"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetes Pertama
Dari apartemen Dion, Adrian bergegas untuk pulang. Malam ini juga dia harus bicara pada ibunya. Di basement apartemen tadi dia juga sempat menelpon ayahnya.
Dia mengatakan tentang semuanya. Tentang pertemuannya dengan Aurel, tentang cintanya yang menggebu dan tentang niatnya untuk menikah.
Wibowo Dirgantara, ayahnya adalah pria bijak. Pria itu mendukung semua jika memang itu adalah untuk kebahagiaan putranya. Hanya saja dia tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Karena masih banyak urusan yang harus ia selesaikan menyangkut pembangunan anak perusahaan Dirgantara di negeri kangguru itu.
Tapi Wibowo berjanji pasti akan datang bersama Aisha dan Aldy ketika hari pernikahan sudah tiba.
Sampai di rumah Adrian lega ketika melihat ibunya masih duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Adrian melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Ibu kok belum istirahat?" tanya Adrian melepas jas dan jam tangannya. Setelah itu meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, seperti biasanya.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah Bu, tadi makan sambal pete buatan Bu Sarwina. Enak banget, sampai nambah tadi. Ehhmm...Bu." Adrian bangkit dan duduk dengan punggung tegak, tampak berkali kali menghela nafasnya.
Ratna meletakkan buku, dia merasa Adrian ingin bicara serius padanya.
"Kamu ketemu Bu Sarwina? Memang kamu main ke rumah Aurel?"
"Enggak, tadi Adrian main ke kosan tapi Bu Sarwina kebetulan juga sedang berkunjung. Beliau bawa makanan, terus Adrian makan bareng sama mereka," jawab Adrian, sengaja tak bercerita tentang Bayu.
"Kamu bawa apa ke kosan? Jangan bilang kamu nggak bawa apa apa! Itu pertemuan pertama kali dengan calon mertua, kamu harus bikin kesan yang baik."
"Mana Adrian tahu kalau Bu Sarwina ada disana, tadi aku cuma bawa dua box ayam geprek sama es teh jumbo." Aurel suka dengan makanan pedas, dan waktu itu kebetulan ia melihat warung ayam geprek di dekat kosan.
Adrian mengaduh ketika Ratna mencubit keras lengannya.
"Ya Allah, jadi kamu cuma bawa itu buat Aurel sama ibunya?" Ratna geleng geleng kepala. "Calon mertua kamu pasti mikir kamu nggak punya duit buat beli makan, isshhh gimana sih kamu!" kesal Ratna sekali lagi mencubit lengan putranya.
"Ckk jangankan ayam geprek, aku bakal kasih restonya sekalian kalau buat mereka Bu. Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan sama lbu. Ini serius...."
"Soal apa? Saham Kata Raya sudah naik?"
"Besok aku ingin melamar Aurel Bu."
Ratna terdiam sesaat, seperti tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia hanya berpikir jika Adrian masih nyaman dengan zona 'pacaran', apalagi hubungan Adrian dan Aurel baru seumur jagung. "Melamar? Kamu serius Dri?" tanya Ratna hati-hati. "Serius mau menikah?"
Adrian mengangguk. Sorot matanya mantap. "Sangat serius Bu. Sangat siap."
Ratna menghela napas. Ia menatap Adrian, anaknya tidak pernah main-main kalau sudah bicara seperti itu.
"Secepat itu?" tanya Ratna pelan.
"Aku tidak mau menunda, Bu," jawab Adrian. "Ada banyak pertimbangan, Dion pasti juga udah cerita tentang Wisnu dan Dion kan? Jika status kami jelas maka Adrian lebih leluasa untuk melindunginya. Lepas dari semua itu, aku cinta sama dia Bu. Nggak liat dia sehari aja rasanya Adrian mau gila."
Ratna diam, lalu ia mengangguk pelan. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Apa saja yang sudah kamu siapkan untuk lamaran? Semua sudah beres?"
Adrian tersenyum kecil dan mengangguk "Sudah Bu. Semua sudah aku rencanakan dengan baik. Aku dan Dion sudah handle semuanya."
Cincin, bunga dan coklat... Adrian rasa semua itu tidak sulit didapat.
Ratna mengerutkan kening sedikit. "Dion? Emang dia ngerti soal lamaran?"
"Dia ngerti soal semua, kalau nggak gitu ayah nggak mungkin percaya sama dia."
Ratna mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dalam pikirannya, "semua" pasti sudah siap termasuk seserahan yang akan dibawa besok.
"Bagus kalau begitu," kata Ratna. "Ibu percaya sama kamu. Sekarang kamu istirahat, jangan sampai muka kamu lecek pas lamaran," ujar Ratna tertawa kecil, walaupun terlihat tenang tapi ia tahu Adrian sangat gugup tentang acara besok.
Setelah itu Adrian pamit ke kamar. Begitu pintu tertutup ia langsung mengambil ponselnya. Dia menekan tombol Ay.
Tut... tut...
"Halo?" Suara Aurel di seberang terdengar lelah tapi lembut.
Sedang Adrian memejamkan matanya, ini salah satu alasan ia ingin cepat menikah. Hanya dengan mendengar suara lembut Aurel saja bisa membuatnya berkeringat dingin. Apapun yang ada di diri wanita itu membuatnya gila.
"Yank...," panggil Adrian pelan. "Aku mau ngomong serius."
"Emang kapan nggak serius," sahut Aurel tertawa kecil.
Adrian terdiam sejenak. "Besok...aku mau datang ke rumah, untuk melamar kamu."
Di seberang sana hening.
"Dri, kamu nggak lagi mabok kan?"
"Amit amit Yank, masa ganteng ganteng gini mabok sih. Serius ini, aku sama lbu besok mau kerumah. Kamu mau kan dilamar? Jangan dijawab...mau enggak mau aku tetep ke rumah besok."
Adrian bisa mendengar wanitanya berdecak diseberang sana, terdiam sesaat.
"Apa nggak terlalu cepat?"
"Iya," sahut Adrian jujur. "Aku tahu rencana ini terlalu cepat. Aku sempat takut kamu mikir kalau aku cuma main main."
"Terus kenapa tetap mau ngelamar?" tanya Aurel pelan.
"Karena aku serius dengan hubungan kita, demi Allah aku cinta sama kamu," jawab Adrian, suaranya dalam.
Di sana Aurel menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak, semua rasa bercampur menjadi satu. Antara kaget, tak percaya dan bahagia.
"Kamu yakin?" tanya Aurel terakhir.
"Yakin seribu persen," jawab Adrian tanpa ragu.
Hening lagi. Lalu Aurel terdengar menghela napas panjang.
"Aku setuju."
Jawaban terakhir Aurel membuat Adrian bersujud syukur, untuk sesaat dia memejamkan matanya. Lega...dan bahagia.
"Terima kasih sudah percaya sama aku... Sayang," bisiknya, ada satu tetes air mata keluar dari sudut mata pria itu. Ini pertama kalinya ia menangis sejak ia tumbuh menjadi dewasa. Sekeras apapun ayahnya menggembleng dirinya sebagai pewaris Dirgantara, tak sekalipun ia meneteskan air matanya.
Diseberang sana hal yang sama terjadi, Aurel menyapu satu tetes air mata yang keluar tanpa ijinnya. Dia bahagia.