NovelToon NovelToon
Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"

​Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.

​Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.

​Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.

​Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Dr. Chantal meletakkan kedua bayi yang telah dibersihkan dan dibungkus kain flanel hangat ke dalam dekapan Emma. Tangisan mereka perlahan mereda begitu merasakan kehangatan kulit sang ibu.

Emma menatap kedua malaikat kecilnya dengan pandangan tak berkedip dan air mata haru mengalir deras tanpa bisa dibendung.

​"Mereka sangat sempurna, Emma," bisik Xavier yang berdiri di sisi ranjang seraya menatap kedua bayi itu dengan binar mata yang jarang ia tunjukkan.

​"Terima kasih, Xavier. Terima kasih sudah menemaniku melalui neraka ini!" ucap Emma penuh kelegaan.

Ia mencium kening kedua bayinya bergantian.

"Boleh aku memberikan nama mereka sekarang?"

​"Tentu," sahut Xavier dan menyandarkan tubuhnya dengan anggun.

"Siapa nama yang akan disandang oleh dua penerus singgasana barumu?"

​Emma mengusap pipi mungil bayi laki-lakinya yang bermata tegas.

"Untuk putraku, namanya adalah Leon Ellis. Dia akan menjadi singa yang kuat untuk melindungiku."

Tatapannya beralih ke bayi perempuan yang bergerak mungil di sebelahnya.

"Dan untuk putriku, Leah Ellis. Dia adalah anugerah terindahku."

​"Leon Ellis dan Leah Ellis."

Xavier mengulangi nama-nama itu, mengangguk setuju.

"Nama belakang Ellis akan menjadi legenda baru di Eropa. Besok pagi, aku akan memerintahkan Kevin untuk mendaftarkan identitas resmi mereka di bawah perlindungan hukum Ellis Corporation secara mutlak. Dokumen mereka akan dikunci dengan enkripsi tertinggi sehingga tidak akan ada satu orang pun dari masa lalumu yang bisa melacak keberadaan mereka."

​"Pastikan nama Kincaid terkubur sedalam mungkin dari hidup mereka, Xavier," ujar Emma.

Tatapannya mendadak menajam di balik sisa-sisa rasa lelahnya.

​"Serahkan semua urusan hukum dan identitas mereka padaku," jawab Xavier.

***

​Sementara itu di sebuah hotel bintang lima di pusat kota Paris, badai salju yang menderu di balik jendela kaca besar malam itu terasa begitu mencekam. Di dalam kamar yang gelap, Alfie Kincaid mendadak terduduk tegak di atas ranjangnya dengan napas yang memburu hebat.

​"Hah ... hah ...."

Alfie mencengkeram dadanya sendiri. Jantungnya berdegup kencang dan ulu hatinya mendadak terasa sesak luar biasa, seolah pasokan oksigen di sekitarnya tersedot habis dalam sekejap. Keringat dingin membasahi kaus hitam yang dikenakannya.

​Troy yang tidur di sofa ruang tengah langsung terbangun mendengarkan suara napas tuannya yang berat. Ia bergegas masuk ke dalam kamar.

"Pak Alfie? Ada apa? Apa Anda mengalami mimpi buruk lagi?"

​Alfie tidak menjawab. Ia menatap telapak tangannya yang bergetar hebat di bawah kegelapan malam Paris. Perasaan aneh, kombinasi antara rasa sakit yang amat sangat sekaligus secercah ikatan batin yang tak kasat mata, mendadak membakar seluruh kesadarannya.

​"Dadaku rasanya sesak sekali, Troy," bisik Alfie dengan suara parau yang bergetar menahan gejolak aneh di batinnya.

"Flossie, aku merasa dia sangat dekat denganku malam ini. Dia ada di kota ini, Troy. Aku bisa merasakannya," bisik Alfie lagi, matanya menatap tajam menembus kegelapan malam Paris.

​Troy menghela napas panjang dan bersandar pada kusen pintu kamar dengan guratan lelah.

"Pak Alfie, kita sudah membalikkan setiap sudut Paris selama berminggu-minggu. Kita melacak jaringan Xavier Ellis dan memeriksa properti miliknya, bahkan menyisir manifes penerbangan pribadi. Hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda Nyonya Flossie."

​"Xavier menyembunyikannya dengan sangat rapi! Tapi aku tahu dia tidak mati!"

Alfie menyibak selimutnya dengan kasar, berdiri dengan kaki telanjang di atas lantai marmer yang dingin. "Aku tidak akan pulang sebelum menemukannya!"

​"Tapi Madam Willa sudah mengirim tim audit ke London," potong Troy.

"Jika Anda tidak kembali ke markas Kincaid Group di London minggu ini untuk menandatangani restrukturisasi saham, Madam Willa akan mengambil alih kepemimpinan secara hukum. Kita kehabisan waktu, Pak."

​Alfie mengepalkan tinjunya erat-erat dan rahangnya mengencang menahan frustrasi yang membakar dada. Paris yang begitu luas mendadak terasa seperti labirin tanpa ujung yang sengaja mempermainkannya.

Setelah berhari-hari menatap salju yang mencair dan menghadapi dinding pertahanan siber Ellis Corporation yang tak tertembus, kenyataan pahit akhirnya menghantamnya.

"Kita pulang ke London besok pagi, tapi katakan pada Samuel, jangan pernah menghentikan mata-matanya di Paris. Sedetik saja Xavier Ellis melakukan kecerobohan, aku akan kembali."

***

Dua tahun kemudian, di sebuah ruang bermain yang luas di dalam château di pedalaman Lore Valley suasana terasa jauh lebih hidup. Dinding ruangan itu kini dipenuhi dengan lukisan cat air yang ceria dan rak-rak buku cerita internasional.

​Dua balita berusia dua tahun tumbuh menjadi sosok yang sangat aktif, mengisi setiap sudut tempat itu dengan tawa dan langkah-langkah kecil mereka.

Emma duduk di karpet bulu rajut, dan memperhatikan kedua buah hatinya dengan binar kebahagiaan.

​"Leon, sayang, jangan terlalu dekat dengan layar tablet itu," tegur Emma lembut.

​Di sudut ruangan, seorang balita laki-laki dengan rambut hitam legam dan sepasang mata kelam yang tajam sangat mirip dengan garis wajah Alfie sedang duduk bersila.

Leo alih-alih bermain dengan balok kayu seperti anak seusianya, jemari mungil Leon bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar di atas layar monitor interaktif khusus anak-anak dan menatap barisan warna dan angka digital dengan sangat fokus.

​Leon mendongak sejenak dan menatap ibunya dengan tatapan datar yang dewasa. "Layar biru menarik, Mama. Angka-angka ini bisa berpindah kalau ditekan."

​Emma tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa khawatir melihat ketertarikan Leon yang tidak wajar pada gawai sejak usia sangat dini.

​Tiba-tiba sepasang lengan mungil memeluk leher Emma dari belakang. Seorang balita perempuan cantik dengan mata bulat yang berbinar jenaka dan senyuman manis bersandar di pundaknya.

​"Mama, Leah mau kue cokelat," bisik Leah dengan suara cempreng yang manja.

Ia mengerjapkan matanya berulang kali dan memberikan tatapan paling menggemaskan yang tidak akan bisa ditolak oleh orang dewasa mana pun.

"Kalau Mama kasih Leah kue, Leah akan kasih Mama ciuman paling banyak!"

​Emma terkekeh dan membalikkan tubuhnya dan mencubit gemas hidung mungil putrinya.

"Kamu ini pandai sekali merayu, hm? Siapa yang mengajarimu bersikap manis seperti ini untuk mendapatkan keinginanmu?"

​"Paman Xavier!" jawab Leah dengan riang sambil menunjuk ke arah pintu masuk ruang bermain.

​Xavier melangkah masuk dengan setelan jas wol abu-abu tanpa dasi dan memegang sebuah tablet kerja khusus berkeamanan militer di tangan kanannya. Aura dinginnya seketika mencair saat Leah berlari kecil ke arahnya dan memeluk kakinya.

​"Paman Xavier! Leah mau kue!" seru balita perempuan itu.

Ia mendongak penuh harap dan Xavier membungkuk, lalu mengangkat Leah ke dalam gendongannya dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa.

"Tentu saja, Putri Kecil. Paman sudah menyuruh pelayan menyiapkan wafel madu untukmu di ruang makan."

​"Yey! Terima kasih, Paman tampan!"

Leah mengecup pipi Xavier dan membuat pria yang ditakuti di dunia bisnis Eropa itu menyunggingkan senyuman tipis.

​Emma berdiri dari karpet dan merapikan gaun rumahan yang dikenakannya.

"Kamu terlalu memanjakannya, Xavier. Leah mulai tahu bagaimana cara memanipulasi orang dewasa dengan wajah manisnya itu."

​"Itu bukan manipulasi, Emma. Itu adalah kecerdikan alami," sahut Xavier sembari menurunkan Leah kembali ke lantai.

"Di dunia luar, bakat Leah untuk membaca emosi orang dan memanfaatkannya akan menjadi senjata negosiasi yang luar biasa di masa depan."

​Xavier kemudian berjalan mendekati meja kopi dan meletakkan tablet kerjanya di sana untuk menyapa Leon yang masih asyik dengan dunianya sendiri.

"Bagaimana harimu, Leon? Apakah gawai anak-anak itu membosankan?"

​Leon tidak menjawab. Balita laki-laki itu perlahan merangkak mendekati meja kopi dan matanya langsung terpaku pada tablet kerja Xavier yang baru saja diletakkan.

Tablet itu memiliki layar hitam dengan enkripsi pola keamanan sembilan titik rumit yang biasa digunakan untuk mengunci dokumen rahasia Ellis Corporation.

​"Leon, jangan sentuh itu! Itu dokumen kerja Paman," tegur Emma.

Emma hendak melangkah maju untuk menarik putranya.

​"Tunggu, Emma. Biarkan saja!" potong Xavier.

Ia menahan lengan Emma dengan isyarat tangan. Mata elang Xavier menyipit dan tertarik melihat bagaimana Leon menatap permukaan layar tablet yang terkunci tersebut.

​Leon mengulurkan jari telunjuk mungilnya yang bersih. Dengan gerakan yang sangat tenang dan tanpa keraguan sedikit pun, jemari balita berusia dua tahun itu menari di atas layar.

​Leon menarik garis pola acak yang melintasi titik-titik enkripsi secara rumit, sebuah pola pertahanan siber yang bahkan tidak pernah diperlihatkan Xavier kepada siapa pun di ruangan itu.

​Bunyi halus tanda kunci terbuka menggema dan layar tablet seketika berubah menampilkan halaman data grafik saham internal Ellis Corporation.

​Emma membeku di tempatnya dan menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut.

"Bagaimana bisa Leon membuka kuncinya?"

​Xavier melangkah maju dengan cepat dan mengambil tabletnya, lalu menatap Leon dengan pandangan yang bercampur antara syok dan takjub yang luar biasa. Pola itu adalah algoritma geometris yang sengaja diubah Xavier kemarin malam. Tidak mungkin seorang balita bisa menebaknya, kecuali anak itu memiliki kemampuan membaca memori visual atau mengenali algoritma enkripsi secara instingtif.

​Leon mendongak dan menatap Xavier dengan wajah polos tanpa dosa.

"Gambarnya terbuka, Paman. Polanya mirip dengan susunan angka di mainanku."

​Xavier perlahan berlutut di depan Leon dan menaruh kedua tangannya di pundak kecil anak itu. Sinar matanya memancarkan kilat kegembiraan.

​"Emma," panggil Xavier tanpa mengalihkan pandangannya dari Leon.

"Putramu ini, dia bukan balita biasa. Dia adalah seorang jenius siber yang baru saja lahir."

1
tia
lanjut thor
sunaryati jarum
Lega Flossie dan kedua bayine selamat dan sehat
sunaryati jarum
Semoga berhasil dalam.karir dan membesarkan dua anakmu Flossie
sunaryati jarum
Jangan kesuksesan kamu terbuka Emma
sunaryati jarum
Dendammu jangan sampai.membuatmu jadi monster tapi jadi wanita tangguh yang berkualitas
sunaryati jarum
Pembalasan baru dimulai dengan.penolaksn pembelian desain
sunaryati jarum
Good job ternyata kamu punya.keahlian desain perhiasan Flossie semoga sukses dengan bimbingan Xavier
sunaryati jarum
Penyesalan kamu makin dalam.Alfie apalagi jika kebenaran tentang teh herbal dan foto
sunaryati jarum
Flossie semangat demi kedua janin di rahimmu dan membalas perlakuan Madam Willa dan Alfie
sunaryati jarum
Berarti.foto- foto editan perselingkuhan Flossie itu kerjasama Wiila dan Nadia
sunaryati jarum
Xavier mafia dan musuh Kincaid
sunaryati jarum
Kau cari sepanjang sungai sampai muara laut tidak akan ketemu,Alfie
sunaryati jarum
Ada maksud lain Xavier menolong kamu
sunaryati jarum
Setelah tidak terlihat menyesal
sunaryati jarum
Semoga bayimu kuat seperti kamu Flossie
sunaryati jarum
Akhirnya dapat pertolongan
sunaryati jarum
Kuat dan jadi orang hebat Flossie
sunaryati jarum
Kuat dan tabah semoga kau menemukan kesuksesan bersama anak yang kau kandung Flossi
sunaryati jarum
Baru mampir
Miarosa: makasih sdh mau mampir 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ditunggu lanjutannya kk 💪
Miarosa: sudah lanjut ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!