Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Suasana malam itu begitu sunyi. Cahaya rembulan menembus celah dedaunan, memantulkan bayangan panjang di atas tanah yang lembap. Dari kejauhan terdengar riuh tawa manusia yang sedang berpesta. Musik dan suara gelak tawa mereka terdengar samar, seolah berasal dari dunia yang berbeda. Di balik rimbunnya pepohonan, dua sosok berdiri tanpa suara.
Sepasang mata merah menyala mengawasi keramaian itu dengan penuh hasrat.
"Aku benar-benar haus," gumam Brad lirih sambil menjilat bibirnya. Tatapannya tak lepas dari para manusia yang menari di bawah cahaya obor. "Lihat mereka, bahkan dari sini aku bisa mencium aroma darah mereka."
Ethan tetap berdiri bersandar pada batang pohon besar. Kedua tangannya terlipat di dada, wajahnya datar tanpa ekspresi."Kalau ingin minum, pergilah," ucapnya dingin."Selesaikan secepat mungkin. Kita tidak boleh terlalu lama berada di wilayah ini."
Brad mengerutkan kening."Kau sendiri tidak lapar? Sudah dua hari kau belum menyentuh darah."
Ethan tidak menjawab.
Brad hanya mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menghilang dalam satu lompatan cepat menuju keramaian.
Kini Ethan sendirian.
Hening kembali menyelimuti hutan. Namun beberapa detik kemudian...
Krek!
Suara ranting patah membuat telinga Ethan bergerak waspada. Matanya langsung menyapu kegelapan. Dia berbalik, berusaha mencari-cari sumber suara itu, tetapi semuanya tampak sunyi. Kemudian Ethan memejamkan kedua matanya. mencoba mengandalkan indra penciumannya yang jauh lebih tajam daripada vampir biasa.
Seketika tubuh Ethan menegang. Dia mencium aroma darah manusia yang terasa aneh. Aromanya..
Begitu lembut.
Begitu manis.
Begitu memabukkan.
Seketika tenggorokannya yang kering terasa terbakar hebat. Dalam sekejap kedua iris matanya berubah menjadi merah menyala.
Selama ratusan tahun hidup sebagai vampir, belum pernah Ethan mencium aroma darah semenggoda ini. Rasa haus yang selama dua hari berhasil ia tekan, kini meledak begitu saja. Jantungnya bahkan ikut berdebar.
Dengan gerakan secepat kilat, Ethan menghilang dari tempatnya, mencoba mengikuti aroma yang membuatnya mabuk. Dan beberapa meter dari sana, kedua matanya mengunci pergerakan seorang gadis yang sedang berjalan sendirian di antara pepohonan.
Gaun pendek berwarna biru tua bergoyang pelan diterpa angin malam. Rambut hitamnya yang panjang menjuntai hingga pinggang.
Ethan terpana.
Langkah Sonja berhenti ketika sesosok pria tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. Matanya membulat menatap pria asing yang entah sejak kapan berdiri di depannya.
Pria itu tinggi, berwajah tampan dengan garis rahang tegas. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Namun yang paling membuat Sonja merinding adalah, sepasang mata merah menyala yang menatapnya tanpa berkedip.
Selama beberapa detik, tak satu pun dari mereka berbicara. Ethan ikut terdiam. Rasa haus yang tadi membakar tenggorokannya mendadak bercampur dengan sesuatu yang sama sekali asing. Dia memandangi wajah gadis itu tanpa berkedip.
Cantik.
Bukan, itu lebih dari sekadar cantik.
Wajah mungil dengan mata besar sebening kristal. Kulit putihnya tampak bercahaya di bawah sinar bulan. Bibir merah mudanya yang kecil membuat Ethan tanpa sadar menelan ludah. Aroma darahnya semakin kuat. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ia rasanya tidak hanya ingin menggigit manusia di hadapannya, Ethan juga ingin terus memandanginya. Perasaan aneh itu membuat Ethan sendiri kebingungan.
Sementara itu Sonja mulai merasa ketakutan. Pria asing itu terus menatapnya tanpa berkata apa pun."Ka,kau siapa?" suara Sonja terdengar lirih.
Tidak ada jawaban.
Tatapan Ethan justru semakin dalam. Seolah sedang berusaha mengingat sesuatu, atau seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Belum sempat salah satu dari mereka kembali berbicara.
Brak!
Sebuah bayangan melesat dari balik pepohonan. Tubuh itu mendarat tepat di depan Sonja. Kini tubuhnya sudah sepenuhnya terlindungi di belakang vampir yang tak lain adalah Alea."Lama tidak berjumpa, Pangeran Ethan."
Ethan akhirnya mengalihkan pandangan dari Sonja. Ekspresinya kembali dingin."Alea." Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya."Kau masih hidup rupanya."
"Sangat mengecewakan, ya?" balas Alea sinis.
Keduanya saling bertatapan. Aura membunuh perlahan memenuhi udara di sekitar mereka. Sonja hanya mampu memegang ujung pakaian Alea dengan tangan gemetar, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Alea sedikit menoleh."Ayo, Sonja. Kita pergi."
Sonja mengangguk cepat.
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, suara Ethan kembali terdengar.“Sepertinya kau mengenal baik manusia ini? Siapa dia, Alea?” Suara dingin Ethan pun akhirnya terdengar.
“Bukan urusanmu!” jawab Alea datar.
“Tinggalkan gadis manusia itu, kalau kau masih ingin hidup,” perintah Ethan yang membuat Sonja langsung memegang erat tangan sahabatnya.
Alea mengepalkan tangan."Ethan, jangan memaksaku bertarung malam ini."
"Aku hanya menginginkan gadis itu."
"Tidak akan pernah."
Tatapan Ethan berubah semakin tajam."Serahkan dia, jika kau tidak ingin mati sia-sia di sini."
“Kalau begitu aku lebih memilih kematian.”
Ethan mendengus.“Baiklah kalau itu pilihanmu dengan senang hati aku akan mengabulkannya.”
Mata kelam Ethan yang tajam terus tertuju pada Alea yang berdiri tegak di hadapannya. Vampir wanita itu sama sekali tidak bergeming, seolah menjadi tembok hidup yang menghalangi pandangan Ethan terhadap sosok gadis yang berdiri di belakangnya. Meski terhalang, Ethan masih dapat merasakan tubuh Sonja yang bergetar ketakutan.
Seringai tipis terukir di sudut bibirnya.
Dengan langkah tenang, Ethan menghampiri Alea. Begitu jarak mereka tinggal selangkah, ia mengangkat satu tangan, mencengkeram bahu Alea, lalu melemparkannya begitu saja seolah tubuh vampir itu tidak memiliki berat.
Brak!
Tubuh Alea menghantam batang pohon besar sebelum akhirnya terempas ke tanah.
"Leaa!" jerit Sonja panik.
Alea meringis menahan sakit. Tubuhnya sempat terhuyung, tetapi ia memaksa diri berdiri kembali. Tatapannya yang dingin menusuk Ethan, meski jauh di dalam hatinya ia sadar, Makhluk di hadapannya bukanlah lawan yang mampu ia kalahkan.
"Menjauh darinya, Ethan." Suara Alea terdengar sedingin embusan angin malam yang menyelimuti Hutan Fork.
Namun Ethan bahkan tidak meliriknya. Seluruh perhatiannya kini tertuju pada Sonja. Dia melangkah perlahan mendekati gadis itu. Wajah pucatnya yang khas, dipadukan dengan sorot mata hitam pekat, membuat bulu kuduk Sonja meremang, tanpa sadar dia melangkah mundur.
Melihat Ethan terus mendekat, Alea kembali menerjang dari belakang."Kau tidak akan menyentuhnya!" Namun sebelum serangannya mengenai sasaran, Ethan berbalik dengan kecepatan mengerikan.
Buk!
Satu pukulan telak menghantam perut Alea. Tubuh vampir wanita itu terpental beberapa meter hingga menghantam tanah dengan keras. Darah hitam menyembur dari sudut bibirnya.
"Alea...!" Sonja kembali menjerit. Dia hendak berlari menghampiri Alea yang kini tergeletak tak sadarkan diri. Sayangnya, Ethan sudah berdiri tepat di hadapannya, menghalangi setiap langkahnya.
"Minggir!" bentak Sonja sambil menatap Ethan penuh keberanian meski tubuhnya gemetar.
Ethan hanya memiringkan kepalanya."Siapa namamu?" tanyanya datar.
"Aku bilang, menyingkir!" Bentakan Sonja justru membuat senyum Ethan semakin lebar.
"Kau ternyata cukup galak." Ia terkekeh pelan."Aku menyukainya."
Tatapan Ethan turun menelusuri wajah Sonja seakan sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga."Sepertinya kau harus ikut denganku." Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang terus menarik jiwanya. Semakin lama menatap Sonja, semakin besar keinginan Ethan untuk membawa gadis itu pergi.
Sonja menggeleng cepat sambil terus mundur. Manik matanya dipenuhi kepanikan.
Arthur, tolong aku...
Seolah mendengar jeritan hati Sonja.
Braakk!
Sesosok bayangan melesat secepat kilat. Tubuh Ethan mendadak terlempar beberapa meter akibat sebuah tendangan keras.
Disana terlihat sosok Arthur dengan kedua mata yang telah berubah merah menyala. Tatapannya dipenuhi amarah. Hal yang paling ia takutkan akhirnya benar-benar terjadi. Ethan telah menemukan gadis yang diberkati.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arthur langsung meraih tubuh Sonja ke dalam pelukannya."Kita pergi."
Whoosh!
Dalam sekejap mereka menghilang dari tempat itu. Arthur sama sekali tidak berniat menghadapi Ethan sekarang. Belum saatnya.
Saat Ethan kembali berdiri, puluhan werewolf telah mengepungnya dari segala arah. Di sisi lain, Elleanor yang baru tiba langsung berlari menuju Alea. Wajahnya memucat ketika melihat sahabatnya terkulai tak sadarkan diri."Alea, bangun, Alea!" Namun tidak ada jawaban.
Sementara itu Ethan hanya tersenyum tipis. Kemunculan Arthur telah menjawab seluruh teka-teki yang selama ini mengusik pikirannya."Jadi dugaanku benar. Gadis itu memang yang terberkati."
Detik berikutnya...
Hutan dipenuhi jeritan.
Dengan kekuatan yang nyaris mustahil ditandingi, Ethan melesat ke tengah kepungan. Satu demi satu werewolf tumbang. Cakaran, taring, dan serangan mereka sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh Ethan. Dalam hitungan detik, tanah berubah menjadi lautan darah. Puluhan tubuh werewolf bergelimpangan tanpa nyawa. Bahkan ratusan vampir seperti Alea pun tidak akan mampu menghentikannya, apalagi hanya beberapa prajurit werewolf.
Melihat pembantaian itu, Elleanor menggertakkan gigi. Ia tahu mereka tidak memiliki peluang sedikit pun untuk menang. Tanpa berpikir panjang, Elle mengangkat tubuh Alea ke punggungnya lalu melarikan diri memasuki kegelapan hutan.
Ethan tidak mengejar. Ia hanya memandangi kepergian mereka dengan wajah datar.
Dari kejauhan, Brad yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya menghampiri Ethan. Dia memang tidak pernah berniat ikut bertarung. Ia tahu, bahkan seribu musuh sekalipun bukan ancaman bagi sahabatnya itu."Kau tidak apa-apa?" tanya Brad.
Ethan tidak menjawab. Ia hanya melangkah melewati mayat-mayat werewolf yang berserakan di tanah."Ayo pergi."
Brad mengikuti langkahnya tanpa banyak bicara. Sementara itu, seringai tipis kembali menghiasi wajah Ethan. Permainan baru saja dimulai.