⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Ren berbalik, melangkah menuju pintu geser kamar utama dan membukanya dengan satu sentakan kasar. Aiko, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemas, terpaksa menyibak selimut. Ia membenahi yukata putihnya yang sedikit kusut, lalu melangkah turun dari ranjang, mengikuti punggung Ren yang berjalan menyusuri lorong tengah kediaman, menuju ruang kerja pribadinya.
Dua pengawal yang berjaga di depan pintu ruang kerja langsung membungkuk saat Ren dan Aiko tiba. Ren mendorong pintu kayu itu, membiarkan Aiko masuk terlebih dahulu sebelum menutupnya rapat.
Ruang kerja Ren tampak berantakan pagi ini. Di atas meja kerja besarnya, map hitam laporan Daichi tentang Kyoto Barat masih tergeletak terbuka. Namun, bukan map itu yang didekati oleh Ren.
Ren berjalan menuju sebuah lemari besi tersembunyi di balik lukisan dinding. Setelah menekan beberapa digit kode pengaman, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu. Kotak itu adalah tempat penyimpanan barang bukti paling rahasia yang ia amankan sendiri dari TKP paviliun barat belasan tahun lalu.
Cklek.
Ren membuka pengait kotak tersebut di hadapan Aiko. Di dalamnya, beralaskan kain putih yang sudah menguning, tergeletak sebuah gagang belati tanpa bilah. Bilahnya telah patah saat kejadian itu.
"Kematian orang tuaku tidak meninggalkan jejak forensik apa pun," ucap Ren. Ia bertumpu dengan kedua tangannya di pinggiran meja, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Aiko. "Tidak ada sidik jari, dan juga saksi. Hanya benda ini yang tertancap di dada ayahku."
Ren menunjuk gagang belati itu dengan dagunya.
"Jika kau benar-benar memiliki mata yang bisa melihat kegelapan... Katakan padaku, apa yang kaulihat dari benda ini, Aiko Kurogawa."
Aiko menatap gagang besi di dalam kotak itu. Perlahan, ia mengulurkan tangan kanannya yang masih sedikit gemetar. Begitu ujung jemarinya bersentuhan langsung dengan permukaan gagang belati tersebut, sebuah sentakan tak kasat mata seolah menyengat syarafnya.
Deg!
Aiko memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya mendadak terasa sesak yang luar biasa. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak melihat wajah pelaku atau visual yang jernih, namun mata batinnya langsung tenggelam dalam pusaran emosi masa lalu yang mengerikan.
Rasa sakit yang menghujam, pekikan putus asa, dan kebencian yang teramat sangat merangsek masuk ke dalam kepalanya, memicu denyutan hebat di pelipis Aiko.
"Ugh..." Aiko mengerang lirih, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya menyentak lepas tangannya dari benda tersebut. Napasnya memburu, dan butiran keringat dingin mulai membanjiri dahinya.
Ren yang sejak tadi mengamati, langsung menangkap reaksi fisik itu. "Apa yang kau rasakan?" tuntut Ren.
Aiko mendongak, menatap Ren dengan sisa pandangan ngeri dan sisa air mata yang menggenang. "Benda ini... dipenuhi rasa benci yang teramat sangat. Pemiliknya mati dalam keadaan tidak tenang..." Aiko mencengkeram tepi meja kayu untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas. "Dan orang yang memegang belati ini... dia tidak membawa hawa manusia biasa. Aura kematian di sekitarnya sangat dingin... seperti..."
Aiko menahan kalimatnya. Ada kejanggalan yang ia rasakan dari jenis hawa dingin itu, namun kekuatannya yang terbatas belum mampu menyimpulkan kejadian belasan tahun lalu.
Mendengar petunjuk abstrak yang keluar dari mulut Aiko, Ren terhenyak di tempatnya. Logikanya bergolak hebat. Aiko tidak mungkin tahu benda ini diambil dari jasad ayahnya, namun reaksi ketakutan dan deskripsi itu terlalu nyata untuk disebut sebagai akting.
Ren menutup kotak kayu itu dengan sentakan cepat, memutus sisa energi buruk yang tertinggal di udara. Ia menegakkan tubuh tegapnya, mengunci pandangannya pada wajah Aiko yang kini terlihat pucat.
"Gencatan senjata," ucap Ren mendadak.
Aiko mengerutkan kening, mencoba menstabilkan napasnya. "Apa maksudmu?"
"Kau butuh perlindungan dari apa pun yang mengancamu di rumah ini, dan aku butuh matamu untuk membaca apa yang tidak bisa dilihat oleh pengawal-pengawal berjas hitamku," Ren melangkah memutari meja, berhenti tepat di hadapan Aiko. "Mulai hari ini, kau adalah bagian dari urusanku. Kau tidak akan lagi dikurung di kamar utama, tapi kau akan ikut ke mana pun aku pergi."
Aiko menatap suaminya, "Bagaimana jika aku menolak?"
Ren merunduk sedikit. "Kau tidak punya hak untuk menolak, Istriku. Ucap Ren dengan seringai di wajahnya.
Sebelum Aiko sempat membalas, pintu ruang kerja diketuk dua kali. Daichi melangkah masuk, wajahnya tampak serius.
"Bos, persiapan untuk pertemuan dengan klan wilayah Barat sudah selesai. Mobil sudah siap di lobi bawah," lapor Daichi cepat, sebelum matanya sempat melirik heran ke arah Aiko yang tampak lemas di dekat meja.
Ren tidak langsung menjawab. Ia melirik penampilan Aiko yang masih mengenakan yukata tidur putih yang tipis.
Tanpa sepatah kata pun, Ren melepas jas hitamnya yang tersampir di punggung kursi. Dengan satu gerakan, ia menyampirkan jas besar itu ke atas bahu Aiko, menutupi tubuh istrinya dari pandangan Daichi. Aroma parfum milik Ren langsung menyelimuti indra penciuman Aiko.
"Ganti pakaianmu dalam lima menit. Kau ikut denganku ke wilayah Barat," perintah Ren kepada Aiko.
Daichi sempat tertegun mendengar itu, namun langsung membungkuk hormat. "Baik, Bos. Saya akan tunggu di bawah."
Aiko mencengkeram kerah jas hitam Ren yang bertengger di bahunya. Rasa hangat dari kain jas itu perlahan mengusir sisa hawa dingin belati tadi. Menatap punggung tegap Ren yang mulai berjalan keluar ruangan.
**
Gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela mobil yang melaju membelah jalanan Kyoto menuju pinggiran wilayah Barat. Di kursi belakang, hanya ada keheningan.
Aiko telah berganti pakaian dengan kimono berwarna gelap, pilihan yang disediakan oleh pelayan kediaman atas perintah singkat Ren sebelum mereka berangkat. Namun, penampilan rapinya tidak mampu menyembunyikan rona wajahnya yang masih pucat. Ia menyandarkan pelipisnya pada kaca jendela, menatap kosong barisan toko yang bergerak mundur di luar.
Di sampingnya, Ren duduk tegak dengan tangan bersedekap. Matanya menatap lurus ke depan, seakan mengabaikan keberadaan wanita di sebelahnya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Ren meraih sebuah selimut yang tersimpan di kantong kursi depan, lalu melemparkannya dengan gerakan santai ke atas pangkuan Aiko. "Jangan mempermalukanku dengan wajah pucatmu itu saat kita tiba nanti."
Aiko melirik selimut di pangkuannya, lalu beralih menatap wajah Ren dari samping. Ia tidak membalas ucapan ketus itu. Perlahan, ia menarik selimut tersebut hingga menutupi lengannya, menikmati rasa hangat yang perlahan mengusir rasa pening di kepalanya.
Dari kursi kemudi, Daichi memecah kesunyian setelah melirik spion tengah. "Bos, kita akan tiba di rumah teh milik klan Harada dalam sepuluh menit. Informasi terakhir dari informan kita, mereka memperketat penjagaan di sekitar gerbang belakang sejak insiden kampus kemarin."
"Berapa orang yang mereka siapkan di dalam ruangan?" tanya Ren.
"Hanya kepala klan dan dua orang penasihatnya. Tapi kita tidak tahu berapa banyak pria bersenjata yang mereka sembunyikan di balik dinding," jawab Daichi mencoba tetap tenang.
Ren menurunkan tangannya dari dada. Ia melirik Aiko yang kini sudah membenahi posisi duduknya.
"Dengar," perintah Ren. "Tugasmu sederhana. Duduk di sampingku, dengarkan, dan rasakan suasana di ruangan itu. Jika kau mendeteksi hawa pembunuhan atau pergerakan yang tidak wajar sebelum mereka bergerak, beri aku tanda."
Aiko menatap suaminya. "Tanda seperti apa?"
"Genggam lengan jasku atau apapun sudah cukup membuatku tahu apa yang harus kulakukan pada kepala mereka," ucap Ren kejam.
Mobil perlahan melambat, berbelok memasuki sebuah pekarangan yang cukup luas dengan arsitektur rumah tradisional Jepang yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu. Gerombolan pria berjas hitam dengan tato yang mengintip dari kerah kemeja mereka sudah berdiri berbaris di sepanjang koridor, menyambut kedatangan pemimpin Tachibana-gumi.
Daichi turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu belakang. Ren melangkah keluar, dan berbalik mengulurkan telapak tangannya ke arah pintu mobil membantu Aiko turun.
Aiko menyambut uluran tangan itu. Begitu kedua kaki Aiko menginjak permukaan lantai kayu koridor, tubuhnya terasa tegang. Walau tempat itu terlihat tenang dengan suara gemericik air pancuran bambu, namun matanya menangkap sesuatu yang ganjil.
Hal yang membuat jantung Aiko berdesir adalah sebuah getaran energi yang melintas samar saat mereka berjalan mendekati pintu ruang pertemuan utama.
Langkah Aiko terdiam sesaat. batinnya berteriak keras. "Hawa ini? Sangat mirip dengan hawa buruk yang aku rasakan dari gagang belati tadi pagi."
Ren menghentikan langkah. Ia melirik ke arah Aiko. Sebelum Ren sempat bersuara, jari-jari Aiko yang bergetar meremas kuat kain lengan jas milik Ren hingga berkerut. Aiko mendongak, menatap mata suaminya dengan tatapan penuh peringatan yang tersirat.
Tanpa perlu kata-kata, pria itu paham. Dan tangan kanannya perlahan bergerak ke balik jas, siap menyentuh senjata apinya.
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈