NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Terjebak di Hutan Larangan.

Celah karang bawah yang semula sempit perlahan-lahan melebar, menuntun langkah kaki Erlang dan Sekar Arum memasuki sebuah cekungan lembah yang tersembunyi di balik tebing kapur Goa Langse. Berbeda dengan perbukitan di atasnya yang gersang dan meranggas, lembah ini dipenuhi oleh pepohonan raksasa berlumut tebal dan jalinan akar gantung yang saling melilit. Warga pesisir selatan mengenalnya sebagai Hutan Larangan, sebuah tempat beraliran dingin yang jarang sekali berani diinjak oleh kaki manusia biasa.

Baru saja mereka melangkah sekitar lima puluh tindak menembus rimbunnya semak, kedamaian sore hari mendadak lenyap. Dari sela-sela akar pohon tua, uap putih keunguan yang sangat pekat perlahan-lahan merayap keluar, bergulung-gulung menutupi permukaan tanah hingga setinggi dada dalam hitungan detik. Bau sengit seperti belerang busuk bercampur bangkai laut seketika menusuk hidung.

"Waduh, Nimas Sekar! Berhenti dulu toh, Nimas!" seru Erlang santai namun sigap, menurunkan pikulan bambunya dengan entakan cepat ke atas sebongkah batu karang agar tidak terendam uap misterius itu. "Kabut di depan ini warnanya aneh sekali, kok keunguan seperti warna buah manggis busuk?"

Sekar Arum yang berjalan di depan Erlang langsung menghentikan langkah. Ia menarik napas pendek, namun sedetik kemudian wajah samarannya seketika berubah menjadi pucat pasi. Dada di balik jubahnya naik turun dengan tidak beraturan, dan ia mulai terbatuk-batuk kecil sembari memegangi lehernya yang terasa mencekik.

"Uhuk! Uhuk!... Erlang... ini... ini bukan kabut gunung biasa," bisik Sekar Arum, suaranya mendadak parau dan bergetar hebat. "Ini Kabut Peraba Jiwa... racun dingin yang sengaja dilepas lewat formasi tanaman kuno... Uhuk! Aliran tenaga dalamku... mendadak beku tidak bisa digerakkan..."

Tubuh Sekar Arum mendadak lemas, kedua lututnya goyah hingga ia hampir saja jatuh tersungkur ke atas tanah yang dipenuhi uap ungu mematikan itu. Melihat temannya dalam bahaya besar, kepolosan di wajah Erlang lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata serius yang memancarkan ketegasan yang luar biasa tinggi.

Set!

Dengan menggunakan gerak dasar Tapak Angin Sepoi yang telah mencapai taraf sempurna, Erlang melesat maju, menangkap tubuh lemas Sekar Arum tepat sebelum menyentuh tanah. Ia mendekap punggung Sekar dengan lengan kirinya, memapah gadis itu agar tetap tegak berdiri dalam dekapannya.

"Nimas Sekar! Tolong tahan napas dulu, jangan dihirup uap ungunya!" seru Erlang panik, wajah rupawannya berada sangat dekat di samping telinga Sekar.

"E-erlang... percuma..." rintih Sekar Arum, sepasang mata bulatnya mulai sayu dan layu, menatap wajah Erlang dengan sisa kesadarannya yang kian menipis. "Racun ini... menyerang titik pusat... Kalau tidak punya pelindung hawa murni tingkat dewa... kita berdua akan... akan mati kaku di sini..."

"Waduh, jangan bicara mati dulu toh, Nimas! Perjalanan kita mencari Mbah Wiro kan belum selesai," kata Erlang tegas.

Tanpa berpikir dua kali tentang aturan jarak tiga jengkal yang dibuat Sekar tadi, Erlang langsung menempelkan telapak tangan kanannya yang kokoh tepat di tengah-tengah punggung Sekar Arum. Di dalam dadanya, pusaran inti energi miliknya meledak hebat. Energi tak terbatas yang biasanya ia simpan rapat-rapat, kini mengalir keluar seperti air bah yang menjebol bendungan sawah.

Bumss!

Sebuah gelombang kejut tak kasatmata mendadak berputar di sekeliling tubuh Erlang dan Sekar. Hawa hangat yang sangat murni, pekat, dan tak terbatas memancar keluar dari pori-pori kulit Erlang, membentuk sebuah kubah pelindung beraliran panas yang berbentuk bulat sempurna, mendorong mundur kabut ungu beracun di sekitar mereka sejauh lima langkah ke segala arah.

"Gusti Allah..." bisik Sekar Arum di dalam hatinya, matanya melebar sempurna menatap keajaiban di depan matanya.

Dari jarak yang sangat dekat ini, Sekar bisa merasakan dengan sangat detail bagaimana seluruh tenaga dalam Erlang dikerahkan tanpa sisa hanya untuk melindunginya. Hawa hangat yang merembes masuk dari telapak tangan Erlang ke dalam punggungnya terasa begitu lembut, membakar habis sisa-sisa racun dingin yang sempat membekukan urat darahnya. Yang membuat Sekar kian syok adalah kenyataan bahwa Erlang membiarkan tubuhnya sendiri terbuka tanpa pelindung, memusatkan seluruh sirkulasi energinya ke luar tubuh demi memastikan Sekar tidak menghirup uap beracun itu seujung rambut pun.

"Erlang... kau... kau gila ya?!" bentak Sekar dengan suara yang mulai kembali bertenaga, meskipun tubuhnya masih bersandar pasrah di dalam dekapan dada hangat Erlang. "Kalau kau salurkan seluruh tenaga dalammu ke luar seperti ini untuk melindungiku, tubuhmu sendiri bisa kering dan rusak nantinya! Cepat tarik kembali sebagian energimu, Bodoh!"

Erlang yang dahinya mulai dipenuhi butiran keringat dingin hanya bisa tersenyum polos, menatap Sekar dengan pandangan jernihnya yang menenangkan batin. "Hahaha... tidak apa-apa kok, Nimas Sekar. Tenaga dalam saya ini kan banyak sekali, mirip stok air di sumur desa. Mau dikuras seberapa banyak pun nanti malam juga penuh lagi setelah istirahat. Yang penting sekarang wajah Nimas tidak biru keunguan lagi seperti Nimas Mirah tadi."

"Kau ini... dalam keadaan hidup dan mati begini masih saja bisa bercanda dan memikirkan orang lain!" ketus Sekar Arum, matanya mendadak berkaca-kaca menahan luapan emosi yang sangat aneh di dalam dadanya.

Di bawah kepungan kabut ungu Hutan Larangan yang mengerikan, di dalam dekapan erat lengan seorang pemuda musafir yang berbaju lusuh dan berbau matahari, pertahanan hati Sekar Arum yang selama ini berdiri kokoh sebagai putri mahkota keraton seketika runtuh total tanpa sisa. Rasa takjub, rasa bersalah atas rahasia segel kerajaan, dan kehangatan tulus yang dialirkan Erlang mengkristal menjadi sebuah perasaan baru yang sangat pekat. Sekar Arum sadar, dirinya telah jatuh hati sepenuhnya, bukan lagi sekadar kagum pada kesaktian Erlang, melainkan mencintai jiwa polos pemuda itu dengan segenap batinnya.

"Nimas Sekar," panggil Erlang perlahan, napasnya mulai agak terengah-engah karena harus mempertahankan kubah batin beraliran panas sembari berjalan setapak demi setapak menembus lembah. "Itu di depan kabut ungunya mulai menipis. Ada aliran angin kencang dari arah atas celah tebing Goa Langse. Berarti kita sudah hampir keluar dari jebakan Hutan Larangan ini."

"Nggih, Erlang... aku melihatnya," sahut Sekar Arum, nadanya mendadak berubah menjadi sangat lembut dan manis, hilangnya sifat ketus dan sombong yang biasanya selalu ia pamerkan sehari-hari. Tangannya perlahan bergerak meremas ujung lengan baju lusuh Erlang dengan sangat erat. "Terima kasih banyak ya... terima kasih sudah mau menjadi pelindung nyawaku lagi hari ini."

"Ah, tidak usah berterima kasih terus toh, Nimas," jawab Erlang santai, kembali memamerkan senyuman polosnya saat mereka akhirnya melompat keluar dari batas uap ungu dan mendarat di pelataran tanah kering yang berangin kencang tepat di depan mulut Goa Langse.

Begitu memastikan udara di sekitar mereka sudah kembali jernih dan berbau garam laut yang murni, Erlang perlahan-lahan melepaskan dekapan lengan kirinya dari tubuh Sekar, lalu menarik kembali sisa pusaran hawa hangatnya masuk ke dalam dada dengan satu tarikan napas panjang yang teratur.

Huuuh...

Erlang terduduk santai di atas seonggok batu karang hitam, menyeka keringat deras di wajah rupawannya sembari terkekeh renyah. "Waduh, jebakan kabut tadi beneran membuat perut saya mendadak lapar keroncongan, Nimas. Untung saja kita sudah keluar dengan selamat."

Sekar Arum berdiri tegak di samping Erlang, merapikan kembali lipatan jubahnya yang agak kusut bekas dekapan tadi. Semburat merah jambu yang sangat pekat kini menghiasi kedua pipi ayunya yang tersamarkan.

"Erlang," panggil Sekar perlahan, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Erlang dengan binar mata yang kini dipenuhi oleh kehangatan dan rasa cinta yang mendalam.

"Nggih, Nimas Sekar? Ada apa?" tanya Erlang polos, mendongak menatap Sekar dari atas batu.

"Aturan jarak tiga jengkal yang kubuat... mulai detik ini kubatalkan," ujar Sekar Arum dengan senyuman termanis yang pernah ia perlihatkan seumur hidupnya, membuat Erlang sempat melongo sejenak karena takjub melihat keanggunan temannya itu. "Ke depannya, kau boleh berdiri sedekat apa pun di sampingku... asal kau berjanji tidak akan melepaskan tanganmu saat bahaya datang lagi."

Erlang mengerjapkan matanya, lalu tertawa gembira sembari bangkit berdiri dan memikul kembali bambu tuanya. "Hahaha! Wah, asyik kalau begitu toh, Nimas! Jadi saya tidak perlu bingung menghitung jarak pakai jari lagi kalau mau jalan beriringan dengan Nimas Sekar. Ayo, Nimas, jalan gua di depan kita sudah terbuka bebas, mari kita segera masuk mencari keberadaan Mbah Wiro sebelum hari berganti malam!"

Sekar Arum mengangguk pelan, melangkah mantap di samping Erlang menembus kegelapan mulut Goa Langse dengan rasa kedamaian batin yang baru, membawa percikan cinta murni mereka, yang kini telah bertaut erat di balik keheningan Hutan Larangan pesisir selatan.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!