NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Suasana sore di kafetaria terbuka Universitas Ganesha perlahan mendingin seiring dengan matahari yang mulai tergelincir di ufuk barat. Mahasiswa yang semula memadati area sekitar meja panjang Devan berangsur-angsur membubarkan diri, menyisakan keheningan taktis di antara mereka bertiga.

Kenzo menarik kembali laptopnya, jemarinya kembali menari di atas papan ketik dengan ritme yang konstan. "Oh ya, Dev. Ada satu hal lagi. Intelijen kita di Distrik Timur melaporkan bahwa Gavin belum sepenuhnya menyerah. Tembakan lo di pergelangan tangannya memang melumpuhkan fisiknya untuk sementara, tapi bokapnya—si tua Mahendra—dikabarkan mulai turun tangan langsung dari balik layar. Mereka mencoba mendekati beberapa petinggi kepolisian daerah untuk meninjau ulang draf audit pelabuhan yang kita ajukan."

Mendengar hal itu, Aura yang sedang merapikan catatan kuliahnya langsung mendongak. Eksperimen hukumnya adalah fondasi dari seluruh serangan balik klan Bratadikara. Jika draf audit itu berhasil dianulir oleh kekuatan politik Mahendra, maka semua risiko yang mereka ambil malam itu akan menjadi sia-sia.

"Mereka tidak bisa melakukan itu begitu saja," potong Aura, suaranya terdengar tegas, memancarkan aura analisis hukumnya yang tajam. "Draf audit yang aku susun didasarkan pada manifes kargo internasional yang legalitasnya absolut. Jika kepolisian daerah mencoba membatalkannya, mereka harus mengabaikan traktat hukum perdagangan laut yang sudah diratifikasi negara. Itu akan memicu skandal yurisdiksi yang sangat besar."

Devan yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi sambil menikmati sisa espresso gandanya, menoleh ke arah Aura. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa kagum muncul di sudut bibirnya.

"Dengar itu, Ken?" kata Devan, nadanya santai namun penuh dengan kebanggaan. "Gadis gue baru saja memberikan skakmat hukum bahkan sebelum si tua Mahendra sempat melangkah."

Kenzo terkekeh pelan. "Gue tahu, Dev. Makanya gue langsung mengunci draf digital itu dengan enkripsi militer tingkat tinggi. Begitu draf itu masuk ke sistem kejaksaan besok pagi, gak akan ada satu pun jenderal polisi yang berani menyentuhnya tanpa mempertaruhkan jabatan mereka sendiri."

Devan meletakkan cangkir kopinya, lalu bangkit dari kursi. Ia mengulurkan tangannya ke arah Aura, sebuah isyarat halus yang tidak bisa ditolak. "Sudah sore, Ra. Kelas lo sudah selesai untuk hari ini. Gue antar lo pulang ke rumah aman."

Aura menerima uluran tangan itu, merasakan kehangatan yang kini mulai terasa familier di kulitnya. "Rumah aman yang mana? Paviliun di Distrik Selatan kan sudah... hancur pintunya."

"Gue sudah menyiapkan tempat baru," jawab Devan pendek sambil membimbing Aura berjalan melintasi taman banyan menuju area parkir VIP di mana Bram sudah menunggu di samping jip hitam taktis mereka. "Sebuah griya tawang di Distrik Pusat. Lokasinya tepat di atas gedung perkantoran utama firma hukum bokap gue. Penjagaannya dua puluh empat jam oleh mantan personel pasukan khusus. Gavin bahkan gak akan bisa memimpikan cara untuk menembusnya."

Perjalanan menuju Distrik Pusat ditempuh dalam keheningan yang nyaman. Di dalam kabin jip taktis yang kedap suara, Aura menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Devan. Kelelahan setelah seharian penuh menghadapi tekanan di kampus akhirnya runtuh juga. Devan tidak keberatan; ia justru merangkulkan lengan kirinya ke bahu Aura, menarik tubuh gadis itu agar semakin rapat ke dalam dekapannya.

Bram yang mengemudi di depan sesekali melirik melalui spion tengah, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terjadi muncul di wajah sang pengawal veteran. Selama bertahun-tahun menjaga Devan, ia belum pernah melihat Tuan Mudanya itu tampak begitu... manusiawi. Kehadiran Gisela Aura telah membawa warna baru di tengah dunia Bratadikara yang biasanya hanya dipenuhi oleh warna hitam, putih, dan merah darah.

Begitu mereka tiba di kompleks Menara Bratadikara di Distrik Pusat, jip langsung diarahkan menuju lift mobil khusus yang membawa mereka langsung ke lantai teratas—lantai lima puluh lima.

Ketika pintu lift terbuka, Aura terpaku melihat kemegahan griya tawang (penthouse) baru tersebut. Berbeda dengan apartemen Devan di Distrik Barat yang terkesan minimalis dan dingin, tempat ini didesain dengan sentuhan modern yang hangat. Dinding kaca setinggi langit-langit menampilkan pemandangan seluruh lampu kota yang mulai menyala di bawah langit senja.

"Ini tempat tinggal lo sekarang, Ra," kata Devan sambil melepaskan jaket pengebomnya dan menyampirkannya di sofa kulit besar. "Semua kebutuhan lo sudah disiapkan oleh Bram. Buku-buku referensi hukum untuk skripsi lo juga sudah dipindahkan dari kos lama lo ke ruang kerja di sebelah sana."

Aura berjalan mendekati dinding kaca, menatap hamparan kota yang begitu luas dari ketinggian. Di tempat semewah ini, ia merasa seperti seorang putri yang dikurung di dalam menara gading. Namun, ia tahu ini bukanlah kurungan, melainkan sebuah benteng perlindungan yang dibangun dengan cinta dan obsesi seorang mafia.

"Devan," panggil Aura tanpa berbalik.

"Ya?" Devan berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Aura hingga deru napasnya yang hangat menerpa tengkuk gadis itu.

"Kenapa kamu melakukan semua ini untukku?" tanya Aura pelan, matanya mencerminkan kerlip lampu kota di luar kaca. "Pada awalnya, ini hanya tentang draf kontrak pelabuhan. Tapi sekarang, kamu mempertaruhkan nyawamu, memindahkan ibuku, dan membawaku ke tempat seaman ini. Ini... ini sudah jauh melampaui batas perjanjian kita."

Devan diam sejenak. Ia mengulurkan kedua tangannya, melingkarinya dengan lembut di sekeliling pinggang Aura, menarik punggung gadis itu agar menempel pada dada bidangnya. Devan membenamkan dagunya di bahu Aura, menikmati aroma wangi cendana dari rambut gadis itu.

"Pada awalnya, lo memang cuma sebuah aset hukum yang berharga bagi gue, Aura," bisik Devan jujur, suaranya yang berat terasa bergetar di dada Aura. "Tapi di malam lo menolak untuk meninggalkan gue di gudang logistik itu, di malam lo memilih untuk percaya pada draf buatan lo demi menyelamatkan klan gue... gue sadar satu hal."

Devan memutar tubuh Aura perlahan agar mereka saling berhadapan. Ia menatap langsung ke dalam manik mata cokelat Aura yang jernih dengan intensitas yang mutlak.

"Gue bisa membeli ribuan pengacara di kota ini, Ra. Tapi gue gak akan pernah bisa menemukan wanita lain yang punya keberanian untuk berdiri di samping seorang Bratadikara di tengah hujan peluru. Lo bukan lagi sekadar rekan perjanjian, Aura Kirana. Lo adalah bagian dari hidup gue sekarang, dan kehilangan lo adalah satu-satunya skenario kekalahan yang gak akan pernah gue izinkan terjadi di dalam hidup gue."

Mendengar pernyataan emosional yang begitu mendalam dari seorang pria sedingin Devanandra membuat pertahanan hati Aura benar-benar runtuh. Logika akademisnya yang rumit tidak lagi mampu membantah apa yang dirasakan oleh hatinya saat ini. Aura menjinjitkan kakinya sedikit, mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh rahang tegas Devan yang ditumbuhi rambut-rambut halus tipis, lalu menempelkan keningnya pada kening cowok itu.

"Kalau begitu, jangan pernah kalah, Devan," bisik Aura dengan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya. "Karena aku sudah memilih untuk berdiri di sampingmu, dan aku tidak punya rencana untuk mundur."

Devan tersenyum—sebuah senyuman murni yang penuh dengan kelegaan. Ia menundukkan wajahnya, mengecup bibir Aura dengan kelembutan yang dalam, sebuah ciuman yang mengunci janji setia mereka di atas ketinggian langit Distrik Pusat, mengabaikan segala badai konspirasi yang mungkin masih menanti mereka di bawah sana.

Keesokan paginya, genderang perang yang sebenarnya resmi ditabuh.

Di kantor Kejaksaan Agung Distrik Pusat, draf audit kelautan yang disusun oleh Aura dan dienkripsi oleh Kenzo resmi dieksekusi. Berita itu meledak di berbagai media massa nasional seperti bom waktu. Tiga perusahaan logistik utama yang berada di bawah naungan klan Mahendra langsung dibekukan izin operasionalnya atas dugaan penyelundupan kargo ilegal dan manipulasi pajak pelabuhan selama satu dekade terakhir.

Di saat yang sama, Devanandra Bratadikara kembali melangkah masuk ke dalam area kampus Universitas Ganesha dengan langkah kaki yang tak tergoyahkan. Pagi ini, ia tidak lagi menyembunyikan statusnya. Di sampingnya, Gisela Aura berjalan dengan anggun, memegang draf revisi skripsinya yang baru saja disetujui oleh dekanat tanpa ada satu pun hambatan hukum lagi.

Mereka berjalan melewati mading utama tempat segala rumor buruk tentang Aura dulu bermula. Namun hari ini, tidak ada lagi kertas perundungan, tidak ada lagi bisik-bisik kebencian. Yang tersisa hanyalah penghormatan mutlak bagi sang mahasiswi teladan yang kini telah resmi bertransformasi menjadi permaisuri di balik takhta kegelapan klan Bratadikara.

Perang dingin di Universitas Ganesha mungkin telah berakhir dengan kemenangan mutlak mereka, namun di luar sana, di bawah langit kota yang dinamis, Devan dan Aura tahu bahwa mereka telah siap menghadapi babak baru yang jauh lebih besar sebagai satu kesatuan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!