Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Karena kesibukan Dinzy akhir-akhir ini membuat semua teman kerjanya bertanya-tanya. Apa yang sedang Dinzy lakukan hingga dia selalu terlihat buru-buru bahkan sangat sibuk di saat jam kerja.
"Din, fokus dong" tegur Moza
"Iya Mbak, maaf" jawab Dinzy
Maya merasa aneh dengan Moza, karena memang Dinzy tidak melakukan kesalahan fatal tapi Moza selalu sensitif dengan Dinzy.
Namun Maya juga tidak ingin terlalu terlibat dengan masalah mereka, bukan karena ia tidak peduli dengan Dinzy, namun menurut Maya yang di lakukan Moza belum terlalu melewati batas.
"Din, meeting ya" ucap Hendra
"Aku boleh join gak Mas?" tanya Moza
"Sorry, tapi team sudah di pilih. Mungkin next kalau ada project baru"
"Yah Mas, kalau begini pasti staff lain yang punya potensi akan kalah sama pilihan boss"
"Ini bukan pilihan boss, tapi waktu itu Dinzy gantikan Siska, dan setelah beberapa kali meeting. Team dibentuk"
"Staff lain gak ada kesempatan dong?"
"Silahkan ngadu sama Manager, mungkin Manager bisa bantu kamu"
"Kok ngadu sih, aku tanya"
"Aku cuma staff disini, aku gak tahu. Kalau kamu ada keluhan silahkan langsung ke Manager"
"Santai dong jawabnya"
"Stop ya Moza, jangan bertingkah. Bisa bersikap layaknya junior kan? Adaptasi sama pekerjaan dan belajar sopan sama semua orang"
Hendra mulai terpancing karena sikap Moza yang dianggap terlalu berlebihan, sementara Dinzy dan Maya berusaha menenangkan Hendra untuk tidak melewati batasnya.
Hendra dan Dinzy segera meninggalkan ruangan, dan menuju ruang meeting. Moza yang kesal, ia mulai keluar ruangan lalu menuju ke ruangan HR untuk berkeluh kesah tentang aa yang baru saja dia alami.
Setelah itu Moza kembali ke mejanya, dan melanjutkan pekerjaannya. Tidak hanya Maya, hampir semua orang di ruangan tersebut semakin membenci Moza, bahkan mengabaikannya.
Diruang meeting, Luca begitu bersemangat karena bisa bertemu Dinzy disaat jam kerja. Namun kali ini tidak ada Alvin yang akan membuatnya kesal.
Setelah selesai meeting, Dinzy dan Luca terlihat bersama. Tapi mereka tetap menjaga profesionalisme tersebut. Hingga sampai Lobby, Moza melihat kedekatan Luca dengan Dinzy.
"Jadi ini alasan Dinzy gak mau ninggalin meeting. Targetnya besar" ucap Moza dengan sinis
Moza menatap Luca, ia begitu terpesona dengan ketampanan pria tersebut. Dia mulai berfikir bagaimana untuk menggeser Dinzy, lalu ia bisa menggantikan project Dinzy bersama dengan Luca.
Dinzy meninggalkan Lobby, ia melewati Moza begitu saja tanpa menyapa ataupun melihatnya. Karena Dinzy sudah terlalu lelah dengan drama yang dibuat oleh Moza.
Dinzy menuju pantry untuk makan bersama Hendra, kemudian mereka diskusi tentang project mereka. Sementara Moza, ia mendekati HR untuk melancarkan rencananya.
Dan benar saja, Hendra di panggil HR untuk diminta keterangan tentang debatnya bersama dengan Moza, karena dianggap mulai membuat senioritas di lingkungan kerja. Tidak hanya itu, Hendra mendapat teguran pertama dari HR.
Kembali ke ruangannya, Hendra meletakkan surat tersebut di laci. Sementara Moza terlihat senang melihat ekspresi Hendra yang sedang kesal.
"Din, tolong ini ya" ucap Hendra
"Oh, baik Mas" jawab Dinzy
Dinzy membawa berkas tersebut menuju ruangan Manager, kemudian ia kembali keruangannya. Sementara Moza ia terlihat begitu tenang meskipun telah membuat Hendra dalam kesulitan.
"Mbak, di panggil Manager" ucap Dinzy
"Oke"
Moza meninggalkan ruangannya, dan menuju ruangan Manager. Disana mereka saling berbincang tentang perkembangan staff, karena selama ini staff yang diminta untuk join meeting hanya staff pilihan atasan. Lalu Moza mulai bertanya lalu bagaimana jika staff lain memiliki potensi yang ebih dari pilihan boss tersebut.
Hingga akhirnya, apa yang dikatakan Moza menjadi pertimbangan Manager, karena yang dikatakan Moza ada benarnya.