Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Hasutan Berbalik
Air mata Aira tak mampu dibendung walau kakinya telah melangkah masuk melewati pintu utama. Dada gadis itu naik turun, menahan sesak yang teramat sangat akibat hantaman kenyataan di dalam mobil Teddy tadi. Namun, belum sempat ia berlari menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang, sebuah suara sinis yang sangat ia kenal langsung menghentikan langkahnya.
"Wah, wah, wah... Lihat siapa yang pulang sambil nangis ini?" cibir Reta.
Gadis itu berdiri di tengah ruang tengah dengan kemoceng di tangan kanan dan kain lap di tangan kiri. Rambutnya yang biasa tercatok rapi kini telah berantakan, dan peluh membasahi dahinya akibat hukuman yang diberikan sang ayah.
Reta dengan sengaja menggeser tubuhnya, berdiri tepat di depan lorong kamar, menghalangi langkah Aira. Sepasang matanya menatap tajam, menelisik penampilan sepupu kampungnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan senyum penuh kemenangan.
"Kamu kenapa? Habis ditendang Om-Om tadi ya?" ucapnya dengan nada sinis.
"Makanya, jadi cewek itu jangan sok kegatelan gitu, deh! Baru diajak makan malam doang, lagaknya udah kayak nona besar."
"Nah, sekarang? Nangis kan? Syukurin ... emang enak, dijadikan mainan semalam?" sindir Reta tajam, melipat kedua tangannya di dada memasang wajah angkuh.
Aira menundukkan wajah, dengan segera mengusap air matanya. Saat ini, ia tak memiliki energi untuk meladeni Reta.
Melihat Aira yang hanya diam dan lemah, Reta seakan ingin memamfaatkan momen ini. Dengan kasar, ia melemparkan kemoceng ke arah Aira. Tangan Aira malah refleks menangkapnya. Setelah itu, kain lap yang sudah kotor dilempar ke kepala Aira, hingga menutupi wajah gadis itu.
"Nih! Daripada kamu nangisin orang tua itu, mending gantiin aku bersihin rumah ini! Tuh, ruang tamu belum disapu, dapur masih berantakan. Buruan!" bentaknya.
"Gara-gara gadun-mu dateng, aku dan mama yang malah kena getahnya!" Reta mendorong bahu Aira dengan kasar.
Sentakan di bahunya menghabiskan batas kesabaran Aira yang sudah tipis semenjak di dalam mobil. Rasa sakit hatinya pada Teddy mendadak meluap berubah menjadi energi yang meledak-ledak.
Aira mendongak, menatap Reta dengan mata bulatnya yang memerah, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
"OM JOVAN!!! OOOM ... MBAK RETA JAHAT SAMA AIRA, OM!!! OM JOVAN!!!" pekiknya.
Reta tersentak dan membeku. Masih jelas dalam kepalanya sang ayah mengingatkan untuk tidak mengganggu Aira. Beberapa detik kemudian Reta berubah menjadi panik.
"Heh! Berisik, curut! Berisik! Ngapain kau memanggil Papa?!" Reta mendekat hendak menutup mulut adik sepupunya itu.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah kamar utama. Om Javan berlari tergopoh-gopoh dengan sarung yang hampir melorot, diikuti Tante Nani di belakangnya dengan wajah waswas.
"Ada apa?! Kenapa ini?! Aira, kenapa kamu menangis?" tanya Om Jovan panik, bergantian menatap Aira yang berlinang air mata memegang kemoceng milik putrinya tadi.
"Papa, ini si Aira lagi dr—"
"Om ..." potong Aira sesenggukan, sengaja membuat suaranya terdengar se-melas mungkin sembari menunjuk kemoceng yang masih di tangannya.
"Mbak Reta jahat, Om. Aira kan baru pulang, lagi capek malah disambut kemarahan Mbak Reta. Aira dibilang cewek gatel dan murahan, terus dipaksa gantiin Mbak Reta beres-beres rumah ..." adunya.
Wajah Om Jovan seketika berubah merah padam. Ia menatap Reta dengan dengus yang cukup keras.
"RETA! Kamu tak denger apa yang Papa katakan, ya?! Kamu gak boleh ganggu Aira lagi! Sudah Papa hukum, tapi masih juga ganggu Aira?!"
"Gak gitu, Pa! Dia bohong! Tadi, aku cuma nanya kenapa dia nangis? Terus aku tanya apa dia lagi berantem sama pacarnya? Eh, dia malah marah-marah." Rela mencoba memberi alasan sekenanya.
Aira menyeka air matanya dengan kasar, lalu menatap Reta dengan senyum penuh arti yang mendadak muncul di balik wajah sedihnya. Ia tahu persis di mana kelemahan terbesar keluarga ini sekarang.
"Oh, jadi Mbak Reta mau aku aduin ke Om Teddy ya?" ancam Aira sedikit melirik Om Jovan.
"Nanti aku bilang Om Teddy ya? Biar besok Om Teddy langsung turunin jabatan Om Jovan ke bagian gudang selamanya. Mau?!"
Mendengar nama Teddy disebut, Om Jovan langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar membayangkan posisi nyamannya di kantor lenyap dalam sekejap hanya karena kebodohan putrinya.
"Reta!!! Masuk kamar kamu sekarang! Besok uang jajan kamu Papa potong setengah! Terus, yang setengahnya untuk tambahan jajan Aira," bentak Om Javan tanpa memberi ampun lagi pada sang anak.
Reta menghentakkan kakinya dengan geram, menatap Aira dengan pandangan benci yang teramat sangat sebelum akhirnya berlari masuk ke kamar dan membanting pintu.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣