Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Jiwa seorang Alkemis
Nangong yue terdiam dan langsung duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Oh iya, ini jimat untuk menyamar." Bingxue memberikan dua jimat kepada Nangong yue dan Shen yifan.
"Jimat (Talisman) penyamaran ini, tidak akan ketahuan oleh orang-orang di bawah core formation awal, jadi pastikan ketika kalian merasakan ada aura core formation menengah keatas, segera kabur!" Bingxue memperingati mereka. "Aku akan menyusul jian chen keluar, kalian istirahat dulu."
Nangong Bingxue langsung keluar, menyusul Jian chen untuk jaga-jaga memeriksa keadaan.
Tidak lama kemudian, Shen yifan merasa bersalah karena melibatkan Nangong yue.
"Nangong yue." Shen yifan memanggilnya.
Yue langsung mendongak. "Ada apa Yi fan?"
"Itu... Maafkan aku karena aku, kamu jadi terlibat dalam pengejaran ini!" Shen yifan setengah menunduk dengan kedua tanganya di dada.
"Tidak apa-apa Yi fan, ini juga salahku, karena pengejaranmu semakin membesar!" Nangong yue langsung berdiri dan menunduk minta maaf.
Karena mereka saling meminta maaf, keadaanya jadi kaku, aura di ruangan tidak begitu hidup.
"Oh iya... Nangong yue!" Shen yifan ingin mencairkan suasana.
"Tolong jangan panggil aku dengan nama keluarga, panggil saja aku Yue, itu sudah cukup!" sela Yue ketika Shen yifan akan berbicara.
"Ahh, baiklah. Yue emang benar kamu mencari seorang alkemis grade 3?" Shen yifan dengan santainya langsung duduk di dekat Yue yang sudah duduk kembali.
"Iya, keluarga... Maksudku, aku harus menjadi alkemis grade 3 supaya bisa terus membuat pil!" Yue bercerita dengan nada halus.
"Itu sebabnya Yue mengadakan turnamen spontan?" sahut Shen yifan.
"Iya, aku mengadakan turnamen kecil-kecilan hanya untuk menyaring alkemis di kota ini. Tapi ternyata tidak ada yang mau datang ke turnamenku." keluh Yue.
"Tapi kan ada tiga peserta lainnya? Selain aku." jawab Shen yifan.
"Memang ada, cuman mereka hanyalah grade 2 awal. Adapun Lin zhaou, selain berniat jahat, dia hanyalah seorang alkemis grade dua menengah. Jadi yah, sama sekali tidak ada orang di kota istana langit ini yang benar-benar grade 3!" Nangong yue memainkan jari-jarinya.
Shen yifan hanya menganguk.
"Tapi perkataan Jian chen tadi?" Shen yifan bertanya lagi untuk memastikannya.
"Itu... Maksudnya aku harus belajar darimu!" sahut Yue dengan nada lembut.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa lebih berat.
"Belajar dariku? Maksudmu... kamu ingin belajar membuat pil grade tiga dariku?" tanya Shen Yifan dengan wajah bingung, menatap gadis di hadapannya dengan tidak percaya.
Nangong Yue tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan dengan gerakan anggun.
"Bukan begitu."
"Bukan?" Shen yifan semakin bingung.
"Aku hanya ingin belajar cara berpikirmu saat membuat pil."
Shen Yifan memiringkan kepalanya, dahi pemuda itu berkerut halus. "Cara berpikirku?"
"Iya." Yue mengangguk pelan, tatapannya terkunci pada manik mata Yifan. "Saat turnamen tadi siang, aku terus mengamatimu sebagai juri."
Mendengar hal itu, Shen Yifan refleks menggaruk pipinya yang mendadak terasa agak panas. Ada rasa canggung sekaligus malu yang menggelitik hatinya.
"Aku melihatmu tidak pernah terburu-buru," lanjut Yue, suaranya melembut, seolah mengagumi ingatan tersebut. "Bahkan ketika proses pembentukan pil-mu hampir gagal dan situasinya kritis, kamu tidak memaksa apimu menjadi lebih besar seperti yang dilakukan peserta lain."
Yue memajukan sedikit tubuhnya, menatap Shen Yifan dengan raut wajah yang sangat sungguh-sungguh.
"Sebaliknya, kamu justru berhenti sejenak, berpikir, lalu mencari cara lain."
Shen Yifan terdiam. Ia menunduk menatap telapak tangannya sendiri sebelum akhirnya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sarat akan kerinduan.
"Itu... Bukan karena aku pintar."
"Lalu?" tanya Yue penasaran.
"Itu semua yang diajarkan kakekku." Tatapan Shen Yifan perlahan berubah melembut ketika bayangan sosok kakeknya melintas di benak. "Beliau selalu berkata, seorang alkemis tidak boleh terburu-buru saat berhadapan dengan tungku."
Shen Yifan menarik napas dalam, lalu mengucapkan kalimat yang telah terpatri kuat di dalam kepalanya hingga sekarang.
"Membuat pil bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang menghasilkan pil terbaik."
Nangong Yue terpaku mendengar kalimat itu, lalu senyum tulus merekah di bibirnya. "Itulah yang ingin kupelajari."
Bukannya bangga, Shen Yifan malah tampak semakin kebingungan. Ia menatap Yue dengan tatapan polos. "Hah? Bukankah semua orang di dunia alkemis juga tahu prinsip dasar itu?"
Yue terkekeh pelan, suara tawa kecilnya terdengar merdu di dalam ruangan yang sunyi.
"Tidak." Yue menggelengkan kepala, menyanggah kepolosan Yifan. "Di keluargaku, banyak alkemis yang justru saling bersaing mengejar kecepatan demi bisa memproduksi lebih banyak pil dalam waktu singkat."
"Mereka memang hebat... Tapi setelah melihat caramu bertanding, aku sadar ada sesuatu yang berbeda darimu."
Shen Yifan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa agak terbebani dengan pujian yang bertubi-tubi. "Aku masih merasa kemampuan membuat pilku biasa saja. Bahkan sebenarnya... turnamen tadi siang adalah pertama kalinya aku benar-benar membuat pil."
"..."
Tidak lama kemudian. "Itu justru yang membuatku merasa aneh," sahut Yue sambil tersenyum geli, matanya menyipit jenaka. "Kamu baru satu kali membuat pil, tapi fondasi alkemismu jauh lebih kokoh daripada banyak alkemis yang sudah berlatih dan membakar tungku selama bertahun-tahun."
Shen Yifan hanya bisa tertawa canggung, mengutuk dalam hati betapa anehnya penilaian gadis ini terhadap dirinya.
"Aku rasa itu karena kakek memaksaku menghafal terlalu banyak buku dulu," kenang Yifan, teringa kembali. "Bahkan sebelum diizinkan menyentuh tungku, aku sudah disuruh menghafal ribuan jenis tanaman obat beserta karakteristiknya."
Mata Yue langsung berbinar mendengar rahasia kecil itu. "Benarkah?"
"Iya." Shen Yifan mengangkat satu jarinya ke udara, menirukan gaya kakeknya saat menceramahinya dulu. "Kakek selalu bilang... Kalau bahkan sifat satu tanaman saja tidak kau pahami, bagaimana mungkin kau bisa memahami esensi dari sebuah pil?"
Ruangan mendadak hening.
Yue perlahan menundukkan kepala, merenungkan setiap patah kata yang baru saja didengarnya.
Kalimat itu sederhana, namun menembus langsung ke dalam sanubarinya sebagai seorang alkemis. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat wajahnya, menatap Yifan dengan binar mata yang penuh rasa hormat dan senyum yang amat tulus.
"Yi Fan." panggilnya lirih. "Bersediakah kamu mengajariku mulai dari dasar?"
Shen Yifan langsung panik, tubuhnya menegang mendengar permintaan resmi itu. "Eh? Aku?"
"Iya."
"Tapi... aku bahkan belum pantas disebut seorang alkemis. Kultivasiku dan pengalamanku masih sangat minim."
Yue menggeleng pelan, memotong keraguan Yifan dengan mantap. "Aku tidak membutuhkan seorang alkemis yang terkenal atau dihormati banyak orang. Aku hanya ingin belajar dari seseorang yang benar-benar memahami jiwa dari alkemis itu sendiri."
Shen Yifan terdiam cukup lama, menimbang-nimbang permintaan tulus gadis di depannya. Akhirnya, ia menghela napas panjang sambil menyunggingkan senyum tipis yang pasrah.
"Kalau begitu... Kita mulai besok."
Mendengar persetujuan itu, wajah Yue langsung cerah.
"Mulai dari mengenali tanaman obat," tambah Yifan.
Yue berkedip beberapa kali, sedikit terkejut. "Hanya... Tanaman obat?"
Shen Yifan mengangguk dengan wajah yang mendadak berubah sangat serius, memancarkan aura seorang mentor yang tegas.
"Dasar alkimia bukan berada di dalam api atau tungku, Yue. Melainkan di dalam setiap helai daun dan akar tanaman yang akan dimasukkan ke dalamnya."
Mendengar penjelasan yang begitu filosofis namun nyata, Yue tersenyum lebar. Rasa tidak sabar mulai membuncah di dadanya.
"Baik," jawab Yue dengan penuh semangat. "Aku akan menjadi murid yang rajin!"
"Tapi, aku juga akan berusaha terus belajar alkemis. Dalam artian kita belajar sama-sama, tidak ada istilah master dan murid, kita hanya seorang alkemis yang sedang belajar bersama." Shen yifan memperjelas tujuannya. Ia merasa rendah diri sampai harus mengajari Yue, dimana ia dalam kultivasinya sudah di atas Shen yifan.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau!" Nangong yue tersenyum lembut dihadapan Shen yifan.
......................
Tingkatan pil :
Pil grade 1 (Mortal)
Pil grade 2 (Spiritual)
Pil grade 3 (Earth)
Pil grade 4?
(Grade hanya menunjukan kualitas pil tersebut)
Setiap pil grade ada tahapan yaitu grade 1 tahap awal, menengah, akhir.
Informasi selanjutnya akan terus berjalan disetiap bab.
...Selamat membaca...