Fredella Dominique tidak menyangka harus menikahi pria yang usianya lebih tua. Dia dijodohkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan keluarga calon suaminya.
Tapi siapa sangka, calon suaminya sangat perhatian dan mencoba memulai hubungan yang baik diantara mereka. Tidak seperti rumor beredar bahwa pria itu dingin, datar juga kejam, melainkan sikapnya sangat manis pada Fredella.
Hingga keduanya menikah atas dasar cinta. Fredella jatuh cinta pada suaminya, kegigihan dan ketulusan pria itu meluluhkan hati.
Tapi siapa sangka suatu hari badai datang mengusik bahkan menghancurkan kehidupan manisnya bertubi-tubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Beraksi
BAB 34
Semangat yang berada di puncak seketika menghilang karena pintu itu tidak terbuka, berulang kali ia mendorong handel pintu, tetap saja terkunci rapat.
“Akh sial, apa adik pesakitan itu telah pulang? Mana mungkin aku tidak melihatnya. Padahal ini kesempatan bagus, kenapa Dariel mengunci pintu dari dalam.” Geram Clarissa masih berusaha membuka pintu.
Kedua netra sipitnya semakin kecil kala memperhatikan sesuatu, ya sesuatu yang tertutup kotak besi kecil berada di bawah handel pintu. Ia membukanya dan terbelalak melihat calon suaminya itu memasang kunci kombinasi.
Semakin kesal pula Clarissa karena Dariel menuliskan sesuatu dan jelas tujuannya untuk Fredella, ia sama sekali tidak bisa mengetahui sandi itu.
Akhirnya memutar tubuh dan terkejut bukan main melihat adiknya tengah memandang lurus, pasti wanita bermata hazel itu tahu apa yang telah ia lakukan.
“Kakak berani naik ke sini? Apa tidak takut Papa tahu? Kakak tidak takut diusir?.” Fredella menakuti Clarissa, bukankah peraturan mertuanya jelas bahwa area ini hanya untuk anak-anak Bradley atau keluarga inti, orang lain tidak diperkenankan menginjakkan kakinya, bahkan di tangganya pun tidak.
“Kamu mau mengadu pada mertua mu? Seharusnya kamu yang takut, Della. Sebentar lagi kamu terusir dari rumah ini, dan aku yang menggantikannya. Aku, Dariel dan anak kami akan hidup bahagia. Jadi jangan menangis bila waktu tiba, hubungan ayah dan anak lebih kuat daripada pernikahan kalian, paham?.”
Tanpa tahu malu, Clarissa menabrak bahu Fredella dan turun ke lantai satu, sangat cepat ia bergerak sebelum pelayan mengetahui dan melaporkan tingkahnya ini pada calon mertuanya.
“Tenang Fredella, kamu harus sabar. Aku akan menghadapi ini semampunya, dan pergi ketika aku benar-benar tidak sanggup lagi.” Tegasnya pada diri sendiri. Ia sungguh bingung, jika berpisah kemana pulang? Ke rumah ayah angkatnya sama saja menambah rasa sakit.
Mama Marisa pasti tidak akan membiarkan hidupnya tenang, lalu Kakaknya pasti sering berkunjung, mungkin bersama Dariel dan anak mereka, Fredella tidak mampu melihat semua itu.
Fredella mengernyit melihat kunci sandi di bawah handel pintu, ia yakin pagi tadi belum ada benda ini. Lalu membaca note yang menempel pada jajaran angka, bibir merah delimanya merekah, senyum manis tercetak jelas.
“Sayang, kamu tahu apa sandinya, bukalah. Aku menunggumu.”
Bukan tanggal lahir Dariel atau Fredella, bukan juga tanggal pernikahan keduanya, bukan tanggal pertunangan yang di gelar secara mewah di mansion utama. Melainkan waktu pertemuan pertama mereka, tidak ada yang tahu kecuali Dariel dan Fredella.
Fredella tersenyum ketika pintu terbuka, ia masuk dan menatap suaminya tengah berdiri bertelanjang dada sembari memasukan kedua tangan pada saku celana.
“Kamu cerdas sayang, pintunya langsung terbuka.” Dariel berjalan menghampiri Fredella, memeluk wanita ini dan membawanya ke balkon kamar. Menikmati pemandangan senja yang elok, Dariel menciumi pipi istrinya sampai Fredella merasa geli.
“Sayang, kamu tahu, aku bertemu Tante Samantha, dan minggu depan kita main ke mansion, kamu akan mulai menjalani beberapa prosedur terapi.” Bisik Dariel.
“Ma-maksudnya?.”
“Kamu mau memberiku anak-anak yang lucu kan?. Dokter kandungan di Birmingham bilang masih ada kemungkinan walau kecil, dan kita akan mewujudkan itu semua sayang. Kamu jangan khawatir, kita berusaha keras.” Mengerlingkan sebelah mata lalu menyesap bibir merah istrinya.
“Tapi bagaimana kalau gagal Dariel? Ku juga takut dan tidak sanggup kelak anakku memiliki saudara berbeda ibu.” Batin Fredella ngilu mengatakannya.
“Lalu, siang ini siapa yang ditemui istriku sampai pulang selarut ini, hem?.” Dariel membelai rambut coklat Fredella dan sesekali menciuminya, menghidu rakus aroma buah yang menyegarkan.
“Aku......aku bertemu Rico dan Daniel, ta-tapi kamu jangan salah aku tidak......” Fredella tidak bisa lagi berkata-kata ketika Dariel membungkam bibir manis itu, menjelajahi rongga bagian dalam terburu-buru.
Fredella khawatir suaminya marah dan salah paham tapi merasakan sentuhan ini yang lembut dan suara Dariel, tidak menandakan indikasi apapun. Seketika Fredella merasa bersalah bertemu pria lain tanpa sepengetahuan suaminya.
“Dariel?”
“Ya?”
"Kamu tidak marah aku bertemu Rico? A-aku tidak sengaja bertemu dengannya dan....."
"Aku tahu kalian bertemu di pinggir jalan, dan aku percaya kamu tidak melakukan apapun tapi jangan mengkhianati kepercayaanku sayang.......sejujurnya aku cemburu tapi aku tidak mau menambah masalah sayang."
Sepasangan suami istri ini terlibat perbincangan santai, apalagi terkait pemasangan sandi kombinasi baru di pintu, bukankah hanya menggunakan kartu sudah cukup sebagai keamanan.
Namun Dariel bergerak cepat, memerintahkan kepala pelayan untuk memperbaharui pengamanan pintunya. Tepat sesuai dugaan Clarissa akan naik di saat rumah sepi.
Dariel tidak mau menambah luka dan prasangka buruk semua orang termasuk Fredella padanya, demi keamanan bersama ia memasang kunci ganda.
Fredella tertawa, senang sebenarnya, sejak Clarissa mulai tinggal di sini tidak pernah melihat sekalipun suaminya ini menunjukkan sikap berbeda, yang ada Dariel selalu berusaha menghindari ibu dari calon anaknya.
“Kamu jangan khawatir sayang, masih ingat janjiku? Apapun ku lakukan demi istriku, demi keutuhan rumah tangga kita. Maafkan suamimu ini Fredella, aku janji semua akan berakhir sayang, janji.” Dariel memeluk tubuh istrinya, dirasakan dalam rangkulan Fredella sedikit kurus mungkin karena tekanan masalah yang dihadapi sekarang ini datang tanpa permisi.
“Jangan berjanji bila kamu tidak bisa menepatinya Dariel.” Lirih wanita bermata hazel itu dalam hati.
**
Otak jahil pria ini mulai bekerja normal, bahkan membawa kakak iparnya turut serta dalam aksinya kali ini. Seorang Dariel memang selalu menyebalkan, dan membuat darah siapapun mendidih berhadapan dengannya.
“Bagaimana Dewa? Apa kondisinya baik-baik saja? Kenapa bisa dia sakit mendadak? Mama lihat sore tadi masih baik-baik saja.”
“Ah ya, Dariel memerlukan istirahat, dan sebaiknya diam di kamar, dia terserang flu, meskipun tubuhnya tidak demam tapi akan bahaya jika sampai menulari orang lain.”
“Ah kamu Dariel kenapa sakit. Merepotkan mama.” Keluh Mama Nayla yang harus menghadapi bawelnya Clarissa seorang diri di bawah.
Ibu hamil itu marah ketika Dariel tidak turut makan malam bersama keluarga dengan alasan sakit dan tidak ingin dijenguk siapapun. Fredella juga hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa suaminya dalam kondisi tidak fit.
“Dasar anak nakal kamu.” Papa Rayden menatap tajam pada putranya yang mulai beraksi, tapi Dariel langsung berpura-pura sakit di depan mama dan istrinya. Ia menghindari keadaan menegangkan di meja makan, biarlah sesekali lari dari masalah.
“Mama jangan khawatir, aku sudah memiliki istri, jadi mama keluar kamar, Fredella yang akan merawatku, ma.”
“Terima kasih kakak ipar, profesimu sangat membantu.” Ucap Dariel berakting sakit lalu batuk.
“Hey, jangan bawa-bawa profesi.” Geram Dewa.
“Sayang aku lapar, bisa ambilkan makanan untukku?.” Manja Dariel seperti anak kecil yang ingin disayangi ibunya.
Tanpa banyak debat, Fredella turun ke bawah meminta seorang asisten rumah menghangatkan makanan untuk suaminya. Di saat bersamaan juga Clarissa ke dapur, lalu membawa Fredella ke taman belakang dan memaki adik angkatnya. Clarissa menuduh bahwa Fredella sengaja menjauhkan Dariel darinya.
Ibu hamil ini tidak bisa mengontrol emosi, beberapa pelayan pun memisahkan Fredella dan Clarissa.
“Kamu jahat Della, memisahkan ayah dari anaknya. Kamu cemburu kan? Kamu tidak akan pernah bisa memberi Dariel keturunan, tidak akan.” Sentaknya tanpa hati.
Fredella meneteskan air mata dan memberanikan diri membalas kakaknya ini, “Apa kakak juga yakin anak itu milik suamiku?. Apa jadinya kalau itu bukan anak suamiku?.”
“Ah, sialan kamu. Beraninya membawa anakku yang tidak bersalah.”
PLAK
Clarissa memukul keras pipi adik angkatnya.
...TBC...
TAMAT 😍😍😍😍