Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
"Maaf mbak, rumah ini kosong sejak lama. Orang yang mbak maksud itu tidak pernah tinggal di rumah ini."
Bapak-bapak tersebut pamit pergi.
"Sial,...!" Umpat Susi. "Ternyata dukun itu penipu!"
Susi masuk ke dalam mobilnya, dengan mudahnya wanita ini membeli mobil baru tapi, wajahnya tidak baru.
Susi memutuskan untuk pulang, sekarang ia masih tinggal sendirian karena sejak hari itu Hendro tidak lagi pulang ke rumahnya.
Susi masih menjalankan usaha toko sembakonya, meskipun tidak seramai dulu tapi, setidaknya masih ada orang yang mau berbelanja di sana.
"Sejak gak ada bang Hendro, gak ada yang bantu aku belanja barang-barang lagi. Susah banget hidup sendiri," keluh Susi.
Susi bercermin, bekas jahitan di wajahnya masih terlihat dengan jelas.
"Aduh, biaya operasi plastik berapa sih? Aku malu banget...!"
Susi terus menggerutu, sudahlah wajahnya rusak dan sekarang tidak ada lagi orang yang bisa memuaskan nafsunya di atas ranjang.
Di tempat lain, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hendro adalah pria pemalas, ibu Surti sudah lelah menasehati anaknya ini untuk bekerja.
"Lama-lama ibu berat juga sama kamu. Tiap hari harua membelikan kamu minyak motor, belum rokok dan kebutuhan kamu yang lain. Hendro, kamu sendiri selama ini ibu cuma mengandalkan uang pensiunan bapak kamu."
"Ya terus, ibu maunya apa sekarang?" Tanya Hendro tidak ada pemikiran.
"Setidaknya kamu kerja apa lah biar gak minta sama ibu. Kapan kamu ini dewasanya?"
"Aduh, bu. Hendro ini cuma anak ibu satu-satunya, masa ngurus anak satu aja gak mau!"
"Bukan masalah gak mau Hend, kamu itu udah dewasa. Nikah sudah dua kali harusnya kamu bisa memikirkan masa depan mu."
"Lama-lama ibu ini cerewet!" Seru Hendro membuat bu Surti sakit hati.
Bu Surti masuk ke dalam kamar Hendro lalu mengemasi pakaian anaknya kemudian membuangnya ke luar.
"Bu, kenapa pakaian ku di buang?" Tanya Hendro bingung.
"Sana, balik ke rumah istri mu. Ibu udah gak sanggup ngurus kamu. Pemalas, gak mau kerja. Bisanya cuma bikin malu ibu saja!"
"Bu, aku ini anak kandung ibu. Bisa-bisanya ibu tega mengusirku!"
"Tega gak tega, pergi sana. Keterlaluan kamu, setidaknya kalau gak bisa ngasih orang tua, kebutuhan kamu sendiri aja di urus. Sudahlah makan pemilih, rokok minta harga yang mahal. Ibu capek Hendro....!"
Bu Surti menarik tangan anaknya, mendorong Hendro keluar dari dalam rumah.
"Pulang sana ke rumah istri mu. Lebih baik ibu hidup sendiri dari pada hidup berdua sama kamu. Makan hati ibu makan hati merasakan kelakuan kamu!"
Duuuar,.....
Bu Surti menutup pintu dan menguncinya. Hendro terus meminta pada sang ibu untuk membukakan pintu.
Tidak menanggapi, Hendro menaruh tasnya di atas kursi. Pria ini memilih pergi ke warung kopi pak samad.
Pukul delapan malam Hendro pulang ke rumah ibunya. Ternyata masih tetap sama, bu Surti sama sekali tidak mau membukakan pintu untuk anaknya.
"Dasar nenek-nenek, maunya apa coba?"
Hendro duduk di kursi seraya menunggu ibunya membuka pintu.
Pukul sebelas malam, bu Surti tidak juga membuka pintu.
"Sial...!" Umpat Hendro. "Ibu serius mengusir ku," ucap Hendro. "Masa iya aku harus pulang ke rumah Susi?"
Hendro mengacak rambutnya frustasi, pria ini malah merebahkan diri di atas bangku kayu kemudian tidur di sana.
Sementara itu, malam ini Bagas tak bisa tidur. Perutnya terasa perih seperti orang kelaparan, tidur Bagas gelisah hingga membuat Yasmin terbangun.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Yasmin heran.
"Mas lapar," jawab Bagas.
"Kenapa gak makan?"
"Mas pengen makan sambel terasi sama lalapan. Terasa segar gitu loh."
"Mas, udah malam loh!"
"Ya mau gimana lagi, mas ngidam."
"Kok aneh ya mas. Aku yang hamil kamu yang ngidam."
"Yang penting kamu gak sehat gak sampai mual-mual berlebihan gitu. Biar mas aja!"
"Ya udah, ayo ke dapur. Aku yang masakin." Ujar Yasmin.
"Jangan, nanti kamu kelelahan."
"Udah, ayo. Dari pada mas gak bisa tidur."
Yasmin dan Bagas pun pergi ke dapur. Untung saja masih ada sayuran di dalam kulkas yang bisa di rebus di jadikan lalapan.
Kembali ke Hendro, malam semakin dingin di tambah lagi banyak nyamuk membuat ia tak bisa tidur.
"Ah, sial!" Umpat Hendro kesal. Pria ini terus menggaruk tubuhnya yang bentol-bentol di makan nyamuk.
Mau tidak mau Hendro menjilat ludah sendiri. Pria ini membawa tas lalu menancap gas motornya pergi ke rumah Susi.
Hendro berdiri di depan pintu, ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu rumah Susi.
"Ya udahlah, dari pada jadi gelandang mending tinggal sama Susi." Ucap Hendro pasrah.
Tok...
Tok...
Tok...
Susi mengetuk pintu rumah Susi tapi, Susi tak juga membuka pintu.
Tok...
Tok...
Tok...
Hendro terus mengetuk, memanggil nama Susi.
Tak berapa lama lampu tengah rumah hidup, Susi membuka pintu.
"Bang, ngapain tengah malam di rumah ku?" Tanya Susi setengah mengantuk.
"Susi, abang rindu sama Susi. Makanya abang pulang!"
"Abang serius rindu sama Susi?"
Seketika wajah Susi segar.
"Abang gak bisa hidup tanpa Susi," ucap Hendro berbohong.
"Apa buktinya?" Ujar Susi tidak percaya.
Hendro langsung mendorong Susi masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Pria ini langsung memeluk Susi, melucuti semua pakaian.
Namanya juga Hendro sudah seminggu lebih dia tidak ganti oli akhirnya malam ini nekat juga.
Namanya juga Susi yang penuh dengan nafsu birahi, wanita ini langsung menjilat es krim suaminya dengan liar.
"Bang, sejak abang gak ada, Susi benar-benar sakit kepala gak bisa begituan." Ucap Susi.
"Sama Sus, abang juga!"
Lupa dengan masalah mereka, Hendro sengaja bersikap liar malam ini demi memikat kembali hati Susi. Selama ini, Susi lah yang sudah memenuhi kebutuhan dirinya, mau tidak mau Hendro harus kembali ke rumah Susi.
Ranjang malam ini begitu heboh terdengar, Susi dan Hendro sama-sama melampiaskan hasrat birahi meraka.
"Tiga hari lagi aku akan melakukan operasi plastik bang. Setidaknya wajah ku kembali cantik lagi," ucap Susi yang saat ini sedang berbaring dalam pelukan Hendro.
"Serius?" Tanya Hendro tidak percaya.
"Iya. Nanti kamu ninggalin aku lagi kalau aku gak cantik."
"Semua karena uang kamu Susi. Jika bukan karena kamu royal sama aku, tidak mungkin aku mau balik sama kamu." Ucap Hendro dalam hati.
"Main lagi yuk bang, Susi masih rindu butuh pelepasan."
Hendro menurut, membiarkan Susi menggoyang dirinya di atas. Sebenarnya Susi lebih senang melihat ekspresi lawan mainnya yang merasa puas akan permainan dirinya dari pada dia yang di goyang di bawah.
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya