“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 Pertemuan tidak terduga
Sinar matahari menyengat membuat Arumi, memasang topi hitam yang ia beli di pasar malam langkahnya tertatih-tatih pasalnya sehabis dari pasar dimana ia di turuni oleh tetangganya itu.
Ia mencari rumah milik sang paman tidak berjumpa-jumpa. Napasnya tersengal namun ia tidak mau putus asa hanya satu tempat pamannya saja yang bisa menerima gadis kecil itu,
Arumi memperhatikan secangkir kertas tempat dimana alamat sang paman, tertulis rapi di kertas yang usang itu ia mengusap peluhnya perutnya tetiba berbunyi memekakan telinga nya. Dari subuh ia belum makan apapun hanya meminum air mineral yang ia bawa dari desanya,
Ia tidak mau membeli makanan karena di kota begitu sangatlah mahal makananya, jadi ia lebih memilih menahan diri nya agar tidak lapar gadis itu memilih duduk di bangku panjang depan rumah makan padang.
Tatapannya mengarah ke jalan raya yang di padati oleh beberapa kendaraan ada penjual gerobak juga, sangatlah ramai ia mengusap perutnya yang lagi-lagi berbunyi tangannya bergetar
" Aku harus cepat-cepat ketemu paman, agar aku bisa tinggal dan cari perkerjaan di jakarta " Gumam Arumi penuh tekad
Tangannya memberhentikan angkutan umum yang bertepatan berhenti di depannya. Ia bergegas mendekati arah dimana jendela sang pemegang kemudi angkutan umum,
" Permisi pak apakah bapak tahu alamat rumah ini? " Tanya Arumi ia menyerahkan kertas usang tersebut ke pria paruh baya yang mengendarai angkutan umum
Dahi lelaki itu menukik tajam, membaca alamat yang tertera di kertas tersebut lalu matanya menatap Arumi tidak percaya
" Kenapa neng mencari alamat ini? " Tanya lelaki itu penuh selidik
" Ini alamat paman saya pak yang tinggal di Jakarta, kaka dari ibu saya apakah bapak tahu dimana alamat kontrakan ini? " Sahut Arumi ramah menatap lelaki tersebut
" Kamu Arumi Eka puteri? " Tanya Lelaki tersebut membuat Arumi membola ia tidak percaya " Bapak tahu nama saya? "
" YaAllah nak ini paman!, paman Hardi masa kamu tidak kenal! " Sahut Lelaki tersebut
Arumi menelisik lelaki yang mengendarai angkutan umum itu, lalu matanya membola betapa lupanya ia dengan paman nya yang merantau karena ikut istrinya itu.
" Paman Hardi! " Pekik Arumi kegirangan
" Masuk nak!, kita ke rumah " Kata Pak Hardi sembari membuka pintu depan angkutan umum yang memang tidak ada yang naik,
" Ya paman " Arumi bergegas naik angkutan umum tersebut deru mesin terdengar nyaring. Lalu angkutan umum tersebut dengan cepat meninggal kan kawasan itu
***
Angkutan umum itu berhenti di sebuah warung makan yang sangat sederhana, membuat Arumi menatap pamannya yang membuka pintu angkutan umum itu
" Kita bicara di warung itu paman yakin kamu belum makan " Kata Hardi Arumi tersenyum senang ia akhirnya memiliki keluarga setelah sang nenek pergi.
Keduanya melangkah masuk ke dalam kedai makan yang begitu sederhana, aroma masakan langsung menyapa mereka. Hardi memilih tempat duduk yang di pojok jauh dari orang-orang yang menikmati makan siang mereka
Selepas keduanya memesan makan. Suara Hardi membuka obrolan tersebut
" Kenapa kamu merantau nak?, apakah uang bulanan dari paman kurang? " Tatap nya menyirat ke tulusan menatap Arumi.
Gerakan tangan Arumi yang sedang menyendok makan terhenti. Matanya memerah menahan air mata yang hendak meluncur bebas dari pelupuk matanya
" Tidak sama sekali tidak kurang paman, aku kesini memang sengaja " Sahut Arumi suaranya terdengar berat
" Kalau kamu kesini nenek sama siapa Rumi?, nenek baik-baik saja bukan? " Tanya Hardi menuntut penjelasan Arumi menghela napas berat
Suaranya tercekat di tenggorokan nya, tatapan matanya meredup " Paman, nenek sudah tiada " Ungkap Arumi dengan suara serak membuat Hardi terbelalak matanya
" Apa maksud kamu? " Tanya Hardi begitu terkejut tangannya mencengkram kuat kedua bahu gadis yang menunduk dalam.
" Paman nenek meninggal malam tadi, pemakaman nya baru selesai kemarin siang Paman inilah tujuan ku ke sini. " Sahut Arumi
" Innalilahi roji'un. YaAllah ibu " Gumam Hardi air mata mengalir ia menyeka nya dengan cepat
" YaAllah nak pasti kamu sangat-sangat shock karena nenek pergi. Kamu aman sekarang sama paman " Kata Hardi penuh perhatian tatapannya
" Nenek meninggal karena aku tidak becus Paman, aku tidak becus harusnya kemarin nenek bisa minum obat " Ungkap Arumi ia terisak mengingat kejadian yang seharusnya ia hindari yang dimana Siska menghancurkan obat sang nenek.
" Tidak bukan salahmu nak, kematian adalah takdir dan ketentuan dari Allah... Kita hanya makhluk yang tidak berdaya! " Tekan Hardi tatapannya penuh kasih ke sang keponakan
" Terimakasih paman "
" Cepatlah makan, kita pulang paman akan membawa mu ke rumah paman kamu akan bertemu dengan bibi dan Syifa "
Arumi menganggukkan Kepala nya walaupun di dalam hatinya ia takut bertemu dengan sepupunya dan tantenya, yang tidak pernah suka dengannya namun ia harus menghargai sang paman.