti panggang yang memenuhi udara.

Baila memesan pasta, sementara Diara memilih nasi ayam mentega dan teh hangat.

Begitu makanan datang, Baila langsung menatap Diara dengan mata penuh rasa ingin tahu.

“Jadi…”

Diara mengangkat alis. “Jadi apa?”

“Hubungan lo sama suami dingin lo itu sudah sejauh apa?”

Diara hampir tersedak teh.

“Baila.”

“Apa? Gue kan sahabat lo. Wajar bertanya.”

“Tidak ada yang perlu dibahas.”

Baila menyipitkan mata.

“Kalau jawabannya terlalu cepat, berarti ada sesuatu.”

Diara pura-pura fokus memotong ayam di piringnya.

“Tidak ada.”

“Dia masih dingin?”

Diara diam sebentar.

Masih dingin?

Jifan memang masih Jifan. Tidak banyak bicara, sulit ditebak, ekspresinya sering datar. Tapi belakangan ini ada beberapa hal kecil yang berubah.

Ia menanyakan jam pulang.

Mengantar ke kantor.

Mengirim perhatian yang tidak ia sebut perhatian.

Dan semalam…

Diara segera mengusir pikiran itu.

“Dia… sedikit berbeda,” jawabnya akhirnya.

Baila langsung tersenyum penuh kemenangan.

“Nah. Itu dia.”

“Jangan berlebihan.”

“Lo yang jangan pura-pura.”

Sebelum Diara menjawab, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari Jifan.

Diara menatap layar beberapa detik.

💌 Jifan: Sudah makan?

Diara terdiam.

Baila langsung melirik.

“Dari siapa?”

Diara buru-buru memiringkan layar.

“Tidak penting.”

Baila tersenyum makin lebar.

“Dari suami, ya?”

Diara tidak menjawab.

Pesan kedua masuk.

💌 Jifan: Jangan telat makan.

Diara menatap pesan itu lama.

Sederhana.

Kaku.

Tidak romantis.

Bahkan masih terasa seperti instruksi.

Tapi entah kenapa, sudut bibirnya hampir terangkat.

Ia membalas singkat.

💌 Diara: Sudah. Lagi makan dengan Baila.

Tidak sampai satu menit, balasan masuk.

💌 Jifan: Di mana?

Diara mengerutkan kening kecil.

💌 Diara: Café dekat kantor.

💌 Jifan: Jangan pulang terlalu sore.

Diara membaca pesan itu sambil menahan senyum tipis.

Baila menatapnya curiga.

“Lo senyum.”

“Tidak.”

“Itu jelas senyum.”

“Baila, makan.”

Baila tertawa kecil. “MasyaAllah, suami dingin ternyata mulai mode PDKT.”

Diara menggeleng, tapi wajahnya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa hangat yang muncul diam-diam.

Setelah makan siang, Diara kembali ke kantor.

Belum lama ia duduk, Hara masuk lagi dengan ekspresi profesional.

“Bu Diara, ada tambahan jadwal dari klien Villa Sagara Bali.”

Diara menoleh.

“Villa Sagara?”

“Iya. Meeting lusa di Bali selama dua hari. Mereka meminta Ibu hadir langsung untuk finalisasi konsep interior.”

Diara membaca detail jadwal di tablet.

Dua hari.

Bali.

Meeting lapangan.

Ia menghela napas pelan.

“Baik. Urus tiket dan akomodasi dulu. Tapi saya harus diskusikan dengan suami.”

Hara mengangguk.

“Baik, Bu.”

Setelah Hara keluar, Diara menatap jadwal itu beberapa saat.

Dulu, ia tidak perlu memberi tahu siapa pun selain timnya. Sekarang, ada seseorang yang perlu ia kabari.

Suaminya.

Kata itu masih terasa aneh, tetapi tidak seasing sebelumnya.

🪻🪻🪻🪻

Di tempat lain, di gedung Syahrezan Group, Jifan sedang berada dalam ruang rapat.

Arkan berdiri di samping layar presentasi, menjelaskan perkembangan proyek Villa Sagara Bali.

“Meeting lapangan dijadwalkan lusa selama dua hari. Tim arsitektur, konstruksi, dan interior akan hadir.”

Jifan menatap dokumen di depannya.

“Interior?”

Arkan mengangguk. “Vendor desain interior dari Diara Interior Studio.”

Jifan mengangkat pandangan.

Untuk pertama kalinya sepanjang rapat, perhatiannya benar-benar berubah.

Arkan menyadarinya.

“Bu Diara akan hadir langsung sebagai lead designer.”

Jifan diam beberapa detik.

Lalu menutup map di depannya.

“Saya ikut.”

Arkan berkedip sekali.

“Anda memang dijadwalkan hadir, Pak.”

“Pastikan jadwal penerbangan saya sama dengan Diara.”

Arkan menatapnya datar.

“Dengan Bu Diara?”

Jifan menatap balik. “Ada masalah?”

“Tidak. Hanya memastikan.”

“Pesankan juga kamar hotel yang sama.”

Arkan terdiam sepersekian detik.

“Kamar yang sama?”

Jifan menjawab tanpa perubahan ekspresi.

“Kami suami istri.”

Arkan menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipis.

“Baik, Pak.”

Sore menjelang malam, Jifan menjemput Diara di kantor seperti yang ia katakan.

Diara masuk ke mobil dengan membawa beberapa dokumen.

“Mas, aku mau bicara sesuatu.”

“Aku juga,” jawab Jifan.

Mereka saling menoleh.

Hening sesaat.

Diara akhirnya berbicara lebih dulu.

“Lusa aku ada meeting di Bali dua hari. Proyek Villa Sagara.”

Jifan menatap jalan.

“Aku tahu.”

Diara mengerutkan kening.

“Tahu?”

“Itu proyek Syahrezan Group.”

Diara terdiam.

“Jadi… Mas juga ke sana?”

“Iya.”

Suasana menjadi hening beberapa detik.

Lalu Jifan berkata datar, “Kita berangkat bersama.”

Diara menoleh cepat.

“Bersama?”

“Ya.”

“Untuk pekerjaan?”

“Dan karena kita ke tempat yang sama.”

Diara belum sempat menjawab ketika Jifan menambahkan dengan sangat tenang,

“Aku juga sudah minta Arkan pesan kamar hotel yang sama.”

Diara membeku.

“Kamar… yang sama?”

Jifan menoleh sekilas.

“Kita suami istri.”

Jawaban itu sama persis seperti yang ia katakan kepada Arkan.

Namun ketika Diara mendengarnya langsung, wajahnya terasa panas.

“Mas Jifan…”

“Ada masalah?”

Diara membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Masalahnya bukan salah.

Masalahnya terlalu mendadak.

Terlalu dekat.

Terlalu membuat pikirannya kacau.

Jifan kembali menatap jalan, tetapi sudut

bibirnya bergerak sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia menikmati reaksi Diara.

Sementara Diara menatap keluar jendela, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri.

Bali.

Dua hari.

Satu proyek.

Satu perjalanan.

Dan satu kamar hotel.

Entah sejak kapan, hidup bersama Jifan Artha Syahrezan mulai terasa bukan hanya dingin dan sunyi.

Tapi berbahaya bagi ketenangan hatinya.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!