Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nganter Pulang
Ariana—Ana, mommy-nya Alden dan Asha, sedang berjalan menuju ruang tamu saat seorang pelayan menghampirinya. Pelayan itu mengatakan bahwa Naya sedang bertamu ke rumah mereka. Mendengar nama itu, Ana langsung berjalan ke ruang tamu tanpa membuang waktu.
"Naya?" ucap seorang wanita modis dengan wajah lembut, membuat mata gadis itu melebar.
"Tante," ucap Nara.
"Ya ampun, kamu apa kabar?" tanya wanita itu dengan lembut sembari memeluk gadis di depannya.
Sedangkan Nara hanya diam sesaat, bingung harus mengekspresikan dirinya seperti apa. Sebab, ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan Ana setelah sekian lama.
"Naya baik, Tante. Tante gimana kabarnya?" tanyanya lagi.
"Tante baik." Ana tersenyum hangat. "Tante senang akhirnya kamu mau juga datang ke sini."
Setelah itu, Ana duduk di sebelah Alden yang sejak tadi sudah berada di sofa panjang. Naya ikut duduk dengan sedikit gugup.
"Maaf, Tante. Naya akhir-akhir ini sibuk," ucapnya pelan, karena bingung harus menjawab apa.
Alden yang duduk di samping mommy-nya menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua alisnya sedikit bertaut, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Oh, gitu," jawab Ana.
Seketika Alden berdeham pelan.
"Mom, kalau gitu aku ke kamar dulu, ya," ucapnya, hendak pergi.
Namun, belum sempat ia benar-benar bangkit, Ana langsung mencegahnya.
"Sini aja dulu. Nggak sopan, loh, Bang, pamit begitu aja waktu ada tamu," protes Ana dengan suara kecil.
"Aku diminta Asha buat nemenin dia sampai Mommy datang," jawab Alden.
"Udah, di sini aja dulu. Dia bukan orang lain," ujar Ana, lalu menoleh ke arah Naya. "Maaf, ya, Naya."
"Ah, iya, nggak apa-apa, Tante. Tadi aku habis anterin Asha pergi beli hadiah, terus disuruh mampir sama dia," jelas Nara.
"Oh, gitu. Makasih, ya, udah anterin Asha," ucap Ana.
"Sama-sama, Tante," jawab Nara sopan.
Ana menatap Nara lekat-lekat, lalu tersenyum kecil.
"Tante masih belum nyangka ternyata kamu anaknya Ronald. Waktu Ronald publish kamu di Instagram pribadinya, Tante shock banget," ucap Ana.
Nara hanya tersenyum malu mendengarnya. Tidak lama setelah itu, Asha turun dari lantai atas.
"Maaf, ya, Nay. Lama. Aku bersihin muka dulu soalnya," ucap Asha dengan nada tidak enak hati.
"Oh, nggak apa-apa, kok. Kalau gitu, gue pulang dulu, ya. Takut Mami telepon," jawab Naya.
Hari memang sudah semakin sore. Nara merasa tidak enak kalau terlalu lama berada di rumah orang tanpa memberi kabar kepada maminya.
"Loh, kok udah pulang aja? Nggak mau makan malam dulu di sini?" tawar Ana.
"Nggak usah, Tante. Aku belum ngabarin Mami soalnya," jawab Nara, bersiap untuk pulang.
Namun, baru saja ia bangkit dari duduknya, tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya masuk ke ruang tamu.
"Daddy pulang," ucap laki-laki itu.
"Daddy!" seru Asha dengan senang saat melihat ayahnya datang.
"My Princess, kok masih pakai baju sekolah?" tanya Arka. Ia belum sadar kalau ada Naya di sana.
"Iya, loh, Sayang. Baru pulang ke rumah. Soalnya tadi lagi beli hadiah sama Naya," ucap Ana.
Mendengar ucapan istrinya, Arka langsung menoleh ke arah Nara. Matanya membesar, lalu wajahnya berubah sangat antusias.
"Oh my God! Anak Ronald. Kamu apa kabar, Neng Geulis?" ucap Arka excited.
"Naya baik, Om," jawab Nara sopan.
"Aduh, makin cantik aja kamu. Dulu ketemu waktu umur tujuh tahun, sekarang udah gede aja," ucap Arka, membuat Nara terkekeh canggung.
"Ayo, silakan duduk. Pasti capek, ya, habis anterin Asha. Udah, nggak apa-apa, istirahat dulu di sini," ucap Arka sambil duduk di seberang Nara.
Alden yang mendengar itu hanya mendengus kesal. Padahal gadis itu baru saja mau pulang, tapi daddy-nya malah bersikap seolah-olah Nara baru saja sampai di rumah mereka.
"Nggak usah, Om. Aku cuma anterin Asha pulang aja, dan tadi juga udah istirahat di sini. Jadi, aku mau pulang dulu," tolak Nara dengan halus.
"Loh, kok gitu? Padahal saya baru sampai, loh. Kok kamu udah pulang aja? Kamu nggak mau ketemu lagi sama saya, ya? Walaupun terakhir ketemu waktu kamu umur tujuh tahun?" protes Arka.
Nara jadi cengong mendengar ucapan itu. Ia bingung harus menjawab apa.
"Sayang, jangan gitu. Kasihan, loh, Naya-nya," bela Ana.
"Nggak apa-apa, loh, Dek. Padahal lambat cepat rumah ini bakal jadi rumah dia juga. Ups!" ucap Arka sengaja keceplosan.
Mendengar itu, Alden langsung paham maksud ucapan daddy-nya. Ia mengacak rambutnya dengan gusar. Sedangkan Nara sama sekali tidak paham apa yang dimaksud oleh Arka.
"Nggak apa-apa, Om. Lain kali Naya mampir lagi. Soalnya kalau kemalaman pulang, nanti Mami marah-marah di rumah," tolak Nara lagi.
"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan, ya, Nak," ucap Arka akhirnya.
Nara pun pamit kepada mereka semua. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, suara Arka kembali menghentikannya.
"Eits, tunggu dulu," ucap Arka.
Nara pun menoleh.
"Alden! Sini, gantengnya Daddy," panggil Arka.
Entah kenapa, perasaan Alden dan Nara sama-sama mulai tidak enak.
"Temenin atuh Naya-nya pulang. Udah sore. Nanti kenapa-kenapa gimana? Nanti Daddy juga dipenggal sama Om Ronald, ya!" pinta Arka.
"Eh, nggak usah, Om. Masih terang juga. Naya berani kok pulang sendiri," tolak Nara halus.
Jujur saja, ia merasa tidak enak kalau harus merepotkan Alden. Apalagi cowok itu dari tadi kelihatan tidak terlalu senang dengan keberadaannya.
Sedangkan Alden sudah sangat tahu seperti apa sifat daddy-nya. Kalau daddy-nya sudah meminta sesuatu seperti itu, ia tidak bisa menolak. Mau tidak mau, ia harus menurut.
"Iya, Dad," ucap Alden lemas.
Mendengar jawaban itu, Nara pun cengong.
"Hati-hati, ya, Nay," ucap Asha.
"Hati-hati ya kamu di jalan," pesan Mommy Ana.
"Makasih. Aku pulang dulu," ucap Nara, lalu keluar dari rumah itu.
Saat berjalan menuju mobilnya, Nara melihat Alden sudah lebih dulu keluar dari pekarangan rumah menggunakan motor. Cowok itu mengenakan helm full face, membuat wajahnya tidak terlihat jelas.
Nara pun masuk ke mobil, menyalakan mesin, lalu mulai menjalankan mobilnya keluar dari rumah keluarga Alden. Sementara itu, Alden mengikuti dari belakang dengan motornya.
Sesampainya di persimpangan kompleks, Nara tiba-tiba menghentikan mobilnya. Alden yang berada di belakangnya langsung mengerutkan kening.
Nara menurunkan kaca mobilnya, lalu menatap Alden dari dalam.
"Nggak usah anterin gue! Gue bisa pulang sendiri!" ucapnya.
"Lo jalan aja. Gue ikutin dari belakang. Nggak usah protes," balas Alden datar.
"Nggak. Lo pulang aja sana. Gue juga bisa pulang sendiri!" tolak Nara.
"Gue bilang nggak usah protes," jawab Alden.
"Batu banget sih lo jadi orang. Gue bisa sendiri!" lawan Naya.
"Kalau daddy gue udah merintah gue, gue nggak bisa nolak. Mending lo setir lagi mobil lo. Gue ikutin dari belakang," ucap Alden.
Suaranya terdengar sedikit berat dari balik helm full face yang masih ia kenakan.
"Gue nggak mau. Nanti lo tahu lagi rumah gue. Udah, lo ke mana aja kek sementara dulu. Gue mau pulang dulu. Bye, Maximal!" ucap Nara meledek.
Setelah itu, ia kembali menaikkan kaca mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Namun, Alden bukan tipe orang yang mudah diperintah oleh Nara. Jadi, ia tetap mengikuti mobil gadis itu dari belakang. Hal itu membuat Nara berdecak sebal.
"Batu banget tuh cowok. Dikira gue pengecut kali pulang sendirian. Pulang malam gue juga pernah," gumam Nara kesal di dalam mobil.
Meski begitu, ia tidak mau protes lagi. Ia terus menjalankan mobilnya sampai akhirnya tiba di depan rumahnya.
Nara menurunkan kaca mobilnya lagi saat melihat Alden berhenti tidak jauh di belakang.
"Gue udah sampai rumah. Sekarang lo pulang sana," ucapnya dari dalam mobil.
Alden hanya menatap Nara sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke rumah mewah yang berdiri di depannya. Setelah memastikan gadis itu benar-benar sudah sampai, barulah ia membelokkan motornya dan pergi dari sana.