NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27: Tinta Emas dan Undangan Berdarah Dingin

System Glitch

Waktu: 10:20 AM

Perjalanan menggunakan lift eksekutif menuju lantai teratas markas Blake Group terasa seperti simulasi uji nyali.

Ruang kubus berlapis kaca dan baja itu melesat naik tanpa suara, namun udara di dalamnya terasa sangat padat hingga membuat paru-paru bekerja dua kali lipat lebih keras.

Stella berdiri tegak, memeluk map birunya di depan dada. Di sebelah kirinya, Neo Hayes Blake berdiri dengan postur sempurna.

Pria itu menatap lurus ke depan, kedua tangannya masuk dengan santai ke dalam saku celana jas charcoal-nya.

Jarak mereka hanya terpaut beberapa jengkal.

Aroma Dark Musk dan Leather milik Neo yang pekat seolah merayap di udara, membungkus Stella dalam sebuah teritori tak kasatmata.

Wangi White Tea & Peony milik Stella berusaha melawan dominasi tersebut, menciptakan tabrakan aroma yang luar biasa memabukkan di ruangan sempit itu.

Di sudut lift, Liam berdiri kaku, pandangannya terpaku pada angka penunjuk lantai, diam-diam berkeringat dingin merasakan tensi membunuh antara bosnya dan wanita di sebelahnya.

Ting.

Pintu lift terbuka. Neo melangkah keluar lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Stella mengikutinya dari belakang dengan langkah anggun yang tak kalah berwibawa.

Hak sepatu putihnya mengetuk lantai pualam gelap, menciptakan ritme yang menggema di lorong sunyi lantai eksekutif.

Mereka memasuki ruang kerja utama Neo. Ruangan itu masih sama dingin dan mengintimidasi seperti semalam.

Neo berjalan menuju meja mahoni besarnya, sementara Stella langsung mengambil tempat duduk di kursi tamu seberang meja bahkan sebelum Neo mempersilakannya.

Sikap Stella yang terlalu santai di kandang predator ini selalu berhasil membuat alis Neo berkedut samar.

Neo duduk, membuka laci mejanya, dan mengeluarkan sebuah map berbahan kulit hitam premium berlambang Blake Group. Ia mendorong map itu melintasi meja, tepat ke hadapan Stella.

"Kontrak kerja sama. Tiga puluh halaman penuh," ucap Neo dengan suara serak dan beratnya yang khas.

"Baca dengan teliti. Aku tidak menerima alasan 'tidak membaca bagian berhuruf kecil' jika kau melanggar satu saja klausul di dalamnya."

Stella membuka map tersebut. Matanya yang monolid menyipit, membaca rentetan kalimat hukum yang rumit dengan kecepatan luar biasa.

Otaknya yang cerdas dari kehidupan masa lalu memproses setiap poin pembagian keuntungan, penalti, dan hak tayang. Semuanya adil, sangat profesional, namun benar-benar mengikat Stella dari segala arah.

Neo Hayes Blake jelas bukan pria yang membiarkan rekan bisnisnya memiliki celah untuk lari.

"Pembagian royalti 60-40 untuk tahun pertama, dengan Blake Group sebagai pemegang hak distribusi utama. Sangat licik, tapi masuk akal karena kalian yang menyediakan platform-nya," gumam Stella, ujung jarinya menelusuri deretan angka di halaman kelima.

Neo menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada. Obsidian gelapnya menatap tajam setiap pergerakan mikro di wajah Stella.

"Aku seorang pebisnis, Rosewood. Aku mengambil apa yang pantas kudapatkan dari investasiku."

Stella mendongak, menyeringai miring. "Kau mengambil semuanya, Tuan Blake. Tapi baiklah, aku setuju dengan syarat ini."

Stella merogoh saku dalam jas putihnya untuk mengambil pena.

Namun, sebelum jari-jarinya menyentuh pena tersebut, layar biru holografik sistem mendadak meledak di depan matanya dengan bunyi ding yang melengking.

[ Misi Harian Absurd Diaktifkan! ]

[ Host terdeteksi terlalu serius. Waktunya mencairkan suasana dengan cara yang paling tidak masuk akal! ]

[ Misi: Jangan gunakan penamu sendiri. Mintalah izin untuk meminjam pena pribadi milik Neo. Saat pria itu menyerahkannya, sengaja sentuh jemarinya selama dua detik, lalu usap bibir bawahmu sendiri dengan ibu jari sambil menatap matanya dalam-dalam. Katakan: "Udara di ruangan mu selalu membuat bibirku kering, Pangeran Es." ]

[ Hadiah: 30 Poin Karma & Penawar Lelah Mental. ]

[ Hukuman Gagal: Host akan mengalami cegukan dengan suara lumba-lumba setiap kali melihat wajah Neo selama 3 hari berturut-turut. ]

Tangan Stella membeku di udara. Urat di pelipisnya menonjol.

Vix! Kau rubah iblis! jerit Stella di dalam kepalanya, matanya melotot menatap layar transparan itu. Cegukan suara lumba-lumba?! Kau benar-benar ingin aku lompat dari jendela lantai 40 ini, ya?!

Vix, yang sedang melayang di atas lampu gantung kristal, hanya mengibaskan sembilan ekornya sambil tertawa tertahan.

"Ayolah, Nona Cegil. Buktikan padaku kalau kau benar-benar tidak punya rasa malu. Sentuh tangannya dan goda dia!"

Stella menarik napas panjang, menahan keinginan untuk mengutuk sistem di depan wajah Neo.

Ia tahu Neo adalah pria yang mengidap mysophobia ringan; ia sangat benci barang pribadinya disentuh orang lain, apalagi pena fountain mahal berlapis emas putih yang kini sedang dipegang oleh pria itu.

Tapi Stella tidak punya pilihan.

Harga dirinya mungkin akan terluka hari ini, tapi setidaknya ia tidak akan bersuara seperti lumba-lumba di rapat direksi.

Stella menarik tangannya dari saku jas. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja mahoni, dan menatap Neo dengan wajah yang dibuat se-polos mungkin.

"Tuan Blake," panggil Stella lembut.

"Apa ada klausul yang tidak kau pahami?" sahut Neo datar.

"Tidak. Semuanya jelas," Stella tersenyum manis, senyum yang langsung membuat alarm bahaya di kepala Neo berbunyi nyaring.

"Hanya saja... penaku tertinggal. Bisakah aku meminjam penamu untuk menandatangani kontrak bernilai jutaan Poundsterling ini?"

Neo menatap Stella.

Pandangannya turun ke arah kantong dalam jas Stella, di mana sebuah klip pena jelas-jelas menyembul keluar. Wanita ini berbohong dengan sangat terang-terangan.

Namun, entah setan apa yang merasuki Neo pagi ini, alih-alih mengusirnya, pria itu mengulurkan pena emas putihnya melintasi meja ke arah Stella.

"Gunakan," perintah Neo singkat.

Ini dia momennya. Stella mengulurkan tangan kanannya.

Alih-alih mengambil ujung pena, ia sengaja mengarahkan jemarinya untuk meraih bagian tengah pena, tepat di mana jari-jari besar Neo berada.

Kulit mereka bersentuhan.

Hawa panas langsung menjalar dari titik sentuhan itu. Jemari Stella yang ramping dan dingin menyentuh punggung tangan Neo yang hangat, kokoh, dan sedikit kasar.

Ia menahan sentuhan itu selama dua detik penuh.

Bukannya menarik tangannya karena terkejut, tangan Neo justru menegang, cengkeramannya pada pena itu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

Mata obsidian Neo mendadak berubah menjadi pusaran badai yang gelap.

Pria itu menatap Stella dengan intensitas yang seolah mampu melahap wanita itu hidup-hidup.

Tanpa memutuskan kontak mata yang luar biasa panas itu, Stella perlahan menarik pena tersebut dari tangan Neo.

Wanita itu kemudian mengangkat ibu jari kirinya, mengusap bibir bawahnya sendiri dengan gerakan lambat yang sangat provokatif, dan memiringkan kepalanya.

"Kau tahu..." suara Stella mengalun rendah, serak, dan sangat cegil.

"Udara di ruangan mu ini selalu membuat bibirku kering, Pangeran Es."

Waktu berhenti berdetak.

Di belakang Neo, Liam yang sedang menyusun dokumen mendadak tersedak ludahnya sendiri dan terbatuk-batuk hebat sambil berbalik membelakangi mereka, wajahnya semerah tomat.

Neo Hayes Blake membeku di kursinya. Dadanya yang bidang terlihat naik turun dalam satu tarikan napas panjang yang tertahan.

Mata pria itu turun sedetik, menatap ibu jari Stella yang baru saja mengusap bibir ranumnya, sebelum kembali menatap mata monolid wanita itu dengan tatapan predator yang kelaparan.

Aura dingin yang biasanya menyelimuti Neo menguap tanpa sisa, digantikan oleh hawa panas yang luar biasa mengintimidasi. Urat di leher pria itu menonjol samar.

Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga terdengar bunyi gemeretak pelan.

Pria yang selama ini mengontrol setiap aspek hidupnya dengan presisi mesin, kini merasa sirkuit otaknya benar-benar dibakar habis oleh satu kalimat absurd dari wanita di depannya.

[ Ding! ]

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!