Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Obat Anakku
Alya pulang dengan resep yang ada di tangannya. Ia menatap lekat-lekat nominal yang tertera hingga tanpa sadar mobil Emil sudah berhenti di depan gerbang kost.
"Sudah sampai Mbak," ucap Emil.
Alya terkejut kecil, sangking penuhnya pikirannya dengan obat penguat kandungan yang harus ia beli sampai-sampai ia tidak tersadar jika mobil sudah berhenti.
"Iya Mil, maaf kurang fokus," ujar Alya.
"Gak apa-apa, Mbak jangan stres dengan biaya ya. Ingat kata dokter tadi Mbak gak boleh kelelahan juga gak boleh stres berlebihan, semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik," ucapnya.
Alya hanya menunduk sambil meremas ujung bajunya. Di dalam situasi seperti ini ia harus berjuang sendiri mempertahankan sang anak.
"Sudah Mbak jangan dipikirkan," tegur Emil sekali lagi.
Seketika Alya menatap ke arah jalanan depan, entah kenapa di dalam pikirannya terlintas untuk melamar pekerjaan.
"Mil, di dekat sini apa tidak ada lowongan pekerjaan?" tanya Alya akhirnya.
Emil terdiam sejenak. Masalahnya ia tahu setiap perusahaan pasti punya aturan tertentu.
"Pekerjaan banyak Mbak, nanti aku akan carikan sesuai kemampuanmu," ujar Emil.
"Iya Mil, kalau ada segera hubungi aku," ucap Alya.
Dan sebelum percakapan itu berakhir Alya pun memutuskan untuk keluar dari mobil Emil. Dan tak lupa perempuan itu mengucapkan terima kasih.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sesampainya di kamar kost. Alya mulai mengambil uang hasil perceraian juga tabungannya pribadi. Mungkin jika untuk satu atau dua bulan kedepan hidupnya masih aman-aman saja. Tapi kali ini ada kehidupan lain yang juga butuh biaya. Dan nggak mungkin Alya mengandalkan uang itu saja.
Ia pun mulai mengambil handphonenya. untuk mencari lowongan kerja di sosial media. Alya membaca satu persatu dengan cermat. Dan semua perusahaan memiliki aturan tertentu.
Namun ada beberapa lowongan yang tidak memiliki aturan tertentu, Alya pun sedikit tersenyum lega lalu mulai membuat beberapa surat lamaran. Ya meskipun hanya bekerja sebagai penjaga toko Alya tidak masalah setidaknya ia ada penghasilan.
"Ya Allah aku butuh pekerjaan semoga saja Engkau melancarkan jalan hamba," ucap Alya penuh dengan harap.
Selesai dengan surat lamaran onlinenya Alya pun mulai kepikiran tentang pekerjaan yang dulu pernah ia tekuni saat berada di bangku SMA. Waktu itu ketika remaja dirinya suka membuat buket dan aksesoris untuk di jual ke teman-temannya. Entah kenapa sekarang ingin mencoba lagi.
"Apa aku mulai saja usaha itu," pikirnya.
Alya pun mulai membuat keputusan. Ia tahu usaha seperti itu tidak setiap hari laku. Namun ia tetap memantapkan hatinya.
Setelah mengisi perutnya Alya pun mulai meminum obat dan vitamin dari dokter tadi, wanita itu beranjak dari duduknya. Ia berdiri di depan kaca lemari sambil merias wajahnya dengan sedikit sentuhan bedak dan lipstik agar tidak terlihat pucat.
"Kayaknya wajahku sudah kembali fresh," ujarnya sambil menatap ke arah cermin.
Alya mengambil tas lalu melangkah ke luar kostan. Siang ini ia terlalu bersemangat membeli bahan-bahan untuk membuat buket dan aksesoris lainnya.
Wanita hamil itu berjalan di bawah terik matahari yang cukup menyengat, namun anehnya ia tidak mengeluh sama sekali. Karena dia tahu. Sejak perceraian itu ia sudah tidak memiliki sandaran lagi. Dan jalan satu-satunya hanya berusaha sendiri. Meskipun ia masih belum tahu hasilnya akan seperti apa.
Sesampainya di toko bahan Alya pun mulai memilih kertas silopen, berbagai macam bunga hias lalu tak lupa ia membeli beberapa jenis pita satin.
Ia membeli pita satin dalam jumlah cukup banyak, karena ia tak mau hanya menjadikan pita sebagai pemanis di buket saja. Tapi ia juga ingin merubah pita satin itu menjadi jepitan rambut yang begitu cantik dan menggemaskan.
Selesai belanja semua peralatan Alya segera membayar di kasir, perempuan itu begitu teliti dengan uang yang ia keluarkan hari ini, dan berharap jika nanti akan menjadi ladang rejeki untuk dirinya dan juga calon anaknya.
"Sayang, kuat-kuat ya di dalam perut Mama. Mama janji tidak akan menangis lagi. Dan Mama janji akan selalu berusaha agar kamu tidak kekurangan," ucapnya sambil mengelus perutnya yang rata.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam mulai datang. Jika tadi Alya sedang berjuang demi membeli obat penguat kandungan. Berbeda jauh dengan Arlan yang saat ini tengah melewati malam indahnya di dalam sebuah restoran mewah.
Arlan duduk di sudut restoran yang menghadap ke arah luar. Lampu kota berjejer begitu indah. Sama halnya dengan perasaannya sekarang. Setelah bertahun-tahun akhirnya ia bisa merasakan hubungannya kembali tanpa harus merasa bersalah pada siapapun.
Mungkin di awal perpisahannya bersama Alya menimbulkan rasa bersalah, tetapi perlahan rasa itu runtuh juga. Dan dihadapannya sekarang sudah ada perempuan yang selama bertahun-tahun ini ia perjuangkan.
"Lan, aku tidak menyangka, akhirnya tiga tahun berlalu dengan cepat," ucap Amara.
Sudut bibir Arlan terangkat sedikit saat menatap wajah Amara. "Sama, dan aku sudah tidak sabar ingin mengenalkanmu pada keluargaku," sahut Arlan.
Raut wajah Amara terlihat berseri-seri saat pria dihadapannya ingin mengajaknya ke dalam keluarganya. Maklum selama ada Bek Ratih Amara tidak pernah di kenalkan Arlan pada keluarganya. Karena memang kekasihnya itu begitu tunduk dengan sang nenek.
Namun setelah wanita paruh baya itu pergi untuk selama-lamanya jalan kesempatan nampaknya sudah terbuka kembali.
'Yes akhirnya sebentar lagi aku bisa jadi nyonya Abimana,' gumam Amara di dalam hatinya.
Setelah perbincangan penuh hangat dan harapan. Akhirnya mereka menikmati makanan mahal dari restoran ini. Arlan begitu lembut memperlakukan Amara. Bahkan ia tidak ragu menyuapi perempuan itu di tempat umum seperti ini.
Dan perlakuan itu mampu mencuri semua mata pengunjung yang ada di restoran ini. Salah seorang pengunjung yang duduk tidak jauh dari meja Arlan dan Amara tersenyum melihat kemesraan keduanya. Tanpa berpikir panjang, ia mengarahkan kamera ponselnya lalu merekam beberapa detik momen itu.
"Romantis banget," gumam wanita itu.
Beberapa menit kemudian video tersebut diunggah ke media sosial.
"Masih ada ya cowok setulus ini. Semoga langgeng terus."
Tak disangka, video yang diunggah itu mulai mendapatkan banyak respons, dari puluhan sampai ratusan hingga ribuan tayangan yang ia dapatkan karena memang momen ini membuat yang lihat jadi ingin diratukan layaknya perempuan di dalam video itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di dalam kost sempit itu Alya baru saja membaringkan tubuhnya karena lelah. Sejak siang tadi ia membuat buket dan beberapa aksesoris yang lain. Senyumnya mengembang saat melihat beberapa buket berjajar indah dan jepitan rambut lucu yang membuat tangannya gemas untuk memosting ke akun media sosialnya.
Beberapa cepretan sudah ia hasilkan tanpa ragu ia memosting jualannya itu dengan caption: Buket dan aksesoris lucu ... yuk di order.
Setelah memposting jualannya ke berbagai media sosial. Alya pun mencoba mencari hiburan lain dengan menscrol-scrol layar handphonenya. Dunia Instragram mulai ia jelajahi.
Dengan posisi setengah berbaring, ia membuka media sosial hanya untuk mengalihkan pikirannya sejenak. Jarinya terus menggulir layar.
Satu video.
Dua video.
Tiga video.
Namun gerakannya mendadak berhenti, saat menemukan dua wajah yang nampak tidak asing baginya. Matanya membulat menatap layar ponselnya. Video yang baru saja muncul di berandanya memperlihatkan sosok yang sangat ia kenal.
Mantan suaminya. Pria itu sedang tersenyum, senyum yang bahkan jarang ditunjukkan padanya selama menjadi istri. Dan di hadapan Arlan duduk seorang perempuan cantik yang tengah menerima suapan darinya.
Alya membeku, ia sangat tahu siapa perempuan itu. Tangannya perlahan bergetar, padahal perceraian mereka belum genap dua hari. Tapi mantan suaminya itu sudah berani menunjukkan keromantisannya di depan umum.
Kolom komentar terus bergerak dengan cepat bahkan ratusan.
"Jaman sekarang jarang ada pria seperti itu."
"Mereka terlihat sangat cocok."
"Semoga mereka segera menikah."
Alya membacanya dengan dada yang terasa sesak. Bukan karena ia menyesal ataupun ingin kembali. Melainkan ia sadar ternyata selama ini bukan Arlan yang tidak bisa mencintai. Arlan hanya tidak pernah mencintainya.
Perlahan air mata jatuh membasahi pipinya.
Namun di saat yang sama, tangan Alya tanpa sadar berpindah ke atas perutnya. Lalu ia tersenyum pahit.
"Tenang ya Nak, kita memang tidak pernah dipilih di kehidupan ayahmu. Tapi kamu jangan khawatir ya kita bisa hidup kok tanpa mereka."
Bersambung. ....