NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Malam kembali tiba di Adhitama Mansion, membawa keheningan yang jauh lebih mencekam daripada malam sebelumnya.

Di dalam kamar tamu yang luas namun terasa seperti sangkar emas, Alana Kirana mondar-mandir dengan napas yang memburu. Kepalanya terasa mau pecah setelah rentetan kejadian belakangan ini.

Konfrontasi Devran tentang sapu tangan, kenyataan bahwa rahasia lima tahun lalu telah terbongkar, ditambah lagi bayang-bayang ancaman dari keluarga Adhitama yang tak kasat mata membuat seluruh naluri keibuannya berteriak untuk satu hal: Lari.

"Mommy? Kenapa baju-baju Leo dimasukkan ke dalam kotak besar?"

Suara cempreng Leo memecah lamunan Alana. Bocah lima tahun itu duduk di tepi ranjang king-size, memeluk sebuah robot lego rakitannya sendiri sembari menatap sang ibu dengan mata bulatnya yang jeli.

Alana langsung berlutut di depan putranya, mencoba menepis guratan panik di wajahnya dengan sebuah senyuman paksa.

"Ini namanya koper, Sayang. Kita... kita akan pergi liburan. Leo mau kan jalan-jalan lagi sama Mommy?"

Leo menyipitkan matanya, menatap koper kain abu-abu yang sudah terisi setengahnya.

"Liburan? Tapi ini sudah jam sebelas malam, Mommy. Dan kenapa baju-baju Mommy juga dimasukkan? Kita tidak akan kembali ke sini lagi, ya?"

"Leo," Alana menggenggam kedua tangan mungil anaknya, suaranya bergetar menahan tangis.

"Tempat ini tidak aman untuk kita. Om seram... maksud Mommy, Papa... memiliki dunia yang terlalu berbahaya."

"Mommy tidak mau ada orang jahat lagi seperti Tante Siska yang menyakiti Leo. Kamu mengerti kan, Sayang?"

"Aku tidak takut pada Tante ular atau orang-orang luar itu, Mommy. Aku bisa meretas sistem pertahanan mereka lagi kalau mereka macam-macam," sahut Leo dengan nada datar namun penuh percaya diri, ciri khas gen Adhitama yang mengalir kuat di tubuhnya.

"Mommy tahu kamu pintar, Leo! Sangat pintar!" Alana akhirnya terisak pelan, menarik Leo ke dalam pelukannya.

"Tapi Mommy yang takut. Mommy takut kehilangan kamu. Jadi, tolong... malam ini ikut Mommy, ya? Kita kembali ke Swiss, atau ke mana saja asal jauh dari keluarga ini."

Leo diam sejenak di dalam pelukan ibunya. Detak jantung Alana yang tidak beraturan memberi tahu bocah itu bahwa ketakutan sang ibu bukanlah hal yang main-main.

"Baiklah, Mommy. Kalau itu bisa membuat Mommy tidak menangis lagi. Tapi, bagaimana kita bisa keluar?"

"Gerbang depan dijaga oleh lima paman berbadan besar, dan di halaman belakang ada tiga anjing pelacak baru yang dibawa Om seram tadi siang."

Alana menghapus air matanya, lalu bangkit berdiri dengan tekad yang semakin bulat. "Mommy sudah memesan taksi konvensional tanpa aplikasi agar tidak terlacak."

"Taksi itu akan menunggu di luar pagar pembatas sayap barat, jalur pipa kosong yang kamu tunjukkan semalam, Leo. Kita bisa keluar lewat sana lagi sebelum patroli jam dua pagi."

"Jalur pipa itu sempit untuk membawa koper besar, Mommy. Tapi aku bisa mematikan sensor getar di pagar barat selama tiga menit lewat tabletku," kata Leo, jemari mungilnya langsung bergerak aktif di atas layar gawainya yang menyala redup.

"Oke, jalurnya sudah siap. Tapi Mommy harus cepat."

"Terima kasih, Sayang. Anak pintar. Sekarang pakai jaket tebalmu," perintah Alana tergesa-gesa.

Dengan gerakan panik, Alana kembali ke depan kopernya. Ia melipat beberapa potong pakaian terakhir dengan tangan yang gemetar.

Pikirannya terus terngiang-ngiang pada ucapan Devran tempo hari tentang The Old Adhitama dan bagaimana Siska melibatkan mendiang ibu Devran dalam konspirasi masa lalu mereka.

Tempat ini adalah labirin kebohongan, dan Alana menolak menjadi korban berikutnya, apalagi mengorbankan masa depan Leo.

Sret. Sret.

Suara ritsleting koper yang ditarik dengan cepat menggema di dalam kamar yang sunyi.

"Sudah selesai, Leo. Ayo kita..."

Alana mendadak menghentikan kalimatnya. Seluruh persendiannya seketika kaku. Hawa dingin yang familier dan begitu menekan tiba-tiba memenuhi atmosfer ruangan.

Di ambang pintu kamar yang entah sejak kapan sudah terbuka lebar, sesosok pria bertubuh tegap berdiri dengan kokoh. Devran Adhitama.

Pria itu masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kekar. Kedua tangannya terlipat dengan tenang di depan dada, sementara punggungnya bersandar santai pada kusen pintu.

Namun, tatapan matanya sama sekali tidak santai. Sepasang mata elang itu berkilat tajam di balik kegelapan lorong, menatap lurus ke arah koper abu-abu di atas lantai, lalu perlahan naik menatap wajah Alana yang kini pucat pasi.

"Mau pergi liburan ke mana malam-malam begini, Alana? Dan kenapa aku sebagai pemilik rumah tidak mendapatkan undangannya?"

Suara berat Devran memecah keheningan, begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mutlak.

Alana mundur satu langkah secara refleks, memosisikan tubuhnya di depan Leo untuk melindungi anaknya.

"Devran... sejak kapan kamu di sana?"

"Cukup lama untuk mendengar rencana pelarian konyolmu lewat jalur pipa barat," sahut Devran dingin.

Ia menegakkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam kamar dengan ritme yang lambat namun pasti, membuat Alana semakin tersudut ke arah ranjang.

"Mematikan sensor getar selama tiga menit, Leo? Strategi yang bagus, tapi kamu lupa kalau aku adalah orang yang membiayai pembuatan program enkripsi utama satelit keamanan distrik ini."

Leo mendongak, menatap Devran tanpa rasa takut meskipun ia tahu rencana mereka gagal.

"Om seram curang. Om memakai hak akses admin utama."

"Di duniaku, ini disebut memanfaatkan aset, Nak," balas Devran tanpa mengalihkan pandangannya dari Alana.

Pria itu kini berhenti tepat dua langkah di depan Alana. "Alana, jelaskan padaku. Apa maksud dari semua kekacauan ini?"

"Setelah semua kebenaran tentang lima tahun lalu mulai terbuka, kamu justru memilih untuk kabur lagi?"

"Kebenaran apa, Devran?!" Alana berteriak, air matanya kembali menetes karena rasa frustrasi yang memuncak.

"Kebenaran bahwa hidupku dan anakku selalu berada dalam bahaya di rumah ini? Aku tahu tentang kakek buyutmu! Aku tahu tentang bagaimana mendiang ibumu harus membuat konspirasi gila hanya untuk menjaga janin di rahimku agar tidak dilenyapkan oleh keluargamu sendiri!"

"Aku tidak mau hidup dalam ketakutan seumur hidupku!"

Dahi Devran berkerut rapat mendengarnya. "Apa yang kamu bicarakan? Dari mana kamu tahu tentang ibuku dan kakek buyutku?"

"Siska! Siska yang mengatakannya padamu di kantor polisi tadi pagi, bukan? Dan jangan kira aku tidak tahu, Devran!" Alana mencengkeram dadanya sendiri, napasnya tersengal.

"Reno menceritakannya pada pelayan, dan aku mendengarnya! Ibumu menggunakan Siska sebagai tameng demi melindungiku dari kakek buyutmu yang kejam itu!"

"Jika berada di dekatmu artinya aku harus berhadapan dengan monster-monster di dalam silsilah Adhitama, maka aku memilih membawa Leo pergi sejauh mungkin!"

Devran terdiam. Kilat kemarahan di matanya perlahan meredup, digantikan oleh ekspresi yang sangat rumit, antara rasa bersalah yang mendalam dan tekad yang mengeras. Ia maju satu langkah lagi, mengabaikan jarak aman di antara mereka.

"Alana, dengarkan aku," ucap Devran, suaranya melembut, sebuah nada bicara yang sangat jarang ia gunakan kepada siapa pun.

"Ucapan Siska tadi pagi... sebagian besar adalah kebohongan baru yang sengaja ia buat untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari penjara. Ibuku tidak pernah merencanakan malam itu."

Alana menggelengkan kepalanya dengan histeris. "Aku tidak peduli siapa yang berbohong dan siapa yang jujur, Devran!"

"Yang aku tahu, tempat ini adalah neraka bagi kami! Tolong... biarkan kami pergi. Kamu bisa mendapatkan wanita mana saja dari kalangan sosialitamu untuk memberimu penerus yang sah!"

"Penerus yang sah?" Devran mendengus, matanya berkilat berbahaya.

"Leo adalah satu-satunya darah dagingku, Alana! Dan kamu... kamu adalah satu-satunya wanita yang kutunggu selama lima tahun ini tanpa aku sadari! Kamu pikir aku akan membiarkan kalian pergi lagi setelah aku berhasil menemukan kalian?"

"Tapi aku takut, Devran!" tangis Alana pecah, bahunya terguncang hebat. "Aku takut Leo terluka..."

Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang asing namun menenangkan melingkupi tubuh Alana.

Devran tidak lagi berdiri kaku, pria itu merengkuh tubuh Alana ke dalam pelukan dadanya yang bidang dan hangat, mengunci wanita itu dalam dekapan protektif yang tidak bisa dibantah.

"Jangan takut," bisik Devran tepat di telinga Alana, tangannya mengusap rambut panjang wanita itu dengan lembut.

"Lima tahun yang lalu aku tidak ada di sampingmu karena aku tidak tahu. Tapi sekarang, aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak akan ada satu orang pun, baik itu Siska, musuh bisnisku, bahkan kakek buyutku sekalipun, yang bisa menyentuh seujung rambutmu dan Leo."

"Mansion ini bukan penjara untukmu, Alana. Ini adalah benteng yang kubangun untuk melindungi keluargaku."

Alana terpaku di dalam pelukan Devran, tangannya yang semula berniat mendorong dada pria itu perlahan-lahan lemas, kehilangan kekuatannya di tengah rasa aman yang mendadak merayap ke dalam hatinya.

Di sudut ranjang, Leo yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa menopang dagunya dengan kedua tangan mungilnya, menghela napas panjang dengan gaya yang sangat dewasa.

"Haaah... drama orang tua selalu saja panjang. Jadi, apakah Leo harus membatalkan taksinya atau tidak, Mommy?"

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!