Tidak bertanggung jawab kalau baper, nangis, berkata kasar terus senyum-senyum sendiri.
Jika perlu cek tensi sebelum membaca.
Happy reading ❤️
Tujuan mulia dan tulus yang Khanaya berikan di salah artikan oleh sahabatnya.
Semua sudah terjadi, bukan sekali! Tapi tak terhitung kebaikannya, menjaga anak serta mengurus suami sang sahabat sudah dilakukan Khanaya bertahun-tahun. Tulus tapi diragukan.
Pria yang merasa terabaikan mulai melihat pada Khanaya.
Jatuh hati pada sahabat Istrinya.
Lantas siapa yang layak di salahkan?
Hati Huston?
Ataukah Qilla yang secara tidak langsung mendorong Khanaya masuk dan membuat suami serta anaknya nyaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Huston
Kangker payudara stadium lanjut.
Itu yang membuat Qilla frustasi dan pilih mengakhiri hidupnya.
Kegigihannya ingin melahirkan sang buah hati seolah tak bisa berjalan sesuai keinginan.
Sakitnya butuh pengobatan tapi kemoterapi sangat berdampak pada janin, belum lagi dia menghadapinya seorang diri.
Mentalnya tertekan, jiwanya terguncang dan hidupnya tanpa tujuan.
Harusnya salah satu diantara mereka masih bisa tertolong jika lebih cepat dibawa ke rumah sakit, sayangnya orang terlambat menemukannya hingga bayi yang dikandungnya pun ikut tiada.
******
"Mas Huston."
Apa yang dilakukan Huston membuat Khanaya kaget.
Bagaimana bisa Huston bersimpuh di hadapannya dan memegangi kedua lututnya seperti sekarang ini.
"Jangan seperti ini dong Mas."
Tidak ada yang salah atas sikapnya menurut Huston Khanaya terlalu hormat pada kesopanan.
"Apa salahnya jika Mas mau cium kaki istri Mas sendiri?"
Khanaya meletakkan bayinya di tempat tidur kemudian dia ikut duduk dilantai bersama Huston.
"Tidak ada yang salah. Hanya tidak sepantasnya saja Mas melakukan hal itu, yang lebih layak untuk dicium kan banyak. Ini!" Khanaya menyentuh keningnya.
"Ini!" Khanaya menyentuh pipinya.
"Dan, ini!" Khanaya menyentuh bibirnya yang kini telah mengukir senyum.
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Dan, suami Khanaya benar-benar mencium apa yang Khanaya tunjuk dengan jemarinya.
"Terimakasih banyak sudah mau hadir di hidup Mas, terimakasih sudah mau bertahan dan mau berjuang melahirkan buah hati kita. Jangan ragukan hatiku. Karena selamanya akan ada kamu di hatiku." Huston berucap tulus. Ucapan itu diakhiri kecupan di keningnya yang dalam, dan mengesankan.
Khanaya mengangguk dan segera masuk kedalam pelukan Huston.
******
Tidak butuh baby sitter, Khanaya merawat putranya dengan tangannya sendiri.
Keinginan Huston sederhana.
Bahagia dengan cinta luar biasa, dan hidup bersama wanita yang sudah memberikan separuh hidupnya.
Atas keinginan Khanaya sendiri dia vakum dari segala kesibukan, Khanaya benar-benar memfokuskan diri pada anak dan suami. Urusan restoran Khanaya serahkan pada orang kepercayaannya.
Saat menyiapkan sarapan tadi pagi, Khanaya dibuat tercengang dengan ucapan suaminya, Huston meminta Khanaya untuk berhenti melakukan suntik kontrasepsi.
Khanaya tidak menjawab, dan itu artinya wanita itu setuju dengan pernyataan suaminya.
Kini suaminya sudah berangkat ke kantor, Khanaya tersenyum melihat putranya yang sedang duduk di kereta jalan dengan bibir berceloteh riang.
Jam 6 sore Huston sudah pulang dari kantor dan kini sedang bermain dengan anaknya.
Keanu khaisan lathif. Nama yang dipilih oleh Huston untuk putra pertama mereka yang kini berusia satu setengah tahun tepat satu minggu yang lalu.
Wajah Keanu begitu mirip Ibunya, tidak ada kemiripannya dengan sang Ayah.
"Mas, ayo kita makan," ajak Khanaya.
"Mas bawa Keanu ke kamar dulu." saut Huston yang sudah mengendong anaknya.
Kini suami istri itu duduk dimeja makan untuk menikmati makan malam.
Setelah selesai makan Huston mengajak Khanaya duduk di ruang tengah.
"Permintaan Mas tadi pagi apa tidak membebani untuk istri Mas?" tanya Huston lembut.
Kenapa harus terbebani?
"Enggak."
"Sayang tau kan artinya?"
Bunda Keanu mengangguk.
"Syukurlah." Huston begitu lega.
Ini soal usia mereka yang sudah menginjak kepala tiga, semua sudah Huston pikirkan, akan lebih baik menambah satu anggota keluarga lagi di usia sang istri sekarang ini, mungkin setelah tambah satu lagi anak mereka itu sudah cukup, Huston tidak ingin Khanaya hamil di usia rawan akan sangat membahayakan kesehatan istri dan anaknya nanti.
Khanaya juga sudah tak se-kaku dulu, wanita itu sedikit lebih manis selama sudah menjadi Ibu.
"Kalau begitu ayo mulai kita cicil sayang." ajak Huston sambil meraih tangan istrinya.
"Hah?"
"Loh kok bingung?" tanya Huston sedikit geli melihat ekspresi wajah istrinya.
"Emang mau nyicil apa Mas?" tanya Khanaya polos.
"Mas mau nabung, semi bibit syukur-syukur ada yang nyangkut."
Bicara apa sih Ayah Keanu ini?
"Ayok, mumpung Abang lagi bobok kita langsung ke kamar tengah saja sayang."
Mata Khanaya terbeliak.
Suaminya benar-benar!
Tapi itulah Khanaya kenyamanan suami selalu menjadi prioritasnya.
Wanita tiga puluh dua tahun kurang sebelas hari itu mengekor di belakang suaminya yang menarik lembut tangan kanannya.
Sesampainya di kamar Huston tidak menyia-nyiakan waktu.
Ayah dari Keanu itu benar-benar menikmati makan malamnya.
Makan malam yang tak kunjung puas meski dilakukan berjam-jam lamanya.
#######
Jangan lupa mampir ke cerita author yang baru ya.
Happy reading ❤️
klo khanaya menuruti kata orang tua dan pergi sejauh manapun...bila mereka berjodoh,pasti bersatu juga..
serahkan semua pada yg punya hidup...
saranku...mantqpkan hati..tinggalkan sahabat ga ada akhlakmu itu..biarkan dia selesaikan mslhnya sendiri...wanita egois sprti qilla tdk layak menjadi sahabatmu